Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kehadiran mereka


__ADS_3

 Keesokan harinya semua warga desa gempar mendengar kematian kedua anak mbah Seno, sontak saja kabar itu terdengar oleh Kuncoro selaku kepala desa di sana.


Kuncoro beserta warga desa mendatangi rumah mbah Seno.


Setelah mereka berkumpul semua Seno memulai kembali menjalankan ritual sesaatnya sebelum anaknya di kuburkan.


Seno yang mendatangi jenazah Joko membawa sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu, tidak lupa Seno juga membawa gunting.


Mbah Seno mulai memegang kelopak mata Joko, barulah setelah itu ia mengguntingnya lalu kelopak mata Joko di simpannya di kotak kayu tersebut.


Setelah selesai Seno meninggalkan jenazah Joko, kembali ke Jenazah Jaka. 


Hal yang sama di lakukan Seno kepada Jaka, Seno menggunting kelopak mata Jaka lalu menyimpannya di kotak kayu.


Setelah ritual itu selesai di lakukan oleh Seno barulah Seno menyerahkan kepada warga yang bertugas memandikan dan mengafani jenazah kedua anak Seno.


Beberapa jam telah berlalu para warga pun beserta Seno membawa kedua jenazah anak Seno untuk di makamkan.


Hingga jam 10.00 pagi acara pemakaman pun telah selesai, para warga mulai kembali pulang beserta Kuncoro.


Sementara di sisi lain Bagas dan Adit sangat bingung kenapa para warga yang bekerja membantunya di proyek sudah jam sepuluh pagi belum ada yang datang.


“Mas ini orang-orang pada ke mana to? ujar Adit yang gelisah.


“Iya Dit sudah jam sepuluh mereka kok masih belum datang?” sahut Bagas.


Kring ( suara telepon genggam milik Adit berbunyi).


“Hallo, assalamualaikum Mas Adit.”


“Waalaikumsalam, Ning. Ada apa Ning kok tumben menelepon pagi-pagi. Opo kangen sama Mas Adit.”


“Ning mau memberi tahu Mas Adit beserta bang Bagas.”


“Apa Ning seperti berita penting.”


“Kedua anak mbah Seno meninggal tadi malam tanpa sebab, dan anehnya tubuh kedua anaknya terlihat sangat pucat seperti tidak ada darahnya.”


“Apa Ning!” ucap Adit di telepon yang terkejut.


“Terus bagaimana lagi ceritanya?”


“Semua penduduk desa pergi ke rumah mbah Seno untuk membantu proses pemakaman dan ritual itu.”


“Oh pantas saja mereka semua tidak ada yang datang ke sini untuk bekerja.”


“Iya Mas, Ning hanya memberikan info itu saja. Ya sudah ya Mas, Ning mau lanjut masak. Mas hati-hati kerjanya Assalamualaikum.” 


“Waalaikumsalam Ning.”


Adit yang menutup telepon dari Ningsih.

__ADS_1


Adit pun menghampiri Bagas memberitahukan berita yang ia dapatkan dari Ningsih.


“Mas, ternyata para warga desa jam segini belum datang karena ada mereka semua pada datang di acara pemakaman anak mbah Seno.”


“Apa Dit? Anak mbah Seno meninggal,” Bagas yang terkejut.


“Iya Mas, tadi aku dapat info dari Ningsih.”


“Pantas saja para warga belum pada datang jam segini, lalu apa penyebab kematian anak mbah Seno.”


“Tidak ada yang tahu Mas, kata Ningsih jenzah mereka itu tidak ada darahnya, aku jadi ingat Niko, Mas. Kematian mereka sama dengan kematian Niko yang jenazahnya tanpa darah sama sekali.”


Bagas terdiam mengingat kejadian yang menimpa Niko.


“Iya benar apa katamu Dit, dan bisa saja suara tadi benturan benda keras yang menghantam pintu luar mes itu adalah ulah mbah Seno yang mengirimkan ilmu hitam untuk kita,” sahut Bagas.


“Iya benar katamu Mas, aku pun baru terpikir seperti itu.”


Tidak lama saat mereka tengah asyik mengobrol para warga yang membantu pekerjaan proyek pabrik mereka pun berdatangan.


“Maaf bang Bagas dan Mas Adit kami semua telat,” ujar Iwan.


“Iya wan tidak apa-apa, yuk mari kita bekerja,” sahut Bagas mengajak semua warga yang sudah datang untuk bekerja kembali.


Mereka semua mulai kembali bekerja.


Sementara mbah Seno yang sudah pulang dari pemakaman anak pun masuk ke kamar Joko dan Jaka.


Seno menghampiri foto yang terdapat di atas meja kamar.


Anak istri dan dirinya yang sedang duduk di teras rumahnya.


Seno menyentuh foto tersebut sembari meneteskan air mata, meratapi kesedihan yang ada pada dirinya keluarga kecilnya telah tiada tinggallah Seno seorang diri di sini.


Sesekali Seno memegang dada kirinya yang terkadang merasakan nyeri luka dalam yang masih ia rasakan akibat ilmu hitam yang kembali kepada dirinya.


‘Maafkan aku, aku akan membalaskan semua ini,' gumam Seno lalu meletakkan pas foto yang ia pengang ke atas meja kembali.


Setelah itu Seno pun keluar dari kamar Jaka dan Joko.


*** 


 Malam telah tiba suara hewan malam pun mulai terdengar. 


Seno yang kali itu tengah beristirahat untuk memulihkan kondisinya.


Namun hal menyeramkan datang kepadanya.


Di saat Seno tengah berbaring di atas tempat tidurnya, Tiba-tiba jendela kamarnya pun terbuka. Seno yang mengetahui hal tersebut bangun dari tempat tidurnya lalu menutup jendelan kamarnya.


Jendela kamar Seno pun sudah di tutupnya kembali dan Seno ingin pergi ke tempat tidurnya.

__ADS_1


Setelah Seno berada di tempat tidurnya tiba-tiba jendela kamarnya terbuka kembali tanpa ada angin yang membuat jendela itu terbuka.


Seno kembali berjalan menutup jendela kamar.


Namun saat Seno ingin menutup jendela kamarnya terlihat dari kejauhan sosok makhluk yang terbungkus kain kafan dengan kepala, badan dan kali yang di ikat seperti sosok pocong.


Kedua pocong itu memanggil Seno.


“Pak tolong Jaka Pak.”


“Pak tolong Joko Pak.”


Ucap kedua sosok pocong itu dengan mata melotot tanpa kelopak mata.


Seno pun terkejut ia sangat mengetahui dua sosok pocong itu.


“Jaka, Joko,” ucap Seno dengan spontan. 


Ternya kedua sosok pocong itu adalah anak mbah Seno Joko dan Jaka


“Tolong kami pak! Tolong kami!” ucap mereka dengan serentak.


“Pergi kalian, tempat kalian bukan di sini lagi!” bentak Seno.


Namun kedua pocong itu seperti tidak ingin pergi. Seperti ingin meminta tolong kepada Seno namun Seno tidak mengerti maksud mereka.


“Pak tolong kami, kami tersiksa di sini,” ucap mereka dengan serentak.


Pikiran dan hati Seno sekarang tertutup, Seno malah membacakan mantra untuk mengusir kedua pocong tersebut


“Pak jangaaaannn,” sahut serentak mereka berdua.


Kedua pocong itu pun hilang, lalu Seno menutup jendelanya kembali.


Seno kembali ke tempat tidurnya. Seno mulai berbaring di atas kasurnya untuk beristirahat. 


Di saat Seno ingin memejamkan matanya terdengar suara orang meminta tolong kembali.


“Pak tolong Joko dan Jaka.”


Mendengar suara itu Seno membuka matanya kembali ternyata benar saja kedua anak Seno yang menjadi sosok pocong itu sedang berdiri di pojok kamar.


Mereka berdua berteriak-teriak meninta tolong kepada Seno.


“Pergi kalian Pergi! Tempat kalian bukan di sini,” teriak Seno.


Seno yang merasa takut dan bersalah kepada kedua anaknya membacakan kembali mantra untuk mengusir kehadiran mereka berdua di rumah Seno.


Lagi-lagi saat Seno sedang membacakan mantra Jaka dan Joko berteriak.


“Pak jangaaannn!” teriak mereka berdua lalu menghilang entah ke mana.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Seno yang merasa kedua anaknya telah pergi pun kembali untuk beristirahat, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu setelah itu Seno mulai memejamkan matanya sampai akhirnya Seno pun tertidur.


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.


__ADS_2