DI CINTAI OPPA

DI CINTAI OPPA
ARIMBI


__ADS_3

"apa maksud tuan Han...? " jawab Arumi kepo.


Sesaat Han Tae Tsu pun terdiam. Dirinya mencerna ucapan Arumi. Dia pun akhirnya turun dari rumah pohon tersebut.


Han Tae Tsu berjalan mendekati Arumi yang nampak kebingungan itu.


"ARIMBI." ucap Han Tae Tsu pelan.


"a... apa...? Arimbi...? siapa dia tuan Han...? " tanya Arumi kemudian.


Han Tae Tsu pun menarik nafasnya dan kemudian membuang nafasnya sesaat.


"dia adalah Arimbi. Teman masa kecilku." ucap Han Tae Tsu lesu.


"o." jawab Arumi singkat.


Han Tae Tsu pun kemudian menceritakan segala hal tentang Arimbi kepada Arumi.


Sedangkan Arumi hanya mendengarkan nya dengan seksama. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Mereka berdua pun memutuskan untuk menyudahi obrolan mereka, dan masuk ke dalam rumah.


Sembari menunggu jemputan dari Park Lee Min. Han Tae Tsu dan Arumi duduk di depan televisi. Dengan rasa canggung kedua nya berusaha untuk setenang mungkin.


Kurang lebih satu jam kemudian,Park Lee Min pun tiba. Mereka pun pergi meninggalkan villa tersebut.


Tak ada sepatah kata apapun yang terdengar di dalam mobil,hanya suara deru mesin mobil. Hening... itulah yang terjadi. Sesekali Han Tae Tsu melirik Arumi. Sedangkan Arumi, dia malah menikmati pemandangan malam hari. Menyaksikan kelap-kelip lampu di sepanjang jalan. Park Lee Min sesekali melirik ke arah spion mobil. Dia melihat, hal yang aneh tentang tuan nya. Karena tak biasa nya Park Lee Min melihat Han Tae Tsu memperhatikan seorang wanita,setelah sekian lama.


Park Lee Min teringat kembali tentang masa lalu tuan nya itu. Waktu itu.....


Flashback on....

__ADS_1


Seorang gadis yang berumur kisaran dua belas tahunan dengan rambut yang terurai menangis sesenggukan di depan batu nisan. Batu nisan itu bertuliskan nama seorang wanita. Yang tidak lain adalah ibu dari sang gadis.


"hiks... ibu, jangan tinggalkan Arimbi ibu. Nanti Arimbi sendirian hiks.... Arimbi mau ikut ibu... hiks.... hiks... hiks... " ucap nya ditengah sesenggukan nya.


"Arimbi ikut ayah ya,ayah janji akan selalu menjaga Arimbi. " ucap seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah ayah Arimbi.


"ayah jahat...! ayah sudah tidak lagi sayang dengan Arimbi dan ibu. Gara-gara ayah, ibu meninggal... hiks... hiks...! " jawab Arimbi sembari menatap ayah nya tidak suka.


"sayang,ibu meninggal karena sakit nak. Bukan karena ayah." ujar sang ayah.


"ayah bohong...!! " seru Arimbi.


Seorang wanita pun mendekati ayah Arimbi, dan berkata.


"sudah aku bilang mas.Tinggalkan saja dia disini,anak seperti dia itu pasti kelak akan membangkang. Dari kecil saja sudah terlihat jelas,aku heran saja mas. Sifatnya jauh berbeda seperti kamu, atau jangan-jangan dia bukan anak kamu mas...?! Pasti dia anak dari selingkuhan istri kamu itu yang sudah meninggal. " ucap seorang wanita muda.


"tante....!! jangan pernah hina ibu Arimbi...!ibu Arimbi orang baik,dan ibu tidak pernah selingkuh dengan siapa pun. " jawab Arimbi marah,karena wanita itu selalu menghina ibu nya.


Sedangkan sang ayah hanya diam saja.


"kalau kamu tidak bisa mengurus anakmu,biar aku saja yang.... " ucapan wanita itu terpaksa terhenti, karena ada seseorang yang menegurnya.


"maaf nyonya. Bisakah anda tidak berteriak-riak...! ini pemakaman...! " kata seseorang itu.


"i... iya... " jawab wanita itu singkat sembari menciut. Karena orang yang sedang menegurnya adalah pemilik perusahaan dimana dirinya bekerja.


"nyonya.!" serunya sembari membungkukkan badan nya.


"anda mengenal saya...? " ucap orang tersebut sembari menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"sa... saya Ririn nyonya. " jawab nya terbata.


"Ririn...?siapa...? " kata wanita itu bingung,karena setahu nya. Dirinya tidak pernah mengenal orang yang bernama Ririn.


"saya karyawan di perusahaan anda nyonya. " jawab Ririn yang tidak lain adalah selingkuhan ayah Arimbi.


"oh." jawab wanita itu dan bergegas pergi dari sana. Diikuti dua anak kecil yang usia nya tidak jauh berbeda dengan Arimbi. Di belakang nya lagi ada beberapa orang yang memakai pakaian setelan jas hitam. Mereka adalah penjaga nyonya besar dan tuan muda kecil tersebut.


"kenapa dia membentak gadis kecil itu. Kasihan anak itu...! " batin nyonya besar.


Langkah nya pun terhenti. Dan kembali menoleh ke belakang. Nyonya besar pun kembali menghampiri Ririn,wanita yang mengaku kerja di perusahaan nya.


"jika kau tidak menyukai anak ini,bolehkah aku merawat nya...? " ungkap nyonya besar kepada Ririn.


Wajah Ririn pun langsung bersinar,dirinya seakan tidak mau membuang-buang kesempatan lagi. Dengan segera dirinya pun bilang.


"silahkan nyonya,saya akan sangat berterima kasih sekali kepada nyonya besar karena mau merawat nya. Kasihan dia nyonya besar,ibu telah meninggal. Sedangkan ayah nya akan menikahi saya. " jawab Ririn tanpa rasa malu maupun bersalah sama sekali.


"cih... dasar wanita ular. " batin nyonya besar.


Sedangkan sang ayah,dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu takut kepada Ririn. Karena dia tahu, jika dirinya tidak menuruti ucapan Ririn. Nyawa anak nya dan dirinya akan celaka,seperti nasib yang dialami oleh sang istri.


Arimbi yang melihat ayah nya, hanya terdiam. Dia pun bersuara...


"terimakasih nyonya besar karena mau menampung saya. " jawab nya mantap.


Dia sadar,jika sang ayah tidak akan menahannya. Karena Arimbi tahu,ayahnya sangat mencintai Ririn. Bahkan ketika ibunya sedang sekarat di rumah sakit,ayah nya tanpa menjenguk sang ibu. Semua Arimbi lakukan dengan sendiri. Termasuk melunasi pembayaran perawatan ibu nya. Arimbi bersyukur setidaknya rumah sakit memberi keringanan kepada Arimbi.


Kedua anak laki-laki yang seumuran dengan nya pun merasa senang. Karena sebenarnya mereka lah yang mengusulkan untuk mengajak Arimbi.

__ADS_1


Setelah semua terurus,Arimbi pun menjadi keluarga nyonya besar. Bukan berarti menjadi anak nya, melainkan menjadi tangan kanan nyonya besar kelak.


Waktu demi waktu mereka bertiga lalui bersama.Menjadikan nya semakin dekat,Park Lee Min, Han Tae Tsu dan Arimbi. Arimbi tumbuh menjadi gadis cantik walaupun bersifat keras dan angkuh. Semua terjadi karena masa lalu nya yang kelam, sehingga menjadikan nya menjadi seperti itu. Arimbi tidak ingin terlihat lemah di depan lawan jenisnya. Karena dirinya tidak mau mengalami nasib yang sama seperti ibunya.


__ADS_2