
"Yang bener aja Lo ko"
Ucap Rio.
"Nah iya, Kalau gak percaya silahkan tanya ke bapak yang ngasih nasi tadi, Gua Setengah jam di rumahnya, Habis dari kamar tadi Gua langsung ke ke rumahnya"
Ucap Ku.
"Nah..? Terus yang mijitin Gue tadi siapa?"
Tanya Rio dengan terheran.
"Mana Gua tau..?, Palingan Lo lagi menghayal jadi kebawak ke dunia nyata"
Ucap Ku.
"Hahahah pasti Lo mau nakutin Gua kan..?, Udah ke tebak, Gaya lama tu bro"
Ujar Rio.
Aku tambah bingung, Perasaan, Aku tidak pernah mijitin Rio.
"Dari pada sama sama bingung, Yuk kita makan aja, Nasinya udah meronta ronta mintak di makan"
Ucap Ku.
"Iya ya, Gua laper banget rasanya"
Ucap Wisnu sambil mengelus ngelus perutnya.
"Lo jangan habisin nasinya Wis"
Ucap Danu.
"Baru megang piring Doang,Nasinya belum tersentuh sedikit pun, Nasinya masih suci broooo "
Jawab Wisnu.
"Takut aja nanti langsung Lo habisin Hahah"
Jawab Danu.
Kami pun menyantap makanan yang di berikan oleh warga.
Baru saja kami mulai makan,
Nasi yang masih didalam mulut ku saja belum sempat untuk menelanya, Rio bertanya lagi.
"Yang benar Ko..?, Gua masih Kepikiran ni"
Tanya Rio Sambil menyuap nasi.
Aku tidak bisa berbicara karena nasi masih ada didalam mulut ku.
Aku mengunyahnya dengan cepat, kemudian langsung menelanya.
Hanya beberapa kunyak saja, Nasinya langsung ku telan, Gimana mau mendapatkan sunah Rosul, Kalau sunah Rosul itu mengunyak nasi dengan 33 kali kunyahan.
Kalau Aku cuma Tiga kali kunyahan langsung OTW Usus Tu nasi..
"Nasi aja belum masuk kedalam perut Gua, Elu udah nanya aja"
Ucap Ku.
Karena Aku tergesa gesa menelan nasi, Aku pun sampai terbatuk.
"Ukhuuukk ukhukk ukhuuk"
Suara batu ku, Gitu ya suara batuk..?? Wkwkwk anggap aja suara batuk.
"Tukan jadi keselek Lo"
Ucap Danu.
"Aiirrrr Airr Aiirr"
Pinta Ku kepada Rio.
Rio pun mengambil air dan memberikan kepadaku.
"Maka nya pelan pelan makannya"
Ucap Rio.
Aku pun minum sejenak, Untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di tenggorokanku.
"Elu yang ngajak Gua ngomong"
Ujar ku.
"Terserah kaliam, yang penting Gua tetap makan terus"
Ucap Wisnu yang lagi lahap melahap nasi.
Aku di antara teman teman ku adalah orang yang paling lambat ketika makan, Terkadang Wisnu sudah smpai Dua kali nambah, Aku pun belum juga selesai makan.
Setelah kami selesai makan kami pun mandi secara bergiliran, Karena bau badan kami sudah meronta ronta.
Jika Bunga yang segar didekatkan kekami Maka bunga itu langsung layu, Bau badan kami sama bahayanya dengan asap asap pabrik kota.
Rio mendapatkan giliran pertama kali,
Aku, Danu Dan Wisnu masih mengobrol didalam kamarnya Wisnu dan Danu sambil menunggu Rio selesai mandi.
Sambil duduk duduk dilantai kamar Danu bertanya kepada Ku.
"Elu benaran kagak mijitin Rio..?".
" Emang kagak pernah, Habis Dia mau minta pijitin ama Gua, Gua langsung keluar kamar, Habis itu langsung di panggil ama warga, 30 menitan Gua d sana ngobrol tentang tempat Mancing"
Ujar Ku.
"Perasaan Gua udah kagak enak ni"
Ucap Danu.
__ADS_1
"Yang penting kenyang, Soal perasaan belakangan"
Ujar Wisnu.
"Coba Lo pikir Wis, Tadi Rio katanya Ada yang mijitin Dia, Sendangkan Riko lagi di Rumah warga, Kita juga lagi ada di kamar..? Terus siapa yang mijitin Rio..?"
Tanya Danu.
"Yaa... aaaa Mana Gua tau, Kok nanya ke Gua"
Jawab Si Wisnu.
"Dasar Otak Udang"
Jawab Danu.
"Gini Wis..!, Kalau Rio Di pijitin, berarti Rio ada yang mijitin...! , Nah sedangkan kita bertiga tidak pernah mijitin Rio, Kita kan hanya ada berempat di Rumah ini..! Berarti ada seseorang selain kita".
Ucap Ku yang berusaha menerangkan kepada Wisnu.
Wisnu pun berpikir sejenak.
---------*
" Oh Iya ya.. Nah terus Siapa yang mijitin Rio Dan..?"
Wisnu bertanya balik ke Danu.
"Yaa... aaaa Mana Gua tau, Kok nanya ke Gua"
Ucap Danu yang meniru perkataan Wisnu tadi.
"Eh Serius Dan"
Ujar Wisnu.
"Atau jangan jangannnn............. Riiooooooo Masiiihhhh Di ikutinnnn mahluk astral...?
Ucap Danu.
" Semoga aja cuma khayalan Rio"
Ucap Ku.
Tiba tiba dari arah Kamar mandi Rio berteriak.
"Heeeiiiii Siapa yang matiin lampu, Gua lagi mandi ni".
Kami bertiga pun kebelakang untuk mengecek kamar mandi.
Setelah sampai di kamar mandi Rio membuka pintu Kemudian berkata.
" Hidupin lampunya, Gak ada kerjaan kalian ni..! Usilllllll Muluuu."
Kemudian dia menutup Pintu dengan sangat Kuat.
TUPPPPPP
Suara pintu yang dibanting oleh Rio.
"Lahhh Siapa yang matiin, Kami baru pada datang ke sini"
Ucap Ku.
"Udaaahhhh Hidupiinn Lampunya cepat, Gau mau mandi Ni".
" Hidupin sendiri ah"
Ucap Wisnu.
Kami pun kembali kekamar Danu tanpa menghidupkan Lampu kamar mandi.
Tidak lama kemudian Rio berlari kedalam kamar Danu.
Sambil mengatur napasnya Rio berkata.
"Di kamar mandiii"
Belum sampai selesai Rio bicara, Dia langsung menarik napas kembali, Layaknya orang habis berlari Keliling lapangan sepak bola.
"Lo kalau ngomong yang jelas".
Ucap Danu.
Wisnu yang melihat Rio datang kekamar hanya memakai celana dalam langsung berkata.
" Benerin dulu Noh penampilan Lo, Seksi gitu kalau di lihat jin malah tambah suka dia ama Elo".
Rio pun kembali berkata dengan kata kata sepotong.
"Diii diiii Kamar mandiii A..aa adaaa"
Dia kembali menarik napas.
"Ada apa..?, Elu sekali lagi ngomong gak jelas gua tampol Lo"
Ucap Wisnu.
Aku pun mengambil handuk Wisnu yang ada di dekat lemarinya, Lalu melemparkannya ke Rio.
"Ni ambil, Tutupin dulu si ayam jagonya baru ngomong"
Ujar ku.
Rio pun menangkap handuk itu kemudian memasangnya.
"Lo liat apa Di kamar mandi..?"
Tanya Wisnu yang penasaran.
Rio masih tetap mengatur napasnya, Sepertinya dia habis lari keliling kampung.
"Lo Liat Anak kecil.?"
Tanya Wisnu Kembali.
__ADS_1
Rio pun menggeleng yang menandakan Tidak.
Rio bersandar di pintu kamar sambil duduk mengatur napas.
"Cewek cantik.?"
Tanya Wisnu Kembali.
"Bukan"
Jawab Rio.
"Cewek Cakep..?"
Tanya Danu.
"Sama aja Ama pertanyaan Gua"
Ucap Wisnu.
"Teruss Cewek Beautifull..?"
Tanya Danu yang bercanda.
"Lo sekali lagi ngomong Gua tampol Lo Dan"
Ucap Wisnu.
Rio yang duduk hanya memakai handuk terus bersandar di pintu, sepertinya sudah bisa ngomong, Napasnya sudah kembali normal.
"Kalian Tau gak..?"
Tanya Rio.
"Gimana kami tau..?, Dari tadi Elu ngomongnya setengah setengah"
Ucap Ku.
"Iya, bikin penasaran orang aja Lu"
Ucap Danu.
"Di Kamar mandi tadi Gua liat kakek kakek yang Gua liat Waktu di hutan Dulu".
Ucap Rio.
Sontak saja aku langsung berkata.
" Serius Lo..?".
"Iya. Gua masih ingat betul wajah kakek itu"
Ucap Rio.
"Lo gak lagi mengkhayalkan..?"
Ucap ku.
"Iya ni, Lo kebanyakan nonton film horor"
Ucap Wisnu.
"Tadi bilang ada yang mijitin, Terus sekarang bilang ada kakek kakek"
Ucap Ku.
"Sumpah disambar gledek dah Gua, Kalau Gua Bohong"
Ucap Rio sambil menangkat dua jari yang menandakan bersungguh sungguh..
Suasanan pun Hening.
Aku, Danu Dan Wisnu yang masih duduk di lantai tiba tiba terdiam.
Kami bertiga yang berada di Dalam kamar yang menghadap kearah luar tiba tiba melihat sekilas sosok kakek kakek tua melintas di luar kamar.
Bulu kuduk Ku langsung berdiri, Ternyata bulu kuduk Wisnu dan Danu pun juga berdiri.
Tampak bentolan kecil kecil muncul di akar bulu tangan kami.
"Lo liat gak Tadi.?"
Ucap Danu yang melihat ke arah Ku.
"Elu juga Liat..?"
Tanya Ku kepada Danu.
Wisnu langsung berkata.
"Sumpah Gua Liat Juga".
Rio yang sedang bersandar di pintu langsung menutup pintu dengan cepat.
Dengan wajah ketakutan Dia berkata.
" Pasti Kalian Lihat kakek Kan..?".
Didalam kamar hanya ada kami berempat, Dengan pintu yang terkunci.
Rio yang duduk dedekat pintu langsung pindah ke dekat Kami.
"Jangan Jangan kakek itu yang mijitin Gua tadi..?
Ucap Rio yang sudah ada didekat Wisnu.
Kami berempat duduk berdekatan sambil memeluk lutut.
" Kenapa kakek itu harus datang kesini..? Bisa bisa Gua gak mandi malam Ni"
Ucap Wisnu.
"Kata bapak Arif biasanya tiga hari Dia akan Ngikutin Lo"
Ucap Ku ke Rio.
__ADS_1
"Amit amit cabang bayi, Semoga kakek itu langsung pergi kehutan"
#Bersambung#.