
Kami pun pulang ketika waktu sore hari, Jam di tanganku sudah menunjukkan jam 3 sore.
Pak Arif berada dipaling depan, Setelah itu Rio, Wisnu, Danu Dan Aku.
Ketika diperjalanan, Sa'at Kami menaiki
Bukit, Rio bernyanyi.
"Naik naik ke bukitt sini.
tinggi tinggi sekaliiiii,
Kiriiiii kanan ,kulihaaattt saja.
banyakk kenangannn mantaaannnn, Kiriiii kanaaan Kulihaattt saja,
banyak kenangaaaannn maantan."
Ucap Rio yang lagi berjalan sambil bernyanyi ketika pulang.
"Tariiiikkkkk siiiiissss"
Ucap Danu.
"Semongkoooo"
Jawab Rio.
" Kayak yang lagi viral gitu ya?"
Tanya Wisnu.
"Mana Gue Tempe"
Jawab Rio.
"Lanjut Rio, Nyayi yang lain lagi coba, Biar capeknya gak kerasa"
Ucap Ku.
"Ok ok, Gua bakalan nyanyi sebuah lagu yang berjudul Bidadari surga, ciptaan Uje"
Ujar Rio.
"Lah sejak kapan Lo hafal musik musik Religi?"
Tanya Ku.
"Nah itulah kalian, Jangan menilai sesorang dari luarnya, Durian yang luarnya mengerikan, Siapa sangka didalamnya menjadi primadona.
Siapa sangka kain kafan yang putih dan suci itu ditakutkan oleh manusia, Dan siapa sangka Kain hitam penutup ka'bah itu menjadi incaran ciuman para manusia"
Gumam Rio.
"Kayaknya udah jadi motivator benaran ni Rio"
Ucap Wisnu.
"Kalian tidak tau siapa yang mengajarkan bapak Mario Teguh..?"
Ucap Rio dengan gaya sombong.
"Nah.?? Emangnya Rio yang ngajarin Bapak Mario Teguh?"
Tanya pak Arif yang sambil berjalan di posisi paling depan.
"Yaa Gurunya lah pak, Masak Saya yang ngajarin pak Mario Hahaha"
Ujar Rio.
"Ahhh Kirain tadi Elu yang ngajarin"
Ucap Wisnu.
"Rio Rio, Kamu bagusnya jadi bedug aja"
Ucap Pak Arif.
"Nah Kok jadi Bedug sih pak?"
Tanya Rio.
" Biar tau rasanya di pukul pada waktunya"
Jawab pak Arif.
"Anjimmm"
Gumam Rio dengan nada sangat pelan.
Ternyata bapak Arif dengar.
"Nah anjiim itu apa io?"
Tanya Pak Arif.
__ADS_1
"Aa..Aanuu pak, Anjimm Itu salah satu makanan khas bandung"
Ucap Rio yang sedang berbohong.
"Ohhh Makanan khas Bandung rupanya, Boleh lah sekali kali bapak di bawaain Anjiim "
Ucap Pak Arif.
"Hahah Udah pak, Nanti saya bawain makanan khas Bali aja, Jangan dengerin Rio itu pak"
Ucap Wisnu.
"Ahh Lo, Ada ada aja"
Ucap Wisnu kepada Rio sambil mendorong punggung Rio dari arah belakang.
"Keceplosan Wis"
Bisik Rio pelan kepada Wisnu yang ada dibelakangnya.
Kami pun masih terus melanjutkan perjalanan pulang, Candaan Rio terkadang terlontarkan olehnya yang membuat kami tertawa terbahak bahak.
Hutan demi hutan telah terlewati, Dari tempatnya Rio di gigit kelabang hingga sampai di dekat pohon raksasa yang sudah menandakan kami kami telah mendekati perumahan warga.
"Alhamdulillah udah hampir sampai perkampungan warga"
Ucap Ku sambil melihat kearah kanan ku yang terdapat Pohon raksasa.
"Iya bentar lagi kita bakalan sampai"
Ujar pak Arif.
"Lumayan juga perjalanan kita ya..? Udah hampir maghrib baru sampai ke pemukiman warga"
Kata si Wisnu.
"Ya iyalah lama, Kayak kenangan mantan, Lama membekas namun sakit tuk di ingat"
Ucap Rio.
"Ahh Elu dari tadi ngomongin mantan mulu"
Ucap Danu.
"Haha Biar gak garing aja perjalanan kita"
Jawab Si Rio.
"Oh ya, Untuk Rio harus lebih berhati hati lagi, Biasanya tiga hari orang bakalan di ikutin sama mahluk yang pernah memanggil kamu ketika di hutan dulu"
"Duhh pak, Jangan nakutin gitulah pak, kan Saya jadi takut ni"
Jawab Rio.
"Bapak enggak nakutin kamu, Cuma bapak mengingatkan saja."
Gumam Pak Arif.
Rio pun menoleh ke arah kiri, kanan dan belakang setelah mendengar ucapan Pak Arif tadi.
"Lo liatin apa..?"
Tanya Ku kepada Rio.
"Gua mau memastikan aja bahwasanya Gua lagi tidak diikutin ama tu mahluk"
Jawab Rio yang masih melihat ke kiri dan kenanannya.
Matahari yang telah terbenam membuat penglihatan kami melemah.
"Udah gelap ni, Ambil senter didalam ransel masing masing"
Ucap Ku.
Kami pun berhenti dan mengambil senter yang berada didalam ransel. Sebenarnya hanya tinggal 20 meter lagi untuk keluar dari hutan ini, Namun karena sudah gelap dan takut terjadi apa apa, Makanya aku menyarankan untuk memakai senter.
"Naaahhh senter Gua kemana?"
Tanya Si Rio.
"Coba cari lagi didalam ransel Lu"
Ucap Wisnu.
"Benaran Kagak ada ni, Udah Gua obok obok ni isi ransel tapi kagak nemu juga"
Ucap Rio yang masih mencari senternya.
"Udah gak apa apa, Kan posisi Elu ada di tengah tengah, Cukup bapak Arif aja yang pegang senter"
Ucap Ku kepada Rio.
"Ahhh Gak Afdhol kalau Gua gak pegang senter"
Jawab si Rio yang masih membongkar isi ranselnya.
__ADS_1
Kami pun duduk sejenak sambil menunggu Rio mencari senternya.
"Udah Nemu belum?"
Tanya si Danu.
"Sabar, Orang sabar di sayang tuhan"
Ucap Rio.
Sementara itu hari sudah semakin gelap, Sinar matahari sudah benar benar tidak ada lagi, Cahaya penerangan hanya ada pada cahaya senter kami.
"Cepatan Rio, Ini sudah malam ni nanti bahaya kalau malam malam masih didalam hutan"
Gumam si Wisnu.
"Iya sabar sabar, Bentar lagi ketemu ni"
Ucap Rio.
"Ehh bentar bentar, Emangnya Elu punya senter"
Tanya Ku kepada Rio.
Rio pun berhenti sejenak mencari senter dan berpikir sejenak, Kemudian Dia berkata.
"Oh iya ya, Kan Gua gak punya senter heheheh"
Ucap Rio cengengesan.
"Ya allah Rioooooooo, Berarti dari tadi kamu mencari sesuatu yang gak ada?"
Tanya pak Arif.
"Hehehe Lupa pak, Maaf maaf pak, Saya lupa pak"
Jawab Rio yang masih ketawa ketawa sendiri.
"Rioo Riooo, Elu ya..!, Mana ketemu senter yang kagak ada, Lo cari sampai Tua juga gak bakalan ketemu"
Ucap Wisnu.
"Namanya juga lupa"
Ucap Rio.
Rio pun kembali memasukkan barang barangnya yang telah ia keluarkan.
Kami hanya bisa mengelengkan kepala melihat Rio.
Aku pun berkata didalam hati.
"Rioo Rio, Ada ada aja kelakuan Elu".
" Bentar ya...!, Bentar lagi selesai"
Gumam Rio yang masih memasukan barang barangnya.
Tidak lama kemudian.
"Dahhhh selesai, Ayo lanjut"
Ucap Rio yang sudah berdiri sambil meletakkan ransel di punggungnya.
Kami pun berdiri semua, Dan akan melanjutkan perjalan dimalam hari.
Seperti Biasanya, Aku berada di posisi paling belakang, Dan bapak Arif berada di posisi paling depan.
Kami semua memegang senter masing masing kecuali Rio. Karena senternya ketinggalan di jakarta.
"Rioo..?"
Tanya pak Arif sebelum melanjut perjalanan pulang kami.
"Iya pak"
Jawab Rio.
"Masih mau mencari senternya atau kita lanjutkan perjalanan?"
Tanya pak Arif .
"Heheheh Lanjut aja pak, Mencari senternya kapan kapan aja"
Ucap Rio.
"Hahah Kok ada mahasiswa Tehnik Geologi kayak Lo ya"
Ucap Wisnu.
"Hahahah Ayo dah kita lanjutkan, Ini udah malam juga, Gak bagus malam malam didalam hutan"
Ucap Rio yang meniru perkataan bapak Arif.
Kamipun melanjutkan perjalanan kembali yang hanya sekitar 20 meter lagi.
__ADS_1
#Bersambung#