
Kami pun melanjutkan perjalanan dengan posisi seperti semula, Aku berada dikanan, Wisnu Berada di Kiri dan Danu pun berada di Tengah.
Jalan yang kami lalui sekarang sedikit bebatuan, Dan sedikit licin.
Udara yang bertambah dingin dan cahaya semakin gelap menandakan bahwa waktu malam semakin mendekat.
Dinginya cuaca rasanya menembus jaket kulit tebal yang aku pakai, Tubuhku mulai sedikit menggigil. Tampak embun embun sudah mulai berdatangan
“Berapa lama lagi kita baru berhenti dan bikin tenda..?”
Tanya wisnu
“Nunggu setengah jam lagi, Sekarang masih jam 16:30 Wib. “
Jawab ku
“Gua udah kedinginan sekali rasanya”
Ujar si wisnu sambil kedinginan
“Nanti coba kita cari cari tempat terbaik untuk mendirikan tenda”
Ucap si Danu
Senter yang kami gunakan masih sangat terang namun aku khawatir senter tersebut tidak bisa bertahan lama, Kebetulan senter yang kami bawa bisa di Charger menggunakan cahaya matahari. Namun karena didalam hutan ini sangat sulit untuk menemukan cahaya matahari. Otomatis kami tidak bisa mencharger Senter tersebut.
“Wis Kita pakai satu senter aja dulu ya..? Gua khawatir senter kita kehanisan daya “
Ucap ku kepada wisnu
“Gak gelap ko kalau pakai satu senter..?”
Jawab si wisnu
“Gak apa apa dari pada kita nanti gak ada penerangan sama sekali”
Jawab ku sambil mematikan senter ku
“Pakai senter yang di elu aja wis”
Ucap ku sambil menunjuk senter wisnu
"Yaudah sekarang pakai senter ini ajalah"
Ucap si Wisnu..
Kami pun berjalan dengan satu senter yang dipegang wisnu, karna senter yang ada padaku sudah ku matikan.
Hari semakin gelap jam tangan ku pun sudah menunjukkan pukul 17:00 Wib
Namun tempat yang tepat belum juga kami temukan.
Senter yang wisnu pegang selalu diarahkan ke samping kiri dan kanan untuk mencari tempat beristirahat sekalian mendirikan tenda.
"Gimana ini ko..? Dari tadi gak ada tempat yang tepat untuk mendirikan tenda ..!"
Gumam Wisnu kebingungan
"Yaudah kita tunggu jam lima tepat kalau tidak ada tempat yang cocok kita terpaksa bikin tempat sendiri"
Jawab ku yang juga sambil melihat ke arah kanan dan kiri
Tidak lama kemudian kami melihat ada tanah kosong yang hanya ada semak semak belukar sedikit, masih bisa untuk di babat pakai kayu dan tempatnya sangat cocok untuk mendirikan tenda
"Alhamdulillah, Akhirnya ada tempat untuk mendirikan tenda"
Ucapku sambil menunjuk kearah tanah kosong.
Wisnu pun menyorotkan cahaya senter yang ia pegang ke arah tanah kosong itu. Kemudian berkata
"Iya ya, cocok itu, dari tadi gak ketemu ketemu"
"Akhirnya"
Ucap danu
Tanah kosongnya sangat cocok untuk mendirikan tenda karena tidak berada di pinggir jalan, sedikit masuk kedalam semak semak, karna jika kita didalam hutan, Usahakan ketika kita mau mendirikan tenda, Jauhi jalan utama, Karena biasanya hewan hewan sekitaran hutan sering lewat di jalan utama.
Tanah kosong yang sedikit kecil mungkin hanya bisa mendirikan tenda itu pun harus di babat sedikit semak semak disampingnya.
Karena lokasinya sedikit masuk ke dalam semak belukar, Aku pun menyuruh wisnu untuk menyenteri jalan ku guna untuk membabat semak belukar menggunakan tongkat ku
"Tolong senterin wis"
"Ok bos"
Jawab wisnu seraya menyenterin ke arah depan ku.
Puuukkkk Pukkk Pukkkkk Pukkkkk
Suara tongkat ku saat membabat semak semak belukar untuk membuat jalan masuk menuju tanah kosong
Tongkat ku, ku ayunkan dengan sangat keras ke kanan dan ke kiri
Puuukkkk Pukkkk Pukkkk
Suara tongkat ketika membabat semak belukar
"Permisi kek.. permisi nek"
Ucap si wisnu
" Nanti syirik Lo bilang gitu"
Jawab ku yang sambil membabat semak belukar
"Nanti kesurupan Lo kalau gak permisi"
Balas si wisnu
"Tapi kata katanya yang harus di ubah, Bilang saja : Wahai ciptaan allah yang berada di sini apapun itu, saya mohon maaf sedikit menghancurkan semak semak ini"
Jawab ku
__ADS_1
"Oh gtu toh "
Balas wisnu
"Yaudah ko lanjutin aja"
Ujar si Danu
Hanya beberapa meter aku membabat semak semak untuk memasuki tanah kosong tersebut.
"Kita sholat dulu ya baru mendirikan tenda"
Ucapku sambil meletakkan seluruh bawaanku ke Tanah.
"Ahhhh akhirnya bisa istirahat"
Ujar si Danu yang langsung duduk ke tanah
"Lo sholat sendiri dulu ko, Gua capek kali rasanya"
Jawab si Wisnu yang ikut juga duduk di samping si Danu.
"Yaudah, gua sholat dulu ya, gua belum bisa istirahat jika belum sholat"
Ucap ku sambil mengambil sajadah kecil didalam ransel ku, Karena wudhu ku masih ada maka aku tidak susah lagi mencari air untuk wudhu
Adakah yang sama dengan ku..? Jika belum sholat maka melakukan aktivitas lainya terasa ada yang mengganjal jika belum sholat.
Jika terpaksa sebelum sholat pasti pekerjaan tersebut tidak sempurna.
Sajadah kecil sudah berada di tangan kanan ku, Aku pun bersiap siap mencari arah kiblat, setelah itu akupun membentangkan sajadah tersebut kemudian berdiri tegap diatasnya
Bersiap akan berinteraksi dengan maha pencipta, tenangkan hati, Mencoba untuk khusuk.
Suasana yang hening,hanya terdengar irama hewan hewan kecil yang berada didalam hutan menciptakan suasana sholat yang sangat indah.
Sunyi sepi ditambah cahaya senja yang sudah hampir gelap, hanya saja hawa dingin yang membuat badan ku sedikit menggigil.
Aku pun mulai melaksanakan sholat dengan menetapkan niat didalam hati kemudian mengucapkan Takbiratul ihrom
"Allahuakbar"
Ketika lafadz allahuakbar telah terucapkan maka berinteraksi dengan maha pencita telah dimulai dengan perasaan yang sangat nikmat.
Tujuh menit telah berlalu aku melaksanakan sholat akhirnya rukun terakhir pun terucap oleh lisan ku
"Assalamu'alaikum"
Sambil menoleh ke kana
"Assalamu'alaikum"
Kiri
.tanganku pun mengusap wajah yang menandakan sholat telah berakhir.
Ketika aku melihat ke arah Danu dan Wisnu ternyata mereka sudah baring ditanah, dan sudah terlelap tidur.
Pantas saja tidak ada suara sedikit pun ketika aku sholat, ternyata mereka telah diluar alam sadar .
Ucap ku sambil menggoyangkan kaki wisnu yang sedang tidur
Namun tak ada juga tanda tanda kehidupan kedua nya
"Dan dan"
Ucapku kepada danu sambil menggoyangkan kaki Danu
Namun si danu tak juga kunjung bangun
"Sepertinya mereka sangat lelah sekali"
Ucapku dengan sangat pelan.
Karena Danu dan Wisnu terlelap tidur jadi aku sendirian yang akan membangun tenda.
Ku ambil tenda di ransel ku, yang masih terbungkus wadahnya.
Aku pun mengeluarkan bagian bagian dari tenda, tenda terbagi menjadi lima yaitu flysheet, layer bawah, frame, pasak dan tali.
Karna aku sudah biasa daki gunung, aku tidak sulit untuk mendirikan tenda walaupun sendiri.
Langkah pertama cukup bentangkan tenda ke tanah lalu sambungkan seluruh frame dengan baik, karna kokohnya sebuah tenda tergantung baiknya framenya, Setelah framenya terpasang maka masukkan frame tersebut ke dalam selubung luar tenda setelah itu dirikan tenda dan tancapkan pasak pada ujung ujung frame agar tenda tetap kokoh walaupun di terjang angin yang sangat kuat kecuali angin ****** beliung.
Tak memakan waktu yang lama, hanya cukup lima belas menit untuk aku mendirikan tenda,tenda pun sudah berdiri kokoh.
" Alhamdulillah akhirnya tenda sudah berdiri"
Ucap ku sambil meneput kedua telapak tangan untuk menghilangkan tanah dan debu yang ada pada telapak tangaku.
Setelah tenda siap, Aku pun kembali membangunkan Danu dan Wisnu untuk pindah kedalam tenda.
"Wisnuuuuuu Danuuuuu Tenda sudah siap, pindah ke dalam kalian biar aman tidurnya"
Ujar ku sambil menggoyangkan badan danu dan wisnu.
"Hmmmmmm "
Saut wisnu sambil menggeliatkan badanya.
Danu pun membuka mata lalu bertanya
"Sama siapa lu dirikan tenda"
Sambil mengusapkan matanya
Aku pun menjawab
"Sendiri aja Dan, Karena gua liat kalian sangat pulas sekali tidurnya"
Danu dan Wisnu pun bangun, kemudian wisnu berkata
"Kenapa lu gak bangunin kami berdua"
__ADS_1
Dengan suara yang sedikit berat karena baru bangun dari tidur.
"Kalian tidurnya kayak kebo, gimana mau bangun"
Jawab ku
"Yaudah yuklah masuk udah gelap sekali"
Ujar si wisnu sambil mengangkat ranselnya yang dia letakkan disamping kirinya.
Srreeeeeeeeeettttttttttt
Suara danu yang sedang membuka resleting pintu tenda
Kemudian Danu pun masuk pertama kali sambil membawa tas ranselnya.
"Gua tidur ditengah tengah"
Ucap si wisnu yang masih diluar tenda bersama ku.
Sepertinya dia khawatir mendapatkan tempat di pinggir, karena si danu yang pertama kali masuk tenda, Danu yang berada didalam pu langsung menyaut ucapan wisnu.
"Enak aja lu, Gua yang pertama kali masuk, Lu di pinggirlah".
" Yaelah Dan, Gua gak berani kalau di pinggir".
Ucap wisnu yang sedang memasuki tenda.
"Geser lu kepinggir, Gua di tengah"
Ucap si wisnu yang sudah berada didalam tenda sambil menggeser bahu danu .
" Gini dah kalau punya teman yang sama sama penakut".
Jawab si Danu yang pasrah pindah kepinggir.
Aku hanya melihat perdebatan kecil mereka.
Setelah itu, Aku pun ikut masuk tenda dengan membawa ransel ku.
Aku mendapatkan bagian di sebelah kiri, Danu berada di sebelah kanan sementara wisnu berada di tengah tengah.
Aku pun meletakan ransel ku tepat di arah kepala ku karena sekalian ku jadikan bantal.
Suasana dingin, ditambah gelap gulita, tidak ada cahaya matahari sedikit pun padahal masih jam lima sore.
"Senter ini kita tetap hidupkan atau kita matikan"
Ucap si Wisnu yang sudah baring sambil menunjukkan senter yang ia pegang.
"Nanti aja kita matikan kalau sudah mau tidur"
Ucap ku sambil ikut berbaring.
Aku, Danu dan Wisnu sekarang sudah terbaring semua, Walaupun kami semua memakai jaket namun udara dingin masih tembus ke dalam kulit kami.
"Gua ambil kain sarung dulu, Sumoah dingin sekali"
Ucap wisnu sambil duduk untuk membuka ransel yang sudah ia bantali.
"Gua juga"
Ucap si Danu sambil duduk.
Cuaca memang sangat dingin d
Di hutan desa yang hilang, tidak tau berapa derajat celcius. Aku pun terpaksa mengikuti Danu dan Wisnu.
Setelah kami itu kamipun berbaring kembali dengan berbantalkan ransel masing masing.
Niat kami hanya untuk istirahat sebentar namun karena kecapean, gelap dan dingin membuat kami tertidur pulas.
Memang tidur ketika capek sangat nikmat rasanya, saking nikmatnya kami tak menghiraukan hutan seram yang sedang kami tempati sekarang.
Dan kamipun tertidur pulas didalam hutan angker milik desa yang hilang.
Setelah beberapa jam kemudian.
Didalam nyinyaknya tidur ku, Aku kembali bermimpi yang sangat menakutkan layaknya mimpi ketika aku didalam pesawat waktu itu..
Mimpi itu kembali terulang.
Didalam mimpi tersebut aku seperti berada didalam desa kecil, Aku kembali bertemu dengan kakek seram yang misterius.
Kakek yang sudah seperti berumur delapan puluh tahun, Berambut putih, berjenggot putih dan memakai pakaian serba kuning.
Kakek itu berjalan menuju ku dengan sangat tertatih tatih, Selangkah demi selangkah mendekati ku, Lalu kakek itu berdiri didepan ku kemudian berkata dengan suara yang seram dan tertatih tatih .
"Naaakkkkkkkkk Jangan Kau lanjutkan perjalanan ini"
ketika aku mendengarkan kakek itu berbicara tidak tau kenapa lisan ku tidak bisa bergerak, Aku benar benar tidak bisa bersuara.
Lidahku layaknya besi yang tidak bisa digerakkan, Bukan hanya lidah ku tapi seluruh tubuh ku pun tidak bisa digerakkan
Aku sangat ingin bertanya kepada kakek tersebut namun sungguh tidak bisa.
Kemudian kakek yang didepan ku itu berteriak dengan sangat kuat
"Pulaaaaaaangggggg lahhh naaakk"
Suara kakek tersebut membuat tubuhku bergetar ketakutann, namun lagi lagi aku tidak bisa berkata kata.
Nada suara kakek itu sangatlah menakutkan.
Aku tidak mengerti maksud kakek tersebut.
Kakek itu berusaha menarik ku pergi, Namun tubuhku sudah seperti patung yang tidak bisa bergerak.
Aku sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, tangan kakek itu terasa sangat dingin.
"Apakah kakek ini mayat"
Ucapku didalam hati.
__ADS_1
#bersambung#
Lihat ke bawah, Sudah dilihat? Kalau sudah, tekan tombol like😁, terimakasih sudah menekan tombol like