DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Hari ke Dua, Rio di ikuti mahluk astral.


__ADS_3

Hari semakin gelap, Bunyi dari suara hewan hewan kecil penghuni hutan sudah mulai terdengar di gendang telinga kami.


Krikkk kriiikkk krikkkkk


Suara Jangkrik hutan.


"Malam malam gini baru kerasa seram gitu ya"


Ucap Rio.


"Gara gara Lo ni, Kita kemalaman gini"


Ucap Danu.


"Enak aja gara gara Gue..! Gara gara senterlah, Siapa suruh dia gak ada di ransel Gua"


Jawab Rio.


Cahaya senter terus saja kami arahkan ke depan, Sesekali Aku menyinari ke arah kanan dan kiri.


Bapak Arif yang berada di depan selalu berjalan dengan hati hati, Rio pun yang berada dibelakangnya pak Arif hanya mengikuti langkahnya pak Arif, Karena Dia tidak membawa senter.


Wisnu dan Danu yang berada di didepanku tetap fokus kearah depan, Walaupun perkampungan sudah dekat, Namun yang namanya didalam hutan tetaplah didalam hutan.


Kami harus ekstra hati hati, Karna banyak hewan hewan berbisa yang sedang mengintai kami.


"Pak? kok punggung saya terasa berat ya?"


Tanya Rio kepada pak Arif yang tiba tiba punggungnya terasa berat.


"Palingan ransel kamu kebanyakan isinya gak?"


Tanya pak Arif yang masih tetap fokus berjalan dan menyinari arah depan.


"Mungkin aja pak, Tapi kok baru kali ini terasa berat banget ya pak?"


Ucap Rio.


"Ah Elu ada ada aja"


Ucap Wisnu yang berada di belakangnya.


"Gua serius Wis, Biasany gak berat berat amat ni ransel"


Jawab Rio sambil menoleh ke arah belakang.


"Udah jalan aja terus bentar lagi kita sampai juga"


Ucap Ku.


Jarak yang lumayan dekat saat itu terasa sangat jauh, Mungkin karena kami berjalan di waktu malam hari.


Di sa'at kami fokus berjalan, Tiba tiba Rio berkata.


"Ituuuuu Tuuu Lihat, Kayaknya semak semak itu goyang sendiri"


Ucap Rio sambil menunjuk kesebelah kiri dimana dia melihat semak semak yang bergerak sendiri.


"Manaaa..?"


Tanya Ku dengan sepontan.


"Ituuu tu, Semak semak yang di dekat pohon rindang itu"


Ucap Rio yang masih menunjuk kearah semak belukar.


"Ahh jangan bercanda lah Rio, Gak lucu"


Gumam Wisnu.


"Siapa juga yang bercanda..?, Tadi semak semak itu benaran goyang "


Jawab Rio.


"Sudah sudah, Palingan ada hewan di sana"


Ujar pak Arif.


Tidak lama kemudian, Pemukiman warga terlihat, Kelap kelip lampu rumah warga yang hanya sedikit tampak begitu jelas.


"Nah itu pemukiman, Kita udah sampai di pemukiman warga"


Ucap Pak Arif.


"Untung udah sampai, Pinggang Gua rasanya udah mau patah ni"


Ucap Rio.


Pemukiman warga semakin jelas, Hingga akhirnya Kami sampai di Pemukiman warga.


"Alhamdulillah, Akhirnya kita sampai"

__ADS_1


Ucap Pak Arif.


"Besok pagi jangan telat lagi ya, Biar kita bisa berangkat pagi pagi, Bapak permisi mau ke rumah dulu, Mau mandi dan istirahat"


Ucap pak Arif kembali.


"Oh iya dah pak, Terimakasih karena telah menemani kami hari ini"


Jawab Ku kepada pak Arif.


Pak Arif pun pulang kerumahnya yang berdekatan dengan rumah bapak kepala desa, Dan Kami pun berjalan menuju rumah penginapan Kami.


"Jalan dikit aja pinggang Gua mau patah rasanya"


Ucap Rio yang masih berjalan di depan Ku.


"Ah Lebay Lo, Biasanya kita daki gunung Biasa aja"


Ucap Ku.


"Lo ngerasa tiba tiba berat di punggung Lo ?"


Tanya Si Wisnu yang berjalan ke arah samping Rio.


"Iya Wis, Tiba tiba rasanya Gua lagi bawak dua kali beban ransel Gua"


Jawab Rio.


Tidak lama kemudian kamipun sampai di depan Rumah penginapan kami.


Aku, Rio, Wisnu dan Danu sudah berdiri di depan Rumah penginapan .


"Gua lihat ni rumah aja udah merinding"


Ucap Wisnu.


"Masuk kagak ya?"


Ucap Rio yang juga masih diam berdiri.


Kami berempat diam sejenak di depan Rumah panggung itu, Sambil menatap kearah rumah.


" Ayo dah masuk, Mau gimana lagi..?, Kita di kasih ama warga rumah yang ini".


Ucap Ku yang sudah melangkahkan kaki ke atas tangga rumah.


"Hmm Mau gak mau juga, Harus naik dan bertemu dengan kamar menakutkan itu lagi"


Ucap Danu.


Aku pun meletakkan ransel ku disamping lemari dam menghempaskan badan ke arah kasur.


"Ahh, Capek juga ya"


Ucap Ku kepada Rio yang juga ada diatas kasur.


"Gua merasa hari ini paling capek"


Ucap Rio.


"Gimana..? Masih berat di atas pundak Lo?"


Tanya Ku kepada Rio.


"Kayaknya udah Ringan Pas kita masuk kedalam rumah tadi"


Ujar Rio.


"Lo mau mandi duluan gak..?"


Tanya Ku kepada Rio.


"Gak Ah nanti aja, Lagi enak rebahan di atas kasur"


Ucap Rio.


"Wisnuuuuuuu, Danuuuuuuuu Kalian mandi duluan sono"


Teriak Rio dengan sangat kencang.


Tidak lama kemudian Wisnu datang dari kamar sebelah.


"Lo ngapain teriak teriak..? Udah malam, Gak enak sama warga"


Ujar Wisnu menasehati Rio.


"Biarin dah, Warga mungkin lagi kangen ama suara Gua"


Ucap Rio.


"Kangen apaan..? Malahan bersyukur warga kalau gak dengerin Suara Elu"

__ADS_1


Ucap Wisnu.


"Udah mandi Sono, Dari pada ngomel mulu"


Ucap Rio.


"Ogahh Gua lagi capek, Gua mandi belakangan aja"


Jawab Wisnu lalu kembali kekamarnya lagi.


Kami berempat sepertinya sudah pada kecapean, Biasanya masalah mandi main dulu duluan.


Rio disampingku tampak memijak pundaknya sendiri.


"Baru satu hari capeknya minta ampun"


Cetus Rio.


"Belum apa apa,Elu udah ngeluh"


Ucap Ku.


"Main pijit pijit yuk Ko, Elu pijit Gua 20 menit, Nanti Gua pijit Elu 20 menit juga"


Ucap Rio.


"Kayak lagi di penjara aja?"


Ucap Ku.


"Nah emangnya di penjara main pijit pijit juga ya ko..?"


Tanya si Rio.


"Penjara suci"


Ujar ku.


"Lo ada ada aja ya, Masak ada penjara suci..?"


Ucap Rio.


"Ada, Penjara suci itu sebutan lain buat pesantren hahahah, Biasanya orang orang bilangnya gitu"


Jawab ku.


"Gua mau keluar dulu, Ada yang mau di ambil"


Gumam ku.


Aku pun keluar kamar, Setelah aku keluar dari kamar aku melihat seorang warga yang tengah memanggil ku.


Aku pun menghampirinya, Ternyata bapak itu menyuruh ku kerumahnya sebentar, Karena dia mau memberikan makanan kepada Kami.


Sementara itu Rio sendirian di dalam kamar, Aku cukup lama di rumah warga, Ya kira kira sekitaran 37 menit lah.


Setelah itu baru Aku kembali ke penginapan dengan membawa nasi beserta lauknya.


"Rio, Danu, Wisnu Ayo makan"


Teriak ku ketika baru melangkah masuk ke dalam penginapan.


ketiganya pun keluar dengan wajah kusam semua, Karena tidak satupun diantara kami yang sudah mandi.


"Nah Elu dari mana Ko?"


Tanya Rio.


Aku pun meletakkan lauk dan nasi itu ke lantai, Kemudian menjawab pertanyaannya Rio.


"Ya ke rumah warga lah, ngambil nasi ama lauk".


" Ehh cepet bener Lo, Perasaan baru satu menit yang lalu kita main pijit pijitan"


Ucap Rio yang sudah duduk didepan hidangan lauk dan nasi.


Aku pun heran, "Main pijit pijitan..?, Kan Aku dari tadi di rumah warga" Gumam didalam hatiku.


"Enak tu main pijit pijitan"


Ucap Wisnu yang juga sudah duduk di depan hidangan.


"Iya Wis, Riko enak banget mijitnya, Ternyata Dia pinter mijit"


Ujar Rio.


"Ah sembarangan aja Lo kalau ngomong, Mana ada Gua mijit Elu, Dari tadi Gua ngobrol di rumah warga "


Ucap Ku.


#Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2