
Hanya aku sendirian, Ditengah tengah hutan yang misterius ini, Aku masih belum mempunyai nyali yang besar untuk melangkah maju, Kaki ku terasa ada yang menggantung dan terasa kaku untuk berjalan, mungkin karena aku masih ketakutan karena sendirian ditengah hutan.
Aku menghela napas panjang
Huuuuuuuuuuuuuuuu
"Bisa kah aku melangkah maju atau aku menyerah dan kembali pulang ke desa...? Namun bagaimana nasib Rio jika aku tidak masuk ke desa yang hilang tersebut?"
Gumamku didalam hati.
Jujur saja aku masih belum mempunyai keberanian yang penuh untuk melanjutkan perjalanan ditambah lagi suasana yang seram dan suara burung hantu yang masih terdengar digendang telinga ku yang membuat suasana semakin menyeramkan.
Bagaimana tidak, aku menyerahkan nyawa ku dengan cara masuk ke desa yang hilang tersebut, tak ada satupun manusia yang mau mati seperti ini kecuali diriku.
Aku hanya bisa duduk jongkok sambil memandang pohon besar yang ada didekat ku, Aku membayangkan layaknya seperti film film hantu di televisi yang biasanya setiap pohon besar ada penunggunya seperti kuntilanak dan genderuwo.
Rasa takutku semakin mendalam.
"Ya allah lindungilah hamba dari syaitan yang terkutuk"
Ucap ku dengan nyaring.
Rasanya aku tidak mau bangun dari duduk, Tas ransel ku, Ku letakkan di samping ku.
Tidak ada rasa lapar sedikit pun yang kurasakan.
Kriiiik Kriiiiiikk Kriiikkk
Suara jangkrik terdengar dimana mana
Ku lihat jam tangan ku yang menandakan
Sudah masuk waktu zuhur.
"Dimanakah ada air di sini, Bagaimana cara saya untuk berwudhu"
Gumam ku didalam hati.
Ku lihat kiri dan kanan hanya ada hutan semak belukar.
"Bismillah, Semoga ada sumber air terdekat sini"
Ucapku sambil Berdiri.
Akupun masuk kedalam semak semak belukar sambil membawa senter untuk menemukan sumber air untuk berwudhu, Sementara ransel ku, Ku tinggalkan di bawah pohon ditempat aku duduk sebelumnya.
Sruuuuk Sruuuuukkk Sruuuuukkk
Suara tubuhku terkena semak belukar
Ku patahkan ranting kecil disampingku untuk menjadikan petunjuk jalan ketika pulang nanti.
Takk Takk Takkk
Suara pohon kecil yang ku patahkan.
Untuk ku jadikan tongkat
Tidak ada jalan sama sekali jadi aku hanya bisa membuat jalan sendiri didalam semak belukar ini, setiap ada pohon besar akan selalu ku tandai dengan cara ku letakkan ranting kecil di Atas cabang pohonnya.
Sudah beberapa pohon yang kulewati namun tak ada satupun tanda tanda adanya sumber air, Karena jika ada sumber air sudah dipastikan tanah disekitarannya akan lembur dan berbasah dan biasanya ada sedikit jejak binatang yang ada dihutan di sekitaran sumber air tersebut.
Sudah dua puluh menit aku menelusuri hutan namun tak ada tanda tanda air sedikitpun.
"Apakah aku harus tayamum.?"
__ADS_1
Gumam ku.
Pleeeeekkkkkkk
Suara kakiku menginjak lumpur.
"Apa ini?"
Sambil kuangkat kaki kanan ku yang terkena lumpur.
"Alhamdulillah, Sepertinya didekat sini ada sumber air"
Aku pun menelusuri asal sumber airnya sedikit masuk kedalam semak semak namun aku yakin pasti ada sumber air untuk berwudhu.
Tak lama dari lumpur tersebut aku akhirnya bertemu air mata air yang jernih, Walaupun tidak banyak namun bisa digunakan untuk wudhu.
Senter dan tongkat kayu yang ku pegang, Ku letakkan diatas tanah.
Setelah itu aku pun mengambil air wudhu di mata air tersebut.
"Segar sekali airnya, jernih layaknya air aqua"
Ucapku
Aku pun meneguk air tersebut sebelum berwudhu.
Gllluuuuukk Gluuuuk Gluuuuk
Suara tegukan air yang ku minum.
"Alhamdulillah, Maha suci allah yang menciptakan air yang segar ini"
Setelah mengambil wudhu akupun kembali menuju pohon besar tersebut dengan cara melihat petunjuk petunjuk ranting pohon yang sudah ku buat.
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa'ala ali sayyidina muhammad"
Aku ingat akan satu hadis rosul
"Barang siapa yang bersholawat kepadaku satu kali maka allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali"
Masyaallah.
Aku melangkah didalam hutan tersebut dengan sangat hati hati, selangkah demi selangkah namun pasti, sekali kali aku hempaskan tongkat ku ke arah semak yang berada didepan ku, karna khawatirnya ada ular ataupun binatang buas lainya.
Setelah beberapa menit aku pun sampai pada pohon besar dimana tempat awal aku diantarkan tadi.
"Alhamdulillah akhirnya Sampai juga"
Untuk menghilangkan rasa takut ku akupun mendekat kan diri kepada allah dengam cara melaksanakan sholat.
Ku ambil sajadah kecil didalam tas ranselku yang ku letakkan dibawah pohon besar tadi, kemudian aku melihat kearah atas untuk mengetahui matahari dan mengetahui arah kiblat.
Walaupun tertutup daun daun namun, ada sedikit cela untuk melihat matahari.
Setelah aku mengetahui arah kiblat akupun membentangkan sajadah dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat zuhur.
"Ushollii fardhoz zuhri arba'a roka'atin adaan Lillahi ta'ala.. Allahuaakbar".
Aku pun memulai sholat ditengah hutam yang gelap, senter didepan ku selalu aku hidupkan.
Jiwaku sedikit tenang ketika melaksanakan sholat, baru saja aku memulai sholat.
Dari belakangku tiba tiba seperti suara orang orang berjalan.
Tak Tak Tak
__ADS_1
Suara orang berjalan
Aku tetap berusaha tidak menghiraukannya, Namun suara tersebut terasa tambah dekat
Tak tak tak
Suara langkah orang yang semakin mendekat
Bulu kuduk ku sudah berdiri namun aku berusaha tetap didalam sholat.
Bacaan surah annas sengaja ku keraskan.
“Qul ‘au dzu birobbinnas, Maalikin naas, ilaahinn nass”
Namun suara langkah tersebut semakin jelas terdengar
Takk Taakk Taakk
Tiba dari arah belakang ku ada yang menepuk pundak ku
Plaakk
Suara tepukan
Aku pun secara sepontan memejam kan mata ku sambil melanjutkan surrah annas dengan sangat kuat.
“Min syarril was wasil khonnas, Al ladzi yuwas wisufi sudurin naas Minall Jinnaa ti wannaass”
Dari setelah tepukan tangan dipunddak ku , aku terus melanjutkan sholat ku dengan mata terpejam..
Aku tak tau makhluk apa yang sudah mengganggu sholat ku. Mataku tidak berani ku buka, Aku sudah hampir tidak kuat menahan rasa takut itu ketika sholat, Badan ku mulai menggigil layaknya orang sedang kedinginan, aku pun tak tau mengapa rasanya badan ku semakin dingin. Keringat dingin menetes dari kening ku.
Tibalah di tokaat terakhir yaitu roka’at ke empat. Setelah membaca tahiyat akhir, Aku pun salam dengan mata masih terpejam dan dalam keadaan ketakutan,
“Assalamu ‘alaikum”
Sambil menoleh ke kanan
“Assalamu ‘alaikum”
Sambil menoleh ke kiri
Setelah aku selalu salam akupun mengusapkan kedua telapak tangan ku ke wajah ku
Mata ku masih terpejam , telapak tangan ku masih berada di wajah ku
Aku pun secara sepontan berteriak
“Allahu akbar”
Suara teriakan yang sangat kuat
“Allahu akbar”
Teriak ku sekali lagi dengan sangat kuat
Tiba tiba dari belakang ada yang berteriak juga
“Allahu’akbar”
Teriakan tersebut yang kuat layaknya suaraku.
#bersambung#
Jangan lupa like ya teman teman. Dankomen jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan
__ADS_1