Desa Kemomong

Desa Kemomong
Penemuan mayat


__ADS_3

“Aku mau ke kamar mandi dulu, mau cuci kaki dan tangan,” ucap Adit.


“Ya udah sana! Jangan tidur di kamar mandi,” pekik Edwin.


Adit pun meninggalkan Edwin pergi ke kamar mandi selang beberapa menit kini mulai bagas yang berteriak-teriak mengigau meminta tolong.


Edwin bergegas menghampiri Bagas lalu membangun Bagas.


“Bang bangun bang! Bang Bagas!” kata Edwin sembari menggoyang-goyangkan badan Bagas agar Bagas terbangun.


“Kenapa Bang? Tidak biasanya Abang tidur sampai mengigau-ngigau seperti itu?” tanya Edwin yang melihat mereka berdua aneh.


“Aku tidak tahu Win, aku serasa berada di kuburan,” sahut Bagas.


“Jangan bilang Abang dari kubur terus lupa cuci kaki, kaya Adit,” Edwin yang memberi tahu.


“Astagfirullah, iya Win kamu benar. Aku habis dari kubur sama Adit lupa cuci kaki dan bersihin  badan, oh ya Adit mana?” tanya  Bagas yang tidak melihat Adit di tempat tidurnya.


“Itu tadi kejadian sama kaya Abang, habis itu Adit pergi ke kamar mandi katanya dia mau cuci kaki.”


“Oh iya Bang emang ada apa sih sebenarnya, kenapa kalian berdua habis dari kubur bukannya ngapel. Jangan-jangan Abang sama Adit mau gembil tali pocong buat pelet cewek lagi,” sambung Edwin yang mengira-ngira.


“Jangan berpikiran yang aneh-aneh kamu Win, imanku masih kuat mana mungkin seperti itu,” Bagas yang menegaskan kepada Edwin.


“Nah, terus apa Bang? Coba cerita biar aku tidak berpikir negatif neh sama Abang dan Adit,” ucap Edwin seraya meminta penjelasan kepada Bagas 


“Begini waktu aku ngapel ada warga yang meninggal dunia dan kami berdua wajib hadir, proses sebelum jenazah itu di kafankan sangat mengerikan, jenazah di gunting kelopak matanya, baru du makamkan,” Bagas bercerita kepada Edwin.


“Kok ngeri bangat sih Bang,” ujar Edwin yang bergidik.  


“Entahlah Win itu ada mereka, kita tidak bisa terlalu ikut campur,” sahut Bagas.

__ADS_1


Tidak lama saat mereka sedang asyik bercerita Adit pun datang menghampiri mereka.


“Eh Mas Bagas, belum tidur? Tadi aku bangun aku lihat Mas udah tidur,” ucap Adit.


“Iya tadi habis itu aku mimpi seram,” sahut Bagas.


“Berarti sama kaya aku nih Mas, udah sono cuci kaki dulu Mas. Kita kan baru dari kubur habis itu langsung tidur,” Adit yang memberi peringatan.


“Iya benar kata kamu, ya udah aku ke kamar mandi dulu,” sahut Bagas.


Setelah beberapa menit telah berlalu akhirnya mereka pun kembali tidur dengan tenang tanpa bermimpi menyeramkan kembali.


*** 


Tiga minggu telah berlalu mereka sudah selesai menebangi pohon di hutan yang akan di jadikan pabrik.


Tanah yang masih belum rata dan masih ada terdapat pohon-pohon yang kecil mereka menggunakan ekskavator untuk meratakan tanah yang belum rata dan juga merobohkan pohon-pohon yang kecil.


Awalnya semua berjalan dengan baik tanpa kendala namun di saat tengah mengaruk tanah untuk kedua kalinya Edwin sangat terkejut.


Edwin melihat ada sebuah kain seperti kain kafan di dalam tanah itu, Edwin pun mencoba mengali sedikit lagi agak dalam.


Namun saat ekskavator itu mengeruk sedikit lebih dalam Edwin terkejut lalu mematikan mobilnya berteriak kepada yang lain.


“Ada mayat!,” teriak Edwin.


Mendengar teriakan Edwin para pekerja proyek menghentikan pekerjaannya termasuk Bagas. Yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Bagas segera mendatangi Edwin. Sesampainya di tempat Edwin Bagas bertanya ada apa.


“Ada apa Win? Tanya Bagas.

__ADS_1


“I-itu Bang! Aku menemukan beberapa mayat!” ujar Edwin yang gugup dan takut.


“Apa kita lapor kepolisi saja Bang, atau beri tahu warga desa,” Edwin yang memberikan saran.


“Jangan Win kalau kita lapor polisi nanti akan di proses dan menghambat pekerjaan proyek kita lalu jika kita lapor warga desa mereka juga akan ribut,” ujar Bagas.


“Lalu bagaimana ini Bang.?” tanya Edwin.


“Kita kumpulkan saja mayat-maya itu lalu kita kubur kembali tapi agak jauh dari sini,” ujar Bagas.


“Ya benar kata Mas Bagas, aku setuju,” celetuk Adit yang baru datang mendengar ucapan mereka.


“Kalau bisa secepatnya Win kamu kumpulkan, lalu kita bawa ke hutan. Para pekerja proyek setop dulu kita kuburkan kembali jenazah ini dengan layak,” ucap Bagas.


“Pokonya jangan sampai malam hari kita harus sudah selesai menguburkan mayat-mayat ini,” sambung Bagas.


“Baik Bang, Dit bantu aku dulu,” pinta Edwin.


“Siap Win,” celetuk Adit.


“Nanti, aku minta semua tim bekerja sama mengali tanah untuk mengubur mayat-mayat ini,” ucap Bagas.


“Iya Mas, nanti Mas aja yang mengatur semua,” kata Adit.


“Ya sudah kalau begitu aku mau melanjutkan pekerjaanku terlebih dahulu,” ujar Bagas.


“Oke Bang,” balas Edwin


Edwin beserta Adit pun mulai  melaksanakan perintah Bagas untuk mengumpulkan jenazah-jenazah yang mereka temukan.


    

__ADS_1


  


__ADS_2