DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Ceritanya selesai


__ADS_3

Sesampai di gubuk, Ibu Dewi pun cerita semuanya tentang apa yang sudah terjadi denganya.


"Ibu jadi Gini Karna Milan?"


Tanya Si milan kepada Ibunya.


"Udaahh, Yang pentingkan Milan Bisa sembuh dan bisa main lagi"


Ucap Bu Dewi sambil mengelus punggungnya si Milan.


Kelinci Hasil buruanya si Ninjau masih tergelatak di dapur, Ibu Dewi yang melihat Kelinci itu langsung bertanya.


"Itu kelinci siapa?".


" Aku tadi siang berburu di hutan Bu Takut Milan pengen makan kelinci, Tapi cuma dapat satu"


Jawab Milan.


"Ya udah,Ibu masakin buat kalian ya. Mau bepara kelinci? Biar Ibu tambah?"


Tanya Ibu Dewi.


"Emang Ibu Bisa ?"


Tanya si Milan.


"Bisa, Milan mau nambah berapa?"


Tanya kembali oleh bu Dewi.


"Hmmm, tambah satu aja heheh "


Jawab Milan sambil tertawa kecil.


"Malahan langsung ibu datangkan Kelinci yang sudah di panggang"


Ucap Bu Dewi.


"Asyiikkk makan kelinci"


Ucap Si bungsu alias si Milan.


Dengan kekuatan Bu Dewi, Bu Dewi hanya butuh hitungan detik saja, Ibu Dewi langsung memunculkan tiga panggang Kelinci lezat di hadapan anak anaknya.


Ketiga anaknya hanya bisa diam dan terpukau melihat kekuatan Ibunya.


Si bungsu langsung berkata.


"Waahh Ibu Hebat".


" Aku mau juga seperti Ibu, Punya kekuatan ajaib"


Ucap Si Ninjau.


Setelah itu, Mereka pun makan Malam dengan menu makanan Tiga buah kelinci panggang.


"Enak ya bu "


Ucap Milan yang sedang melahap Kelinci panggang.


"Makannya di habiskan ya nak, Biar cepat besar".


Gumam Bu Dewi yang juga sedang makan bersama anak anaknya.


Ninjau yang melihat si Milan sedang cegukan langsung ke dapur, Mengambil sekendi kecil air danau yang sudah di masak oleh si Teluk.


" Ini dek, Minum dulu"


Ucap Ninjau.


Milan pun meminum air danau tersebut,


Dan meletakkannya di samping Ibunya.

__ADS_1


Ternyata Ibu Dewi ini tidak mengetahui bahwasanya air yang ada di sampingnya itu adalah air Danau tempat kerajaanya.


Dia pun meminum air tersebut sebanyak Tiga kali tegukan.


Tiba tiba dada ibu Dewi terasa sesak, Layaknya orang yang tidak bisa menghirup Oksigen.


Anak anaknya yang melihat Ibu Dewi seperti manusia tanpa oksigen langsung kebingungan.


"Ibuuu Kenapa?"


Tanya si Bungsu sambil memegang tubuh ibunya.


Namun Ibu Dewi tetap saja masih kejang kejang menahan kesakitan.


"Ibu Kenapa?"


Tanya si Ninjau yang sudah kerangkul tubuh ibunya.


Tidak lama kemudian Ibu Dewi menghilang dari penglihatan Si Milan, Teluk Dan Ninjau.


"Ibuuu kemana bang?"


Tanya si Milan sambil menangis.


Semua abng abangnya juga ikut menangis ketika itu.


Mereka berlari ke arah danau, Jika Ibu mereka masih ada dipinggir danau, Namun ketika mereka sampai kesana mereka tidak menumukan apa apa.


Suatu malam Si Ninjau bermimpi bertemu dengan Ibunya, Ibunya menyuruh Ninjau, Dan kedua adiknya untuk datang ke pinggir danau ketika malam esoknya.


Akhirnya malam ke esokannya si Ninjau pun mengajak adik adiknya untuk berangkat menuju Danau tersebut, Sesampai di Danau mereka tidak menemukan apa apa, Namun tiba tiba ada suara seorang perempuan yang mengaku menjadi ratu dan berkata.


"Jika kalian ingin melihat ibu kalian lagi, Maka kalian harus mengumpulkan batu hitam di pinggir danau sebanyak 99.000 batu, Jika sudah tercapai maka kalian akan berjumpa dengan ibu kalian".


Setelah mereka mendengarkan perintah itu, Setiap hari yang mereka lakukan adalah mengumpulkan Batu batu hitam di pinggir danau.


Butuh waktu yang sangat lama barulah tercapai menjadi 99.000 batu hitam.


Ketika batu sudah mencapai 98.999 Batu, dan Si Milan mau meletakkan batu terakhir.


Tiba Air danau menjadi bergelombang, Layaknya lautan yang sedang mengempaskan ombaknya ke pinggir pantai.


Angin pun tiba tiba datang dengan sangat dahsyat, hingga merobohkan berbagai pohon yang berada didekat danau.


Milan yang mau meletakkan Batu terakhirpun ketakutan melihat Angin yang sangat kuat, Dan gelombang air danau yang begitu luar biasa.


"Ayo milan, Tinggal satu lagi, Jangan takut,"


Ucap Ninjau yang memengang tangan Milan yang ketakutan.


Milan hanya bisa ketakutan sambil memegang tangan si Teluk.


"Ayoo cepat Milan, Tinggal satu lagi"


Ucap teluk yang juga ketakutan.


Angin bertambah kencang, pohon pohon semakin banyak yang roboh, Air Danau semakin mengganas, Sampai sampai mengempaskan airnya hingga mendekati batu yang dikumpulkan oleh anak Ibu Dewi.


Milan langsung melihat ke arah batu yang ada di tangannya, Kemudian Dia tidak menghiraukan lagi suasana alam waktu itu.


Ketika Milan meletakkan batu yang terakhir, Tiba Tiba semuanya berhenti, Angin berhenti dan ombak di danaupun berhenti.


Tidak lama kemudian Muncullah Ibu Dewi dari dalam Danau sambil tersenyum ke arah anak anaknya.


Si Milan sudah tidak sabar ingin memeluk ibunya, sudah tiga bulan mereka tidak jumpa.


Sesampai di atas semua anak anak ibu Dewi langsung memeluknya, Dan menangis sejadi jadinya.


Sekarang di hadapan mereka sudah tercipta sebuah bukit batu raksasa.


Karena Ibu Dewi sudah menjadi Manusia lagi, Anak anak mereka membuat nama danau tersebut menjadi "Danau Dewo Aek", Yang artinya Danau Dewa Air, Karena mengenang Kekuatan Dewa Ratu air Danau tersebut.


" Udah Selesai ceritanya , Makanya sampai sekarang Danau ini dinamakan menjadi Danau Dewo Aek, Dan Sebuah Bukit batu raksasa yang di Buat oleh ketiga anaknya Ibu Dewi"

__ADS_1


Ucap Pak Arif yang telah menceritakan Cerita Danau Dewo Aek.


"Nah berarti Bukit batu yang ada dibelakang kita ini adalah Tumpukan batu yang di letakkan oleh Teluk, Ninjau Dan Milan ya pak?"


Tanya Ku.


"Dari cerita masyarakat begitu dek, Bisa benar bisa enggak, Maklum Mitos"


Jawab pak Arif.


Tak terasa ternyata bapak arif sudah menceritakan panjang lebar cerita Danau Dewo Aek kepada Kami.


Dan Matahari pun sudah menunjukkan waktu sore hari.


"Pak, Kita nginap disini aja lah pak, Mumpung kita bawak Tenda dan Peralatan lainya, Anggap aja kita kemping di sini pak"


Ucap Rio.


"Waduuuhhh, Orang mau kesini aja takut, Masak kalian mau kemping disini?, Mau kemping atau mau cari mati?"


Ucap Pak Arif.


"Aduuhhh Pak santai aja kali, Kan Kita dari tadi kita gak kenapa napa?, Kayaknya bagus kamping disini pak, Malam malam kita buat api unggun di pinggir danau, Angin angin sepoy menemani, Sambil menyerup pop mie yang hangat, Aduhaaaiiii Lebih indah dari malam pertama"


Ucap Rio.


"Yaelah bocah edaaan, Emangnya Elo pernah malam pertama..?, Sok sok tau malam pertama..!"


Ucap Si Wisnu.


"Hahaha Kan Gua dengerin cerita dari teman teman senior yang udah pada nikah"


Jawab Rio.


"Belum merasakan jangan sok sok tau, Kamu harus tanya ke pada bapak yang lebih senior Hahaha"


Ucap Pak Arif.


"Jangan pak, Saya belum Cukup umur, Saya masih suci belum ternodai"


Ucap Rio.


Pokkk


Suara pukulan dari botol mineral mengenai bahu Rio.


"Lo ya, Bilangya suci..!, Padahal Najis Tingkat atas alias najis Mugholadzoh yang kalau di sucikan harus dengan Tujuh kali air dan salah satu nya memakai tanah"


Ucap Danu.


"Emangnya Badan Gua Beduk..? Yang Lo pukul pas Waktunya".


Ucap Rio sambil memegang Bahunya.


" Nanti kamu tanya sama bapak aja ya, Kita ngobrol empat mata"


Bisik Pak Arif kepada Rio yang memegang Bahunya.


"Heeheheh Ok siap Pak"


Ucap Rio dengan Keras.


"Udah ayo kita pulang lagi, Mumpung masih sore, Kalau malam nanti bahaya juga"


Ucap Pak Arif.


"Oh ya udah, Ayo dah pak kita pulang"


Ucap Ku.


Akhirnya kami pun pulang ketika waktu sudah hampir sore hari.


#Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2