
Bagas, Adit beserta Kuncoro mengajak para warga desa untuk membersihkan mushola yang akan di pakai untuk beribadah.
“Ayo kita semua gotong royong untuk membersihkan dan merenovasi mushola,” ujar Adit yang mengajak para warga.
Mereka pun pergi ke moshola yang tidak jauh dari rumah Kuncoro dengan membawa peralatan dapat di gunakan di sana.
Sesampainya di mushola terlihat bangunan tua dengan tebu yang tebal, kaca mushola yang kotor, atap genteng mushola yang bocor. Belum lagi rumput-rumput yang sangat panjang mengelilingi bangunan mushola tersebut.
Kuncoro membuka pintu mushola yang terkunci di dalamnya sangat kotor sekali. Debu yang menempel di lantai sangat tebal, genangan air yang ada di dalamnya karena genteng mushola yang bocor. Di tambah lagi sarang laba-laba yang berada di ujung-ujung dinding mushola tersebut.
Melihat kondisi rumah Allah yang sangat memprihatinkan itu.
“Astagfirullah, mushola ini sampai begini rusaknya berapa lama tidak di gunakan?” tanya Bagas.
“Sudah bertahun-tahun bang!” kata Iwan.
Bagas beserta Adit hanya terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalan melihat bangunan rumah Allah yang tidak terurus itu.
Mereka semua dengan sigap bergotong royong membenarkan dan membersihkan bangunan Mushola tersebut.
Berjam-jam telah berlalu hingga sore hari jam pun sudah menunjukkan pukul enam Sore.
Para warga menghentikan aktivitasnya karena telah selesai membersihkan dan membenarkan yang telah rusak di makan usia.
Setelah semua selesai para warga berpamitan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
***
Langit sore berubah menjadi kelabu hingga sampai waktu magrib tiba.
Terdengar suara azan berkumandang di mushola yang tidak pernah mereka gunakan bertahun-tahun lamanya.
Di malam yang kelabu itu desa Kemomong baru kali ini terdengar suara azan kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
Adit yang telah selesai mengumandangkan azan magrib kini tiba giliran Bagas yang menjadi iman sholat untuk para warga desa Kemomong.
Namun di sisi lain mbah Seno yang tadi mendengar suara azan berkumandang pun sangat kesal.
‘Beraninya mengumandangkan azan di desa ini, aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus menghampiri orang itu dan memberikannya pelajaran,” ujar Seno yang sangat marah.
Seno keluar dari rumahnya berjalan menuju mushola tersebut.
Jarah mushola dengan rumah Seno memang cukup jauh, memerlukan waktu 20 menit untuk berjalan kaki menuju ke sana.
Setelah 20 menit berjalan Seno telah sampai di depan pintu mushola.
Bagas pun berserta yang lain pun telah selesai beribadah sholat magrib.
__ADS_1
“Siapa yang berani menggunakan mushola ini!” gertak Seno.
“Saya Mbah,” sahut Bagas yang berjalan keluar mendatangi Seno.
“Oh rupanya kamu anak muda! Kau akan menyesal nantinya!” ancam Seno.
“Aku tidak akan menyesal jika di jalan Allah!” jawab Bagas dengan lantang.
“Rupanya nyalimu cukup besar anak muda!” sahut Seno.
“Kami tidak pernah takut kepadamu selain tuhanku!” celetuk Adit.
“Ha-ha-ha, liat kalian semua para warga dan kau berdua anak akan tahu akibatnya karena telah melanggar ritual di desa Ini!” ancam Seno.
“Tidak mbah Seno, aku beserta para warga tidak akan mengikuti kembali ritual sesatmu!” sahut Kuncoro.
“Iya benar aku pun tidak mau!” sahut Iwan.
“Iya aku juga,” ucap salah satu warga.
Semua warga menentang ajaran sesat mbah Seno, dan memihak kepada Bagas beserta Adit.
Melihat perilaku warganya yang menentang dirinya mbah Seno pun pulang ke rumah untuk membalaskan sakit hatinya kepada Bagas beserta Adit.
Karena menurut mbah Senio sendiri para warga tidak memihak dia kembali.
Seno meninggalkan mereka semua berjalan dengan hati yang sangat kesal.
Sementara itu Adit dan Bagas tidak pulang mereka menghabiskan waktu bersama keluarga di mushola sembari menunggu waktu sholat isa datang.
Dua jam telah berlalu Kuncoro beserta keluarganya pun pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Sekar dan Ningsih mempersiapkan mereka makan malam.
Makan telah di sajikan di meja makan mereka semua berkumpul di meja makan menikmati makan yang di buat oleh Sekar dan Ningsih.
“Enak sekali masakanmu Ning, tidak salah Mas memperistrimu,” Adit yang memuji Ningsih.
“Iya masakan Sekar pun sangat enak, kalau begini cara Abang bisa rindu dengan masakan Sekar kalau kerja jauh!” Bagas yang memuji Sekar.
Ningsih dan Sekar tersenyum bahagia, mereka berdua sangat menginginkan keluarga yang harmonis seperti Bapak dan ibu mereka.
Beberapa menit telah berlalu mereka pun telah selesai makan malam, dan kembali berbincang-bincang di ruang tamu.
“Kapan kalian berdua memberikan Bapak cucu,” celetuk Kuncoro.
“Owalah pak, nikah saja baru kemarin mau membuatkan bapak cucu sudah di ganggu dan di datangi para mayat ya gak jadi pak!” celetuk Adit yang membuat Kuncoro tertawa dan Ningsih tersipu malu.
__ADS_1
“Iya Pak benar yang di ucapkan Adit!” sahut Bagas.
“Ha-ha-ha rupanya kalian berdua gagal untuk malam pertama!” Kuncoro yang menertawakan mereka.
“Bapak!” tegur Ningsih beserta Sekar.
“Iya Pak tidak ada malam pertama yang ada malan kedua, ketiga dan seterusnya,” celetuk Adit.
Kegembiraan mewarnai wajah mereka semua.
Tapi tidak dengan Seno.
Malam mulai larut, Seno pun mencoba kembali mengirim ilmu hitam kepada mereka berdua.
Dengan cara yang sama yang sebelum-sebelumnya Seno lalukan.
Seno mulai meminum darah ayam cemani lalu iya semburkan ke perapian.
Seketika ilmu hitam yang Seno kirimkan untun Bagas dan Adit kembali ke tubuhnya.
Seno mengeluarkan darah Segar di mulutnya, yang di serang ilmu hitamnya sendiri tergeletak di lantai.
Di situlah arwah Cokro kembali mendatanginya, maafkan aku Seno, kau sudah salah jalan. Aku harus membantu melindungi mereka berdua dari perbuatan ilmu hitammu.
“Bertobatlah Seno, kembali ke jalan Allah sebelum terlambat,” ucap arwah Cokro yang menasihati Seno.
“Ka-kau tidak perlu ikut campur urusanku! Pergi kau!” pekik Seno menahan rasa sakit di dadanya.
Arwah Cokro pun pergi meninggalkan tubuh Seno yang tergeletak di lantai.
Seno mencoba menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara di tempat kamar ritual Seno.
“Seno mana tumbal selanjutnya yang kau janjikan!” ucap makhluk hitam bertanduk yang Seno sembah.
“Ma-maafkan hamba sang penguasa, hamba gagal memberikan tumbal untukmu. Bisakah kau memberikan hamba sedikit waktu lagi,” Seno yang memohon kepada makhluk tersebut itu.
“Tidak bisa Seno, sesuai dengan kesepakatan kita kau akan menerima ganjarannya, akus sudah memberikan banyak waktu untukmu!” ancam makhluk itu kepada Seno.
Mahluk itu pun memunculkan dirinya di hadapan Seno telelah itu mencekik leher Seno dan menghisap darah Seno hingga habis.
Setelah merasa cukup menghisap darah Seni hingga habis makhluk itu pergi entah ke mana.
Namun jasad Seno begitu sangat mengerikan tubuhnya terlihat hitam seperti terbakar dan gosong.
Dan akhirnya Seno pun meninggal di kamar ritualnya dengan seluruh tubuh yang gosong, lidah yang menjulur keluar dan mata yang terbelalak lebar.
__ADS_1