
Aku tidak sadar bahwa matahari telah datang, Karena Aku tertidur, Bukan aku saja, spertinya semua Orang pada waktu itu tertidur, Ketika Aku terbangun ternyata matahari kembali Tersenyum menghiasi pagi di waktu itu.
Pintu rumah telah di buka oleh bapak ketua adat terlebih dahulu, sehingga suasana sepi di luar rumah sangar terlihat jelas.
Seperti biasanya di waktu pagi tidak ada kegiatan sedikitpun di karena insiden demi insiden menyeramkan menghampiri warga.
Aku berjalan menuju pintu masuk rumah, Aku duduk di tengah tengah pintu itu, Kakiku di luar rumah menginjak anak tangga di depan pintu tersebut.
Sambil memandangi suasana Desa yang sepi, didalam hati ku berkata.
"Hari ini adalah hari pertamaku berangkat, Apakah aku bisa bertemu dengan keluarga ku..? Ataukah namaku hanya tinggal sebuah kenangan saja".
Dari arah belakang bapak Kepala Desa memanggil ku.
" Riko...? ".
Aku pun menoleh ke arah belakang kemudian menjawab " Sayo pak".
"Siko dulu, Kito duduk duduk di siko bentar (Sini Dulu, Kita duduk duduk sebentar) ".
Jawab bapak Kepala Desa.
Aku pun berjalan menuju bapak Kepala Desa, Kemudian duduk tepat di samping kanannya.
" Nyantai nyantai dulu kito pagi ko (Santai santai dulu kita pagi ini)".
Kemudian Bapak kepala Desa menyuruh istrinya untuk membuatkan teh.
"Buk, Buat i Aek teh, biak kami minum minum di siko ko (Buk, Buatkan Air teh, Biar kami minum air teh disini ni) ".
"Iyo yah"
Jawab Istri Kepala Desa.
Dalam hati ku berkata.
"Minum aek teh terakhir kalinyo ni ( Minum Air teh terakhir kalinya ni) ".
Aku tidak melihat Danu dan Wisnu ketika itu, Kemudian Aku bertanya kepada bapak Kepala Desa.
" Wisnu dengan Danu kemano ya pak..? ".
" Aii palengan Masih tidok urang urang tu (Aii palingan masih tidur orang orang itu) ". Jawab Bapak kepala Desa.
" Dak mau nian Dio duduk duduk disiko, Kanti e nak berangkat ngejar ajal ( Gak mau mereka duduk duduk disini, Temanya sudah mau berangkat mengejar ajal) ".
" Dio lagi ngantok mungkin (Dia masih ngantuk mungkin) "
Ucap Bapak Kepala Desa.
"Iyo Pak, Biaklah mungkin gara gara tadi malam idak tidok ( Iya pak, Biarlah mungkin gara gara tadi malam tidak tidur) "
Ucap Ku.
Aku pun di suruh duduk diam sambil mendengar kan arahan arahan petua di sana.
Bapak Ketua Adatpun duduk sambil menyerut teh.
Sruutttttttttt
Suara serutan teh.
Bapak Ketua Adat pun memulai arahannya.
"Hari ko (Hari ini), Riko bakalan masok ketempat yang sangat berbahayo (Riko bakalan masuk ketempat yang sangat berbahaya), Mako dari itu kito semuo mendoakan Anak Kito Riski Riko ( Maka Dari itu kita semua mendoakan anak kita Riski Riko).
Aku hanya menundukkan kepala seraya mendengarkan arahan dari bapak ketua Adat.
Ada salah satu warga berkata
"Yaken dio ko biso balek pak..? (Yakin Dia ini bisa balek pak..?), Selamo ko dak ado orang yang biso balek kalau masok ke Desa tu (Selama ini tidak ada orang yang bisa kembali dari desa itu), Menurut sayo, Lebih baik kito batalkan misi ko, Kareno dikit nian Kesempatan untok balek lagi (Karena sedikit sekali kesempatan untuk pulang kembali)".
" Bukannyo macam tu bang, Kanti Dio ni taperangkap di desa itu, Dio ni nak nulong kanti dio tu jugo (Dia ini mau menolong teman dia itu juga) ".
Ucap salah satu warga.
__ADS_1
Ucapan bapak itu membuat rasa takut ku bertambah, Aku benar benar belum siap untuk mati, Karena Aku masih belum punya Amal yang banyak, dan juga Aku belum menyempurnakan sunnah nabi, yaitu menikah hehehe.
Kan ibadah yang paling lama dan yang paling enak adalah Nikah, berarti Rugi kalau gak nikah, Sudah ibadah, Ikutin sunnah rosul, Berpahala lagi, enak lagi wkwkw, Kata Senior senior sih gitu tapi gak tau juga hehe.
So yang lagi baca kalau belum nikah segera menikah ya, Si author jangan di tanya kapan nikah ya Hahaha, Pasti banyak yang belum nikah, Makanya komen di novel author siapa tau Allah mempertemukan jodoh melalui novel Desa yang Hilang, kan nanti kalau lahir anaknya bisa di namai Riko, Rio, Danu Dan Wisnu. Lanjut ke cerita, Nanti malah di amuk pembaca.
Bapak Ketua Adat pun ikut berbicara.
"Ini Sudah jalan taqdirnya Riko, Insyaallah Riko akan selamat hingga kembali kedesa kita ini".
" Aaaamiiinnnnnn"
Ucap Semua orang yang lagi duduk di rumah bapak Kepala Desa.
Aku pun bertanya.
"Berapa lama biasanya baru sampai ke Desa yang hilang pak..? ".
" Ini masih belum kita ketahui, Kemungkinan besar Satu Minggu, Soalny jalan yang kamu tempuh bukanlah jalan seperti biasanya. Itu pun kalau kamu bisa menemukam Rio, Jika tidak kemungkinan lebih lama lagi".
Ucap Ketua Adat.
"Selain api apa lagi yang mereka takuti pak..? "
Tanya ku kembali.
"Kayaknya bunyi suara Letusan, Soalnya mereka mengira itu adalah Belanda".
Ucap Ketua adat.
Dalam hati ku berkata
"Apa yang harus ku bawa..? Masak aku bawak pistol..? Dimana juga aku mendapatinya".
Setelah Kami selesai mengobrol, Aku pun di suruh bersiap siap untuk berangkat, Rasanya kayak di usir dari desa aja, Sementara itu Wajah Danu dan Wisnu masih belum muncul.
Aku pun mempersiapkan diri Untuk berangkat menuju Desa menakutkan itu, Aku memasukkan sebagian baju dan celanaku ke dalam tas ransel, Layaknya Aku mau mendaki gunung, Makanan makan ringan telah aku masukan, Termasuk Pop mie dan yang lainya.
Semua warga telah berkumpul Didepan rumah Bapak Kepala Desa untuk memberikan Doa dan mengantar ku ketempat perbatasan Antara Dunia manusia dan Dunia mahluk Itu.
Aku mengambil tas ransel ku kemudian menyandangnya, Lalu berjalan menuju pintu keluar rumah.
Aku terus berjalan menuju pintu keluar, Sesampai di tengah tengah pintu, Ternyata Puluhan warga telah menunggu ku.
Aku menghela napas panjang.
Haaaaaaaaaaa
suara helaan napas ku.
Aku antara yakin dan tidak untuk menuju desa tersebut, Sendirian, Gak ada teman, Menghadapi bahaya yang sangat besar.
"Ayo silahkan ucap kan kata kata terakhir"
Ucap Bapak bapak yang duduk di depan Rumah bapak Kepala Desa.
"Whaaatttt..? Kata kata terakhir..? Emangya Aku mau meninggal"
Ucap Didalam hati ku.
Salah satu teman yang di sampingnya langsung berkata.
"Husss jangan Ngomong gitu, Kalau dia gak mau nanti malah kita yang jadi tumbal Selanjutnya".
Aku melirik mereka dengan tatapan dingin kemudian berkata.
" Nanti aku salamin sama cewek Desa yang Hilang bang.. , Abang ada Wa gak..? Biar Aku kasih tau nantinya".
"Untuk Kamu aja, Bapak ikhlas".
Ucap Bapak itu.
" Nanti bapak nyesal..? "
Ucap Ku.
__ADS_1
Bapak itu bertambah ngeselin aja, Udah tau orang mau berangkat malah di takut takutin.
Aku pun turun kebawah rumah melewati anak tangga, Rasanya berat sekali mau melangkah turun.
Ketik Aku sudah sampai di bawah, Semua warga berdiri dan layaknya apel pagi di kantor kantor, Tapi ini versi Petani.
Bapak Ketua adat pun berkata.
"Selamat pagi semuanya, Hari ini Riko akan melaksanakan tugasnya".
Ketika mendengar kata kata tugas di dalam hatiku berkata
" Kayak mau tugas TNI aja"
Sambil sedikit kesal.
"Oleh karena itu, Mari Kita semua membaca surah alfatiha "
Ucap Ketua Adat.
Dalam hati ku berkata
"Nah kalau ini benar benar kayak mau mati ni".
Semua warga pun membacakan surah alfatiha, Ada yang membaca dengan Khusuk, Ada juga yang membaca sambil bercanda, Ada juga yang membaca sambil melihat gadis gadis cantik desa.
Setelah itu, Semua warga di suruh bersalaman dengan ku oleh Bapak Ketua Adat.
" Ayo semua warga silahkan bersalaman ke Riko".
Semua Warga pun Bersalaman dengan Ku, Ada bersalaman sambil senyum, Ada juga yang bersalaman sambil cemberut, Ada lagi yang bersalaman sambil menekan tangannya dengan sangat kuat sehingga Tanganku terasa sakit.
"Eehhh pak..? Ini mau salaman atau mau cari masalah ".
Ucap Ku.
" Biar kuat pas Di Desa mahluk itu gek"
Ucap Abang abang yang Menekan tanganya Itu.
"Kuat yo kuat bang, Tapi tangan sayo sakit tu"
Ucap Ku sambil menampar tanganya.
Plaaaakkkkk
Suara tamparan tangan ku kepada tangan abang itu.
Ada juga si cewek cewek cantik yang salaman sama Aku, Cuma karena Bukan Mahrom maka tidak Aku sentuhkan, Cukup Aku Pakai salam isyarat aja, Dengan cara menempelkan kedua telapak tangan Ku dan berkata.
"Maaf ya kk, Kita bukan mahrom, Kalau mau sentuhan kulit nunggu Aku halalin kk ya,Baru bisa Menyatu layaknya Air dan gula, yang bisa larut jika sudah waktunya heheh".
" Hehehe Iyo bang".
Ucap Cewek Itu sambil tersipu malu.
Melihat cewek itu tersipu malu didalam hati ku berkata.
"Ternyata ada juga manfaat belajar gombal dari Raja Gombal alias Rio".
Ada juga ibu ibu yang bersalaman sambil membisikkan.
" Anak ibu ado yang masih gadis, Kayaknya cocok samo Riko".
"Kayak Indonesa mencari Jodoh aja"
Gumam didalam hati ku.
Tapi kalau cantik dan soleh gak apa apa juga Wkwkwkw. E e eeeee, Cantik yang dimaksud adalah cantik akhlaqnya ya Wkwkwk.
Setelah semuanya salaman, Aku pun disuruh memberikan Kata kata terakhir oleh Ketua Adat.
"Silahkan Riko memberikan Kata kata terakhir".
Aku langsung kaget mendengar kata kata terakhir, didalam hati ku berkata
__ADS_1
" Ini benaran Mau Tamat riwayatku".
#Bersambung# maaf maaf beribu maaf