
“Bang Rian!” Erin berteriak lalu terbangun.
Dengan nafas yang cepat serta detak jantung yang berdetak begitu cepat.
Erin terduduk dan terdiam mengingat mimpi yang menyeramkan bagainya.
Teriakan Erin yang begitu nyaring membangunkan ibunya di kamar sebelah yang hanya terhalang dinding.
Inu Erin pun keluar dari kamarnya menuju kamar Erin hendak melihat Erin apa yang terjadi kepadanya sampai Erin berteriak di tengah malam.
“Erin! Erin! Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya ibu Erin di balik pintu kamarnya sembari mengetuk pintu kamar Erin.
“Iya Bu, masuk saja sahut Erin!” ujar Erin menyuruh ibunya untuk masuk.
Ibu Erin pun masuk ke kamar Erin.
Terlihat Erin yang terduduk dengan wajah yang cemas serta keringat keluar dari wajahnya.
“Kamu kenapa Nak?” tanya Ibu Erin.
“Erin bermimpi, bang Rian Bu. Mimpi itu begitu mengerikan,” ucap Erin mengingat mimpi seramnya.
“kamu bermimpi apa tentang Rian, Erin?” tanya kembali ibunya.
“Erin merlihat di samping rumah Erin. Bang Rian sedang mengali lubang yang cukup besar, karena Erin penasaran dengan hal yang di lakukan bang Rian Erin pun memutuskan mendatanginya dan juga melihat ke dalam lubang yang bang Rian gali,” Erin mulai menjelaskan.
“Lalu apa yang terjadi Erin?”
“Saat Erin menengok ke dalam lubang yang bang Rian buat, Erin melihat beberapa jenazah yang terbungkus oleh kain kafan, tapi anehnya jenazah itu tiba-tiba terbangun lalu menarik bang Rian masuk ke dalam lubang itu Bu. Erin takut Bu, bang Rian kenapa-kenapa?” ucap Erin sayang sangat khawatir dan juga cemas.
Ibu Erin pun memeluk tubuh putrinya yang sedang mengandung itu. Mencoba untuk menenangkan Erin.
“Semoga saja itu hanya mimpi, Nak. Dan doakan saja suamimu Rian tidak kenapa-kenapa!”
“Iya Bu, tapi Erin takut Bu, bang Rian,” sahut Erin yang masih saja gelisah.
“Sudah mungkin saja itu hanya kebetulan bermimpi, Rian tifK kenapa-kenapa,” ucap Ibu Erin mencoba kembali menenangkan Erin.
“Lebih baik, kamu tidur kembali, tidak baik bagi ubu hamil terlalu cemas dan bayak yang di pikirkan.”
Erin pun merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur mengingat akan nasihat ibunya
Sementara Ibu Erin menyelimuti diri Erin sampai Erin benar-benar tertidur barulah ia keluar dari kamar Erin dan mua keluar dari kamar Erin menuju kembali kamarnya.
Selang Erin sudah tertidur kembali dengan pulas berulah Ibunya keluat dati kamarnya melanjutkan tidurnya kembali.
Sementara keadaan Rian sendiri serial tengah malam Rian selalu mimpi buruk menyebabkan dirinya tidak dapat tidur dengan tenang.
Rian yang sekarang selalu bermimpi seram hinga mengigau-ngigau.
Di bangunkan oleh temannya yang tidur di samping Rian.
__ADS_1
“Rian! Rian,” bangun ucap Adit.
Membangunkan Rian yang sedang mengigau. Rian pun bangun Adit mengambilkan Rian segelas air putih untuk di minumnya.
Setelah merasa tenang Rian menceritakan tentang mimpi buruknya kepada Adit.
Adit yang mendengar hal itu pun mencoba untuk menenangkan Rian, setelah Rian merasakan tenang barulah ia kembali tidur.
Raut wajah Rian pun semakin memucat namun Rian tidak ingin dirinya di rawat di rumah sakit.
Sekali ketika Rian ingin makan ia pun memuntahkan makan yang ia makan seperti makanan itu tidak bisa masuk ke dalam lambungnya.
Tubuh Rian mengalami sedikit penurunan walau pun tidak drastis namun terlihat dari bentuk tubuh yang tadinya berisi sekarang sedikit menurun.
***
Keesokan paginya Rian sedang menyantap makan, namun makan itu belum sempat ia habiskan Rian pun mengakhirinya lalu ia menuju keluar mes Rian memuntahkan makan yang baru saja ia makan.
Bagas yang mengetahui hal itu mendatangi Rian dan membujuk Rian untuk mau di rawat.
“Rian, sebaiknya kamu di rawat saja di rumah sakit agar kamu cepat sembuh dan bisa segera bekerja,” ujar Bagas yang sangat khawatir kepada Rian.
“Tidak usah Bang, aku baik-baik saja,” sahut Rian dengan tersenyum.
“Baik dari mana! Wajahmu makin hari makin terlihat pucat tubuhmu pun mulai kurusan. Aku takut ucapan dokter benar kalau perlu di rawat,” Bagas yang berusaha membujuk Rian.
“Tidak usah Bang aku baik-baik saja,” sahut Rian berjalan masuk ke dalam mes meninggalkan Bagas.
Rian pun menuju tempat tidurnya, ia kembali beristirahat setelah meminum obat.
Mendengar suara telepon genggamnya berbunyi Rian pun mengambil di dalam tasnya.
Rian merogoh tasnya lalu mengeluarkan telepon genggamnya.
Setelah berhasil ia dapatkan telepon genggamnya, Rian melihat siapa yang menelepon dirinya ternya panggilan dari istrinya Erin.
“Assalamualaikum, hallo Bang!”
“Waalaikumsalam, Iya Dek, ada apa?”
“Abang baik-baik saja, suara abang seperti orang sedang sakit?”
“Tidak kok, Abang baik-baik saja hanya flu ringan,” ujar Rian yang berbohong.
“Abang tidak apa-apa kan?” tanya Erin kembali.
“Tidak Dek, Abang baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu apa kamu sehat, Dek?”
“Alhamdulillah sehat Bang, Adek hanya kuatir dengan Abang. Tadi malam Adek mimpi buruk tentang Abang!”
“Syukurlah jika Adek baik-baik saja. Sudahlah itu kan hanya mimpi lagian Abangkan sehat-sehat saja,” sahut Rian yang berbohong kepada Erin agar Erin tidak khawatir kepadanya.
__ADS_1
“Iya Bang, Adek kangen sama Abang.”
“Iya Abang tahu, sabar ya Abang masih cari duit buat anak kita, nanti Abang kabari kapan Abang pulang lagi pula Abang kan baru bekerja 1 minggu Dek,” sahut Rian.
“Iya Bang, Ade mengeri. Abang sehat-sehat di sana jalan telat makan ya,” ucap Erin yang memberi perhatian.
“Ya sudah jika Abang mau lanjut bekerja,” sambung Erin.
“Iya Dek Abang kerja dulu ya, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” balas Erin sembari mematikan telepon dari Rian.
Setelah mematikan telepon dari Erin istrinya Rian pun kembali beristirahat.
***
Satu minggu telah berlalu, malam ini tepat malam jumat keliwon di mana ritual adat desa Kemomong akan segera berlangsung malam ini.
Para pekerja proyek pun bersiap-siap untuk pergi ke desa menghadiri acara ritual adat tersebut namun, ada juga dari mereka yang tidak ikut memilih tinggal di dalam mes.
Bagas beserta Adit telah siap ingin pergi ke desa, mereka berdua pun menanyakan Niko, Edwin, serta Rian.
“Nik, kamu tidak ikut?” tanya Bagas yang bersiap ingin pergi.
“Tidak Bang, aku di mes aja menemani Rian yang sedang sakit,” sahut Niko.
“Ya sudahlah aku juga tidak bisa memaksamu, kalau kamu Win gak ikut?” tanya Bangas kepada Edwin.
“Gak lah Bang, aku cape banget di mes aja bersama Rian dan Niko,” sahut Edwin.
“Ya sudah kalau begitu berarti aku bersama Adit saja yang menghadiri undangan ini,” ucap Bagas memperjelas.
“Iya Bang. Abang sama Adit saja mewakilkan kami bertiga,” ujar Niki.
Setelah mengajak ketiga temannya yang tidak mau ikut. Bagas beserta Adit pun yang akan berangkat berserta para pekerja proyek yang ikut menghadiri undangan itu.
Mereka semua berjalan keluar mes, lalu masuk ke dalam mobil box Bagas.
Setelah semua telah masuk ke dalam mobil Adit yang kali ini bertugas untuk menyetir mobil box tersebut.
Adit mulai menyalakan mesin lalu menjalankan mobil box meninggalkan mes menuju desa Kemomong tempat di mana acara ritual itu berlangsung.
Di dalam perjalanan menuju desa kemomong, para pekerja proyek yang duduk di belakang sedang berbincang-bincang santai, begitu pun dengan Adit berserta Bagas.
Canda tawa pun terlihat dari wajah mereka masing-masing.
bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1