
Adit menggandeng Ningsih berjalan keluar hutan menuju mes Adit.
Ningsih yang menangis sepanjang jalan teringat dengan hal yang mengerikan kepada dirinya.
Melihat Ningsih yang terus menangis Adit pun merasa iba.
“Ning sudah jangan menangis,” ucap Adit berusaha menenangkan Ningsih.
“Aku antar pulang kamu Ning,” ucap kembali Adit menggandeng tangan Ningsih.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di depan mes. Adit masuk ke dalam mes meminjam kunci motor yang di miliki Bagas.
“Kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau pinjam kunci motor kepada mas Bagas,”
Ningsih pun mengangguk masih dengan menangis. Namun Ningsih teringat akan kesalahannya kejadian itu membuat Ningsih benar-benar sadar.
“Mas Adit, terima kasih sudah menolongku. Sampaikan permintaan maafku kepada bang Bagas,” pekik Ningsih yang memanggil Adit ketika hendak masuk mes.
“Iya Ning sama-sama. Nanti aku sampaikan kepada Bagas,” ujar Adit kembali masuk ke dalam mes.
Adit mendatangi Bagas untuk meminjam kunci motor miliknya.
“Mas aku pinjam kunci motormu dulu,” ujar Adit yang meminjam.
“Mau ke mana Dit,?” tanya Bagas.
“Mau ngantar Ningsih,” celetuk Adit.
“Ningsih? Kok bisa dia sampai ke mes ini?” tanya Bagas yang bingung.
“Ceritanya panjang Mas, nanti aku ceritakan setelah aku mengantar Ningsih pulang.”
Bagas memberikan kunci motornya kepada Adit, Adit mengambil kunci motor yang di berikan oleh Bagas.
“Oh iya Ningsih bilang minta maaf atas semua ini,” ucap Adit meninggalkan Bagas.
Edwin yang baru datang dari kamar mandi melihat Ningsih di depan mes lalu menegurnya.
“Menunggu siapa Mbak?” tanya Edwin.
__ADS_1
“Mas Adit, Bang,” sahut Ningsih.
“Masuk Mbak!” Edwin yang mempersilahkan Ningsih untuk masuk.
“Di sini saja Bang,” sahut Ningsih yang menunduk karena tidak mau orang tahu ia habis menangis.
Tidak lama Adit datang, Edwin mulai meledaknya kembali.
“Dit mau ke mana?”
“Mau mengantar Ningsih pulang.”
“Pacarmu cakep Dit,” Ewin yang berbisik kepada Adit berjalan masuk ke mes.
Setelah itu Adit menaiki motor Bagas lalu menyalakannya.
“Ayo Ning,” ajak Adit yang telah siap di atas motor.
Ningsih pun menaiki motor lalu duduk di belakang Adit. Selepas itu Adit menjalankan motornya mengantarkan Ningsih pulang.
Di dalam perjalanan Ningsih memulai memeluk Adit dari belakang kini ia sadar bahwa Adit adalah laki-laki yang sangat tulus mencintainya.
“Maafkan Ningsih ya Mas Adit, Ning benar-benar menyesal dan sekarang baru sadar bahwa Mas Adit benar-benar tulus menolong Ning.”
“Sudahlah ini memang tugasku sebagai laki-laki menolong wanita yang aku sayangi dalam kesulitan.”
“Ning benar-benar menyesal dan di butakan oleh hawa nafsu, Mas Adit mau memaafkan Ning dan menerima Ning kembali di hati Mas?” Ningsih yang merasa bersalah.
“Iya dari kejadian itu aku sudah memaafkanmu Ning, namamu masih ada di hatimu Ning,” ujar Adit.
Ningsih pun semakin erat memeluk Adit ia juga menyenderkan kepalanya di pundak Adit.
Ningsih merasa nyaman dan tenang di samping Adit.
“Oh ya terima kasih sudah menolong Ning, jika tidak ada Mas. Ning tidak tahu lagi nasib Ning selanjutnya.”
“Iya Ning aku sudah memaafkanmu, jangan berhubungan kembali dengan dukun itu, dan cobalah mendekatkan diri kepada gusti Allah bertobatlah karena yang kamu lakukan itu sudah syirik Ning,” Adit yang menasihati Ningsih.
“Iya Mas, nasehat Mas Adit akan Ningsih jalankan. Ning benar-benar sangat menyesal,” ujar Ningsih.
__ADS_1
Saking asyiknya mengobrol tidak terasa mereka sudah mau sampai di rumah Kuncoro.
“Mas di sini saja, Ning tidak mau Bapak berpikir yang tidak-tidak kepada Mas Adit nanti,” pinta Ningsih.
“Iya Ning,” ujar Adit yang telah mengerti.
“Mas hati-hati di jalan,” celetuk Ningsih melambaikan tangannya.
Adit menjalankan motornya meninggalkan Ningsih kembali ke mes.
Sedangkan Ningsih berjalan masuk ke rumah.
Di dalam rumah Ningsih langsung menuju kamar mandi mengambil air wudhu lalu sholat tobat meminta maaf kepada Yang Maha Kuasa dengan apa yang dia perbuat telah Syirik.
Di dalam Sholatnya Ningsih menangis ia benar-benar menyesali perbuatan yang telah di lakukannya.
Sementara Adit yang telah sampai di mes tersenyum-senyum bahagia karena Ningsih telah menerima dirinya.
“Ini Mas kuncinya,” Adit memberikan kunci motor yang ia pinjam oleh Bagas.
“Sepetinya ada yang sedang bahagia nih,” kata Bagas.
“Iya Mas, akhirnya Ningsih mau menerimaku. Aku senang banget Mas.”
“Oh iya kamu bisa bertemu Ningsih di mana?” tanya Bagas yang penasaran.
Adit menjelaskan peristiwa yang di alami dirinya hingga bertemu dengan Ningsih dan mahluk yang menyeramkan itu beserta mbah Seno.
Bagas yang mendengar itu sangat terkejut Bagas tidak percaya Ningsih dapat melakukan hal seperti itu kepadanya.
Namun Adit telah memberi penjelasan kepada Bagas bahwa Ningsih telah benar-benar sadar dan tobat.
Bagas pun memaafkan perbuatan Ningsih kepadanya.
Masalah Ningsih telah selesai menurut Adit dan Bagas namun tidak dengan mbah Seno yang sudah terlanjur dendam kepada mereka semua.
Mbah Seno ingin membalaskan sakit hatinya kepada mereka semua tanpa kecuali, karena ritual sesatnya di gagalkan oleh Adit dan mbah Seno juga mendapatkan beberapa pukulan oleh Adit akibat itu membuat mbah Seno sangat begitu dendam kepada mereka semua.
__ADS_1