Desa Kemomong

Desa Kemomong
Diganggu Pocong


__ADS_3

Tidak terasa hari mulai menjelang sore para pekerja proyek pun mulai menghentikan pekerjaan mereka, terlihat raut lelah di wajah mereka semua.


Para pekerja proyek berjalan masuk ke dalam Mes, ada yang dari mereka yang sedang bersantai menghilangkan penat, ada juga yang sedang membersihkan diri mereka dari keringat dan debu yang menempel di badan, sementara yang lain ada yang bertugas untuk masak mempersiapkan makan malam.


Langit sore mulai berubah menjadi gelap beberapa dari mereka ada yang sedang melaksanakan ibadah.


Setelah beberapa dari mereka yang telah selesai melaksanakan ibadah barulah mereka menyantap makan malam secara bersama sambil berbincang santai satu sama lain.


Di sini Bagas mulai memberitahu kepada mereka semua tentang undangan dari Kuncoro.


“Oh ya semuanya mumpung pada kumpul aku mau ngasih tahu, kita semua mendapat undangan dari kepala desa Kemomong. Kata mereka akan ada ritual adat yang akan di laksanakan malam Jumat depan. Dan kita semua du undang untuk hadir,” tutur Dimas yang menjelaskan.


“Ritual adat apa Bang?” tanya Niko.


“Nah itu aku kurang tahu, tapi kata mereka kita semua harus hadir diacara ritual adat,” ujar Bagas.


“Alah Bang paling acara yang tidak penting, Aku tidak ikut bang lebih baik aku tidur saja di mes” sahut Edwin.


“Iya bang aku setuju sama Edwin, aku juga malas bang mendingan tidur saya menghilangkan lelah!” ucap Niko.


“Eh tidak boleh bilang gitu! Kita harus menghargai adat mereka,” pungkas Adit.


“Ya benar apa yang di ucapkan Adit, kita bekerja di desa mereka jadi kita harus menghargai adat mereka di desa ini,” kata Bagas.


“Ya udah Abang saja sama Adit yang mewakilkan kita!” tegaskan Edwin.


“Kamu ikut Rian?” sambung Edwin yang bertanya.


“Enggak tahu lah liat nanti, sebenarnya aku juga malas, ikut kaya gitu-gituan. Jaman udah modern masih aja berlaku acara-acara adat,” sahut Rian.


“Ya sudah kalau begitu, aku juga tidak memaksa yang ingin ikut saja mereka pesan kita harus ikut semua agar kita bisa bekerja dengan selamat,” ucap Bagas.


“Udah Abang saja sama Adit, lagi pula aku tidak percaya apa yang di katakan mereka,” pungkas Edwin.


Perdebatan panjang di antara mereka pun berakhir dengan keputusan hanya Bagas dan Adit yang akan mengikuti ritual adat. Waktu terus berjalan suasana mulai hening  udara dingin mulai masuk lewat sela-sela lubang.


Semua orang tengah terlelap, hal itu terbukti dari suara ngorok Adit yang kencang bagai mesin perahu.


‘Duh ... Sialan si Adit ngorok ngalah-ngalahin suara buldoser!’ Rian bermonolog.


Rian berbalik badan dan menutup telinganya dengan bantal dan ia mulai memejamkan matanya kembali. Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh.


‘Ini badan siapa sih keras banget kaya kayu!’ pikirnya.


Rian mulai meraba-raba dengan kepala masih tertutup bantar, ia meraba dari dada hingga sampai kepala.

__ADS_1


‘Lho ... Ini apaan? Ngapain kepala pakai diikat segala!’ pikirnya.


Rian membuka bantalnya sambil mengusap matanya berkali-kali ia menoleh ke arah samping. Samar-samar Rian melihat sesuatu mirip seperti guling berwarna putih dengan bercak tanah di beberapa bagian.


Rian yang masih setengah sadar mencoba menyentuhnya dengan menggunakan kaki.


“Apaan nihh!” ucapnya sambil kakinya mendorong-dorong.


Secara mengejutkan sosok itu memalingkan wajahnya ke arah Rian. Wajahnya rusak dan menghitam dengan kapas yang masih menempel di sebagian wajahnya, matanya berwarna putih dengan sebagian hampir keluar. 


Tatapannyabyang tajam membuat Rian seketika kaku tidak bisa bergerak mulutnya seakan membeku tak bisa bersuara. Ia menoleh ke semua arah, matanya terbelalak melihat seluruh ruangan penuh dengan sosok berbungkus kain kafan itu bahkan ada yang tengah menatap ke arahnya.


Bibir Rian bergetar karena berusaha membuka mulutnya, keringat dingin mengalir deras. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi tak kala semua temannya yang tadinya tidur bersamanya berubah menjadi sosok pocong dengan kondisi wajah hancur serta terus memandangi Rian.


Jantung Rian berpacu dengan cepat tubuhnya gemetar, namun ia seakan tidak bisa menggerakkan tubuhnya bahkan berteriak.


‘Ini kenapa? Aku tidak bisa bergerak sama sekali!’ gumannya dalam hati.


Bau busuk menyeruak merasuk ke dalam indra penciumannya hingga membuatnya mual ingin muntah. Di tambah lagi salah satu pocong yang ada di sampingnya tiba-tiba bangun dan menatapnya.


Dalam hati Rian berusaha berdoa namun entah apa yang terjadi ia seakan lupa semua doa yang ia bisa.


Rian mencoba berontak berusaha bergerak dan berteriak hingga ia bisa bergerak dan berteriak. 


Seketika Rian membuka matanya dan bangun.


“Koe nyapo? (kamu kenapa?) Teriak -teriak bikin aku jantungan!” ucap Adit.


“Nggak Dit nggak kenapa-kenapa,” sahut Rian dengan wajah ketakutan.


Rian kembali merebahkan dirinya dan berusaha untuk tidur.


“Rian ... Rian. Bikin aku senam jantung aja. Baru aku mimpi indah ketemu wong wedok sing Ayu,” ucap Adit sambil menarik selimutnya.


Sepanjang malam Rian terjaga tanpa bisa kembali menutup matanya untuk tidur. Ia terus terbayang sosok pocong yang mengelilinginya. 


Hingga matahari menunjukkan sinarnya Rian sama sekali tidak tidur. Saat semua tim bangun dan mulai mengantre untuk bergiliran menggunakan kamar mandi.


Hingga tiba giliran Rian, dengan wajah yang pucat Rian masuk ke dalam kamar mandi lalu mandi serta berganti pakaian.


Semua tim mulai melakukan pekerjaan, Adit yang tidak sengaja berpapasan dengan Rian terheran melihat wajah Rian yang pucat.


“Loh Rian muka kamu kok pucat banget. Kamu sakit?” tanya Adit.


“Oh ... Nggak apa-apa aku cuma kurang tidur aja,” sahut Rian.

__ADS_1


Rian berjalan melewati Adit dan naik ke ekskavator untuk melanjutkan pekerjaanya.


‘Aneh banget si Rian tumben banget nggak banyak ngomong,’ gumam Adit.


Adit pun pergi menghampiri Bagas untuk memberitahukan tentang Rian.


“Bang Bagas.” 


“Kenapa Dit?” tanya Bagas.


“Saya barusan lihat Rian mukanya pucat banget Bang,” ucap Adit.


“Ya sudah kamu gantikan Rian. Biar aku suruh Rian untuk istirahat di mes dulu.”


“Baik Bang.”


Bagas pun menemui Rian yang dalam keadaan lemas duduk di atas bangku ekskavator. 


“Rian, kamu sakit?” tanya Bagas yang melihat wajah Rian yang pucat dan tubuh yang sedikit menguning.


“Sedikit lemas aja Bang,” sahutnya.


“Kamu istirahat dulu aja di mes. Biar adit menggantikan tugasmu Rian.”


“Baik Bang.”


Rian perlahan turun dari ekskavator hingga ia tidak sanggup menginjakkan kakinya dan ia terjatuh.


“Astagfirullah!” Bagas berlari berusaha membantu Rian.


Bagas membopong Rian dan mengantarnya ke dalam mes lalu membaringkannya.


“Kamu sepertinya tidak sehat, nanti akan aku suruh yang lain untuk mengantarmu ke puskesmas desa.”


“Terima kasih Bang.”


Bagas kembali menghampiri Adit.


“Dit yang lagi kosong kerjaanya siapa?” tabya Bagas.


“Edwin Bang, tuh orangnya lagi duduk,” sahut Adit.


“Ya sudah. Nanti kamu suruh dia buat temani Rian ke puskesmas.”


“Baik Bang.”

__ADS_1


__ADS_2