Desa Kemomong

Desa Kemomong
Teror mayat hidup


__ADS_3

Malam yang begitu mencekam, bak mimpi di siang bolong hal mengerikan ini sangat membuat mereka ketakutan. Apa lagi dengan munculnya mayat-mayat tanpa kelopak mata itu.


Bau busuk begitu kentara dengan suasana yang kian mengintimidasi. Tubuh kedua putri Kuncoro itu begitu gemetar karena saking takutnya.


Isak tangis di selimuti rasa takut mengelilingi seluruh ruangan, Sekar dan Ningsih mereka bersembunyi di balik tubuh Bagas dan Adit.


“Tidak usah takut kita bisa melawan mereka semua.” Ujar Kuncoro.


“Masukan garam dan lada hitam ini ke kantong kalian, lemparkan kepada para mayat-mayat itu gar dan lada ini berfungi untuk mengusir mereka!” Kuncoro yang menjelaskan kepada Mereka semua.


Bruk( suara pintu yang berhasil di dobrak) 


Para mayat berhasil mendobrak pintu rumah Kuncoro lalu mendatangi mereka dengan raut wajah mengerikan, mulutnya mengaga seakan siap menelan mereka dalam ketakutan. Matanya melotot menatap tajam ke arah mereka.


“Ning takut Mas!” ucap Ningsih.


“Sekar juga takut Bang,” sahut Sekar.


Mereka semua tidak pernah membayangkan fenomena sengeri ini.


Para mayat sudah mulai mendekati mereka namun, Bagas, Adit, Sekar beserta Ningsih hanya diam sama dengan tubuh yang gemetar.


Kuncoro yang saat itu menghalau para mayat itu dan berteriak.


“Ayo gunakan yang aku beri lemparkan ke mayat itu!” Pekik Kuncoro.


Kuncoro yang berdiri paling depan pun mulai melempari mayat itu dengan lada hitam bercampur garam.


Benar saja apa yang di katakan Kuncoro para mayat itu seketika hilang.


Mereka yang berada di dalam rumah dengan para mayat pun melempari lada hitam bercampur dengan garam.


Rumah Kuncoro di kelilingi oleh para mayat hidup tersebut.


Ada beberapa warga yang menyaksikan hal itu namun mereka tidak berani keluar rumah, kini bukan hanya Kuncoro namun seluruh desa di selimuti ketakutan.

__ADS_1


Bagas beserta Adit pun mulai melempari para mayat dengan lada hitam beserta garam sampai  Sekar yang sempat di tarik oleh mereka.


“Sekar! Teriak Bagas.


Bagas yang panik mencoba untuk menolong Sekar namun lada hitam beserta garam yang Bagas punya pun telah habis.


Sementara Kuncoro, Adit beserta Ningsih pun tengah sibuk berhadapan dengan mereka.


Bagas yang bingung harus berbuat apa mengambil Kursi kayu yang terbuat dari kayu jati, kursi kayu itu di hempaskan oleh Bagas ke tubuh para mayat yang berhasil menarik Sekar.


Para mayat yang Bagas lemparkan kursi kayu itu pun mendatangi Bagas dan menyerangnya sementara Sekar berhasil Bagas tolong.


Para mayat mendatangi Bagas dan berhasil mencekik leher Bagas.


Bagas berusaha melawan sekuat tenaga dengan memukulkan seluruh barang yang ada di dekatnya ke arah mayat itu. Namun hal itu sia-sia mayat itu tidak menunjukkan reaksi apa pun.


Sekar yang takut terdiam tidak bisa melakukan apa-apa. Namun Kuncoro berteriak dan memberitahu Sekar.


“Sekar! Lempar garam dan lada hitam itu!” teriak Kuncoro.


Sontak saja mayat yang mencekik Bagas itu telah hilang, Bagas terduduk di lantai, Sekar pun menghampiri Bagas lalu memeluknya   


 Kuncoro, Bagas, Adit, Ningsih beserta Sekar  telah berhasil mengusir para mayat hidup itu.


“Akhirnya kita semua telah berhasil mengusir para mayat hidup itu,” ucap Kuncoro.


“Iya Pak,” sahut Adit yang membenarkan ucapan Kuncoro.


“Siapa yang mengirim mereka semua?” tanya Bagas.


“Mbah Seno!” Kuncoro yang menegaskan.


“Untuk apa mbah Seno melakukan hal ini kepada keluarga Bapak!” tanya Bagas yang antusias.


“Untuk membunuh kita semua!” Jelaskan Kuncoro secara singkat.

__ADS_1


“Kenapa Mbah Seno ingin membunuh keluarga Bapak, bukankan Bapak beserta keluarga adalah penduduk desa Kemomong ini?” tanya Bagas.


“Karena aku telah melanggar perjanjian di desa Kemomong ini,” kata Kuncoro.


“Perjanjian apa Pak?” tanya Adit yang bingung.


“Perjanjian yang tidak membolehkan warga desa Kemomong menikah dengan warga di luar desa ini,” Kuncoro menjelaskan kepada mereka semua.


“Gila! Semua orang di desa ini telah musyrik akibat perbuatan Seno!” sahut Adit yang marah.


 “Semua telah terjadi tidak perlu disesali kembali, kita harus berhati-hati, karena kita tidak tahu tindakan selanjutnya yang akan di berikan Seno kepada kita Semua,” ucap Kuncoro.


“Sekar takut?” sahutnya.


“Tidak usah takut Abang akan melindungimu Sekar!” sahut Bagas.


Terlihat keadaan di rumah Kuncoro sendiri yang berhamburan beberapa kursi yang terbuat dari kayu jati telah rusak bahkan ada yang hancur akibat di gunakan Bagas untuk memukul mayat hidup tersebut.


Pintu kayu yang tadinya kokoh sekarang terjatuh di tanah akibat di gedor-gedor dengan sangat keras oleh para mayat itu menggunakan tubuhnya .


Begitu juga jendela-jendela yang tidak dapat di tutup kembali karena ulah para mayat.


Lantai rumah penuh dengan tanah-tanah liat dari kuburan yang menempel di kain kafan mayat pocong tanpa kelopak mata itu.


Begitu pun meja kayu yang terbuat dari kayu jati yang beralih posisi, merasakan situasi mulai aman. Beberapa warga memberanikan diri membuka pintu rumahnya dan keluar menghampiri rumah Kuncoro yang terlihat tak karuan bentuknya itu.


“Pak ... Sebenarnya ada apa? Saya melihat mayat-mayat itu datang. Tapi saya tidak berani untuk keluar,” ucap salah satu warga.


“Ini semua adalah kesalahanku. Aku yang akan membereskannya. Kalian pulang lah dan jangan keluar rumah dulu,” ucap Kuncoro.


Para warga itu pun pulang serta menutup pintu rumah masing-masing.


Sementara di sisi lain mbah Seno sangat marah dengan perbuatan Kuncoro.


“Kurang ajar, kalian bisa selamat kembali!” ucap  Seno dengan sangat marah

__ADS_1


“Tunggu pembalasanku, terutama kau Bagas dan Adit tidak akan selamat, ha-ha-ha-ha,” Seno dengan tertawa jahatnya.


__ADS_2