
Kami yang tertidur semua tidak sadarkan diri sampai Malam menghampiri.
"Bangunn bangunn!, Anak anak bangun semua"
Teriak bapak Arif.
Suara keras teriakan bapak Arif membuat kami bangun semua.
Ketika mata ku terbuka, Ternyata hari sudah malam.
Ku lihat jam tangan ku ternyata sudah jam 19.15 Wib.
Danu dan Wisnu terlihat kaget bukan kepalang.
"Duhh perasaan tidur baru sebentar!"
Ucap Danu.
"Bapak juga kaget pas bangun ternyata sudah malam"
Ucap bapak Arif.
Kami semua bangun, Dan terlihat Si Rio sudah bangun.
"Lo gimana?, Udah enakan kakinya?"
Tanya ku.
"Udah Ko"
Ucap Rio.
"Ayo kemasi barang barang semua, Kita pulang"
Ucap Bapak Arif.
Kamipun mengemasi semua barang barang yang ada, Termasuk karpet.
Hari ini sepertinya kami tidak bisa melanjunjutkan perjalanan, Jadwal hari ini terpaksa kami cancel.
"Ayo buruan adek adek"
Ucap Bapak Arif.
"Iya pak, Ini masih masukin kompornya"
Ucap Danu.
Suasana malam di hutan sangatlah gelap, Kami hanya membawa dua senter, Itupun karena tidak sengaja di masukkan oleh Wisnu.
setelah semua siap, Kamipun pulang didalam gelapnya malam dihutan, Yang kami takutkan jika terinjak ular atau hewan hewan berbisa lainnya.
Penerangan kami sangatlah minim, Hanya ada dua buah senter.
Bapak Arif memegang satu senter di paling depan, Sementara aku memegang satu senter di paling belakang.
Itu pun karena semua teman ku tidak ada yang berani di belakang, Makanya Aku Terpaksa di belakang.
Kami berurutan dari depan, Bapak Arif, Danu, Wisnu, Rio dan Aku.
Kaki Rio masih terlihat masih sedikit sakit, Makanya dia memilih di belakang saja.
Bapak Arif didepan tampak masih fokus melihat jalan.
Hutan yang sangat lebat membuat malam sangat gelap.
Cuma ada dua senter yang menerangi jalan kami.
Di pertengahan jalan bapak Arif berhenti dan melihat ke belakang, Kemudian berkata.
"Adek adek, Nantin kalau ada yang manggil kalian, Kalian jangan pernah melihat ke arahnya, Apapun yang terjadi".
"Iya pak"
Ucap Danu yang berada dibelakang bapak Arif.
Didalam hati ku sudah khawatir takut terjadi apa apa.
Rio yang masih menahan rasa sakit kakinya pun berkata.
"Emangnya kenapa pak?, Siapa tau ada warga lewat, Terus ingin pulang bareng".
" Pokoknya jangan kata bapak, Janganlah, Sekarang tidak ada warga yang masih berani memasuki hutan ini ketika malam"
Tegas bapak Arif.
Rio masih saja tampak ngeyel ketika mendengarkan ucapan bapak Arif tadi.
"Sudah dengarkan saja apa kata bapak Arif"
Ucap ku kepada Rio.
Bapak Arif pun melanjutkan perjalanannya.
Rio langsung berbisik kepada ku.
"Apa salahnya jika kita menoleh kebelakang, Siapa tau ada warga lain, Kan kita bisa tambah personil".
__ADS_1
" Lo ni memang ****** ya kalau dikasih tau orang tua"
Ucap ku sambil memukul punggung Rio.
Namun Rio masih tetap juga tidak mendengarkan apa yang disampaikan bapak Arif tadi.
Kamipun melanjutkan perjalanannya lagi.
Sepertinya pemukiman warga masih sangat jauh. Karna tidak ada tanda tanda sinar lampu dari rumah warga.
"Pak masih jauh gak ni?"
Tanya Danu.
"Lumayan dek, Sekitaran 45 menit lagi"
Ucap bapak Arif sambil fokus melihat jalan.
"Saya takut kalau ada binatang buas pak"
Ucap si Wisnu yang berada dibelakang Danu.
"Insyaallah gak ada"
Jawab bapak Arif.
Aku masih tetap menyinari jalan didepan ku. Sebenarnya sedikit merinding berada di paling belakang, Takut tiba tiba ada yang memegang dari arah belakang kayak di film film.
"Kaki Lo masih sakit ?"
Tanya ku kepada Rio.
"Udah enakan dah, Berkat obat tidur yang Lo kasih ke Bapak Arif, Kurang ajar Lo ya !, Gua sakit di gigit Kelabang malah Lo kasih obat tidur"
Ucap Rio dengan sangat pelan.
Akupun berbisik kepadanya.
"Biar Lo gak banyak tingkah".
"Memang Brengs** Lo"
Ucap Rio.
"Hahahah gak sengaja ******"
Ucap ku sambil menyinari wajah Rio.
"Jalan yang disinari ******, Bukan wajah Gua, Mentang mentang wajah Gua kayak Artis korea"
Ucap Rio dengan sedikit keras.
"Artis korea yang mana ni?
Rio pun menjawab.
" Itu yang banyak penggemarnya".
"Siapa?"
Tanya si Wisnu.
"Jong jong..!! apa itu namanya?"
Jawab Rio.
"Ohhhhh Gua ingat, Memang mirip Lo ama Dia"
Ucap Ku yang masih tetap fokus menyinari jalan.
"Nah itu Lo tau, Emangnya siapa namanya?"
Tanya Rio.
"Yang ada jong jongnya itu kan?"
Tanya ku kembali.
"Iyaa yang ada jong jongnya itu"
Jawan kembali oleh Rio.
"Iya Gua inget, JONGOS kan?"
Tanya ku kembali.
"Hahahah dasar Lo ya?"
Ucap Rio.
Kami berjalan sambil kami bercanda, Supaya perjalan tidak terasa horor.
Kami tetap berjalan walupun minim akan penerangan.
Di perjalanan Tiba tiba Rio melihat ke belakang.
Aku kira Rio sedang melihat ku.
__ADS_1
Aku tidak menghiraukannya, Kemudian Dia kembali melihat kedepan, Setelah itu Rio melihat kebelakang lagi.
Aku heran, Terus Aku tanyakan apa perihalnya.
"Ada Apa Rio?".
Namun Rio tidak menjawab pertanyaan ku, Kemudian Dia melihat ke depan lagi.
Tidak lama kemudian Rio lagi lagi melihat kebekang, Namun tidak Aku respon akan tingkah lakunya.
Tanpa disadari, Tiba tiba Rio berlari kearah belakang kami.
Sontak saja aku terkejut dan berteriak
"Rioooooo?, Lo mau kemana?".
Rio masih saja berlari ke belakang tanpa cahaya penerangan.
Bapak Arif yang berada didepan langsung berlari mengejar Rio.
Padahal Waktu itu kaki Rio masih sakit, Berjalan saja Rio masih tengkot, Namun ketika Dia berlari layaknya orang yang sedang sehat saja.
Aku , Wisnu Dan Danu ikut mengejar Rio dan Bapak Arif.
" Kenapa Tu Rio?"
Tanya Danu sambil berlari.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, Aku tetap berlari kearah Bapak Arif.
Tampak ketika itu, Lari bapak Arif sangat lah kencang, Kami dibelakang tidak bisa mengejar mereka.
Dibelakang ku ada Danu dan Wisnu yang juga sambil berlari mengejar Bapak Arif.
Terdengar suara bapak Arif yang berteriak memanggil Rio.
"Riiooooooooo, Riooooooo"
Akhirnya bapak Arif dapat menangkap Rio kemudian menepuk pundaknya tiga kali, dan membaca Sholawat.
Kami yang berada di belakang akhirnya sampai juga pada bapak Arif dan Rio.
Setelah bapak Arif menepuk pundak Rio, Akhirnya Rio sadar juga.
Aku yang masih sulit bernapas karna berlari tadi masih belum bisa bertanya.
Bapak Arif pun berkata dengan kencang layaknya orang marah.
"Kan sudah bapak bilang, Kalau ada yang manggil kalian, Jangan sampai kalian lihat"
Rio masih terlihat linglung, tidak merespon ucapan bapak Arif.
"Ayoo ayo kita harus cepat pulang".
Ucap Bapak Arif sambil menggandeng tangan Rio.
Rio masih saja tidak berbunyi.
Kami semua sudah khawatir takut terjadi apa apa kepada Rio.
Kamipun melanjutkan perjalanan dengan kondisi Rio seperti orang linglung.
Tidak lama kemudian kami melewati pohon raksasa yang di jelaskan bapak Arif tadi pagi.
Berarti perjalanan kami tinggal sedikit lagi menuju perkampungan.
Beberapa meter dari pohon itu, Barulah kami melihat sinar lampu dari rumah rumah warga.
"Alhamdulillah, Sebentar lagi kita keluar dari hutan"
Ucap bapak Arif yang masih menggandeng tangan Rio.
"Alhamdulillah ya allah, Gua udah kayak orang mati ketakutan didalam hutan ini"
Ucap Wisnu.
Akhirnya kami keluar dari hutan itu, Rio yang masih linglung langsung di bawa ke rumah bapak Ketua Adat.
Sesampai didepan rumahnya Ketua Adat Bapak Arif memberi salam.
"Assalamu'alaikum Bapak Gilang"
Tangan Rio masih di pegang oleh bapak Arif.
Bapak Gilang pun membuka pintu rumah
"Wa'alaikum salam"
Ucap Bapak Gilang.
Bapak Arif pun segera membawa Rio naik kerumah bapak Gilang.
#Bersambung#
Maaf ya kk, kalau Authornya lama ngupload, Karna author masih ada kerjaan☹, terkadang author upload jam 12 malam.
Berkat teman teman, alhamdulillah Novel Desa yang hilang telah berhasil di kontrak, Author tambah semngat untuk upload..
__ADS_1
Terimakasih teman teman semua yang selalu memberikan semngat kepada author.