
Setelah tidak kuasa menahan bau busuk yang sangat menusuk hidung itu Adit pun akhirnya memuntahkan isi perutnya.
‘Asem bau banget,' gumam Adit.
Tidak lama Bagas memberhentikan mobilnya.
“Mas, kita kubur di sini saja?” tanya Adit.
“Iya Dit, di kubur di sini saja.”
Terlihat tanah yang tidak terlalu luas namun cukup untuk menguburkan kembali kelima jenazah itu, terdapat rumput-rumput yang rindang dan sebuah pohon yang sangat besar sekali, usianya mungkin sudah ratusan tahun karena batang pohon itu yang sangat besar dan juga serat-serat yang di batang pohon itu tampak jelas kasar.
Bagas langsung bergegas memerintahkan rekan satu timnya untuk segera menggali tanah.
“Ayo, kita gali tanah jangan sampai selesai malam hari,” perintah Bagas kepada semua rekannya.
“Iya Bang,” sahut beberapa dari mereka.
Mereka pun mulai mengambil alat-alat yang akan di gunakan di atas bak mobil, di sertai hujan yang sangat deras serta petir yang saling bersaut-sautan membuat proses penguburan kembali jenazah itu sedikit memakan waktu.
Semua pekerja proyek sangat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Satu jam telah berlalu mereka telah selesai mengali lubang sebanyak 5.
Kelima jenazah yang berada di atas bak mobil pun satu persatu di turun kan lalu di masukkan ke dalam lubang di timbun kembali dengan tanah begitu seterusnya sampai kelima jenazah itu telah terkubur kembali.
Langit mulai berubah menjadi malam kelima jenazah sudah di kuburkan sebagaimana mestinya Bagas pun mengajak semua rekannya untuk mendoakan kelima jenazah itu.
Setelah doa selesai barulah Bagas mengajak timnnya untuk pulang kembali di mes.
“Mari kita pulang langit sudah malam, takutnya di dalam hutan ini terdapat hewan buas,” ujar Bagas.
Mereka semua pun mengikuti perintah Bagas, naik ke mobil.
“Semua sudah naik mobil?” teriak Bagas dari dalam mobil yang sudah siap menjalankan mobilnya.
“Sudah Mas,” teriak Adit di atas bok mobil.
__ADS_1
Mesin mobil dinyalakan oleh Bagas selepas itu Bagas mulai menjalankan mobilnya meninggalkan hutan menuju ke mes.
Jarak di dalam hutan antara mes tidaklah cukup jauh mereka hanya menempuh jarak 15 menit saja untuk sampai.
Tidak lama kemudian mobil Bagas sampai di mes, para pekerja proyek pun turun dari mobil lalu membersihkan diri mereka masing-masing dari tanah yang menempel di tangan bahkan tubuh mereka.
Menurut Bagas, Adit, Niko dan juga Adit memindah para jenazah itu ke dalam hutan telah selesai, padahal ini adalah awal sesuatu kejadian yang akan menimpa mereka berempat.
Sementara di sisi lain mbah Seno yang sedang berada di kamar ritualnya duduk bersila dengan tungku api yang ada di hadapannya.
Mbah Seno yang memejamkan matanya seolah-olah dapat melihat kejadian dengan mata batinnya.
“Rupanya kalian berempat sudah menemukan kelima jasad itu, baguslah sebentar lagi kalian berempat akan mengalami hal yang sama dengan kelima jenazah itu seperti salah satu teman kalian yang telah mati! Ha-ha-ha-ha,” ucap mbah Seno.
Malam semakin larut semua pekerja proyek pun telah tertidur dengan sangat lelapnya, kelelahan hari ini membuat mereka semua tertidur lelap.
Mbah Seno yang melihat semua pekerja proyek telah tidur dengan lelap lewat mata batinnya pun mulai menjalankan ritual sesatnya kembali.
Mbah Seno mengambil beberapa gelintir kemeyan lalu di taruh di atas tungku yang terdapat bara api, seketika kemenyan yang mengenai bara api berubah menjadi asap tipis yang dengan bau yang sangat has.
Dengan seketika Niko yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya pun berjalan keluar mes.
Niko seperti orang yang tidak sadarkan diri di tambah lagi tatapan mata yang kosong.
Semua teman Niko yang berada di dalam mes tidak mengetahui Niko telah keluar dari mes tersebut.
Niko berjalan di gelapnya hutan seperti ada yang menuntun dirinya, Niko terus dan terus berjalan sampai dirinya sampai di dalam hutan tempat di mana tadi ia beserta timnya menguburkan kelima jenazah itu di sini.
Akan tetapi Niko tidak berhenti di kuburan-kuburan itu Niko terus berjalan mendekati semubah pohon yang sangat besar di sekitar kuburan itu.
Niko yang telah sampai di pohon besar itu berdiam diri.
“Bunuh dirimu, bunuh dirimu,” terdengar suara yang samar-samar di balik pohon besar itu.
Niko yang tidak sadarkan diri melaksanakan perintah suara itu berada.
Niko melihat di sampingnya ada sebuah ranting yang kuat dengan ujung ranting itu runcing.
__ADS_1
Ranting pohon yang Niko dapatkan pu segera ia pengan lalu dengan perlahan mendekatkan ranting pohon itu ke dada Niko sebelah kiri.
Entah apa yang terjadi kepada Niko dengan sekuat tenaga Niko menusukkan ranting pohon yang ia dapatkan ke dada kirinya.
Tepat di jantung, Niko seketika terbujur di tanah dengan darah segar mengalir dari tubuh yang Niko tusuk.
Darah segar itu mengalir ke tanah, bau amis darah Niko pun mengundang sebuah makhluk mengerikan datang di balik pohon besar dan tua itu.
Mahluk dengan tubuh tinggi besar berwarna hitam, bermata merah serta mempunyai gigi tarik di mulutnya sedang menjilati darah Niko yang berada di tanah.
Darah Niko berada di tanah itu pun telah habis tanpa sisi barulah makhluk itu mendekati tubuh Niko yang tidak bernyawa lagi.
Mahluk itu mengambil ranting yang menusuk ke tubuh Niko lalu menempelkan mulutnya ke luka Niko.
Dengan seketika Mahluk itu mengisap darah Niko sampai benar-benar tidak tersisa tubuh Niko di hisap makhluk itu berubah memutih dan pucat.
Makhluk pengisap darah itu telah selesai mengisap semua darah Niko barulah makhluk itu kembali ke pohon besar lalu menghilang.
Mbah Seno yang mengetahui ritualnya telah berhasil pun sangat gembira sekali.
Mbah Seno menghentikan mantranya lalu mbah Seno berinteraksi dengan makhluk itu lewat mata batinnya.
“Sudah hamba serahkan satu tumbal lagi untukmu wahai penguasa,” ucap mbah Seno.
“Bagus Seno, tinggal 3 orang lagi untuk menggantikan kelima mayat laki-laki ini, jika kau tidak bisa menjadikan ketiga pemuda itu makan kau sendiri yang akan merasakan akibatnya,” ucap Makhluk itu mengancam mbah Seno.
“Baik sang penguasa kegelapan, hamba abdimu yang paling setia tidak akan mengecewakanmu,” ujar Mbah Seno.
“Ha-ha-ha-ha kalian bertiga adalah korbanku selanjutnya, agar sang penguasa senang terhadapku,” ujar Mbah Seno
Mbah Seno memiliki dua anak laki-laki yang kembar bernama jaka dan joko kedua anak laki-laki mbah Seno sudah dewasa dan tinggal bersama mbah Seno di kala ibu mereka meninggal akibat sakit yang tidak kunjung sembuh.
Sekarang Jaka dan Joko dari kecil di urus mbah Seno hingga sekarang, dan mbah Seno pun sangat mencintai kedua anak lelakinya itu.
Jangan lupa dukungannya ya gengs sekilasnya saja.
__ADS_1