
Suasana hutan yang masih asri membuat setiap mata yang memandang akan menjadi terpesona.
Suhu didalam hutan sangatlah jauh berbeda dari pada diluar hutan, Didalam hutan Udaranya sangat segar sekali, Paru paru dunia Adalah sebuah Hutan, Jika hutan di hancurkan semua, maka paru paru dunia akan menghilang.
Perjalanan kami baru saja sekitaran 39 meter dari Awal hutan, Tapi kami sudah di suguhi oleh pemandangan sebuah pohon raksasa yang mungkin umurnya sudah ratusan tahun.
Akar akar yang bergelantungan di pohon itu membuat suasana yang pohon bertambah indah.
Pohon yang sudah tua itu tampak begitu besar, Mungkin berdiameter 2,46 dan Tinggi sekitar 35 Meter.
Bapak Arif menjelaskan tentang pohon itu dengan sangat rinci.
"Ini kalau disini namanya Pohon Bulin , Salah satu kayu terbesar di dunia, Dan mempunyai kualitas tinggi, Kayu ini tahan terhadap berbagai macam serangga makanya warga banyak menggunakan untuk bahan pembuatan rumah, Seperti Tiang Rumah dan lain lain"
Rio disampingku tampak asik mendengarkan keterangan dari Bapak Arif.
"Pohon Bulin ya Pak?, Kalau bahasa Indonesia nya apa Pak?"
Tanya Rio kepada Bapak Arif.
Bapak Arif pun langsung menerangkan panjang lebar lagi tentang pohon itu.
"Pohon ini kalau bahasa latinnya adalah
Eusideroxylon Zwageri, Pohon ini mendapatkan deretan pohon raksasa, Jika di Indonesia dinamakan Pohon Ulin,
Populasinya biasanya di daerah Sumatera dan Kalimantan"
"Oh gitu ya Pak?, Sekarang baru jelas"
Ucap Rio.
Kami berlima berada di samping pohon itu, Sesekali kami mengambil gambar, Siapa tau diperlukan untuk dokumentasinya nanti.
Kemungkinan besar didepan Kami masih banyak keindahan keindahan yang menakjubkan.
Burung burung yang sudah sulit di cari seperti Burung Murai Batu dan Kacer masih banyak sekali disana.
Terdengar di atas atas kami suara kicauan burung saling bersaut sautan, Hewan hewan buas pun masih banyak didalam sana menurut informasi dari Bapak Arif.
Bapak Arif selalu memberikan arahannya selama di perjalanan.
Satu jam sudah berlangsung, Jalan didalam hutan semakin bertambah kecil, Bahkan Kami harus membuat jalan sendiri saking tidak ada jalanya.
Untung saja bapak Arif adalah Salah satu warga yang hebat tentang permasalahan didalam hutan, Dia tau semua seluk beluk hutan, Dan dimana saja letak letak perbatasan dengan Hutan Larangan itu.
Sesekali kami berhenti untuk menghilangkan letih sambil beristirahat, Karna perjalanan lumayan jauh, Jadi kami harus bisa mengkondisikan stamina tubuh.
Bapak Arif yang berada didepan terus saja berjalan tampa merasa letih, Mungkin karna sudah terbiasa.
Di paling belakang tampak Wisnu yang sudah kelihatan lemas.
Sekarang posisi kami sudah lumayan jauh didalam hutan.
Ketika sedang berjalan Bapak Arif tiba tiba menyuruh berhenti.
"Stoooopp, Jangan ada yang bergerak dan bersuara"
Ucap Bapak Arif.
Seketika Kami semua tidak bergerak bagaikan patung mendengar perintah dari Bapak Arif.
"Jangan ada yang bergerak"
Ucap Bapak Arif dengan sangat pelan.
Didalam hati ku bertanya tanya
"Ada apakah ini?, Kenapa Kami tidak boleh bergerak"
Sekitaran 2 menit lamanya Kami menjadi patung, Akhirnya Kami diperbolehkan untuk bergerak.
"Huuuuuuu"
__ADS_1
Ucap Wisnu merasa lega bisa bergerak lagi.
"Ada apa Pak?"
Tanya ku kepada bapak Arif.
"Didepan kita tadi ada Macan, Di hutan ini masih banyak, Macan, Beruang, Ular besar"
Jawab bapak Arif, Sambil memberi aba aba untuk duduk.
Kamipun duduk dibawah pohon kecil.
"Gimana caranya bapak bisa tau?"
Tanya si Danu.
"Bapak dulu sering berburu, Makanya tau suaranya macan"
Ucap bapak Arif.
Ternyata bapak Arif adalah seseorang yang ahli dalam berburu, Tanda tanda bahaya sudah diketahuinya semua, Pantas saja bapak Gilang memberikan kepercayaan kepada bapak Arif untuk mengawal Kami masuk kedalam hutan.
Kami pun mengambil sedikit makanan ringan yang ada didalam ransel Kami.
Aku hanya membawa beberapa Roti saja, Melihat bapak Arif yang tidak membawa bekal sama sekali, Aku langsung memberikan sepotong Roti yang berada didalam Ransel ku.
"Ini Pak, Buat mengganjal perut"
Ucap ku sambil memberikan sepotong Roti kepada Bapak Arif.
Bapak Arif pun mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.
"Terimokasih Ko"
Sambil memakan sepotong roti yang Ku berikan, Bapak Arif menceritakan kenapa Kami dilarang memakai Baju kuning ketika masuk kedalam hutan.
"Duluu..!!, Ada beberapa orang yang berburu didalam hutan, Salah satu diantara mereka ada yang memakai baju kuning.
Sa'at diperjalanan pulang, Tiba tiba orang yang memakai baju kuning ini menghilang begitu saja.
Yang anehnya, Orang tersebut tidak ditemukan jijaknya sama sekali ".
Rio kemudian bertanya.
" Apakah orang itu dimakan binatang buas Pak?".
Seketika bapak Arif menjawab
"Tidak, Karna jika dimakan binatang buas, Pasti ditemukan sisa badan badanya"
Kami mendengarkan dengan seksama, Penjelasan dari bapak Arif tersebut, Kemudian Dia melanjutkan ceritanya.
"Kejadian itu tidak hanya satu kali, Tapi sudah berkali kali, Ada lagi orang yang masuk kedalam hutan hanya ingin mencari kayu bakar tiba tiba menghilang,
Lagi lagi orang yang hilang pasti memakai baju kuning.
Awalnya warga beranggapan bahwa itu hanyalah kebetulan.
Sampai pada suatu kejadian, Ada anak anak sekolahan yang melaksanakan kemping kedalam Hutan, Salah satu regu kamping tersebut memakai pakaian kuning, Semua anak anak itu ada 12 orang didalam regu, Tidak satupun yang berhasil selamat dan di temukan.
Padahal Mereka sudah dikawal oleh petugas petugas pramuka, Dari sanalah Ketua adat menerapkan peraturan tersebut, Untuk mengantisifasi kejadian yang tidak di inginka".
Kami merasa takut mendengarkan cerita dari bapak Arif, Bagaimana mungkin Semua orang yang hilang didalam hutan memakai baju warna kuning.
Wisnu yang sangat menyukai warna kuning langsung menjadi ketakutan setelah mendengarkan cerita dari bapak Arif tadi.
Danu yang berada disampingku tampak biasa saja.
"Lo gak Takut Dan?"
Tanya si Wisnu.
"Kan Gua gak ada pakaian kuning, Jadi buat apa Gua takut"
__ADS_1
Ucap Danu.
Wisnu pun menjawab
"Iya juga ya, Gua yang paling banyak baju kuningnya, Gimana nantinya jika Gua gak
Ingat tentang larangan itu.?"
"Berarti Lo hilang"
Ucap simple oleh Danu.
"Hussss!!!, Gak boleh Gitu, Berkatalah yang baik baik saja, Perkataan adalah Doa"
Ucap pak Arif.
"Iya tu, Kalian ni sembarangan kalau ngomong, Kita kan Lagi didalam Hutan"
Gumam ku sambil menepuk pundak Danu.
"Heheheh maaf, Cuma mau nakutin Wisnu aja pak"
"Hutan yang dilarang dimasuki itu di sebelah barat kalian, Sekitar 300 meter lagi dari sini"
Ucap bapak Arif.
"Itu kenapa dilarang pak?"
Tanya Danu.
Bapak Arif diam seketika dan tidak berkata apa apa.
Kemudian Dia berkata.
"Kalau masalah itu jangan tanyakan kepada bapak tapi tanyakanlah kepada ketua adat".
" Iya pak, Nanti saja Kami tanyakan kepada Bapak Gilang"
Jawab Danu.
"Gimana?, Kita lanjutkan perjalanan lagi?"
Tanya Bapak Arif.
"Ayo pak, Udah selsai istirahatnya, Biar cepat sampai juga" Jawab Danu.
"Siap Pak"
Ucap ku sambil berdiri.
Setelah itu kami melanjutkan perjalan masuk kedalam hutan dan Bertambah jauh sekali.
Di tengah tengah perjalanan kami, Tiba tiba Rio berteriak kesakitan.
"Aduuuuuhhhhh, Apa ni yang ngigit Gua?"
Sambil terduduk dan membuka sepatunya.
Bapak Arif mendengar teriakan Rio tadi langsung sontak melihat Kaki Rio, Setelah Di cek ternyata ada kelabang didalam sepatunya Rio.
"Kalian Ada obat obat tan?"
Tanya bapak Arif sambil memegang kaki Rio.
"Ada pak"
Jawab ku Sambil memberikan obat pereda rasa sakit.
"Kita terpaksa harus istirahat sampai Rio enakan"
Ucap bapak Arif.
#Bersambung#
__ADS_1
Terimakasih untuk teman teman yang selalu memberikan semangat