Desa Kemomong

Desa Kemomong
Menguak misteri


__ADS_3

Bagas beserta Adit pun masuk ke dalam mobil, setelah itu Bagas menyalakan mesin mobil lalu pergi meninggalkan rumah Kuncoro kembali pulang ke Mes.


Sementara tidak lama mereka pergi Kuncoro datang dan menanyakan kepada kedua anak gadisnya keberadaan mereka.


Ningsih dan Sekar pun menjelaskan bahwa mereka tergesa-gesa pulang karena ada sesuatu hal yang akan di urus.


Kuncoro pun memahami dan tidak marah kepada mereka berdua karena mereka berdua tidak berpamitan dengan dirinya. 


Sementara di sisi lain Bagas yang berada di mobilnya bersama Adit bercerita mengenai hal yang mereka lihat tadi.


“Apes banget hari ini, gak jadi ngapel malah ngeliat yang begituan,” eluh Adit kepada Bagas.


“Sama aja Dit, aku pun sepeti itu, gagal ngapel malah lihat hal serem,” Bagas yang mengeluh.


“Warga desa ini sudah, salah jalan Mas,” sahut Adit


“Aku mau membawa Ningsih keluar dari desa ini jika memang bisa,” ucap Adit.


“Sepeti tidak bisa Dit!” ujar Bagas.


“Kenapa tidak bisa Mas?”


“Sekar perah bilang jika sudah jadi warga desa ini maka tidak akan keluar dari desa ini!” 


“Sekar ngomong seperti itu Mas, apa mungkin kemarin kita di ritualkan menjadi warga desa sini, kalau ia selamat aku,” 


“Itu yang selalu aku pikirkan selamat kenapa kamu Dit!” 


“Iya pas selesai acara, Mas Bagas tidak ada, mau tahu apa yang terjadi!”


“Apa Dit?” 


“Aku muntah-muntah habis minum darah itu, perutku benar-benar mual dan akhirnya aku muntah semua isi di dalam perutku habis, beserta darah yang aku minum itu pun keluar,” ujar Adit.


“Wah kamu selamat Dit, entahlah nasibku bagaimana nanti,” sahut Bagas yang pasrah.


“Pasti ada jalan keluarnya Mas, apa kita gak ambil proyek ini” ujar Adit.


“Jangan Dit, aku sudah janji dengan almarhum Rian waktu dia koma. Aku ingin menyelesaikan proyek ini dan jika selesai uang yang aku hasilkan akan aku beri setengah kepada istri dan anaknya.”


“Loh, terus bagaimana ini Mas.”


“Aku pun bingung Dit, kita sudah berjalan sejauh ini kalau kita tinggalkan percuma di dalam perjanjian jika sudah mulai setengah jalan kita akan di bayar tapi kita saja masih baru dua minggu, tenaga kita sia-sia Dit tidak dapat apa-apa,” 


Adit terdiam memikirkan masalah yang semakin rumit.


“Ya sudah Mas, kita jalani saja semoga tidak apa-apa kita berdoa saja kepada gusti Allah,” 

__ADS_1


“Iya Dit kita pasrahkan saja kepada sang maha pencipta,”


“Eh, Mas tunggu sebentar,” sahut Adit yang terdiam mengingat sesuatu.


“Kenapa Dit?”


“Aku baru mengerti Mas, maksud mereka memotong kelopak mata itu dan pocong-pocong terlihat mengerikan.


“Apa memang Dit,”


“Mas jika orang yang sudah meninggal itu seluruh tubuhnya harus utuh di saat di kubur tidak boleh tidak, kenapa mereka akan mati dan menjadi Arwah penasaran!” ucap Adit yang mulai membuat Bagas merinding.


“Lah terus, fungsi apa itu kelopak mata di potong dan di simpan Dit?” tanya Bagas.


“Yah mereka gak bisa pergi dengan tenang ke alamnya mereka ada selalu di desa kemomong ini untuk selamanya, karena orang yang sudah mati itu mata mereka tertutup jadi mereka bisa pergi dengan tenang, dan tradisi di sini membuat yang mati itu tidak bisa menutup matanya dan kelopak matanya di simpan sama mbah Seno, secara otomatis mereka akan tinggal di desa ini untuk selamanya.”


Seketika Bagas terdiam menelaah ucapan Adit.


“Mas, kok diem?” 


“Eh, iya benar apa yang kamu bilang Dit, terkadang kamu pintar juga yah,”


“Kok terkadang Mas, aku tuh pinter setiap hari,” Adit yang protes.


“Terus Dit, kenapa warga desa gak bisa liat mereka?” 


“Ya sudahlah, Dit jangan bahas pocong mulu, kata orang kalau kita bahasa mereka bisa datang,”


Ucapan Bagas membuat Adit merasa takut ia pun melihat pemandangan di luar mobil sangat gelap dan sudah memasuki kebun sawit.


“Iya Mas, cepetan nyopirnya biar cepat sampai!” Adit yang protes.


30 menit telah berlalu mereka pun telah sampai di Mes.


Bagas memarkirkan mobilnya baru lah mereka berdua turun dari mobil.


Bagas melihat jam tantangan di situ terlihat sudah pukul jam 12 malam, para pekerja proyek ada yang sudah tidur ada juga yang masih terjaga. Sementara Edwin yang masih belum tidur karena menunggu oleh-oleh dari Adit.


“Dit mana oleh-olehnya?” tanya Edwin.


“Oleh-oleh gundulmu,” ucap Adit dengan kesal.


“Tadi kamu bilang mau ngapel Dit? Ya aku nagih oleh-olehku,”


“Ngapel dari mana gak jadi, ngapelnya di kuburan Win? Sahut Adit yang kesal.


“Bang ini Adit kenapa sih? Pulang-pulang ngomel aja, apa kesambet?” tanya Edwin.

__ADS_1


“Udah win jangan di masukin ke hati dia sedang kesal tadi,” kata Bagas.


“Kesal kenapa Bang?” 


“Ceritanya panjang Win, besok saja aku cerita hari ini aku lelah sekali mau istirahat,”


“Ya sudah Abang istirahat saja.”


Bagas pun meninggalkan Edwin lalu pergi ke tempat tidurnya sementara Adit sudah tertidur lelap dari tadi.


Mereka berdua lupa jika mereka selepas dari kubur tidak ingat untuk mencuci kaki beserta wajah atau membersihkan diri mereka.


Saat Adit tertidur ia merasa berada di tempat pemakaman di sana Adit seorang diri lalu Adit melihat di kelilingnya banyak pocong tanpa kelopak mata menghampiri dirinya Adit pun sangat takut ia mulai berlari ketika para pocong mendekati dirinya.


Sampai iya terjatuh karena tersandung sesuatu, tubuh Adit yang terjatuh di tanah mencoba untuk bangun namun ia sangat penasaran dengan benda yang membuatnya tersandung terlihat secara sama-sama benda sebesar bola di tanah Adit pun mencoba ingin melihatnya benda apa itu.


Namun setelah Adit tahu, Adit pun terkejut dia melihat sebuah kepala tanpa tubuh tidak memiliki kelopak mata.


Lalu kepala tanpa tubuh itu menyeringai kepada Adit.    


Sontak saja Adit terkejut lalu cepat-cepat bangkit dan berlari sekuat mungkin. Sesekali Adit berteriak meminta pertolongan.


“To-tolong! Tolong!” teriak Adit yang mengigau.


Edwin yang belum tertidur pun mendatangi Adit mencoba untuk membangunkannya.


“Dit, bangun Dit,” ucap Edwin yang menggoyang-goyangkan tubuh Adit agar ia terbangun.   


Sontak saja Adit pun terkejut lalu terbangun, dengan nafas yang cepat lalu detak jantung yang tidak seirama.


Melihat Adit yang ketakutan membuat Edwin penasaran.


“Kamu mimpi apa Dit? Sampai berteriak-teriak” tanya Edwin?


“Aku mimpi seram Win, ngeri pokoknya. Oh iya aku lupa cuci kaki habis dari kubur, dan aku lupa naburin garem kasar Win. Pantas saja aku mimpi seram,” ujar Adit.


“Kamu habis dari kubur? Bukannya tadi pamit mengapeli cewek sama aku?” Edwin yang bingung.


“Udahlah Win ceritanya panjang,” sahut Adit yang malas bercerita.


bersambung dulu ya guys jangan lupa dukungan untuk ator receh ini. Terima kasih banyak.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2