DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Menuju Keperbatasan


__ADS_3

Aku bingung ketika disuruh memberikan kata kata terakhir, Aku pun mencoba melihat keselilingku, Yang sudah dikelilingi oleh Warga.


"Mungkin ini adalah Kata kata terakhir saya, Saya berharap saya masih Bisa kembali pulang ke desa ini dan bisa kembali berkumpul dengan warga warga semua, Jika saya ada salah saya mohon maaf sebesar besarnya, Karena Tidak ada gading yang tak retak retaknya itu menjadi ukiran, tak ada Lautan yang tak berombak ombak nya itu menjadi lukisan, Tak ada tuyul yang tak botak botaknya itu menjadi Kelucuan, Tak ada bisul yang tak bengkak bengkak nya itu Harus di kempeskan, Dan tak ada Manusia yang tak bersalah, Salahnya Itu mohon dimaafkan, Karena gading yang retak saja bisa menjadi seni dengan nilai jual yang begitu besar, Begitu juga manusia Jika kita memaafkan insyaallah akan ada nikmat yang besar yang akan allah berikan".


Ucap Ku.


Semua warga tampak hanya bisa diam mendengar ucapanku.


Bapak kepala desa disamping ku langsung berbisik.


"Hebat juga kamu ko kalau ngomong".


Aku pun membalas bisikannya


" Itu hafal juga karena di hukum di pesantren dulu pak Heheheh".


Kemudian bapak Ketua Adat melanjutkan pidatonya.


"Alhamdulillah kita sudah mendengarkan kata kata dari Riko, Apakah kalian semua telah memaafkannya..? "


Semua Warga pun berkata


"Sudaaaahhhhh".


" Apakah kalian Rela Riko pergi..? "


Semua warga pun menjawab


"Relaaaaaaaaaa".


"Apakah ada yang mau menemani Riko..?? "


Semua Warga pun serentak berkata


"Tidaaaakkkkkkkkkkkkkkk".


" Jahat kaliiii ni orang, Gak ada satupun yang mau menemaniku".


Gumam didalam hatiku.


Bapak Ketua adatpun berkata


"Karena Semuanya seudah selesai, Kita harus mengantarkan Riko ke perbatasan, Semua warga wajib ikut mengantarkan sampai Batas akhir desa kita, Sementara Saya, Bapak Kepala Desa, Para sesepuh, Dan Para ustadz akan mengantarkan sampai ke perbatasan Dunia Kita dengan Dunia Mahluk itu, Dan saya akhiri Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh".


Semuapun menjawab.


" Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh".


"Ayo ko Kita berangkat".


Ucap Bapak Kepala Desa.


" Bismillahirrohmanirrohim, Ayo pak"


Ucap Ku sambil melangkahkan kaki kanan ku.


Semua orang pun ikut mengantarkanku, Layaknya Mereka sedang mengantarkan Gubernur terpilih menuju kematiannya.


Aku bersama rombongam yang mengantarkan sampai keperbatasan dunia manusia dan dunia mahluk itu berada di depan, Sementara warga yang mengantarkan sampai keperbatasan berada dibelakang kami.


Baru beberapa Langkah kami berjalan, Tiba tiba dari arah belankang terdengar suara Wisnu Dan Danu.


"Berhentiiiiiiiiiiiiiiiiii"


Teriak Danu dan Wisnu.


Kami semuapun berhenti dan menoleh ke belakang.


Tampak Wisnu dan Danu berlari mengejar kami.


Semua warga yang di belakang ku bergeser ketepi Layaknya membuka jalan untuk mereka lewati.


"Haaaaaaaaaaaaa"


Wisnu menghela nafas setelah dia berlari kencang".


Kemudian Dia Berkata


"Seorang teman lebih rendah dari pada sampah saat dia tidak pernah memikirkan nasib temannya, Dan Seorang teman Lebih rendah dari pada kotoran saat dia Membiarkan temanya melewati marabaya seorang diri".


Aku pun terharu mendengarkan kata kata mereka Kemudian berkata


" Thanks Bro.!! Berarti kalian mau ikut Gua..? ".


Wisnu pun berkata.


" Siapa bilang Gua mau ikut loh, Gua cuma mau ngasih makanan buat loh di perjalanan".


Ekspresi wajah ku langsung berubah drastis.


"Pengen Gua tampol loh rasanya"


Ucap Ku Dengan geram.


"Hahahahahhahah Sabar sabar sabarrr


Kata Lo dulu orang sabar di sayang tuhan".


Ucap Wisnu kembali.


" Kami berdua ikut lo ko, Kemanapun kita pergi, Apapun yang terjadi , Bahaya sebesar apapun akan kita hadapi"


Ucap Danu.


"Nah ini baru teman, Berati Lo ikut Gua ke Dunia mahluk itu kan..? ".


Tanya ku kepada Danu.

__ADS_1


" Siapa bilang Gua mau ikut ke Dunia mahluk itu..? Gua cuman mau nganterin Lo sampai perbatasan".


Jawab Danu dengan santainya.


"Astagfirullah, Lo berdua sama aja ya bikin Gua naik pitam aja"


Ucap Ku.


"Trus..? Kenapa kalian berdua membawa tas Ransel segala..? "


Tanya ku kembali.


"Biar kelihatan keren aja"


Ucap Wisnu dengan santainya.


"Sudah sudah, Ayo kalau mau ikut mengantarkan Riko ke perbatasan"


Ucap Bapak ketua Adat.


"Iya pak.. Ayo pak kita berangkat".


Ucap Wisnu sambik berjalan.


" Huuuuuuuu"


Ucap ku geram melihat tingkah Wisnu.


Aku dan semuanyapun melanjutkan perjalanan, Semua warga masih tetap berada dibelakang,


Tak lama kemudian kamipun sampai di perbatasan Desa.


Semua warga pun berhenti.


"Hati hati ya Ko.. "


Ucap sebagian mereka sambil melambaikan tangan.


"Iya pak, Iya buk, Doain ya supaya bisa pulang dengan selamat".


Ucap Ku.


Salah satu bapak disana pun berkata


" Iya Ko, Semoga kamu selamat sampai tujuan".


"Terimakasih pak".


Ucap Ku.


Wisnu yang Di sampingku Langsung berbisik


" Bukannya Itu bapak yang Gua kencingi dulu..? ".


Aku pun kembali melanjutkan perjalanan bersama rombongan tanpa merespon dahulu Pertanyaannya Wisnu.


" Lo kalau mau bisik bisik jangan di tempat ramai ucap ku, Nanti orang tersinggung".


Ucap Wisnu.


Sambil berjalan Aku menjawab pertanyaanya si Wisnu.


" Yang Elu kencingi dulu bapak bapaknya Botak".


Wisnu pun kembali menoleh kebelakang ke arah bapak itu, Kemudian berkata


"Bapak itu botak cuma dia pakai Topi aja".


Bapak Ketua Adat mendengar omongan kami, Kemudian bertanya.


" Kalian ngomongin siapa..? Seru kayaknya? ".


" Ini pak.. Wisnu bilang bapak yang ngucapin semoga selamat terakhir kali tadi itu kepalanya botak..? "


Ucap Ku.


"Ohh bapak Burhan.!! Iya Bapak itu kepalanya botak, Hati hati kalian ngomong botak kedengaran sama dia..! "


Ucap Bapak Ketua Adat.


"Tu kan benar, Gua hafal wajahnya "


Ucap Wisnu kepada ku.


"Emangnya kenapa pak kalau kita bilang botak sampai terdengar sama bapak Burhan. ? ".


Tanya Wisnu kepada bapak Ketua Adat.


" Habis kalian".


Ucap Bapak Ketua Adat.


"Hahahaahaha Wisnu aja hampir dihabisin ama pak burhan".


Ucap Ku.


" Emangnya Kenapa..? "


Tanya Bapak Ketua Adat.


"Panjang ceritanya pak Heheheh".


Ucap Wisnu.


Percakapan mengalir bagaikan air, Sementara Jejak jejak kenangan akan tinggal selama diperjalanan, Perjalanan Kian terus Di lanjutkan Tak tau berapa meter atau puluhan meter lagi akan Aku lalui, Yang jelas Gerbang kematian telah hampir dekat dengan ku.


Hutan yang lebatpun sedikit demi sedikit telah kami lalui, Hutan itu seperti Baru pertama ku lalui, Karena jalan yang kami tempuh berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


"Berapa jauh lagi pak..?"


Tanya Wisnu yang sudah mulai merasakan Ketakutan.


"Masih jauh ini.. Belum ada apa apanya perjalanan kita"


Ucap Bapak Ketua Adat.


Salah satu kakek kakek berkata


"Nanti jangan Lupa ingat tuhan ketika telah memasuki Kawan itu".


" Maksudnya Gimana kek..? "


Tanya Ku.


"Kebanyakan Orang yang tidak pernah kembali lagi itu karena tidak pernah ingat tuhan, Ketika Disana nantinya kamu benar benar Diuji keimanan Mu, Jika kamu kuat Insyaallah kamu akan Pulang dengan selamat, Tapi jika kamu Tidak kuat, Maka kematian menunggumu".


Ucap Kakek itu dengan Perlahan lahan.


"Ih seram kali kek..? "


Ucap Danu.


"Kalau gak mau seram ya ke Rumah makan aja"


Ucap Salah satu bapak bapak yang ikut pada waktu itu.


"Nah benar tu pak"


Ucap Wisnu sambil memperbaiki Ranselnya.


"Elu sekali dengar kata kata rumah makan langsung Conek aja lu".


Ucap Danu.


" Dari pada Conek masalah Cewek"


Ucap Wisnu.


"Lebih baik itu, Kan Normal kalau kita Conek masalah cewek".


Balas Danu.


" Tu Cewek Mahluk astral Lo kencani"


Ucap Wisnu.


"Kalau ada yang cantik kenapa kagak"


Balas Danu.


"Pasti ada yang cantik, Lo Siap siap aja jadi Orang resmi Desa yang Hilang"


Balas Wisnu kembali.


"Kalian Pada ribut, Coba liat tu monyet monyet aja pada rukun sama sama temannya"


Ucap Bapak Ketua Adat sambil menunjuk ke arah rombongan monyet di sebelah kanan yang saling berbagi makanan di sebuah pohon besar.


"Nah Noh liat noh, Monyet aja rukun, Masak Lo gak Rukun"


Ucap Ku.


"Nyeeettttt".


Teriak Danu.


Salah satu Monyet melihat ke arah Danu.


Sambil berjalan Danu berkata ke Monyet Itu


"Ini teman Lo ketinggalan Satu".


Sambil menunjuk kearah Wisnu.


" Hahahahahah Cuma sama sama monyet yang mengerti bahasa monyet"


Balas Wisnu.


"Nyeeeettttt.. ? Kita Saudara gak nyetttt..?"


Tanya Danu kepada Monyet itu.


Tiba tiba semua monyet mengangguk sambil bergelantungan di Ranting ranting pohon yang menandakan Meraka menyukai Danu.


Dan itu semua mengundang tawa gelak kami semua.


"Hahahahahahhahahaha"


Semua ikut tertawa, Kakek kakek yang giginya ompong saja ikut tertawa sampai sampai gusinya kelihatan semua layaknya anak bayi yang tanpa Gigi.


"Kurang asem Ni monyet monyet"


Ucap Danu dengan kesal.


Hutan hutan disana memang masih asli, makanya monyet monyet masih banyak disana, Dari monyet lucu sampai monyet yang megeli(Bahasa Madura, Cukup Orang madura saja yang tau).


Semakin masuk kedalam hutan suasana semakin dingin,Mungkin perjalanan menunuju keperbatasan tinggal 4 jam lagi.


"Bentar pak.. Saya mau ambil jaket dulu".


Ucap Danu yang sudah kedinginan, Kerena cuma memakai Baju kaos lengan pendek.


" Iya pak, Saya mau pakai jaket juga pak"


Ucap Wisnu yang juga kedinginan.

__ADS_1


Sepertinya kami harus siap mental dan pisik jika ingin menuju keperbatasan desa yang hilang.


#Bersambung#


__ADS_2