Desa Kemomong

Desa Kemomong
Pengaruh pelet telah hilang


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 Adit telah sampai di halaman rumah Ningsih.


Ningsih tadi berpamitan kepada Kuncoro ingin pergi ke rumah temannya meminta Adit mengantarnya sampai sini saja.


“Ayo aku antar sampai rumahmu,” Adit yang turun dari motor menarik tangan Ningsih.


“Lepas!” pekik Ningsih menarik tangannya. 


“Mas tidak usah mengantar Ning sampai rumah nanti bapak berpikir yang tidak-tidak, tadi Ning pamit mau ke rumah teman. Dan tiba-tiba Mas yang mengantar Ningsih apa kata Bapak nanti,” ucap Ningsih menjelaskan kepada Adit.   


“Kamu bilang apa kata bapak Ning, bagus aku ndak ngomong kelakuanmu sama Bagas Ning,” sahut Adit yang masih sangat kesal.


“Itu semua salah paham Mas,” ucap Ningsih yang membela diri.


“Sudahlah aku gak mau bahas hal itu lagi, ya sudah aku pamit,” sahut Adit yang kesal.


Adit menaiki motornya dan meninggalkan Ningsih pergi kembali ke mes.


Sementara Bagas yang sudah berada di mes dengan wajah yang lebang membuat Edwin bertanya kepadanya.


“Bang ini kenapa mukamu babak belur gini, apa kamu bertemu dengan preman kampung di sini,” tanya Edwin yang penasaran.


“Bukan Win,” sahut Bagas dengan singkat.


“Nah terus kenapa Bang?” tanya Edwin yang penasaran.


“Udah tidak papa Win,” ucap Bagas meninggalkan Edwin keluar dari mes kembali.


Bagas yang sedang duduk di luar mes mencoba mengingat-ingat kejadian yang ia alami.


Teringat samar-samar namun tidak begitu jelas apa sebenarnya yang ia alami.


Pengaruh pelet dari Ningsih mulai memudar kini Bagas mulai sadar.


Beberapa menit kemudian, Adit tiba dengan menaiki motornya.


Adit yang memarkirkan motor temannya di depan mes lalu turun dan langsung mendatangi Bagas.


Bagas di tarik jauh dari mes, agar yang lain tidak mengetahui permasalahan mereka.


“Mas ikut aku,” Adit yang menarik tangan Bagas.

__ADS_1


Mereka sudah jauh dari mes di tempat yang Adit rasa aman untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Mas aku minta jawabanmu yang jujur kalau kamu masih menganggap aku sebagai koncomu (temanmu) Mas. Kenapa kamu tega berbuat itu sebuah di belakangmu padahal kamu tahu aki sangat mencintai Ningsih Mas,” ucap Adit meminta penjelasan Bagas.


“Aku tidak ingat apa-apa Dit, aku berani sumpah demi Tuhan Dit. Aku hanya ingat di kala aku selesai mengantar Sekar pulang lalu berpamitan kepada Kuncoro beserta Ningsih. Di situ aku melihat Ningsih berbeda aku seperti sedang terhipnotis Dit, dan kejadian yang baru saja terjadi aku tidak ingat sama sekali. Aku bingung tiba-tiba aku ada di pondok kamu sudah memukuliku,”  Bagas yang mulai menjelaskan.


“Alah jangan bawa-bawa nama Tuhan mas kalau kamu juga bajingan.


“Dit aku tidak berbohong, coba percaya denganku Dit, kita sudah berteman dari kecil Dit hingga sekarang. Apa semenjak berteman aku pernah berbuat seperti ini Dit?” pungkas Bagas.


Adit terdiam mendengar penjelasan Bagas, Adit mencoba menenangkan dirinya agar tidak di kuasai emosinya.


Adit juga mulai berpikir dengan ucapan Bagas.


“Ya sudah aku percaya kepadamu Mas,” sahut Adit yang mencoba mempercayai ucapan Bagas.


“Aku pun tidak tahu Dit apa yang terjadi kepadaku, sampai aku ingin berbuat yang tidak pantas kepada Ningsih. Aku hanya mencintai Sekar bukan Ningsih, Dit!” Bagas yang meyakinkan Adit.


“Ya sudahlah Mas aku sudah memaafkanmu, mungkin Ningsih tidak baik untukku Mas, sebaiknya sampean ambil air wudhu dan sholat. Dekatkan diri dengan gusti Allah siapa tahu pengaruh jahat di diri sampean Mas hilang,” Adit yang memberi nasehat kepada Bagas.


“Iya Dit, maafkan aku. Aku tidak mau pertemanan kita sampai berakhir karena masalah ini yang aku sendiri pun tidak sadar dengan apa yang terjadi.”


“Yo wes Mas, aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf sudah memukulmu wajahmu tadi.”


Setelah itu mereka berdua kembali ke mes, Bagas melaksanakan nasehat Adit untuk pergi sholat meminta kepada Sang Maha Pencipta.


Edwin yang sangat penasaran apa yang terjadi kepada Bagas pun bertanya kepada Adit.


“Dit, itu Bagas kenapa mukanya kok bapak belur?” tanya Edwin.


“Aku gak tahu Win, kamu tanya aja sama orangnya sendiri!” ujar Adit.


“Aku sudah tanya Dit, waktu dia pulang tadi tapi Bagas gak mau cerita,” sahut Edwin.


“Kalau gitu itu namanya privasi, Win” ucap Adit yang meninggalkan Edwin ke tempat tidurnya.


“Ye ini orang ditanyain jawabannya sama saja,” sahut Edwin yang kesal tidak mendapat jawaban dari Adit dan Bagas.


Sementara di sisi lain Ningsih yang sudah berada di kamarnya tidak bisa tidur, hatinya kesal karena rencananya mendapatkan Bagas kini gagal kembali. Sekar yang berada di sampingnya sudah tertidur dengan sangat lelap.


‘Sedikit lagi rencanaku akan berhasil, tapi gara-gara Adit semua kacau, dan pelet ini mungkin tidak bereaksi lagi,” Batin Ningsih.

__ADS_1


Ningsih pun akan mencoba meminta tolong kembali kepada mbah Seno.


‘Baiklah besok  aku harus ke tempat mbah Seno lagi, untuk meminta pelet yang lebih paten!’ batin Ningsih.


Malam semakin larut suara-suara hewan malam mulai terus terdengar, Ningsih mulai merasakan kantuk di pelupuk matanya. Ia memejamkan matanya dengan harapan Bagas harus menjadi miliknya.


Ningsih mencoba memejamkan matanya rasa ngantuk mulai ia rasakan.


Sementara disisi lain mbah Seno yang dapat teguran dari iblis yang ia sembah.


Mbah Seno yang sedang tertidur di kamarnya terbangun dengan suara makhluk tadi.


“Seno, mana tumbal selanjutnya untukku!” suara makhluk yang mbah Seno sembah. 


Mbah Seno terbangun lalu duduk bersila memejamkan matanya mencoba berinteraksi secara batin kepada makhluk itu.


‘Baiklah sanga penguasa aku akan memberikan untuk berikatnya secepatnya untukmu,’ sahut Seno dengan batinnya.


“Baiklah aku akan menunggu dan memegang ucapanmu Seno,” sahut Mahluk itu.


Suara makhluk itu pun tiba-tiba menghilang entah ke mana di kala sudah mendapat jawaban dari mbah Seno.  


 Mbah Seno yang tidak mendengar apa-apa lagi pun melanjutkan tidurnya.


Keesokan paginya Adit beserta Bagas mencoba melupakan kejadian tadi malam, mereka berdua mencoba kembali akrab seperti dulu agar Edwin tidak curiga dengan perselisihan di antara mereka tadi malam.


Bagas juga sudah benar-benar tersadar dan pelet yang di berikan oleh Ningsih sudah benar-benar hilang di diri Bagas.


“Bagaimana Mas, udah merasa lebih baik,” tanya Adit.


“Alhamdulillah Dit berkat nasehatmu tadi malam sekarang aku sudah mulai membaik,” ujar Bagas.


“Aku tidak mengira Ningsih wanita yang sangat aku cintai bisa melakukan hal seperti ini kepadaku dan kamu Mas,” Adit yang sangat kecewa.


“Sudahlah Dit jangan terlaku dipikirkan mungkin benar apa katamu, dia tidak baik untukmu Dit,” Bagas yang mencoba menasihati Adit.   


“Iya Mas, hatiku loro Mas ( hatiku sakit Mas),” sahut Adit.


“Lebih baik sakit sekarang Dit, ketimbang kenyataan pahit itu berangsur-angsur lama.”


Adit hanya terdiam ia mencoba ingin mencoba melupakan Ningsih dan membuang perasan cinta yang Adit rasakan kepada Ningsih.

__ADS_1


 


__ADS_2