
Keesokan paginya, seperti biasa mak Rebi sudah memulai aktivitas nya.Mak Rebi mulai memasak makanan yang nanti akan dirinya jual. Warung mak Rebi tak begitu besar, sehingga dirinya selama ini tak menggunakan jasa orang lain.
Arumi yang sebenarnya biasa bangun pagi jika di kampung nya, entah mengapa dirinya kini malah masih bergelut dalam mimpi. Kemungkinan Arumi kecapean karena telah menempuh perjalanan jauh. Hal itu pun dapat di maklumi oleh mak Rebi.
Pukul 06.30 warung mak Rebi sudah buka seperti biasanya. Tak begitu ramai pembeli, mungkin karena disebabkan warung mak Rebi berada di gang yang sempit. Atau karena masakan mak Rebi yang kurang sedap. Alasannya tidak tahu pasti.
Arumi bangun dan betapa terkejutnya dirinya karena telah bangun kesiangan di hari pertamanya tinggal di Jakarta.
Arumi langsung bangun begitu saja dan dengan asal dirinya mengucir kuda rambutnya. Arumi pun bergegas keluar dari kamarnya. Dirinya begitu canggung, bagaimana nanti dia akan bertemu dengan mak Rebi. Arumi pun berinisiatif untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Namun pada saat dirinya didapur,dapur pun sudah terlihat rapi. Cucian piring pun sudah tiada, saat dirinya hendak menyapu lantai. Lantai pun juga sudah terlihat bersih dan mengkilat. Arumi pun memutuskan untuk mencuci pakaian, dan ternyata pakaian-pakaian tersebut sudah ada di jemuran samping rumah mak Rebi termasuk juga dengan pakaian nya yang dirinya kenakan semalam. Semua pekerjaan rumah sudah di kerjakan oleh mak Rebi. Arumi pun merasa bersalah, karena telah bangun kesiangan.
Akhirnya Arumi putuskan untuk mandi, tidak lupa dirinya membawa pakaiannya sekalian untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi.
Setelah selesai, Arumi pun menemui mak Rebi di warung depan rumah.
"permisi mak,maaf kalau Rumi bangun kesiangan. " ucap Arumi dengan raut kecewa.
Mak Rebi yang melihat hal itu pun, bisa melihat ketulusan dari Arumi.
"kenapa harus minta maaf nak,kan kamu tidak salah. " jawab mak Rebi.
"tapi mak, Arumi bangun kesiangan dan tak bisa membantu mak Rebi. " kata Arumi sedih.
"sudah gak papa, jangan di pikirkan. Mak tahu kalau kamu kecapean, makanya kamu bangun kesiangan. " jawab mak Rebi.
"Arumi janji, Arumi akan bangun lebih awal, janji. " ucap Arumi mantap.
"iya, iya, ya sudah sana kamu sarapan dulu gih. Nanti kamu bantu mak, " ujar mak Rebi kepada Arumi.
"i... iya mak,baiklah. " jawab Arumi terbata.
"kamu mau makan apa...? sana ambil sendiri lauknya. " ucap mak Rebi.
"wah kelihatannya enak-enak nih mak sayurnya. " kata Arumi saat melihat sayur-mayur yang di hidangkan berderetan oleh mak Rebi di etalase warung.
Arumi pun mengambil sayur lodeh dan sambal tomat sekadarnya,dirinya tahu kalau semua makanan yang ada di hadapannya itu adalah dagangan.Jadi dirinya pikir,tidak ingin membuat mak Rebi bangkrut.Baginya sudah diperbolehkan untuk tinggal dirumah mak Rebi sudah untung,apalagi dikasih makan.Namun saat mak Rebi tahu kalau Arumi hanya mengambil sayur lodeh dan sambal tomat, mak Rebi pun berkata.
"kok cuma sayur lodeh dan sambal tomat, mana lauknya...? " ucap mak Rebi.
"tak akan bangkrut,jika aku memberimu makan. Ini makanlah...!! " ucap mak Rebi lagi sembari memberikan Arumi sepotong ayam.
"tapi mak, inikan untuk dijual. Sayang kalau saya makan, nanti mak Rebi akan rugi. " jawab Arumi.
__ADS_1
"siapa bilang mak rugi. Mak sudah untung banyak kok...! kalau kamu takut mak rugi, kamu bisa saja menggantinya nanti kalau kamu sudah punya uang. " ucap mak Rebi kesal.
"tapi mak, Arumi kan belum dapat kerjaan. Bagaimana Arumi bisa mendapatkan uang...? " jawab Arumi bingung.
"mulai saat ini,kamu mau bekerja di warung mak..? Dan sebagai bayarannya,kamu bisa tinggal di rumah mak, makan gratis di rumah mak, sesukamu mau makan apa, yang jelas kalau bisa yang sudah ada, jadi biar gak mubazir. " ucap mak Rebi.
"kamu juga akan mak gaji, walaupun tidak seberapa uang nya. " ucap mak Rebi lagi.
"terimakasih mak,Arumi bingung harus dengan apa Arumi membalas kebaikan mak Rebi. Mak Rebi adalah malaikat Arumi. " ucap Arumi bahagia dan meneteskan sebulir air mata.
"sudah makanlah keburu dingin. " ucap mak Rebi memperingatkan Arumi.
"iya mak, Arumi makan ya. " jawab Arumi sembari memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut nya.
"hmmm, enak... " puji Arumi memuji masakan mak Rebi.
Mak Rebi yang melihat Arumi pun hanya tersenyum.
"gadis ini masih sangat polos. Baik hati dan tidak mau merepotkan orang lain. " batin mak Rebi dalam hati.
"mak Rebi tidak ikut makan...? " tanya Arumi di tengah makan nya.
"pelan-pelan makan nya,jangan terburu-buru. " kata mak Rebi lagi.
Setelah selesai makan, Arumi pun segera mencuci piring,sendok dan gelas yang ia gunakan untuk makan dan minum. Arumi pun duduk di sebelah mak Rebi.
"mak Rebi buka warung nya jam berapa tadi...? " tanya Arumi.
"jam setengah tujuh. " jawab singkat mak Rebi.
"ini sudah pukul 10.55 WIB. " ucap Arumi dengan sedikit takut kalau mak Rebi tersinggung oleh ucapan nya.
"katakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan... " ucap mak Rebi tiba-tiba setelah melihat begitu banyak pertanyaan di wajah Arumi.
"masakan mak Rebi enak, namun kenapa tidak banyak pembeli mak. eh... maaf kalau perkataan Arumi menyinggung perasaan mak Rebi. " ucap Arumi dengan ragu.
Mak Rebi pun memahami ucapan dari Arumi. Mak Rebi akhirnya menceritakan masalah yang sebenarnya.
"dulu warung ini sangatlah ramai,namun pada saat mak.... " mak Rebi pun menggantungkan ucapan nya.
"pada saat apa mak...? " tanya Arumi penasaran.
__ADS_1
"ya pada saat anak mak yang mau membawa mak untuk tinggal bersamanya, pada saat itulah warung mak menjadi sepi seperti ini. " ucap mak Rebi sembari berlinang air mata.
Arumi yang melihat mak Rebi menangis pun berkata.
"apa hubungannya dengan anak mak...? " tanya Arumi tak paham.
"dialah yang menyuruh orang-orang di sekitar sini untuk tidak membeli dagangan mak. Dia juga yang telah membayar orang-orang untuk menjauhi mak. Semua itu dirinya lakukan agar mak tidak betah dan bertahan hidup di rumah ini. " ucap mak Rebi.
"tapi kenapa mak...? kenapa sampai begitu...? " tanya Arumi lagi.
"motif nya cuma satu,supaya mak mau tinggal dirumahnya. " Ujar mak Rebi.
"hanya ingin mak tinggal dengannya....?" tanya Arumi kaget mendengar ucapan dari mak Rebi.
"iya." jawab mak Rebi singkat.
"kenapa mak Rebi tidak tinggal saja dengannya mak...? " tanya Arumi kepada mak Rebi heran.
"bukan nya tidak mau tinggal dengannya,namun mak hanya ingin mempertahankan warung ini Rumi. Karena warung inilah mak bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari mak dan bisa menyekolahkan anak-anak mak sampai sukses seperti sekarang ini. " jawab mak Rebi.
Arumi tidak paham akan arah pemikiran mak Rebi.Namun dirinya dapat mengambil kesimpulan, kalau mak Rebi tidak mau meninggalkan tempat dimana dirinya mencari rezeki.
"maafkan Rumi mak, kalau Rumi membuat mak Rebi sedih. " ucap Arumi meminta maaf.
"kamu ini, lagi-lagi minta maaf tanpa membuat kesalahan. " ucap mak Rebi dengan tersenyum.
"bagaimana kalau Arumi bantu mak untuk menjual nya dengan cara berkeliling komplek. Sayur mayur ini kita kemas dalam plastik, bagaimana mak...? " ucap Arumi menjabarkan ide nya kepada mak Rebi.
"boleh juga untuk dicoba, nak. " ucap mak Rebi tersenyum.
Arumi pun ikut tersenyum dan dengan semangat Arumi membantu mak Rebi untuk membungkusi sayur mayur tersebut untuk dia jual keliling komplek.
Di tempat lain, dibelahan negara Gingseng.
"satu minggu lagi kita akan ke negara Indonesia. Kamu sudah mencari orang asli Jawa untuk memasak...? " tanya Han Tae Tsu.
"sudah tuan, " ucap Park Lee Min.
"Indonesia,,, " kata Han Tae Tsu dengan menyeringai.
"I'm coming, " ucap Han Tae Tsu lagi.
__ADS_1