
Beberapa menit kemudian mereka telah keluar dari hutan. Adit yang tengah memegang kemudinya melihat beberapa warga desa sedang berjalan membawa obar untuk penerangan saat mereka jalan.
Karena di desa Kemomong sendiri tidak ada lampu jalan yang menerangi jalan sehingga terkadang mereka jika ingin keluar rumah hanya menggunakan penerangan seadanya.
Adit yang melihat warga desa Kemomong berjalan berbicara ke pada Bagas.
“Mas, sepertinya para warga ini mau ke tempat ritual?” ucap Adit.
“Sepertinya iya Dit,” sahut Bagas.
“Bagaimana Mas, kita ikuti mereka atau bertanya kepada mereka di mana tempatnya?” ujar Adit yang sedang mengendarai mobilnya di belakang para warga yang sedang berjala.
“Kita tanya saya Dit, coba kamu menepi dulu nanti aku yang tanya warga desa!” ujar Bagas memberikan saran.
“Iya Mas,” kata Adit sembari meminggirkan mobilnya.
Adit pun telah menepikan mobilnya, Bagas pun keluar dari dalam mobil lalu menghampiri salah satu warga.
“Permisi Mas,” ucap Bagas memberikan salam.
“Iya Bang, ada apa ya?” ucap salah satu pemuda warga desa Kemomong.
“Begini Mas, saya mau bertanya. Saya mendapat undangan dari pak Kuncoro di suruh menghadiri acara ritual adat kira-kira di mana itu ya Mas tempatnya?” tanya Bagas.
“Ooooo, Ritual adat anak 17 tahun!” ujar pemuda itu.
“Saya kurang begitu tahu, ritual apa Mas, pak Kuncoro hanya memberitahukan ritual adat desa Kemomong,” ucap Bagas.
“Iya bang benar itu, ya sudah abang beserta teman Abang bisa ikut kami saja. Kebetulan kami juga akan menghadiri acara ritual itu!” ajak pemuda itu.
“Baik kalau begitu Mas, saya bilang sama teman-teman saya terlebih dahulu.”
“Iya Bang, mobilnya parkir di sini saja, kita berjalan menuju lapangan yang ada di desa, di lapang itulah acara ritual akan berlangsung.”
“Iya Mas,” Bagas meninggalkan pemuda itu mendatangi Adit untuk memberitahunya serta rekan kerjanya.
Sesampainya di tempat Adit, Bagas menjelaskan kepada Adit.
“Dit kita ikut rombongan mereka saja, mobil kita parkir di sini!” Bagas yang memberitahukan Adit.
“Iya Mas, kira-kira mobil kita parkir di sini aman tidak?” tanya Adit yang ragu.
“Udah Dit, aman kok,” ujar Bagas yang meyakinkan Adit.
Adit beserta Bagas memberitahukan info kepada para pekerja proyek.
__ADS_1
Mereka semua pun turun dari mobil box Bagas lalu berjalan mengikuti di belakang para warga yang akan pergi ke acara ritual itu.
Para pekerja proyek beserta Adit dan Bagas menggunakan lampu senter pada telepon genggam mereka masing-masing untuk menerangi langkah kaki mereka saat berjalan oleh gelapnya malam.
“Mas Bagas ini masin jauh opo ora toh( apa enggak sih),” ucap Adit yang mengeluh kepada Bagas.
“Udahlah jangan mengeluh ikutin mereka saja!” sahut Bagas.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya tiba di sebuah lapangan yang cukup luas.
Lapangan tersebut kerap di pakai oleh warga desa untuk mereka bermain sepak bola atau kadang di pakai untuk ritual-ritual adat desa Kemomong.
“Ini Bang kita sudah sampai,” ucap pemuda itu yang memberitahukan Bagas.
“Oh iya terima kasih mas,” sahut Bagas.
Para pekerja proyek masing-masing berpencar mencari tempat duduk masing-masing sementara Bagas dan Adit mereka sudah mendapatkan tempat duduk dan duduk secara bersamaan.
Terlihat di tengah lapangan banyak makanan yang tersedia di sana dari jajanan pasar, hasil kebun dan juga makanan berat.
Mereka duduk membentuk lingkaran tempat duduk mereka pun di pisahkan antara wanita beserta laki-laki. mereka duduk pun di alaskan oleh tikar yang terbuat dari bambu.
Adit beserta Bagas mendapatkan tempat duduk di depan, acara akan di mulai dengan menampilkan tarian adat desa kemomong lalu ketiga anak yang akan di ritualkan berada di depan.
Tiga anak remaja itu di sambut oleh tarian para warga.
Ada yang melukai lidahnya menggunakan pisau, ada yang menyayat tangannya menggunakan golok, ada juga yang menusuk pipinya menggunakan besi panjang dan tajam.
Atraksi ini di gunakan sebagai penyambutan tamu undangan karena Bagas beserta rekannya adalah tamu undangan mereka.
Adit begitu takjub dengan atraksi mereka.
Lalu di tengah lapangan datang seorang guru kunci di desa tersebut, guru kunci itu memakai jubah hitam berjalan ke tengah lapangan sambil membawa ayam cemani dan mangkok kosong.
Ayam cemani atau ayam hitam itu di sayat lehernya oleh guru kunci itu lalu darahnya di tampung di dalam mangkok kaca yang dia bawa.
Setelah merasa cukup mengambil darah ayam cemani guru kunci itu pun menyayat telapak tantangannya.
Darah segar keluar dari telapak tangan guru kunci itu, dara itu pun di tampung kembali ke dalam mangkok yang berisi darah Ayam cemani.
Setelah merasa cukup juru kunci itu mengaduk menggunakan tangan telunjuknya bertujuan agar darah ayam cemani tercampur rata dengan darahnya.
Sesudah itu juru kunci itu mengambil kembali satu buah botol yang berisi air putih.
Setelah juru kunci itu mendapatkan botol berisi air putih dan ia membawa mangkok yang berisi darah itu.
__ADS_1
Juru kunci itu mulai mendekati Bagas beserta Adit.
Sesampainya di depan Bagas dan Adit juru kunci itu membuka botol yang berisi air lalu membacakan mantra selepas itu baru ia meminum dan menyemburkan air yang ada di mulutnya di kelapa ada Bagas beserta Adit.
Bagas dan Adit pun terkejut namun mereka hanya bisa terdiam.
“Minum darah ini!” perintah juru kunci kepada Bagas menyodorkan mangkok yang berisi darah tadi.
Bagas terdiam melihat ke arah Adit.
“Dah Mas, minum aja kita sudah berada di sini, bahaya kalau tidak di minum!” ucap Adit dengan lirih agar tidak terdengar oleh juru kunci itu.
Secara perlahan Bagas pun mulai mengambil mangkok yang berisi darah segar itu.
Perlahan-lahan mulai mendekatkan dengan mulutnya.
Setelah dekat Bagas tidak langsung minumnya di menelan salivanya.
“Cepat minum!” gertak juru kunci itu.
Bagas menutup matanya lalu meneguk darah segar yang ada di dalam mangkok.
Setelah selesai Bagas memberikannya mangkok itu kepada Juru kunci.
Mangkok itu pun sekarang berpindah kepada Adit.
“Minum ini!” ujar guru kunci yang menyodorkan mangkok tadi kepada Adit.
Adit pun mengambil mangkok itu dengan ragu, lalu Adit mulai mendekatkan mangkok itu ke mulutnya.
Mata Adit terpejam saat ia meneguk darah segar yang ada di mangkok itu.
“Ini sudah Mbah,” ujar Adit.
“Ha-ha-ha, bagus!” juru kunci itu tertawa dengan kencang.
Adit merasakan mual saat dia tengah selesai meminum darah itu.
Adit pun meminta air putih yang ada di tangan juru kunci itu.
Juru kunci itu memberinya namun Adit pun di tertawakan oleh juru kunci itu beserta para warga akibat tingkah konyolnya.
bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1