Desa Kemomong

Desa Kemomong
Sejarah desa Kemomong


__ADS_3

Sekar mulai menjelaskan tentang tradisi di desa Kemomong.


“Tradisi di desa Kemomong ini memang cukup unik, jika ada salah satu anak dari warga desa ini yang menginjak umur tujuh belas tahun. Jika wanita maka jari kelingking tangan kiri mereka akan di potong, sedangkan jika laki-laki akan di beri tanda dengan besi panas,” ucap Sekar.


“Jika mereka tidak melakukan tradisi itu apa yang akan terjadi?” tanya Bagas yang mulai penasaran.


“Jika salah satu warga anaknya tidak melakukan tradisi ini, maka anak mereka akan mengalami sakit-sakitan yang tidak kunjung sembuh sampai akhirnya meninggal,” sahut Sekar.


“Mengapa mereka tidak pergi saja dari desa ini, Mbak?” tanya kembali Bagas.


“Panggil saja Sekar, Bang! Itu sudah pernah terjadi sama saja Bang. Jika warga desa ini yang lahir di desa Kemomong lalu meninggalkan desa ini pindah ke kota atau pun hidup di desa lain maka kehidupan mereka di kota atau di desa yang lain tidak akan nyaman, mereka akan hidup serba kekurangan dan juga  terus-menerus mengalami sakit berkepanjangan sampai akhirnya meninggal.” Sekar yang menjelaskan menatap wajah Bagas.


“Mengapa bisa seperti itu, Sekar?” tanya Bagas.


Bagas yang masih saja bingung dengan ritual-ritual di desa ini, menurutnya hal yang di ceritakan Sekar tidaklah masuk nalarnya.


“Dulu warga desa ini sering mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh, dan desa ini sangat tandus setiap panen selalu gagal banyak penduduk yang kelaparan dan sakit-sakitan. Lalu ada seorang kakek yang memberitahu cara agar warga desa kembali sembuh dari sakitnya dan juga agar hasil panen tidak selalu gagal–“ ucapan Sekar terpotong oleh Bagas.


“Siapa kakek-kakek itu? Lalu apa yang di perintahkan kakek itu? ” Bagas yang sangat penasaran. 


“Kakek itu bernama Krinobroto dia kakek buyut dari juri kunci. Juru kunci itu sendiri bernama Brotoseno. Kakek Krisno mengadakan ritual aneh itu dan ia juga menyarankan kepada kami agar setiap malam jumat keliwon kami harus membuat sesajen yang diletak kan di depan teras rumah. Ini bertujuan agar warga desa tidak di ganggu mereka?”


“Mereka? Mereka siapa?” tanya Bagas yang tambah di buat sekar penasaran.


“Mereka adalah penunggu dari desa ini, kakek Krino meminta bantuan kepada mereka dan mereka memberikan syarat-syarat ritual yang harus di lakukan oleh kami. Dan desa ini juga di ganti namanya oleh kakek Krisno menjadi desa Kemomong!” sahut Sekar.


“Apakah nama Kemomong sendiri mempunya arti?” tanya Bagas.


“Iya Kemomong adalah berjanjian sukarela antara manusia dengan jin atau sebangsanya. Dengan ritual dan perjanjian itu desa ini kembali makmur, hasil panen yang melimpah tanah yang subur dan juga warga desa kami tidak mengalami sakit kembali,” sahut Sekar yang menatap Bagas. 


“Sebenarnya aku tidak boleh bercerita kepada siapapun mengenai desa ini!” 


“Tapi mengapa kamu bercerita kepadaku Sekar?” 


“Sekar percaya Bang gagas adalah orang yang baik, tolong rahasiakan cerita ini kepada siapapun!” Segar yang memperingati.


“Iya Sekar aku berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun,” ujar Bagas

__ADS_1


“Sulit di mengerti, aku masih tidak percaya dengan apa yang kamu bicarakan,” sambung Bagas kembali.


“Memang terkadang ada sesuatu yang tidak bisa di pikirkan oleh logika, akan tetapi ini suatu yang pernah terjadi di desa ini,” Sekar mempertegaskah kembali kepada Bagas.


 Sementara lain Adit sedang bingung mencari keberadaan Bagas.  


‘Iki ke mana ae mas Bagas. Dari tadi di gole’i ra ono( Ini ke mana aja Mas Bagas. Dari tadi di cariin gak ada)' gumam Adit yang kesal.


Setelah mencari cukup lama Adit pun menemukan Bagas dengan seorang wanita. Lalu Adit pun menghampiri Bagas.


“Wes-wes, di cari-cari ternyata mojok di sini to, sama wong wedok ayu sekaline (sama wanita cantik rupanya),” ujar Adit.


“Apa sih Dit. Dah sana kamu makan aja tuh yang banyak mengganggu saja,” sahut Bagas.


Adit pun menoleh ke arah wanita yang di samping Bagas.


“Eh, Mbak Sekar rupanya, maaf aku gak liat,” ucap Adit yang tersenyum.


“Panggil Sekar aja Mas,” ucap Sekar. 


“Iya Mbak, Eh Sekar maksudnya. Oh iya coba Mas mu ini dikenal’in sama Mbak mu to,” sahut Adit sembari cengar-cengir.


Tiba-tiba di saat mereka tengah asyik mengobrol Ningsih pun datang menghampiri Sekar.


“Ooo, ternyata sedari tadi kamu di sini ya Sekar, Bapak nyariin kamu tuh. Malah asik berduaan di sini!” ucap Ningsih yang tampak kesal.


“Enggak Mbak, Sekar hanya mengobrol saja dengan Bang Bagas,” sahut Sekar yang menepis tuduhan dari Ningsih.


“Ngobrol apaan? Ngobrol kok lama banget. Dah sana du cariin Bapak,” perintah Ningsih.


“Iya Mbak,” sahut Seka pergi meninggalkan mereka semua.


“Maaf Mbak Ning aku yang tadi mengajak Sekar ngobrol di sini. Bukan Sekar yang salah,” pungkas Bagas membela Sekar.


“Iya loh Mbak Ning, jangan marah-marah, entar cantiknya ilang,” Puji Adit sembari tersenyum ke arah Ningsih.    


“Sudahlah jangan membahas Sekar lagi, lagian Bang bagas suka banget ngobrol sama Sekar. Padahal Sekar itu anaknya pendiam tidak banyak ngomong, kalau di ajak ngobrol jawabannya singkat dan sederhana, dan juga pola pikirannya itu jauh sama aku Bang,” kata Ningsih yang menjelek-jelekan Sekar.

__ADS_1


Adit yang mulai terlihat tidak suka dengan Ningsi yang selalu menjelek-jelekkan adiknya pun pergi meninggalkannya.


“Permisi ya Mbak, aku tinggal dulu mau mengambil makanan lagi,” ucap Bagas pergi meninggalkan Ningsi.


Bagas pun meninggalkan Ningsih berdua bersama Adit, kesempatan ini pun tidak di sia-siakan oleh Adit.


“Di kasih tahu malah di tinggalan,” ucap Ningsih yang kesal.


“Ya sudah Mbak kan masih ada Mas Adit di sini, oh Iya aku boleh tanya sama Mbak Ning ? Mbak Ning sudah punya pacar?” ucap Adit tersenyum ke pada Ningsih.


“Udah!” sahut Ningsih yang ketus.


Ningsih pun tidak banyak bicara ia pun pergi meninggalkan Adit kembali ke tempat duduknya.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam acara ritual pun telah berakhir. 


Bagas beserta rombongan berjalan menuju mobil yang Adit parkirkan tadi.


Setelah lumayan berjalan akhirnya rombongan Bagas sampai di mobil box.


Mereka semua pun menaiki mobil Bagas dan kali ini Bagas yang mengemudikan mobilnya menuju Mes.


 Di dalam perjalanan Bagas bercerita sesuatu kepada Adit.


“Oh iya Dit! Kemarin di waktu kita masuk ke desa ini kamu sangat penasaran kan Arti dari nama desa Kemomong itu?” ucap Bagas.


“Eh iya Mas. Mas udah tahu artinya aku benar-benar lupa Mas.”


“Kemomong itu adalah perjanjian sukarela antara manusia dengan Jin, dedemit, penunggu bahkan iblis sekali pun,” tutur Bagas yang memberitahukan Adit.


Sontak saja Adit terdiam mendengar ucapan dari Bagas, Adit mencoba mengingat-ingat.


“Iyo itu benar apa kata sampean Mas, kakekku pernah bilang seperti itu, aku baru ingat. Pantas saja ritual yang warga desa ini lakukan sangat mengerikan. Dan satu lagi kita sudah minum darah! Apakah kita sudah menjadi bagian dari mereka Mas?” ucap Adit yang mulai panik.


“Entahlah Dit, aku berharap ini hanya tradisi aja tidak ada hal yang tidak baik yang terjadi kepada kita,” Bagas yang berharap.


“Aamiin Mas, semoga saja kita baik-baik saja.”

__ADS_1


Tidak terasa mereka semua telah tiba di depan Mes, mereka semua pun turun dari mobil Bagas kembali menuju ke dalam Mes untuk beristirahat.


 


__ADS_2