
Ningsih mulai bercerita kepada bapaknya.
“Sebenarnya Ningsih awalnya menyukai bang Bagas Pak, tapi bang Bagas tidak menyukai Ningsih dia memilih Sekar ketimbang Ningsih, dari situ Ningsih khilaf, Ningsih mendatangi mbah Seno meminta bang Bagas agar jatuh hati kepada Ningsih. Mbah Seno pun memberikan Ningsih minyak pelet lalu Ningsih gunakan untuk memelet bang Bagas, namun usah Ningsih gagal karena Mas Adit menghentikan kebiadaban Ning Pak waktu di pondok sawit,” ucapan Ningsih terhenti.
“Kamu sungguh keterlaluan Ning, bikin Bapak malu!” sahut Kuncoro yang kecewa dengan perbuatan Ningsih putri.
“Dengarkan penjelasan Ningsih dulu Pak! Ningsih melakukan hal itu karena Sekar selalu beruntung ketimbang Ningsih, dan Bapak lebih sayang terhadap Sekar ketimbang Ning. Bapak selalu membanding-bandingkan Ningsih dengan Sekar apa Bapak tahu isi hati Ning yang sakit ini? Tidak kan. Bapak tidak pernah tahu, hanya karena Sekar memiliki wajah seperti almarhum ibu dan juga sifatnya Bapak lupa kalau Ningsih anak Bapak juga. Bapak tidak Adil!” terak Ningsih mengungkapkan isi di dalam hatinya.
Kuncoro tersentak ketika Ningsih mengeluarkan semua isi hatinya kepadanya, Kuncoro tidak mengetahui tindakannya membuat hati Ningsih menjadi sakit.
Kuncoro pun memeluk anak gadisnya itu lalu meminta maaf atas perbuatannya.
“Maafkan Bapak Ning, karena perbuatan Bapak membuat hatimu sakit. Bapak sayang kepada kamu dan Sekar,” ucap Kuncoro yang meneteskan air mata ketika memeluk Ningsih dan Sekar.
“Sekarang Bapak sudah mengerti semuanya, Bapak akan mencoba menjadi orang tua yang baik untuk kalian kedua putri Bapak, karena kalianlah harta yang paling berharga yang Bapak miliki. Sekarang ceritakan kembali Bapak akan mendengar penjelasanmu dengan baik Ning,” sambung Kuncoro kembali.
Ningsih pun melanjutkan ceritanya kembali yang sempat terhenti.
“Setelah gagal, Ningsih mencoba kembali ke mbah Seno untuk meminta pelet yang paling ampuh dan manjur. Mbah Seno setuju tapi ada ritual yang mengerikan yang harus Ningsih jalanin dengan gelap mata Ning pun mengiyakan akan melakukan ritual itu,” ujar Ningsih.
“Ritual apa itu Mbak?” tanya Sekar.
“Ningsih bersama mbah Seno masuk ke dalam hutan, di sana ada sebuah pohon tua dan besar mbah Seno menyuruh Ningsih untuk melepaskan baju tanpa sehelai pakaian yang menempel dan juga menyuruh Ningsih tidur sambil menutup mata. Ning pun melakukan semua perintah mbah Seno, ketika mbah Seno membacakan mantra tubuh Ning merasa aneh ada sesuatu yang menjilati tubuh Ning, karena Ning merasa tidak nyaman Ning pun membuka mata. Ternyata sesosok makhluk menyeramkan sedang menikmati tubuh Ning Pak. Ning teriak di situ Mas Adit datang menyelamatkan Ning, tapi Ning merasa makhluk itu belum sempat menyetubuhi Ning di saat Mas Adit datang,” Ningsih yang menjelaskan kepada Kuncoro mencoba mengingat peristiwa mengerikan itu.
Cokro yang mendengar cerita Ningsih lalu mencoba melihat dengan mata batinnya semua kejadian yang dialami oleh Ningsih.
“Nduk sebenarnya kamu itu sudah di setubuhi oleh makhluk itu, mungkin kamu tidak merasakannya Nduk tapi mbah liat dari mata batin mbah makhluk itu sudah menyetubuhimu Nduk. Mahluk itu ingin mempunyai keturunan dari manusia dan kamu yang sebenarnya terpilah dan di incar,” sahut Cokro yang menjelaskan kepada Ningsih.
“Apa Mbah Ning sudah di setubuhi, lalu apa tujuan makhluk itu menanamkan benih kepada Ning,” tanya Adit yang tidak percaya.
“Mahluk itu menanamkan benih kepada manusia yang di pilihnya untuk keturunannya agar bisa menjadi lebih kuat,” Cokro yang menjelaskan.
Ningsih yang mendengar itu pun tidak menerima kenyataan pahit itu ia memukul-mukul perutnya.
“Ning tidak mau anak ini, Ning tidak mau,” ujar Ningsih yang memukul-mukul perutnya.
__ADS_1
Adit mencoba menghentikan tindakan Ningsih yang dapat membahayakan keselamatannya.
“Istifar Ning! Istifar,” ujar Adit mencoba menenangkan Ningsih.
“Apa Mbah bisa menolong Ning, Adit mohon tolong Ning mbah,” ujar Adit meminta Cokro untuk membatu Ningsih.
“Bisa, bayi iblis itu bisa di musnahkan karena usia kandungan Ningsih tergolong masih muda,” ujar Cokro.
“Kapan Mbah bisa menyelamatkan Ning,” tanya Adit kembali.
“Malam ini, semakin cepat akan semakin baik,” ujar Cokro.
Adit dapat bernafas dengan lega, ada jalan keluar dari permasalahan ini.
Adit pun meminta maaf kepada Bagas.
“Mas Bagas, maafin Adit ya, Adit benar-benar khilaf sudah memukul wajah Mas,” ujar Adit yang merasa bersalah.
“Iya Dit, aku sudah memaafkanmu, jangan sekali lagi ya. Kamu sudah memukulku dua kali tanpa mendengar penjelasanku,” ujar Bagas yang kesal mengingat saat Adit tengah memukul dirinya.
“Terima kasih Mbah sudah membatu anak saya dan meluruskan masalah ini,” ucap Kuncoro.
“Iya Kuncoro kita saling membantu, aku juga pernah kamu bantu bertemu dengan cucukku di saat itu,” ujar Cokro.
“Adit paham sekarang semua itu perbuatan mbah Seno yang tidak terima ritualnya Adit gagalkan dan Adit sempat memukulnya,” ujar Adit.
“Iya benar semua kejadian yang ada di desa ini ada dalang dari semuanya, penduduk desa ini sudah di cuci pikirannya di suruh melaksanakan ritual yang sesat untuk menjadi pengikut iblis itu,” ujar Cokro yang menjelaskan kembali.
“Lagu bagaimana ini Mbah,” tanya Kuncoro.
“Dalang dari semuanya harus dimusnahkan beserta iblis itu agar tidak ada lagi benang merah antara iblis itu, dan belajarlah mendekatkan diri kepada gusti Allah secara benar,” Cokro yang memberi wejangan kepada mereka Semua.
“Tapi Ning benar-benar sudah tobat Mbah dan mendekati Allah,” sahut Ning.
“Justru itu Allah menolongmu Nduk mengirim mbah untuk membantu,” sahut Cokro.
__ADS_1
“Mbah Bagaimana melawan mbah Seno,” tanya Adit.
“Entahlah Dit, mbah masih belum tahu caranya tapi dalam batin mbah. Mbah Seno mengincar kalian berdua untuk di jadikan tumbal selanjutnya,” ucap Cokro.
Semua terdiam mendengar ucapan Cokro.
“Sudah Mbah mau istirahat dulu nanti malam kita baru melaksanakan ritual itu,” ucap Cokro yang meninggalkan mereka semua.
“Ya sudah Bapak juga mau rehat dulu kepala Bapak sakit mendengar hal ini,” ucap Kuncoro yang pergi ke kamarnya.
Di sini tinggal mereka berempat Sekar yang mendekati Bagas dan Adit yang mendekati Ningsih.
“Ning maafin Mas ya sudah marah-marah sama kamu tadi, Mas tidak percaya dengan ucapanmu,” ucap Adit yang menyesal.
“Enggak papa Mas, Ning sudah memaafkan Mas Adit,” sahut Ning dengan tersenyum.
“Bang Bagas, Sekar obati luka di wajah Abang ya biar tidak lebam,” ucap Sekar.
“Iya Sekar, terima kasih ya,” sahut Bagas.
Sekar mulai mengompres luka lebam di wajah Bagas.
“Aduh!” teriak Bagas.
“Sakit ya Bang?” ucap Sekar yang sangat berhati-hati.
“Pelan-pelan Sekar,” ucap Bagas.
“Itu kesempatan aja Sekar minta di perhatiin kami,” celetuk Adit yang meledek Bagas.
“Ini gara-gara kamu Dit,” balas Bagas.
“Ya maaf Adit khilaf Mas Bagas,” sahut Adit dengan menyeringai.
Mereka semua akhirnya mulai menemukan titik terang dari permasalahan ini.
__ADS_1