DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Di Amuk Warga


__ADS_3

Setelah sekian lama, Akhirnya tampak cahaya matahari pun muncul dari sela sela dinding yang terbuat dari papan dan yang pastinya membuat kami semua bahagia.


Ustdz pun berkata


"Alhamdulillah Akhirnya matahari pun muncul".


" Berarti Mahluk berbahaya itu sudah menghilang ya tadz..? "


Tanya Si Danu.


"Insyaallah Sudah menghilang".


Ucap Ustdz.


Tampak wajah wajah bahagia yang muncul di pagi yang cerah itu.


Aku mencoba mengintip dari sela sela dinding papan, dan tak terlihat seorang pun yang berkeliaran diluar, Baik Itu mahluk berbahaya itu ataupun warga setempat.


Aku pun menoleh kepada rombongan yang ada didalam rumah dan berkata


" Sepertinya mereka benar benar telah menghilang".


Aku pun mencoba untuk membuka pintu dari arah belakang Wisnu Berkata.


"Ko..? Nanti kalau masih ada.!gimana..? ".


Aku pun menjawab.


" Insyaallah sudah gak ada lagi, kan matahari udah muncul".


Aku pun membuka semua kunci pintu, Karena pada malam itu, Pintu terkunci dengan sangat rapat.


Kreeeekkkkk


Suara pintu yang telah Ku buka.


Perlahan tapi pasti ku buka pintu rumah Bapak Kepala Desa.


Mataku mencoba untuk melihat kearah luar dan Matahari benar benar sudah kelihatan, Diluar rumah tidak ada activitas sedikitpun, Semua rumah warga masih tertutup.


Bapak ketua adat pun keluar rumah dengan menuruni anak tangga Kemudian bapak Ketua adat berteriak.


"Hari lah siang, Mahlok itu lah ngilang, Semuo warga harap berkumpul di depan rumah bapak kepalo desa".


Satu persatu rumah warga terbuka, Mereka tampak begitu senang karena telah selamat hingga pagi itu.


Semua warga berbondong bondong menuju rumah bapak kepala desa, Beberapa ibu ibu tampak masih menangis karena ketakutan.


Aku merasa sangat bersalah dengan insiden itu, Karena bagaimana pun aku adalah ketua kelompok penelitian , Ini juga salah Rio yang begitu ceroboh membuka pintu kamar misterius itu, Jika Rio tidak membuka kamar itu maka insiden mengerikan tidak akan pernah terulang lagi didesa batu Sawar ini.


Semua warga telah berkumpul didepan Rumah bapak kepala Desa.


Semua yang ada didalam rumah bapak Kepala desa itu pun ikut berkumpul didepan Rumah Bapak kepala Desa, Termasuk Aku, Danu, Dan Wisnu, Si Rio masih tetap Tergeletak tanpa Ruh didalam kamar rumah bapak Kepala Desa.


Kami semua berkumpul didepan Rumah Bapak Kepala desa seolah olah lagi menggu penyampaian Arahan oleh bapak Ketua Adat Dan Bapak Kepala Desa.


Aku merasa seperti diperhatikan oleh semua warga, Bukan aku saja tetapi Wisnu dan Danu pun Begitu, Para warga menatap kami dengan sangat sinis.


Terdengar bisikan bisikan warga.


"Iko ha budak budak yang sudah mukak lawang desa yang ilang tu (Ini ni Anak anak yang sudah membuka pintu desa yang hilang tu) ".


Salah satu dari warga berteriak ke arah Aku, Wisnu dan Danu.


" User lah budak budak ko (Usir anak anak ini), Rombongan Dio ko lah yang sudah muat desa kito bahayo (Rombongan dia ini lah yang sudah membuat desa kita bahaya) , Userrrrrrrr (Usiiiiiiiirrrrrr !!!!!) ".


tampak warga terprokator oleh satu warga tersebut sehingga semuanya berteriak " Userrrr Userrrr Userrr userr (Usirrr Usirrr Usirrr Usirrr) ".


Bapak Kepala desa mencoba menenangkan warga, Supaya warga tidak marah dan anarkis kepada Aku Danu dan Wisnu.

__ADS_1


" Sudah bapak bapak, Ibu ibu, Sabar sabar".


Ucap Bapak kepala desa.


Namun sepertinya amarah warga desa batu sawar tidak bisa dibendung lagi, Aku danu dan Wisnu sudah Di ancam ancam warga, Bukan hanya itu Aku ,Wisnu dan Danu di dorong sehingga kami jatuh tersungkur.


Ketika melihat kami bertiga tersungkur bapak ketua adat pun marah, Dan berteriak.


"Sudaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh".


Warga pun berhenti ketika mendengar suara teriakan ketua adat.


Ketua adat pun menyuruh kami bertiga untuk naik keatas Rumah bapak kepala Desa.


" Riko,Wisnu dan Danu naik kerumah"


Teriak Ketua adat.


Aku, Danu dan Wisnu pun bergegas naik keatas rumah bapak Kepala desa, Aku takut kami bertiga diamuk oleh warga desa.


Ketika aku berlari keatas rumah aku mendengar Ketua adat marah kepada warga.


"Dak ado gunonyo kalian ko marah marah dengan Rombongan Riko ( tidak ada gunanya kalian marah marah kepada rombongan Riko), Karno yang muka' Lawang tu bukan Dio tapi Rio(Karna yang membuka pintu itu bukan dia tapi Rio), Budak tu kini lah tabareng di atas kasor mirip urang lah mati ( Anak itu sekarang sudah terbaring diatas kasur seperti orang yang sudah mati).


Kito galo ko lah tau (Kita semua ini sudah tau), Dulu ado orang yang mimpi (Dulu ada orang yang mimpi), Bahwo lawang ko bakalan tabukak pulak (Bahwa pintu ini akan terbuka kembali), Dan didalam mimpi tu, Urang tu ngasih tau (Orang itu ngasih tau), bahwo ado sikok budak(Bahwa ada satu anak), yang biso baliin urang urang yang sudah keno ambek mahluk tu (Yang bisa mengembalikan orang orang yang sudah diambil oleh mahluk Desa yang Hilang),


Siapo tau, Budak yang dimaksud tu salah satu dari rombongan Riko(Siapa tau, Anak yang dimaksud itu adalah Salah satu dari rombongan Riko) ".


Salah satu warga menjawab.


" Enak kalau yang dimaksud tu budak budak ko (Bagus kalau yang di maksud itu adalah anak anak ini), Kalau enyok budak budak ko macam apo..? ( Kalau bukan anak anak ini gimana..?)".


Semua warga pun berkata.


"Iyoo betol tuu ( Iya benar itu).


Aku melihat sepertinya semua warga membenci kami, Tampak mereka semua seperti ingin mengusir kami dari Desa.


Setelah itu aku tak tau lagi apa yang dibicarakan warga dengan bapak ketua adat dan bapak kepala desa karena Aku, Danu dan wisnu langsung masuk kedalam kamar dimana tempat tubuh Rio Di letakkan.


Tubuh Rio masih terbujur kaku diatas kasur, Ruh Rio masih berada didesa yang hilang, Sementara itu Semua warga sudah menyuruh kami untuk pergi dari desa Batu Sawar Tersebut.


"Duhh apes bener nasib kita ya..?, Mana Si Rio udah gini .!, terus kita mau di usir..!Mana penelitian kayaknya gagal Total..!"


Keluh Si Wisnu.


"Gua udah gak mikir Tugas penelitian itu, yang Gua pikir sekarang ini Rio, Gimana kalau Rio benar benar meninggal..? Terus kita mau ngasih tau keluarganya gimana..? "


Ucap Si Danu.


Aku hanya diam sambil melihat tubuh Rio yang terbujur kaku diatas kasur.


Didalam hatiku berkata.


"Gimana ya cara balikin Ruh Rio..? ".


Sekitar 10 menit kemudian Bapak ketua adat ,Ustad dan bapak kepala desa pun naik ke atas rumahnya, Dan memanggil kami bertiga.


" Danu..? Wisnu..? Rio..? Sini..!!! ".


Ucap Bapak ketua adat yang sedang duduk di ruang tamu.


" Ehh...! kan Rio lagi gak ada pak..? "


Ucap Bapak Kepala Desa.


"Oh iya ya, Kan ulah Si Rio Ini,.. "


Ujar ketua adat.

__ADS_1


Kami bertiga pun keluar kamar dan menuju keruang tamu tempat bapak ketua adat dan Kepala desa duduk.


"Duduk sini.. "


Ucap bapak kepala desa sambil menunjuk Tiga kursi kosong disamping kanannya.


"Iya pak".


Ucap ku dengam nada rendah.


Bapak Ketua adat pun berkata.


" Bapak sudah diskusi dengan semua warga, Semua warga sudah setuju kalau kalian masih tinggal disini,dengan syarat kalian harus menutup pintu desa yang hilang dan Mengembalikan warga yang telah di ambil oleh Mahluk Desa yang Hilang itu".


Dup dup dup


Suara jantung ku berdegup kuat.


Aku pun langsung berkata.


"Gimana caranya pak..?, Bukannya itu membahayakan nyawa kami bertiga pak..? ".


Bapak Ketua adatpun menjawab.


" Kalian mau tak mau harus kedesa yang hilang itu, Karena ruh Teman kalian masih tinggal disana, Dan hanya kalian bertigalah yang bisa mengembalikan Ruh teman kalin, Untuk urusan masuk ke desa yang hilang tersebut bapak tidak bisa bantu, Karena bapak tidak bisa masuk kesana, Hanya kalian lah yang bisa masuk.


Sebelum kalian masuk nanti yang pastinya akan di bekali bacaan bacaan dari ustdz Dan nanti kalian bapak kasih peninggalan nenek moyang kami".


Si Danu pun berkata.


"Kalau kami tidak bisa kembali gimana pak? ".


Bapak ketua adat pun berkata.


" Semua itu tergantung kalian. Apakah kalian mau pergi ke jakarta sekarang dengan membawa jasad tanpa ruh teman kalian..?".


Aku pun berkata dan mengambil keputusan karena aku sebagai ketua kelompok.


"Mau tak mau kami semua harus kembali dengan selamat, Walaupun itu membahayakan Nyawa kami pak.. ".


Ustdz pun berkata.


" Hari ini semua warga bergotong royong membuat obor, Obor tersebut akan di letakkan di pinggir pinggir desa sehingga desa kita di kelilingi oleh obor, Setidaknya kita berharap obor tersebut bisa menahan mereka".


"Kalian cukup Dirumah saja, Jangan keluar rumah, supaya tidak membangkitkan emosi para warga lagi".


Ucap bapak Kepala desa.


Dari Arah tengah tampak seorang ibu ibu muda yang sedang menangis.


" Ibu itu kenapa pak..? "


Tanya Wisnu sambil melihat kearah ibu itu.


"Itu ibu ningsi, Yang berteriak tadi malam, Anaknya telah di ambil oleh mahluk desa yang hilang"


Ucap Ketua adat.


Dari arah ruang tengah ibu ningsi tersebut melihat kearah Aku, Wisnu dan Danu, Tampak Tatapan tajam dari ibu itu walaupun ia sedang menangis, Kemudian Ibu ningsi berteriak.


"Awas yo. .!kalu anak aku dak balek,(Jikalau anak ku tidak kembali), Kamu aku bakar hidup hidup".


Kami hanya bisa diam, sambil menundukan Kepala, Istri bapak kepala desa pun menenangkan ibu ningsi dan mengajaknya untuk istirahat kedalam kamar.


#Bersambung#.


Dont forget, Like and komen but harus pake kato kato baek yo, karno kato kato kasar dak akan buat author semngat menulis.


mengkritik boleh, tapi harus di dalam nuansa yang sopan.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2