DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Sampai Di Perbatasan Hutan Desa Yang Hilang


__ADS_3

Dingin semakin menyelimuti badan kami semua. Semua warga dan teman teman ku sudah terlihat menggigil karena kedinginan. Danu dan Wisnu sudah memakai jaket.


“Yaa allah dingin Sekali pak”


Ucap ku kepada bapak ketua adat


Ketua adatpun menjawab sambil menggigil.


“Karna kita sebentar lagi sampai di perbatasan”.


“Iya pak, Dingin sekali rasanya”


Ucap si Wisnu sambil mendekapkan tangganya ke dada


Suara angin menerpa pohon pohon pun terdengar..


Syyyuuuuuurrr.


Kami sudah hampir sampai ke perbatasan, Pohon yang rindang dan ditambah akar akan yang menggantung kebawah menambah suasana hutan semakin misterius. Hampir cahaya matahari tidak bisa menembus daun daun pepohonan karena saking lebatnya hutan tersebut.


Kami terpaksa menyalakan senter untung penerangan jalan. Terlihat sorotan senter kami yang sedikit samar menembuh gelapnya hutan.


“Kok gelap ya pak ? Udah kayak senja saja disini padahal masih pagi”


Ujar si danu kepada salah satu masyarakat.


“Saya pun baru pertama kesini dek, Baru tau juga seseram ini perbatasanya”


Jawab bapak bapak yang berada di samping danu


“Kok bulu kuduk gua merinding ya dan..?”


Ucap si Wisnu yang berada didepan danu


“Sama Wis, Gua juga”


Jawab si Danu


Kami pun berjalan sambil bergandengan tangan. Aku pak ketua adat dan beberapa ustdz berada diposisi depan.


Sementara Danu, Wisnu para sesepuh , Bapak kepala desa dan beberapa warga tepat dibelakang ku.


“Sambil membaca sholawat ya semuanya, bacanya cukup didalam hati secara sir atau secara jelas secara jahr”


Cetus salah satu ustdz dibelakang ku


Kepalaku melihat kebelakang seraya menjawab.


“Iya ustdz, lebih baik kita ucapkan secara jahr aja ustdz secara bersama sama”


Allahumma Sholli ‘alaa sayyidina Muhammad Wa’ala ali sayyidina muhammad.


Suara lantunan sholawat yang kami baca secara bersama sama.


Gelap dan sunyinya hutan membuat suara kami terdengar jelas didalam hutan perbatasan.


Pohon besar layaknya pohon beringin ditambah akar yang bergelantungan menambah suasana semakin seram.


Suara burung hantu sudah semakin terdengar ditelinga kami. Yang menandakan perbatasan hutan dengan desa hilang semakin dekat


Wuffff Wuff Wuff Wuff Wuff

__ADS_1


Suara burung hantu


Didalam primbon jawa suara burung hantu terdapat beberapa makna salah satunya adalah berita buruk.


Suara burung hantu tersebut semakin jelas terdengar ditelinga


Wuffff Wufffff Wufff Wufff


Suara burung hantu kembali terdengar dengan sangat lantang


“Banyak burung hantu disini ya”


Ucap si danu yang sedikit ketakutan sambil menggigil kedinginan


“Disiko banyak nela burung hantu(disini memang banyak burung hantu), berdasarkan crito urang tuo dulu(berdasarkan cerita orang tua dulu), Perbatasan dunio kito dengan dunio urang tu di penuhi burong hantu (Perbatasan dunia kita dan dunia orang itu dipenuhi dengan burung hantu”


Ucap kakek tua didekat wisnu.


Beliau adalah salah satu sesepuh yang ikut mengantarkanku menuju ke perbatasan.


Memang benar, Tampak burung burung hantu berjejeran di pohon pohon beringin, dengan mata besar sambil mengeluarkan suaranya yang menyeramkan.


Wuffff Uwuufff wufff


Saking banyaknya burung hantu, suara mereka sudah seperti bersaut sautan ketika melihat kami melewati hutan mereka..


Wuufff wuufff wuuff wuffff wufffff


Aku, danu dan wisnu selalu melihat pepohonan kiri dan kanan kami. Mata kami selalu tertuju kepada burung burung hantu yang berjejeran disetiap pohon besar yang layaknya sedang menyapa kami.


“Mereka itu sedang menyapa kita atau sedang memperingatkan kita pak..? “


“Itulah yang belum diketahui”


Ucap ketua adat sambil melirik kebelakang tepat ke arah para sesepuh


“Apo maksud Sapaan burong hantu ko tok(Apa makna dari sapaan burung hantu ini kek)”


Tanya ketua adat ke para sesepuh.


Kemudian salah satu sesepuh menjawab


“Ado yang nyebut, burong burong tu mempringati kito agar idak lewat dan masok di hutan mereka ( Ada yang menjelaskan, Bahwa burung burung hantu itu memperingati kita agar tidak melewatu dan memasuki hutan mereka) “


Jalan kami sedikit gelap karna redupnya cahaya matahari yang tidak bisa menyinari jalan kami dikarenakan rindangny pohon.


Hanya bermodalkan senter di tangan kami saja untuk melihat jelas jalan kami dan puluhan burung hantu..


Sekitar beberapa menit kami melewati hutan desa yang gelap dan seram.


Akhirnya kami sampai ke perbatasan hutan desa.


Suasana perbatasan hutan desa dengan hutan desa yang hilang sangatlah gelap dan menakutkan.


Semua langkah terhnti di suatu pohon besar yang sudah berlumut tebal.


Semuanya mengelilingiku.


“Riko.. Sekarang kami sudah sampai kepada titik terakhir pengantaran kami, Semoga kamu berhasil dan kami sangat mengharapkan kedatanganmu”


Ucap ketua adat kepada ku.

__ADS_1


“Hmmmmm”


Tarikan napasku terdengar sangat jelas


“Iya pak”


Ucapku sambil menyalami tangan pak ketua adat.


“Ustdz. Mohon doakan saya agar selalu selamat dan selalu dalam lindungan allah”


Permohonan doa ku kepada pak ustdz.


Pak ustdz pun merangkul ku sambil berkata


“Iya ko, Doa kami selalu menyertaimu”


Semua orang disana pun ikut merangkulku layaknya perpisahan bersama keluarga.


Wisnu dan danu pun tampak menangis dan tidak bisa mengeluarkan kata kata.


“Rikooooooooooooo, Lo harus kembali lagi riko, Kami gak akan pulang kalau lo gak kembali”


Ucap si danu sambil menangis


“Iyaa koo, Pokoknya lo Harus selamat sampai kembali lagi dan kita berkumpul bersama lagi”


Ucap si Wisnu yang juga menangis


“Sahabat sahabat ku wisnu dan danu. Mohon doakanku ya. Dan jaga tubuh rio dengan baik baik sampai aku menyelamatkannya”


Ucapku kepada kedua temanku danu dan wisnu


Mereka berdua pun merangkulku sambil menangis tersedu sedu.


Setelah semuanya menyampaikan nasihat dan pesan kepadaku. Mereka pun kembali bersama sama memeluk ku dan kemudian pergi meninggalkan ku sendirian di dekat pohon besar di perbatasan hutan desa yang hilang.


Tampak wisnu dan danu menangis sambil meninggalkan ku, mereka sekali kali melirik ke belakang sambil berteriak.


“Semangat riko, kami tunggu kedatanganmu”


Sambil melambaikan tangan mereka dari kejauhan.


Akupun ikut melambaikan tanganku kepada mereka yang sudah hampir tak tampak lagi.


Mereka pun sudah semakin jauh dariku sampai mereka tak terlihat lagi dimata ku.


Sekarang hanya aku sendirian ditengah hutan tersebut.


Apa yang akan terjadi padaku kedepannya, apakah aku selamat atau ikut terperangkap didesa yang hilang dan menjadi tumbal desa yang hilang.


Jika ini perjalanan terakhirku , Aku berharap kelak ada orang yang menggantikan posisiku untuk membantuku keluar dari desa yang hilang.


Dan aku berharap aku adalah penyelamat dari orang orang yang tertangkap oleh mahluk desa yang hilang bukan tertangkap kembali oleh mahluk itu.


#bersambung


Apa yang akan terjadi kepada riko dan bagaimana perjalanannya memasuki hutan desa yang hilang.?


Jangan lewatkan evisode berikutnya yang akan meneror kehidupan kalian.


Jazakallah untuk teman teman yang sudah setia membaca novel Desa Yang Hilang

__ADS_1


__ADS_2