
Ibu Dewi pun pergi keluar hutan untuk mencari thabib yang bisa menyembuhkan si Milan.
Sejauh apa pun perjalan yang di tempuh oleh Ibu Dewi sejauh itu pula tetesan demi tetesan air matanya menetes ke tanah yang kering.
Dia harus berjalan jauh ke luar hutan untuk menemukan thabib.
Ratusan kilometer tak terasa di tempuh oleh Ibu Dewi.
Tujuannya adalah ke rumah thabib yang terkenal di daerah mersam.
Thabib tersebut sangatlah terkenal dengan pengobatan herbalnya, Sudah puluhan orang yang berhasil sembuh setelah meminum ramuanya.
Tidak lama kemudian Ibu Dewi sampai ke pendoponya thabib yang terkenal itu.
Terlihat pendopo tua yang mempunyai ciri khas klasik dengan bangunan kayunya.
Tampak seorang thabib tua yang memakai pakaian serba putih sedang duduk didalam pendoponya berasama dengan khodamnya.
"Permisi thabib"
Ucap Bu Dewi.
Tabib itu pun menyambut kedatangan ibu dewi dengan sangat ramah sekali.
"Silahkan masuk bu".
Ibu Dewipun menceritakan semuanya kepada thabib itu dengan sambil menangis, Air mata ibu Dewi sudah tidak bisa di bendung lagi, Air matanya seolah olah tidak pernah habis, Ia menceritakan bahwasanya Si Milan anak paling bungsunya telah di patuk ular berbisa dan keadaanya sekarang sedang koma.
Thabib itu pun akhirnya memberikan sebuah ramuan kepada herbal kepada ibu Dewi untuk di berikan kepada si Milan.
Ibu Dewi pun langsung gembira dan berterimakasih banyak kepada thabi tersebut.
"Terimakasih thabib, Saya tidak tau bagaimana cara berterimakasih kepada thabib"
Ucap bu Dewi sambil bersujud di kakinya Thabib.
"Sudah bu, Tak seharusnya ibu bersujud di hamba allah, Cukup ibu sujud ketika memyembahnya"
Ucap Thabib itu sambil mengangkat Ibu Dewi.
Kemudian thabib berkata.
"Lebih baik, Sekarang ibu cepat cepat bergegas pulang kerumah, sebelum racun itu menyalar ke seluruh tubuh anak ibu".
" Iya Bib, Saya sangat berterimakasih banyak kepada thabib, Semoga allah membalas kebaikan thabib".
Jawab Bu Dewi.
Setelah itu ibu Dewi langsung berlari kencang menuju rumahnya, Rumahnya masih ratusan meter lagi, Ibu Dewi terus saja berlari, Sampai sampai telapak kakinya terluka pun sudah tidak dia hiraukan lagi, Didalam pikiran bu Dewi hanya satu, Pulang dengan cepat.
Darah dari kaki ibu Dewi terus saja berceceran di tanah, Seolah olah ibu Dewi sudah memijakkan kakinya kedalan kubangan Cat merah.
Tak tau sudah berapa Kilometer yang sudah ibu Dewi lewatkan, Dan tidak tau pula sudah seberapa banyak darah yang sudah keluar dari kakinya.
Sakitnya luka kaki itu dikalah kan oleh sakitnya melihat si Milan yang masih terbujur kaku.
Setelah sekian lama ibu Dewi berlari tampak Dirinya sudah tidak kuat lagi, Sampai sampai tubunya tersungkur ketanah yang kering, Sehingga menciptakan luka di dagunya.
Tubuhnya yang sudah tidak kuat lagi bergerak, Dia terus saja berusaha untuk bangun lagi, Sampai sampai ibu Dewi merangkak di tanah.
"Aku harus kuat, Apa pun terjadi aku harus kuat"
Ucap Ibu Dewi dengan suara napas yang sudah mulai ngosngosan.
Ibu Dewi yang masih tersungkur dan hanya bisa merangkak di tanah yang kasar itu, Dia mencoba untuk bangkit lagi.
Namun usahanya itu sia sia, Tubuhnya hanya bisa jatuh tersungkur ketanah lagi
__ADS_1
Sekarang tubuh ibu Dewi terbaring di tanah jalan yang masih semak belukar tanpa ada alas sedikitpun , Tubuhnya hanya bisa diam dan tak mampu bergerak.
Cucuran air mata tiba tiba menetes di pipinya Ibu Dewi, Dia teringat dengan sosok Anakanya Milan yang masib terbujur kaku di Gubuk kecilnya.
Ibu Dewi pun langsung bangun ketika memikirkan kondisinya si Milan.
Setelah berhasil bangun Ibu Dewi pun berlari sekuat mungkin, Darah yang keluar dari kakinya tidak diharaukan sedikitpun, Darah yang ada di dagunya pun mulai menetes ke baju lusuh yang dipakai oleh Ibu Dewi.
Usaha ibu Dewi pun hanya sebatas beberapa meter saja, Setelah itu dia lagi lagi terjatuh.
Walaulun Sudah tidak ada tenaga sama sekali ibu Dewi tetap saja berlari hingaa terjatuh pulahan kali.
Tidak tau lagi sudah berapa puluh ibu Dewi terjatuh, kemudian bangkit kembali.
Setelah sekian lama perjuangan ibu Dewi akhirnya diapun masuk kedalam hutan tempat gubuknya didirikan.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga kedalam Hutan"
Ucap Ibu Dewi.
Jarak gubuknya sebenarnya masih lumayan lagi.
Tubuh ibu Dewi sudah tidak kuat lagi menahan Dahaga, Tenggorokanya sudah benar benar kering.
Didalam hutan ibu dewi melihat sebuah pohon pisang.
"Semoga masih ada bekas air hujan yang masih menempel di daunnya"
Ucap Ibu Dewi.
Dia pun berlari menuju pohon pisang tersebut, Langsung saja ia raih daun pisang itu, Dan dia patahkan sampai pada awal daunya yang menempel ke batang pisanya.
Tampak hanya ada beberapa tetesan air yang masih tersisa, Tampa berpikir panjang Ibu Dewi pun langsung meminum di pangkal daun itu.
Air tersebut hanya beberapa tetes saja, Jadi ibu dewi mencari lagi air yang ada di batang pisang tersebut.
Sontak saja ibu Dewi melemparkan daun pisang itu, kemudian berlari sekuat tenaga.
"Ayoo Aku harus semangat, Aku harus kuat, Yang sabar ya nak, ibu pasti pulang, ibu bentar lagi akan sampai, Kamu harus kuat ya nak, Tunggu ibu nak, Kamu pasti kuat"
Ucap Ibu Dewi sambil menangis.
*Sa'at Bapak Arif lagi asiknya cerita tiba tiba Rio buang angin*
Tuuuuuuuuttttttttt
Suara buang anginya Rio.
"Ah Ni anak ganggu suasana aja"
Ucap Ku.
"Heheheh maaf ofsite, Gak bisa ditahan, Anggap aja lagi iklan"
Ucap Rio.
"Ah jorok Lo"
Ucap Danu yang memegang hidungnya.
Bau Dari buang anginya Rio ternyata tak kalah dengan septitank puluhan juta tahun.
"Sumpaaah ni anak mau gua lempar ke danau aja kali ya"
Ucap Wisnu yang juga memegang hidungya.
"Hahahahah ah Kalian Ini biasa aja keles, Ayo pak Dilanjutkan ceritanya".
__ADS_1
Ucap Rio yang seperti tanpa salah.
" Gimana bapak mau cerita kalau hidung bapak masih di tutup gini"
Ucap Bapak Arif.
Rio pun Mengambil baju didalam tas ranselnya, Kemudian mengipas di didekatnya.
"Ayoooo lari lah kau bau busuk"
Ucap Rio sambil mengipas didaerahnya.
"Ah Lo, Orang enak enak dengerin cerita malah kentut"
Ucap Wisnu.
"Bau lagi"
Ditambah oleh Si Danu.
"Udah nikmatin aja dulu ahahahahahah, Berdasarkan penelitian!, Mencium bau kentut itu bisa menyehatkan".
Ucap Rio.
" Menyehatkan dari hongkong?, Ini mah malah membunuh".
Ucap Danu.
"Heheh ngalahin rokok dong?"
Ucap Rio.
"Rokok cuma bisa membunuh secara perlahan, Kalau kentut Lo bisa membunuh dengan sekali hisap"
Ucap Danu.
"Maaf maaf, Masak cerita gak ada iklan, Gak serulah"
Ucap Rio.
"Lo kipas dulu didaerah sini, biar cepat hilang baunya"
Ucap Ku.
"Hmmm Iya iya, Ni Gua kipasin"
Ucap Rio sambil mengipas didaerah sekitarnya.
Kemudian Dia Bernyanyi.
" Kuuuu menangiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssss, Membayangkan, Betapaaaaaa kejamnya teman teman ku"
Poooook
Suara pukulan kecil oleh Wisnu memakai botol mineral.
"Udah kipasin aja, gak usah pasang wajah sedih"
Ucap Wisnu.
"Iya iya, Ni lagi Gua usahain"
Balas Rio.
#Bersambung#
Terimakasih untuk teman teman semuanya yang sudah mendoakan, Alhamdulillah sudah membaik, Mungkin berkat doa dri teman teman semua, Jazakumullahu khoiron.
__ADS_1
semoga pembaca selalu sehat, dan diberikan umur yang panjang, dan rizki yang berlimpah