
Sementara di sisi lain Kuncoro tidak pulang ke rumah melainkan kembali ke rumah Seno.
Kuncoro masuk ke rumah Seno untuk mencari sesuatu.
‘Di mana mbah Seno menyembunyikannya,' gumam Kuncoro.
Kuncoro mencoba memasuki kamar demi kamar yang ada di rumah Seno dari kamar tidur Seno, Kuncoro membuka lemari pakaian, lalu laci demi laci yang ada di meja kamarnya.
Namun Kuncoro pun tidak menemukan yang ia cari, Kuncoro beralih ke kamar anak-anak Seno di sana ia melakukan hal yang sama membuka lemari pakaian beserta laci-laci di meja kamar.
Benda yang Kuncoro cari pun tidak ada di sana.
‘Di mana mbah Seno menyembunyikan itu’ gumam Kuncoro sembari mencari kembali.
Setelah Kuncoro tidak menemukan sesuatu yang ia cari di kamar anak mbah Sebo.
Kuncoro keluar dari kamar itu dan ke kamar yang terakhir.
Kamar tempat ritual Seno, di kamar itu Kuncoro mulai mencari kembali.
Di kamar ritual Seno tidak ada apa-apa kecuali meja.
Kuncoro mulai mendatangi meja tersebut dan membukan semua laci yang ada di meja itu.
Benar saja sesuatu yang ia cari akhirnya Kuncoro dapatkan.
‘Akhirnya aku menemukannya!’ gumam Kuncoro.
Kuncoro mendapatkan dua buah kotak kayu yang terbuat dari kayu jati satu berukuran kecil dan satu lagi berukuran besar.
Lalu Kuncoro membuka kedua kotak kayu itu.
Salah satu kotak kayu yang kecil ia buka dan isinya kelopak mata manusia yang Seno kumpulkan.
Sedangkan kotak kayu yang berukuran besar ia buka isinya jari kelingking para warga.
Kuncoro membawa kedua kotak kayu tersebut, sebelum keluar Kuncoro membawa cangkul yang ada di rumah Seno barulah ia keluar dari rumah Seno menuju ke pemakaman penduduk setempat.
Setelah sampai di area pemakaman Kuncoro mengali lubang yang cukup besar dan lumayan dalam.
Beberapa menit kemudian Kuncoro telah selesai mengali lubang itu barulah ia memasukkan kedua kotak kayu itu ke dalam lubang yang ia buat.
Ternyata Kuncoro mengubur anggota tubuh Warga yang pernah Seno kumpulkan untuk ritual Sesatnya.
‘Semoga dengan ini kalian semua dapat beristirahat dengan tenang, dan tidak ada orang yang lain yang memanfaatkan anggota tubuh kalian untuk ilmu hitam dan ritual-ritual sesat,' gumam Kuncoro.
Kuncoro pun dapat kembali pulang dengan tenang.
Sesampainya di rumah Kuncoro di tanyai oleh Bagas beserta Adit yang tengah bersantai di ruang tamu.
__ADS_1
“Dari mana Pak? Bagas kira Bapak sudah pulang sedari tadi tapi waktu Bagas dan Adit tiba di rumah Bapak tidak ada?” tanya Bagas.
Kuncoro menghampiri mereka berdua di ruang tamu.
“Bapak tadi kembali lagi ke rumah mbah Seno!” ucap Kuncoro.
“Bapak mau apa ke rumah mbah Seno lagi,” sahut Adit.
“Ada sesuatu yang membuat Bapak tidak tenang!”
“Apa itu Pak!” tanya Bagas dan Adit.
“Ada organ-organ tubuh para warga desa yang dikumpulkan oleh mbah Seno, yaitu jari kelingking dan kelopak mata. Bapak mengambilnya lalu menguburkan di tempat pemakaman. Agar warga yang sudah meninggal dapat beristirahat dengan tenang. Dan Bapak juga takut jika ada orang lain yang menyalah gunakan kembali,” Kuncoro yang menjelaskan kepada mereka berdua.
“Oh iya benar yang Bapak ucapkan,” sahut Bagas.
“Iyo iku seharusnya itu di kubur agar warga yang meninggal bisa beristirahat dengan tenang,” ucap Adit
“Ya sudah Bapak mau makan terlebih dahulu, kalian berdua sudah pada makan!” tanya Kuncoro.
“Wes Pak, nunggu Bapak kelamaan keburu Adit kelaparan sahut Adit.
Kuncoro pun meninggalkan mereka berdua menuju meja makan.
***
Di malam harinya Bagas beserta Adit tengah bersantai duduk di teras rumah.
Mereka berdua sedang mengobrol-ngobrol sambil menikmati angin malam.
Padahal masih ada satu makhluk yang sangat besar keakutannya sedang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
“Sekar! Sekar!” terak Bagas memanggil Sekar.
Mendengar Bagas memanggilnya Sekar pun menghampiri mereka berdua.
“Ada apa Bang?” tanya Sekar yang mendatangi Bagas.
“Abang minta tolong bikin kan kopi hitam dua, untuk Abang dan Adit!” ucap Bagas meninta tolong.
“Iya Bang,” sahut Sekar berjalan meninggalkan mereka berdua.
Setelah itu Bagas beserta Adit melanjutkan obrolannya.
Beberapa menit kemudian ada sesuatu yang mendatangi mereka berdua.
“Mas kok ini hawanya aneh to, tiba-tiba kok bulu kuduk ku merinding,” ucap Adit yang memegang tengkuk belakang lehernya.
“Iya Dit aku pun merasakan hal yang sama.”
Tiba-tiba sesosok makhluk hitam dengan mata merah bertanduk makhluk yang pernah menyetubuhi Ningsih muncul di depan mereka.
__ADS_1
Adit beserta Bagas di bawa makhluk hitam bertanduk itu.
Kejadian ini sempat di lihat oleh Sekar.
“Aaaaaaa,” teriak Sekar menjatuhkan dua gelas kopi yang ia bawa.
Kuncoro beserta Ningsih yang mendengar teriakan Sekar pun mendatanginya.
“Ada apa Sekar?” tanya Kuncoro.
“Bang Bagas dan Mas Adit di bawa oleh sesosok makhluk yang menyeramkan pak,” ucap Sekar yang panik.
“Pak tolong mereka!” sahut Ningsih.
“Ya sudah kalian berdua tunggu di dalam rumah jangan ke mana-mana kunci pintu rumah. Bapak mau minta bantuan kepada penduduk desa mencari Bagas beserta Adit,” ucap Kuncoro yang pergi meninggalkan mereka berdua.
Kuncoro pun pergi dari rumah mengumpulkan para warga untuk membantunya mencari Bagas beserta Adit.
Sementara di sisi lain Bagas dan Adit tiba-tiba berada di tengah hutan tepatnya di pohon tua yang sangat besar.
“Mas loh kita bisa sampai di sini?” tanya Adit.
“Entahlah aku tidak tahu yang aku ingat hanya tadi ada makhluk yang besar dan hitam mendatangi kita,” sahut Bagas.
“Oh iya Mas, Adit baru ingat?”
Saat mereka tengah berbicara berdua tiba-tiba makhluk itu menghampiri mereka.
Mahluk itu mendekati Bagas secara cepat, Bagas pun di cekik oleh makhluk itu sontak saja Adit berusaha membantu membebaskan Bagas dari cekikan makhluk itu.
Adit mencoba memukul-mukul makhluk itu namun makhluk itu tidak memedulikan Adit. Makhluk itu tetap mencekik Bagas.
Lalu Adit teringat akan kerisnya. Adit mengambil kerisnya yang berada di selipan pinggangnya.
Saat Adit ingin menusukkan keris itu tiba-tiba makhluk itu menghempaskan tangan kanannya yang penuh kuku tajam.
Sontak saja Adit terlempar jauh tubuhnya membentur di pohon tua Adit pun tergelatak di tanah tidak sadarkan diri dengan Keris yang terjatuh di samping badannya.
“A-Adit, Ba-bangun!” Bagas yang mencoba berteriak namun tidak bisa karena di cekik makhluk itu.
Bagas mulai merasa lemas gerakan melawan makhluk itu pun tidak sekuat sebelumnya.
Ketika makhluk itu mendekati mulut Bagas hendak mengisap darahnya.
Adit yang masih belum tersadar di rasuki oleh arwah kakeknya yaitu Cokro.
Seketika Adit terbangun dan mengambil keris yang berada di sampingnya.
“Bagas terima keris ini, tusuk di jantungnya” teriak Adit melemparkan keris.
Bagas pun berhasil menangkap keris itu lalu menusuk kan keris itu tepat di dada kirinya tempat di mana jantung makhluk itu berada.
__ADS_1
Seketika makhluk itu melepas cekikannya berteriak kesakitan.
bersambung gengs, Insya Allah ada satu bab lagi.