DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Edisi mancing mania mantapp


__ADS_3

Aku pun menuju kamar mandi untuk mencuci kedua tanganku yang kotor.


Setelah itu kami berkumpul di ruang tengah untuk mempersiapkan planing selanjutnya.


Kami membuat sebuah lingkaran kecil.


Aku memulai diskusi kecil itu.


"Kita harus ingat apa yang telah dikatakan oleh ketua adat tadi. Apalagi tentang larangan-larangan yang telah dikatakan oleh ketua adat".


Rio pun menjawab


" Apa maksud dari perkataan bapak Gilang tadi ya."


"Kayaknya yang dibilang Bapak ketua adat tadi benar-benar bahaya"


jawab sih Danu.


"Tapi gue heran masih ada ya larang-larang seperti itu di zaman sekarang ini"


Ucap si Rio.


Akupun berkata


"Yang yang penting kita harus taat akan perkataan Bapak Gilang tadi, Kalian jangan pernah melakukan larangan-larangan tadi".


"Yang nggak masuk masuk akal kenapa nggak boleh pakai pakaian kuning ketika mau masuk ke dalam hutan? Kita kan Tugasnya di dalam hutan dan juga baju persatuan fakultas kan warnanya kuning !"


ucap Wisnu.


"Mana gua tahu !, Yang penting kita harus taat sama perkataan bapak Gilang tadi" jawab ku.


"Iya iya, Kami semua pasti Ingat pesan tadi, Nggak boleh ke hutan memakai baju kuning, Terus nggak boleh Melewati batas hutan , Setelah itu nggak boleh membuka pintu kamar misterius itu" Jawab si Danu sambil menunjuk ke arah pintu kamar misterius.


"Nah gitu dong, Biar kita semua selamat sampai tugas ini selesai" Ucapku.


Wisnupun berkata


"Kenapa ya?, Kita tidak boleh membuka pintu kamar misterius itu ? Padahal gua penasaran nih, Apa yang ada di dalam kamar misterius itu, Kayaknya ada sesuatu didalam kamar itu"


"Pokoknya ikuti aturan saja, Apa yang sudah dibilang sama Bapak Gilang" Ucapku.


"Gua juga sebenarnya penasaran, Tapi ya gimana lagi?, Kita harus ikuti aturan di Desa ini" Ucap si Rio.


"Besok pagi pagi, Kita langsung berangkat ke dalam hutan" Ucap ku.


"Jam berapa ko?" Tanya Wisnu.


"Selesai sarapan langsung berangkat untuk liat lokasinya Dan ingat !, Besok gak ada yang boleh pakai pakaian warna kuning"


Jawab Ku.


"Hmm, Padahal kuning adalah warna kesukaannya gua" Ucap si wisnu dengan nada kecewa.


"Gak apa apalah bro, Untuk sementara baju kuning Lo gak usah di pakai dulu" Ucap Danu sambil memegang pundak Wisnu.


"Iya, Kitakan cuma bentar disini, Palingan Dua bulan, Paling lama tiga bulan" Gumam si Rio.


"Pokoknya besok habis sarapan langsung lest go to the forest ok" Ucap ku dengan keras.


"Ok siap " Jawab serentak oleh ketiga teman ku.


"Alat alat besok pagi jangan sampai lupa, Kita soalnya akan meneliti bebatuan yang ada didalam hutan" Ucap ku.


"Ok ketua" Ucap mereka dengan serempak.


"Hari ini kita ngapain ni? , Mancing yuk?, Gua pingin mancing ni !" Gumam Rio.


Danu pun melihat ke arah dapur kemudian berkata "Kayaknya Didapur ada lima pancing tradisional deh, Yang terbuat dari bambu"


"Coba Lo liat Wis, Siapa tau benaran ada" Ucap ku.


"Adeeeeeehhhhhh ,Yang mau mancing Rio, Gua yang disuruh mencari pancing" Jawab Wisnu dengan nada betek.


Wisnu pun melangkan kakinya ke arah dapur untuk memastikan apakah ada pancing atau tidak.


Ketika sampai di dapur, Terlihat Wisnu mondar mandir mencari pancing itu kemudian teriak


"Dimana Dan?, Gak ketemu? Lo aja kesini cari"


Danu pun langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Nah itu !, Disamping kendi air, Lo aja yang buta" Ucap Danu yang baru sampai didepan Kamar misterius itu sambil menunjuk kearah pancing.


"Heheheheh Gua baru liat" Jawab Wisnu sambil tertawa.


"Cepataaann kalian bawak ke sini,Gua udah gak sabar mau mancing" Teriak si Rio yang lagi duduk dengan ku.


"Ehhhh anak sialan, Gua yang ngambil udah untung"


Teriak Si Danu yang lagi berada didapur.


"Nanti umpannya apa ya ko?" Tanya Rio yang lagi duduk dengan ku.

__ADS_1


"Biasanya cacing tanah, Kalau ada roti bagus juga" Jawab ku.


"Eh busetttt dah !, Gua aja gak makan roti masak ikannya makan roti ?" Ucap si Rio.


"Berarti kita cari cacing aja nanti" Ucap ku.


Tampak Wisnu dan Danu yang sudah dekat dengan kami, Tiba Tiba Rio berteriak lagi.


"Wis ?, Cangkul Di belakang jangan lupa bawak kesini juga"


"Dasar ni anak taunya cuma nyusahin orang aja"


Gumam wisnu kemudian kembali ke dapur sementara Danu tetap berjalan menuju kami sambil membawa tiga buah pancing.


"Ini pancingnya"


Ucap Danu yang langsung menyodorkan pancing itu kepada Rio.


"Gak ada yang pakai katrol ya.?"


Tanya Rio sambil mengambil pancing yang diberikan oleh Danu.


"Mana ada ******, Lo Beli aja ke pasar sono, Biar di tengah hutan di makan macan, Syukur syukur udah ada pancing"


Jawab Danu dengan sewot.


"Dari pada Gua dimakan macan lebih baik Gua pakai yang ini aja dah" Gumam Rio.


Dari arah dapur terdengar suara Wajan jatuh


tong tong tong


"Lo nyari cangkul apa mau ngehancurin dapur Wis?" Teriak Rio yang lagi duduk diruang tengah.


"Sabar, Ini lagi usaha ngambil cangkulnya" Teriak kembali oleh si Wisnu dari dapur.


Setelah itu Wisnu datang dari dapur dengan membawa dua buah pancing di tangan sebelah kanan, Dan Sebuah cangkul tua di tangan sebelah kiri.


Tak tak tak tak


suara jalan Wisnu yang sengaja ia hentak kan dengan keras.


"Ni cangkulnya ama pancingnya"


Ucap Wisnu.


"Ayo dah kita turun, Biar gua yang gali cacingnya" Gumam Rio sambil berdiri.


"Ayo ayo dah" Ucap ku sambil mencoba berdiri pula.


Terlihat begitu semangatnya Rio ketika ingin mancing di sungai jernih itu.


"Lo mau cari cacing dimana"


Tanya Wisnu yang berada dibelakang Rio sambil melangkah turun.


"Di belakang rumah ini kayaknya banyak cacing, Soalny tekstur tanahnya sedikit lembab"


Jawab Rio yang sudah sampai di bawah sambil memasang sandal jepitnya kemudian langsung ke arah belakang rumah.


"Tungguin Gua, Biar gua ikut gali cacing" Ucap si Wisnu.


Aku dan Danu menunggu mereka didepan rumah sambil duduk di bangku panjang.


"Emangnya disungai ini banyak ikannya ya ko ?"


Tanya danu kepadaku yang duduk berdampingan dengan ku.


"Kalau di lihat lihat banyak Dan, Liat aja pas warga mancing disana, Pasti pulangnya banyak bawak ikan"


Jawab ku kepada Danu.


"Iya juga sih"


Jawab Danu dengan nada pelan.


Terlihat Wisnu dan Rio lagi berusaha menggali cacing dibelakang Rumah penginapan kami.


Tidak lama kemudian Wisnu dan Rio datang dengan membawa cacing hasil galian mereka, Yang mereka masukkan kedalam kemasan air mineral.


Kemudian Rio menyodorkan cacing itu kepada Danu sambil berkata.


"Banyak kan hasil buruan kami ?"


Terilhat cacing cacing yang lumayan banyak didalam kemasan air mineral itu.


"Banyak juga ya" Ucap Danu.


"Ayo lest go" Ucap Rio sambil melangkah menuju sungai.


"Kita pilih lokasi yang sedikit tenang aja, Kalau di dekat rumah ini kurang strategis" Ucap Rio.


"Disana aja"

__ADS_1


Gumam Wisnu sambil menunjuk kearah sungai yang sekitaran dua puluh meter dari lokasi kami.


"Nah bagus juga tu" Ucap ku.


Kamipun melangkah menuju lokasi yang telah dipilih oleh Wisnu, Lokasinya cukup strategis, Karna tempatnya sunyi dan ada sedikit pepohonan untuk berteduh.


Setelah sampai di lokasi, Aku mengambil satu pancing yang dibawa oleh Wisnu, dan memilih tempat didekat pohon.


Aku dan Danu berdekatan sementara Rio dan Wisnu memilih tempat yang berbeda.


"Bagi setengah dong umpanya, Untuk gua ama Riko" Ucap Danu kepa Rio


"Ok ok, Mana Wadah cacing kalian?" tanya Rio.


Danu pun memberikan gelas bekas Air mineral kepada Rio kemudian berkata.


"Masukin ke sini aja"


Rio pun memberikan setengah cacingnya kepada Aku dan Danu, Kemudian Dia pergi menuju lokasi mancingnya bersama dengan Wisnu.


Aku yang lagi memasang umpan di pancingku dan melihat Wisnu yang lagi berjalan menuju lokasinya, Aku pun berkata.


"Kalian jangan terlalu jauh wis"


"Enggak, Cuma dekat sini doang"


Ucap Wisnu yang tetap berjalan membelakangi aku dan Danu.


Setelah itu kamipun memasang pancing masing masing.


Aku dan Danu memilih lokasih dibawah pohon, Sementara Wisnu dan Rio berada sekitar sebelas meter dari lokasi ku.


Sungai yang masih alami, Tanpa ada pencemaran limbah dan yang lainya membuat suasana mancing menjadi enak.


Aku menunggu sekitar setengah jam tapi tidak ada tanda tanda dari ikan.


Danu,Rio Dan Wisnu pun terlihat lesu karna tidak mendapatkan satupun ikan.


Tidak lama kemudian datanglah seorang warga Desa kemudian bertanya.


"Lagi manceng yo dek ?(Lagi mancing ya dek?)" Tanya Warga itu kepada ku.


"Iyo pak, Tapi lah setengah jam dak dapat dapat ! ( Iya pak, Tapi sudah setengah jam enggak dapat dapat!) " Jawab ku dengan sopan.


"Manolah kau nak dapat mancing di siko (manalah kamu mau dapat mancing disini)"


Gumam bapak itu.


"Nah kenapo emangnyo pak ?( Nah kenapa emangnya pak?)"


Tanya ku kembali.


"Kau harus bao garam terus lempar kesunge ko (Kamu harus bawak garam terus lemparkan kesungai ini), Sudah tu Kato(sudah itu bilang) , Oiii ikan makanlah pancing orang Batu Sawar ko "


Jawab Bapak Itu, Kemudian dia pergi.


Aku dan Danu pun heran, Bagai mana bisa ada tata cara mancing seperti itu, Tapi apa salahnya jika diikuti.


Akupun menyuruh Danu kerumah warga untuk meminta sedikit garam


"Dan? Lo kerumah warga, Minta garam dikit, Siapa tau benaran dapat"


"Iya ko, Tapi aneh juga ya" Ucap Danu sambil pergi menuju ke rumah warga.


Sambil menunggu danu datang aku mencoba mengganti umpannya, Siapa tau ikanya mau makan jika umpan diganti yang baru.


Tapi tetap saja tidak satupun ikan yang mendekati pancing ku.


Tidak lama kemudian Danu datang membawa garam kemudian memberikanya kepada ku.


Akupun langsung melemparkan semua garam yang telah diberikan Danu kepada ku ke sungai tempat kami mancing, kemudian berkata " Oii Ikan, Makanlah panceng orang Batu Sawar ko"


Anehnya, Hanya butuh dua menit kami menunggu tiba tiba


Byuuurrrrrr


Suara ikan meloncat disampingku ternyata umpan pancing si Danu telah di makan oleh ikan.


"Pancing lu Dan" Teriak ku.


Danu pun langsung menarik pancing nya


Betapa kagetnya kami melihat ikan Patin yang lumayan besar sekitaran satu kg.


"Besaaaaaaaarrrrrrr kooooooooo" Teriak Danu sambil mengangkat ikan yang ia dapat.


Tidak lama kemudian pancingku juga terasa berat, Aku pun mencoba mengangkat pancing itu.


"Daaaaaaannmnnnnnn Gua juga dapat ni" Teriak ku kepada danu sambil mengangkat ikan yang tidak kalah besar dengan ikan Danu.


Tampak Si Rio dan Wisnu merasa heran ketika melihat Aku dan Danu mendapatkan dua ikan yang sangat besar, Sementara mereka dari tadi tidak mendapatkan ikan satupun.


# Bersambung#

__ADS_1


Jangan lupa like,komen dan votenya kk


__ADS_2