
Bara api yang masih menyala yang tersisa di dapur, Ikan yang kami panggang entah kemana perginya.
Di dapur tidak ada siapa siapa, Kucing pun gak ada. Jika di bilang dimakan kucing, Pasti ada bekasnya.
Kami semua tidak menemukan bekas ikan itu sama sekali. Kejadian aneh pun terulang kembali.
Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 20.00 Wib. Sementara kami belum makan malam, Aroma ikan yang membuat perut keroncongan kian sirna dari pandangan kami.
Sesekali aku terus mencari ikan itu, Jika memang dimakan oleh kucing.
Namun keadaan berkata lain, Tidak sedikit pun dari ikan tiga kg itu tersisa.
Kami berempat hanya meratapi nasi dengan lauk yang diberikan oleh warga di ruang tengah.
"Hhhmmmmm Ikan kuuuu, Kemana engkau pergi" Keluh si Wisnu.
"Siapa pun yang mengambil ikan Kami, Tolong kembalikan" Keluh si Rio dengan nada lirihnya.
"Tega hantu di sini ya dengan kita, Orang lagi mau makan malah dia yang makan" Gumam Si Danu sambil memandang Nasi dan Lauk yang di Berikan oleh warga.
"Masak iya hantu doyan ikan ? " Di lanjutkan oleh ku.
Seolah olah kami berempat membuat sebuah puisi malam itu dengan meratapi nasi dan lauk di tengah tengah Kami.
Aku berbicara didalam hati
"Aku mendapatkan ikan itu dengan menaburkan garam, Apakah bisa aku dapatkan dengan menaburkan garam juga ? ,Ah coba saja siapa tau benaran datang"
Didalam keheningan malam itu Aku memerintahkan Rio untuk meminta garam sedikit di tetangga.
"Lo ke tetangga sebentar, Minta sedikit garam"
Ucap ku kepada Rio yang masih duduk disamping ku.
"Emangnya garam buat apa"
Tanya balik si Rio.
"Ada aja, Ini lauk yang dikasih warga kayaknya kurang asin"
Jawab ku dengan berbohong.
Rio pun pergi ke rumah tetangga, Untuk meminta sedikit garam.
Aku ke dapur kembali untuk melihat apakah benar benar hilang, Apa di makan Kucing atau Di ambil mahluk astral.
Tidak lama setelah itu Rio datang dengan membawa sedikit garam di sebuah wadah kecil lalu memberikan itu kepada ku.
Aku pun berpura pura memasukan sedikit garam ke lauk yang di berikan warga.
"Kalau di kasih garam dikit pasti lebih enak" Ucap ku sambil memasukkan sedikit garam kedalam lauk itu untuk mengecoh teman teman ku.
Setelah itu Aku pergi ke dapur untuk menaburi garam dengan berpura pura mencuci tangan ku.
"Nah sudah"
Ucap ku yang baru selesai mengaduk lauk dengan memakai sendok kecil.
Kemudian Aku berkata " Gua ke belakang bentar, Mau cuci tangan"
"Iya iya, Sono cepat !, Gua udah lapar ni, Walaupun gak ada ikan panggang" Jawab Wisnu yang masih kecewa.
Aku pun berjalan menuju dapur, Dengan sedikit hati hati, Supaya gerak gerik ku tidak di curigai oleh teman teman ku.
Sesampai di dapur aku mulai melakukan penaburan garam sambil membaca Ayat Kursi, Dan Do'a do'a pengusir setan yang pernah Aku pelajari ketika masih mondok dulu.
"Audzubillaahiminas Syaithoonir Rojiim,
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim, Allaahu Laailaaha Illa Huwal Hayyul Qoyyum" Sambil ku menaburkan sedikit garam di sekitar dapur.
Perlahan lahan Aku bacakan Ayat Kursi beserta Do'a Do'a pengusir syaithon, Hingga akhrinya garam yang di tangan ku habis.
Dalam hati ku berkata
"Semoga aja ikan tiga kg itu balik".
Setelah itu Aku kembali ke Kamar mandi untuk mencuci tangan, Kemudian berjalan ke depan dan Terlihat ke tiga teman ku sudah kelaparan.
" Ayo ko buruan"
Teriak wisnu yang sudah memegang piring.
"Ayoo dah makan, Gua udah selesai" Jawab ku sambil melangkah ke arah Mereka.
Tanpa basa basi Wisnu pun langsung mengambil nasi dan lauk kemudian melahapnya dengan sangat brutal wkwkwk, Kayak singa makan kancil aja ya.
Aku pun duduk diantara teman temanku, Walaupun Ikan panggang tidak ada yang penting Kami bisa makan juga.
Nasi desa yang di berikan oleh warga memang sungguh enak, Karena mereka menanam padi sendiri, Baunya wangi dan Rasanya enak.
Di pertengahan kami makan tiba tiba dari arah dapur terdengar suara seperti wadah yang jatuh.
__ADS_1
Klontaaaanggggg klontanggggg
"Apaan tuh?"
Tanya Rio yang lagi menyuap nasi.
"Kucing mungkin jatohin wadah"
Jawab Wisnu yang tengah asik menyuap nasi pula.
"Coba Lo cek Wis, Itu mungkin kucing yang makan ikan Kita" Ucap ku kepada wisnu.
"Nah iya bener tu, Gua bakalan beri Lu pelajaran Kucing "
Ucap Wisnu yang sambil makan terus berdiri membawa piringnya.
"Piringnya Lo tarok dulu Wis, Masak makan sambil berdiri"
Ucap Danu.
"Ah biarin"
Jawab Wisnu yang tetap makan sambil berjalan ke dapur.
Ketika Wisnu kedapur Kami tetap melanjutkan makan malam.
Tiba tiba Wisnu yang berada di dapur berteriak "Kooooooooooo?"
Kami bertiga kaget mendengarkan teriakan Wisnu, Sehingga kami bertiga berhenti menyuap nasi.
"Ada apa Wis?" Teriak ku dengan kencang.
Wisnu pun menjawab
"Coba kalian bertiga ke dapur"
Kami bertiga pun Akhirnya kedapur, Untuk melihat apa yang sudah membuat Wisnu berteriak.
Alangkah kagetnya ketika kami bertiga sampai di dapur.
Ikan yang hilang tadi Ternyara masih di tempat di pemanggangan.
"Nahhhh kok ada ikan?, Tadi kan gak ada" Ucap Rio dengan sangat heran.
"Ehh iya ya" Balas si Danu.
Ikan yang tadi menghilang itu, Akhirnya kembali, Yang membuat kami heran, Ikan yang tadi utuh sekarang tinggal setengah, Sementara setengahnya sudah habis.
"Yang penting bisa makan ikan panggang"
Gumam Wisnu yang sambil membawa ikan panggang yang tinggal separuh itu ke arah depan.
Aku yakin, Mungkin gara gara Aku mengamburkan garam tadi makanya ikannya kembali.
Aneh juga, Hantu ternyata doyan ikan panggang juga.
Aku tidak memakan ikan panggang itu sedikitpun, Karna aku tau, Ikan itu pasti bekas dari makhluk ghoib.
Tampak ketiga temanku lahap sekali memakan ikan panggang itu, Sementara Aku hanya melihat mereka.
"Lo gak mau Ko?" Tanya si Rio.
"Gua gak suka kalau ikan udah dingin" Jawab Ku.
"Ya udah kami habisin aja" Ucap Wisnu.
"Iya habisin dah, Gua makan lauk yang di kasih ama warga aja"
Jawab ku.
Padahal Aku sangat suka ikan panggang, Apalagi ikan ikan sungai yang sangat enak.
"Kalian gak tau, Ikan yang Kalian makan itu sisa dari makhluk astral " Gumam didalam hatiku.
Mereka sangat menikmati ikan itu, Dan sekarang hanya tertinggal tulang ikan, Tidak satupun daging yang terlewatkan.
Selesai makan kamipun kembali kekamar masing masing, Aku bersama Rio, Danu bersama Wisnu.
Susana malam desa tetap sama dengan malam sebelumnya, Sunyi, Sepi dan Gelap, Itu sudah pasti.
Perut yang kenyang membuat kelopak mata sangat berat untuk di buka.
Aku dan Rio baring di atas sebuah kasur kamar yang empuk, Rio yang berada di sampingku juga terlihat sedikit mengantuk.
"Lo ngantuk gak?" Tanya Rio.
Akupun menjawab,
"Iya, Kayaknya kelopak mata gua udah berat ni"
Padahal baru jam sembilan malam, Karna susana desa yang sunyi, Makanya terlihat seperti sudah sangat malam.
__ADS_1
"Ayo dah kita tidur" Ucap ku
"Gua matiin lampunya ya?".
"matiin dah" Jawab ku.
Rio pun berdiri kemudian mematikan lampu.
Mataku sangat sulit untuk di buka, Perlahan lahan kesadaran ku hilang, Dan kembali didalam tidur yang nyenyak.
Rio disebelah ku juga tampak tertidur pulas.
Jam pun terus berjalan tanpa henti, Sementara Aku dan teman teman ku sudah tertidur pulas.
Ditengah nyenyak nya tidur Aku mendengar suara Rio yang membangunkan ku.
"Riko Riko"
Walaupun sulit untuk membuka mata tapi tetap ku usahakan bangun.
"Ada apa ? " Tanya ku kepada Rio.
Aku pun melihat jam tanganku, Ternyata sudah jam dua malam.
"Gua denger orang nangis Ko" Ucap Rio yang kelihatanya sedang ketakutan.
"Lo gak mimpi kan? " Tanya ku sambil berusaha bangun dari baring ku.
"Iyaa ko, Kayaknya suara itu berasal dari kamar misterius itu" Jawab Rio dengan pelan, Dengan posisi duduk sambil memeluk guling.
"Ayo kita cek" Ujar Ku sambil turun dari kasur kemudian berdiri di dekat Rio.
"Ah Gua takut Ko" Jawab Rio yang tidak mau berdiri.
"Gua sendiri yang kesono, Lo tinggal sendirian di sini" Jawab ku.
"Ogah ah, Tambah Gua takut sendirian" Akhirnya Rio pun berdiri.
Kami melangkah mendekati pintu kemudian membuka pintu secara pelan pelan.
Krrrrrrreeeeeeeeeeeeeeekkkkkkkkk
Suara pintu terbuka.
Kami melangkah perlahan lahan menuju kamar misterius itu, Dari kejauhan memang seperti ada suara seseorang yang lagi menangis didalam kamar itu.
Sedikit demi sedikit kami melangkah.
Semakin dekat kami dengan kamar itu maka semakin jelas suara tangisan itu.
Rio yang berada di belakang ku, Memegang erat baju ku, Sehingga sedikit sulit untuk berjalan ke depan.
Suara itu semakin jelas.
Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiii
Seperti suara tangisan seorang perempuan.
Aku dan Rio sudah semakin dekat dengan kamar itu.
Kaki kami tempak bergetar ketakutan.
"Kooooo, Guaa merinding ni" Ucap Rio sambil menarik bajuku.
"Gua juga" Jawab Ku, Sambil melangkah ketakutan.
Tak tak tak
Suara pelan kaki kami yang menginjak lantai papan itu.
Didalam ketakutan kami tiba tiba dari belakang
"Daaaaarrrrrrrrrrrrrrrrr"
Suara gertakan seseorang
"Astagfirullaahal 'adzim"
Teriak ku sambil meloncat.
"Buaya tengikkkkkk, Lo ngapain ngagetin kami" Ucap Rio yang juga kaget.
Ternyata sosok Danu dari arah belakang kami.
"Nah kalian itu, Kayak orang maling aja, Kalian ngapain sih"
Tanya Danu.
"Lo denger gak suara orang nangis" Tanya ku.
#Bersambung#
__ADS_1
Mau tau apa yang akan terjadi selanjutnya?? , Yuk dukung terus author, Biar tambah semangat untuk berkarya.