Desa Kemomong

Desa Kemomong
Mengobati Adit dan Bagas


__ADS_3

Kuncoro menarik gas motornya hingga melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai ke rumahnya, Cokro yang duduk di posisi paling belakang pun berusaha  memegangi tubuh Adit yang lemas itu.


Hingga mereka sampai di rumah Kuncoro, mereka berdua membopong Adit masuk ke dalam rumah dan membaringkan Adit di kasur.


“Pak Cokro saya kembali ke sana dulu untuk menjemput Bagas,” ucap Kuncoro.


“Baik Pak, biar Adit saya yang tangani,” sahut Cokro.


Kuncoro menaiki motornya dan melaju menuju perkebunan itu untuk menjemput Bagas.


Sementara itu Bagas yang tengah berjalan kaki melintasi hamparan kebun sawit itu di buat merinding dengan suara-suara aneh yang ia dengar. Bermodalkan senter yang ada di ponselnya Bagas berjalan perlahan sambil memperhatikan jalan.


Saat ia sedang melintasi semak belukar, terdengar suara kemeresek seperti dahan pohon yang di goyang-goyangkan. Langkah Bgas pun terhenti ia mencoba menyoroti beberapa pohon yang ada di sekitarnya dengan senter ponsel miliknya.


‘Semoga bukan hewan buas,' Bagas bermonolog.


Ia menyoroti pohon demi pohon namun tidak melihat apapun, hingga ia mendapati sebuah ranting yang bergerak sendiri padahal saat itu tidak ada hembusan angin.


Karena penasaran Bagas mendekat dan menyorotinya. Samar-sama terlihat bayangan putih di atas pohon.


‘Apa itu?’ batin Bagas.


Semakin lama bayangan itu semakin jelas hingga membentuk seperti wujud manusia namun terbungkus oleh kain putih yang sudah usang, dengan noda tanah di beberapa bagian.


Tangan Bagas seketika gemetar tak kala tahu makhluk dengan ujung kain di kepalanya diikat itu adalah sosok pocong. 


Wajahnya tidak terlalu jelas, hanya hitam legam tanpa terlihat apa pun, dengan cepat Bagas berlari melewati pohon itu agar bisa keluar dari perkebunan.


Dengan jantung yang berdegup kencang serta nafas yang tersengal-sengal Bagas berlari hingga kakinya tersandung oleh akar pohon.


“Aakhhh!” rintihnya.


Bagas bangun dan langsung memegangi dengkulnya, ia meronta kesakitan karena dengkulnya membentur sebuah batu yang cukup besar.


Bagas mengambil ponselnya yang terjatuh di tanah, bagas berusaha berdiri sambil meringis menahan sakit ia berjalan perlahan dengan terpincang-pincang ia berusaha keluar dari perkebunan sawit yang gelap itu.


Dari kejauhan terlihat sorot lampu dari sebuah motor, Bagas menghela nafas lega Bagas mempercepat langkahnya menghampiri motor itu.


Bagas menghela nafas lega, “Pak Kuncoro,” ucap Bagas.


“Lho kaki kamu kenapa?” tanya Kuncoro.


“Saya tadi jatoh Pak,” sahut Bagas.


“Ya sudah. Apa kamu bisa naik? Kalau tidak biar Bapak bantu.”


“Bisa Pak, tenang aja ini luka kecil kok,” sahut Bagas sambil naik ke atas motor.

__ADS_1


Motor pun melaju menuju luar perkebunan, saat keluar dari perkebunan Kuncoro menaikkan laju motornya agar cepat sampai ke rumah.


Hingga mereka sampai terlihat di depan rumah Sekar sudah menunggu kedatangan Kuncoro dan Bagas.


“Mas Bagas kenapa Pak?” tanya Sekar yang melihat Bagas tengah dibopong.


“Habis jatuh. Ayo masuk ke dalam tidak baik anak perempuan duduk di luar,” ucap Kuncoro.


Sekar pun ikut membaru Kuncoro membopong Bagas dan mendudukkannya ke kursi.


“Mas kenapa bisa seperti ini? Lalu Mas Adit kenapa?” tanya Sekar.


“Bangunan pabrik yang masih setengah jadi itu tiba-tiba rubuh dan menimpa semua pekerja,” tutur Bagas.


“Hah? Kenapa bisa Mas? Lalu bagaimana dengan para pekerja?” cecar Sekar.


“Aku sudah melihat keadaan mereka, semua tertimbun reruntuhan Sekar, bahkan aku tidak lagi mendengar suara rintihan mereka,” ucap Bagas dengan mata yang menggenang.


Seakan tidak percaya dengan apa yang menimpa para pekerja secara bersamaan Bagas hanya bisa tertunduk lemas.


“Kaki Mas berdarah,” ucap Sekar.


“Iya tadi aku terjatuh gara-gara lari karena melihat pocong,” ucap Bagas.


“Sebaiknya Nak Bagas ganti pakaian dulu dengan ini,” ucap Kuncoro yang datang membawakan baju serta sarung.


“Ya ampun kenapa bisa sampai seperti ini lukanya Mas,” ucap Sekar.


“Etahlah mungkin karena terbentur terlalu keras,” sahut Bagas.


Sementara itu Adit yang sedari tadi masih lemah tidak sadarkan diri di obati oleh kakeknya sendiri yaitu Cokro.


Mbah Cokro mengambil keris yang ia bawa di tasnya keris itu di buka oleh Cokro lalu mbah memejamkan matanya membacakan matra.


Terlihat dari mata batin  Cokro siapa dalang di balik semua tragedi ini.


Cokro dengan ilmu tenaga dalamnya mencoba melawan Seno.


Seketika Seno mengeluarkan darah segar dalam mulutnya, Seno terkena luka dalam oleh Cokro. 


“Kurang ajar siapa orang tua itu dia dapat mengalahkanku,” ucap Seno yang kesal.


Seno kembali membaca mantra sambil menabur kemenyan ke atas perapiannya, hingga asap pun kembali mengepul.


Seno berupaya membalas hantaman yang di lakukan Cokro.


Di tempat lain Adit telah tersadar dan terkejut mendapati kakeknya ada di hadapannya.

__ADS_1


“Mbah!” pekik Adit.


“Syukurlah kamu sudah sadar,” ucap Cokro.


“Nak bisa ambilkan segelas air?” pinta Cokro kepada Ningsih.


“Baik,” sahut Ningsih.


“Mbah sapean kapan datangnya? Kok ndak ngabari?” tanya Adit.


“Sudah kamu jangan banyak tanya dulu,” sahut Cokro.


Tidak lama Ningsih datang sambil membawa segelas air.


“Ini airnya.”


Cokro mencelupkan kerisnya ke dalam gelas berisi air tersebut, sambil membaca mantra.


“Minum ini!”


Tanpa basa-basi Adit meminum air itu, baru beberapa tegukan Adit langsung muntah.


Adit memuntahkan darah pekat berwarna hitam dari mulutnya, hingga membuatnya kembali lemas. 


Kali ini serangan dari Seno pun tidak dapat mengenai Cokro hingga membuat Seno kesal.


Cokro pun kembali meminta segelas air, dan berjalan menuju Bagas yang tengah duduk di kursi.


Sama halnya dengan Adit Cokro menyuruh Bagas untuk meminum air yang sudah ia beri mantra serta tenaga dalam itu.


Bagas meminum air itu sampai habis beberapa menit kemudian Bagas baru merasakan reaksinya. Ia mulai mual lalu memuntahkan darah yang cukup banyak hingga ia memuntahkan darah hitam yang cukup pekat.


“Istirahatlah,” pinta Cokro.


Bagas dibopong oleh Sekar masuk ke dalam kamar bersama Adit.


Keesokan harinya mereka berdua bangun dengan tubuh terasa ringan seperti tidak terjadi apa pun terhadap mereka.


Adit baru ingat jika kakek ya berada di tempat yang sama, Adit pun berusaha mencarinya.


“Mbah? Mbah kakung?” Adit mencari keberadaannya.


Hingga ia melihat kakek ya itu tengah duduk santai di teras rumah bersama Kuncoro.


“Owalah Mbah ... Sampean kenapa ndak bilang kalo sampai di sini?” ucap Adit sambil mencium punggung tangan Cokro.


“Mbah tidak sempat memberi kabar, untung bertemu dengan Kuncoro lalu Mbah di bawa ke rumahnya,” sahut Cokro.

__ADS_1


“Owalah ... Ndak usah di pungkiri lagi ini aku sama Ningsih memang berjodoh,” ucapnya girang.


__ADS_2