DESA YANG HILANG

DESA YANG HILANG
Keputusan Ku


__ADS_3

Tampak semua warga menancapkan obor disekeliling desa, Ku lihat mereka dari dalam rumah bapak Kepala Desa, Satu persatu obor itu ditancapkan Hingga Desa Batu sawar Dikelilingi Oleh obor.


Hari pun sudah menunjukkan Jam 02.00 Wib, Semua Warga tidak ada yang keladang ketika itu karena semua warga mempersiapkan kedatangan sang rembulan yang menandakan kedatangannya Mahluk Desa yang Hilang.


Ada seorang warga yang lewat didepan rumah bapak Kepala Desa sambil membawa sebatang bambu, Aku pun mencoba menegurnya dari Atas rumah Bapak Kepala Desa.


"Lah sudah muat colok e pak..? (Udah Selesai membuat obornya pak..?) ".


Namun bapak itu tampak begitu cuek, Dia tidak menghiraukan perkataanku, Malah tak menoleh sedikit pun, Mungkin semua warga benar benar sangat marah kepadaku dan teman teman ku.


Si Wisnu yang berada di sampingku pun berkata " Sombong banget tu bapak..! Gua sumpain kepleset, Biar jatoh".


"Huss jangan ngomong gitu, Gak baik mendoakan yang jelek jelek".


Ucap Ku kepada Wisnu.


" Biarin aja..! Biar dia tau rasa..! Gimana rasanya gak di tolongin orang"


Jawab Wisnu.


Tak lama setelah Wisnu berkata tiba tiba.


GLUBUUUKKK


Suara sesuatu jatuh.


Aku dan wisnu pun melihat kearah suara itu, Ternyata Doa Wisnu terkabulkan.


Tampak bapak yang membawa bambu tadi sedang tersungkur didekat rumah warga.


"Hahahahahahaha Raasaaiinnnnnn, Makanya jangan Cuek kalau orang lagi ngomong..! "


Ujar Wisnu dengan sangat keras.


"Jangan keras keras ...! Nanti kedengaran sama tu bapak "


Bisik Ku.


Bapak yang terjatuh tadi langsung melihat kearah Wisnu dengan Ekspresi wajah sedang marah.


Bapak itu pun langsung berjalan menuju Kearah ku dan Wisnu.


Dalam hatiku berkata.


"Mati Lo Wis".


Tiba tiba bapak itu bertanya sambil membentak.


" Siapo yang ketawo tadi.. ? (Siapa yang ketawa tadi..?) ".


"Sa saa saya gak ngetawain bapak..!, Saya lihat ayam di dekat bapak (Sambil menunjuk kearah ayam) lucu tu Ayam Hahahahah"


Ucap Wisnu dengan nada tertawa ketakutan.


Aku pun menahan tawa ketika melihat ekspresi Wajah Wisnu.


"Rasain Lo Wis.. "


Gumam didalam hati ku.


"Sekali lagi aku liat kau ketawo..!(Sekali lagi saya lihat kamu tertawa..!) Ilang gigi kau.(Hilang Gigi kamu) ".


Bentak Bapak itu kepada Wisnu.


Wisnu tampak diam seribu bahasa, Layaknya pemerintah melihat kekacauan di Indonesia.


Bapak itu pun pergi, Aku menatap Wisnu sambil menahan ketawa.


Ketika bapak itu sudah jauh, Baru ku lepaskan Suara ketawa ku.


" Hahahahahahahahhahahaha Mati kutu Lo Kan".


"Tarik Sis..! "


Teriak Wisnu.


" Si Mangga"


Jawab Istri kepala Desa yang datang dari arah belakang, Kemudian Ibu itu kembali berkata.


"Kalian gak laper..? Dari tadi pagi belum makan".


Mendengar kata kata makan jiwa patriot makan Wisnu langsung muncul.


" Alhaaaamdulilllaaaaaah Dari tadi nunggu di tawarin akhirnya di tawarin juga".


Ucap Wisnu.


"Kan Kalau laper tinggal makan ke belakang, Masak harus ibu kasih tau juga..? "


Jawab istri pak Kepala Desa.


"Heheheehe Gak keenakan bu".


Ucap Ku yang juga sangat lapar.


" Ya sudah, makan dulu saana, Ada mie kari ayam spesial".


Ucap Ibu kepala Desa.


Tampa hitungan satu dua tiga, Kaki Wisnu langsung meluncur dengan cepat menuju dapur.


Tak tak tak tak tak.


Suara Hentakan kaki Wisnu.

__ADS_1


Tiba tiba Wisnu berhenti berlari ketika sudah hampir mendekati Dapur.


Aku pun masih tetap berjalan dengan santai menuju dapur sambil melihat tingkah Wisnu.


"Kenapa Wis..? Lo gak mau makan..? "


Tanya ku.


"Ada ibu yang anaknya di culik Mahluk desa yang hilang".


Bisik Wisnu.


Ternyata ibu itu juga sedang makan.


Ketika ibu itu melihat Wajah Ku dan Wisnu, Wajahnya langsung memerah.


" Mau di Mulai perang ketiga ni.."


Bisik Si Wisnu.


"Nak kemano kau..? Jangan nak makan makan, Nasi lah habis(Mau kemana kamu..? Jangan makan makan..! Nasi sudah habis") .


" Lapar Buk.. "


Lirih Wisnu.


Tak lama kemudian Istri kepala desa pun datang kedapur bersama dengan Danu.


"Udah Biaklah budak budak ko makan, Kaisan lah dari tadi pagi idak makan makan. (Sudah biarin aja anak anak ini makan, Kasihan dari tadi pagi belum makan). "


Ucap Istri kepala Desa.


Ibu itu langsung menghempaskan piringnya ke meja.


Tinggg


Suara piring.


"Makanlah di kamu, Aku dak selero nak makan(Aku tidak selera mau makan) "


Bentak Bu ningsi yang kehilangan anak.


Istri kepala Desa hanya tersenyum melihat tingkah ibu ningsi kemudian menyuruh kami makan.


"Ayo silahkan makan, Jangan di dengarkan Ibu ningsi tadi, maklum..!, Karena cintah seorang ibu kepada anak itu melebihi Luas dari daratan bumi".


" Iya bu, Gak apa apa, Udah di maklumi".


Ucap Wisnu yang sudah ada segunung nasi didalam piringnya.


Kami pun mengisi Batre perut masing masing biar sanggup menjalani hidup yang Berat ini.


Setelah itu kami pun langsung menuju kamar dimana tubuh Rio diletakkan.


Kami duduk bertiga di atas kasur mengelilingi tubuh si Rio.


"Ini kerjaan Lo sendiri ni..! Kita semua sudah di benci seluruh warga disini.. Untung aja Gua masih di kasih makan".


Ujar Wisnu sambil menatap Wajah Rio yang mulai memucat.


" Coba aja Lo gak ngelakuin yang aneh aneh...! Pasti kita udah enak sekarang.! "


Gumam Danu.


"Sudah, Kita sekarang Fokus untuk mengembalikan Ruh Rio dan Para warga yang di culik".


Ucap ku.


" Kita ini nyerahin nyawa Bro..! Orang aja takut kalau Mahluk itu datang..! Lah Kita..?? Malah di suruh Masuk ke desa mereka! Kayak ayam di masukkan ke dalam kandang harimau, Hanya jadi santapan harimau lah..! "


Ucap Wisnu.


"Ya mau gimana lagi..? Kalau gak kayak gitu, Kita bakalan di usir Oleh warga, Trus kita pulang hanya membawa jasadnya Rio..? "


Jawab Danu.


"Kan Gua dari pertama udah gak setuju mau lanjutin tugas ini.. Ini gara gara Lo Riko yang ngajak lanjutin"


Bentak Wisnu.


Aku hanya bisa diam sambil menghela napas.


"Lo gak bisa nyalahin Riko, Karena Ini ulah Rio" Ucap Danu.


Keadaan tiba tiba memanas.


"Lo itu Egois, Coba kita pulang dan gak dengerin Ketua satu ini, Pasti kejadiannya gak Kayak gini".


Wisnu berhenti sejenak .


"Dasarrr Ketua Gak jelas..! Gara gara Lo Kita kehilangan satu teman. "


Bentak Wisnu lagi.


Mendengar kata kata wisnu aku langsung emosi sehingga tanganku tidak sengaja Meninju dinding rumah yang terbuat dari papan.


Pakkkkkkk


Suara hantaman Mengenai dinding Rumah.


Aku langsung memegang kerah baju wisnu.


"Lo mau pulang...?? Silahkan Pulang..! Biar Gua sendiri yang ke Tempat mahluk astral itu".


Suasana pun berubah menjadi tegang, Wisnu yang mendengar bentakan ku Langsung diam Seribu bahasa.

__ADS_1


" Sudah Ko sudah ko.. !"


Ucap Danu yang berusaha mengambil cengkraman tanganku dari Baju Wisnu.


"Lo hanya mikirin Diri Lo..! Gak mikirin teman lainnya. ".


Bentak Ku .


Aku pun langsung keluar kamar, Istri kepala desa tampak datang kepada ku karena mendengar pertengkaran.


" Sabar Ko...! Awak orang jambi(Kamu orang jambi), Tunjukilah Gimano baiknyo orang melayu terhadap saudaranyo (Tunjukkan bagaimana baiknya orang melayu terhadap saudaranya), Biar Dio tau (Biar Dia tau)apo yang di maksud dengan persahabatan anak melayu tu. "


"Sayo sudah sabar nian Buk, Dio tu ha mulai mancing emosi sayo".


Jawab Ku.


" Cuma kau dengan kanti kanti kaulah yang biso nyelamatin Rio(Cuma kamu dan teman temanmu lah yang bisa menyelamatkan Rio), Kau liat badan dio tu la kayak mayad be(Kamu lihat badan Rio itu sudah seperti mayat saja) ".


Jawab Ibu itu.


" Iyo buk"


Jawab ku sambil menundukkan kepala ku.


"Kau kato ke kanti kanti kau(Kamu kasih tau ke teman teman mu) isok kalian lah mulai melakukan perjalanan (Besok kalian Sudah akan melakukan perjalanan) ke Desa yang hilang, Agek malam kito lakukan Doa bersamo untuk keselamatan kalian ( Nanti malam Kita Melaksanakan Doa Bersama Untuk keselamatan Kalian).


Ado yang mau di kasih Ketuo adat ke kau besok Untuk menjago diri".


Gumam Istri kepala Desa.


Aku pun menenangkan Diri di salah satu kamar di Rumah bapak Kepala desa, Awalnya aku hanya baring saja, Namun mata ku mulai mengantuk sehingga Aku terlelap dan Tertidur.


Aku tak sadar berapa lamu aku tertidur, Ketika Aku bangun ternyata hari sudah malam.


"Ya Allah, Udah Jam berapa ini..? ".


Aku pun melihat ke jam dinding kamar itu ternyata sudah jam 18.42 Wib.


" Astagfirullah, Aku gak sholat asyar ".


Sambil ku bergegas keluar kamar.


Diluar kamar beberapa orang telah berkumpul, Aku tak tau, Apa yang sedang mereka bicarakan.


Wisnu dan Danu tampak duduk bersama para warga. Aku tidak menghiraukan mereka, Aku langsung ke kamar mandi, Whudu' terus mengqodo sholat asyar dan melaksanakan Sholat magrib.


Ketika aku telah selesai sholat maghrib aku baru ingat dengan sosok mahluk dari desa yang Hilang bahwa mereka akan keluar ketika malam telah datang.


Namu Ketika itu aku tidak mendengarkan sedikitpun suara Mahluk itu.. Apakah mereka diisolasi..? Ataukah sudah terpapar penyakit corona semua..?sehingga mereka saling


menjaga jarak..? Layaknya Kamu dan Aku.. Wkwkwkw .


Ah entahlah..! Mungkin juga mereka sedang sidang paripurna..? Ah entahlah, Atau mereka lagi sedang gosipin tetangganya..? Ah entah lah.


Ups.. ingat gosip tidak aka membuat dirimu lebih baik, Malah gosip lah yang membuat rizki mu pergi meninggalkan mu.


Layaknya si pembaca kalau si author gak cepat cepat up novelnya wkwkw. Lanjut kecerita .


Aku pun langsung keluar kamar dan duduk diantara para warga.


Aku melihat kearah pintu rumah jendela dan lain sebagainya telah rapi terkunci dengan semua kunci kunci yang ada.


Bapak Ketua adat memanggil ku.


"Riko..? Duduk sini".


Sambil menunjuk di sebelahnya.


Aku pun duduk tepat di samping ketua adat.


" Besok kalian pagi pagi langsung berangkat ketempat desa yang hilang ya..! "


Ucap Ketua adat.


"Apakah ada yang menjamin teman teman saya bakalan selamat pak..? "


Tanya ku.


"Tidak ada satupun yang sanggup menjamin kalian semua bisa selamat"


Gumam bapak ketua adat.


"Kalau begitu, Biarkan saya sendiri yang berangkat kesana pak , Teman teman saya biarkan lah mereka menunggu kedatangan saya didesa ini, Jika saya selamat maka saya akan kembali jika saya tidak kembali berarti biarkanlah mereka pulang membawa tubuh Rio.".


Jawab Ku.


Bapak Ketua adat menghela napas mendengar perkataan ku.


" Kalau itu mau mu, Ya apa boleh buat.. ".


Ujar ketua adat.


Wisnu dan Danu hanya terdiam didekat istri kepala desa setelah mendengarkan ucapan ku.


Aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan teman ku lagi, Walaupun nyawaku menjadi taruhannya.


Bapak kepala desa pun memulai acarnya.


" Assalamu'alaikum wr.wb. Kepada semuanya yang hadir dirumah saya ini, Sebelum Riko melanjutkan perjalanan marilah kita membacakan tahlil dan Surah yasin, Dengan berharap Riko bisa kembali dengan selamat. karena Sebentar lagi para mahluk itu akan keluar, Kita akan memulai pembacaan Surah yasin dan tahlil, yang akan dipimpin oleh bapak Ustdz, Kepada bapak Ustadz kami persilahkan".


Kami semuapun membaca surah yasin dan tahlil dengan harapan aku bisa kembali dengan selamat.


Aku hanya bermodalkan tekad, Walaupun aku tau, Besar kemungkinan aku tidak akan kembali lagi.


#Bersambung#.

__ADS_1


__ADS_2