
"dimana Herman...?!! " tanya bulek Tuti dengan nada tinggi.
"mas... mas Herman ada di kamarnya bulek. " jawab Arumi terbata.
Dengan segera bulek Tuti melirik ke tempat dimana letak jus buah tadi berada. Dan disana dirinya tidak menemukan gelas yang berisi jus buah tersebut. Dengan tajam bulek Tuti menatap Arumi dan berkata.
"siapa yang meminum jus buah tadi...?!! " tanya bulek Tuti dengan nada tak bersahabat kepada Arumi.
"mas Herman yang telah meminumnya bulek. " jawab Arumi jujur.
"apa...?? " kata bulek Tuti dengan kagetnya.
"kamu benar-benar sudah berani membantah ucapan saya, hah...! " ucap bulek Tuti lagi dengan amarahnya.
plaaakkk.... satu tamparan lolos dari tangan bulek Tuti di pipi Arumi.
"aauuuuhhh, sakit bulek. " jawab Arumi sembari memegangi pipinya yang telah di tampar oleh bulek Tuti.
"sakit kamu bilang...! hah....!!?kalau sampai Herman kenapa-napa, kamulah yang harus tanggung jawab. " ucap bulek Tuti dengan emosi nya yang memuncak.
"apa maksud bulek...?? " jawab Arumi bingung.
Dengan marah bulek Tuti langsung pergi menemui Herman yang berada di dalam kamarnya(kamar Herman).
"apa maksud bulek Tuti...? dan ada apa dengan mas Herman...? Ya Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu sama mas Herman, lindungilah beliau Ya Tuhan. " ucap Arumi dalam hati.
"Herman... Herman...!! " teriak bulek Tuti dengan cemas nya.
Herman yang tengah berada di dalam kamarnya pun beranjak ke luar kamar.
"ada apa bulek...? " tanya Herman heran karena bulek Tuti berteriak-riak.
"Herman... Herman... kamu... kamu tidak kenapa-napa bukan...? a... ada yang sakit tidak...?? " tanya bulek Tuti dengan cemas nya.
"Herman tidak kenapa-napa bulek, ada apa? apa ada yang salah...?? " jawab Herman bingung.
"syukurlah... syukurlah kalau begitu, bulek lega sekarang. " ucap bulek Tuti dengan leganya.
Herman nampak mencurigai bulek Tuti. Karena bukan hanya sekali akan tetapi berulang-ulang kali sudah bulek Tuti bertingkah aneh seperti ini.
"apa yang kamu rencanakan kali ini bulek Tuti. " guman Herman dalam hati sembari menatap wajah bulek Tuti dengan nanar.
"ka... kalau begitu,bu... bulek ke kamar dulu. " ucap bulek Tuti dengan gugup nya dan pergi ke kamar nya.
__ADS_1
Herman menatap punggung belakang bulek Tuti dari kamarnya yang menghilang setelah memasuki kamar milik nya.
"apa yang kamu lakukan bulek...? aku yakin itu salah. " guman Herman pelan.
"mas Herman,ada apa mas...? " tanya Arumi yang baru datang dari dapur.
"tidak ada apa-apa.Sudah siap belum makan siangnya, aku lapar...! " ucap Herman kepada Arumi.
"sudah mas, mari. " ajak Arumi.
"Rumi,panggil bulek Tuti untuk ikut makan siang. " perintah Herman kepada Arumi.
"iya mas,sebentar ya. " jawab Arumi.
"aku tunggu ya. " ucap Herman dengan tersenyum.
"oke... " jawab Arumi dan berlalu pergi menuju ke kamar bulek Tuti untuk mengundangnya makan siang.
Di depan kamar bulek Tuti. Arumi nampak ragu untuk mengetuk pintu,dirinya takut kalau bulek Tuti marah-marah lagi. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya Arumi pun akhirnya berani untuk mengetuk pintu kamar bulek Tuti.
tok... took... toook... "permisi bulek Tuti,mas Herman sudah menunggu bulek untuk makan siang di meja makan. " ucap Arumi dengan sedikit berteriak, agar bulek Tuti mendengar nya.
cekleek... suara pintu kamar terbuka.
"baiklah bulek, kami tunggu. " ucap Arumi dengan tersenyum.
"jangan sok-sokan kamu...!aku mau lihat, setelah ini apa yang akan kamu lakukan. " ucap bulek Tuti pelan dengan sinis nya.
Di belahan dunia lain di Negeri Gingseng.
"Han Tae Tsu...!! " teriak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan elegan walaupun usia nya sudah tidak muda lagi.
Han Tae Tsu pun menoleh dan mencari sumber suara tersebut.
"mama...! " ucap Han Tae Tsu dengan terkejut.
Wanita itu pun berjalan mendekati nya.
Pletaasss.... satu jitakan meluncur di kening Han Tae Tsu.
"mama, sakit...! " keluh Han Tae Tsu sembari mengelus-elus keningnya.
"berapa kali mama bilang,bertindak lah seperti lelaki dewasa Han Tae Tsu...!! " ucap Hong Ha Na mama Han Tae Tsu dengan geram.
__ADS_1
"apa yang salah mama...? " tanya Han Tae Tsu dengan wajah yang di buat tanpa bersalah nya.
"ka... kamu...!! " ucap Hong Ha Na geram.
Han Tae Tsu yang melihat reaksi mama nya pun segera memeluk mama nya.
"ayo lah ma,beri aku sedikit waktu untuk memikirkannya. I'm promise....!! " ucap Han Tae Tsu menyakinkan Hong Ha Na.
"terserah kamu saja,mama sudah hampir frustasi memikirkan nya. " jawab Hong Ha Na dengan frustasi.
"ayolah mama, jangan seperti ini. Aku janji akan menepati janji ku. " ucap Han Tae Tsu dengan tersenyum.
"perusahaan kita yang ada di Indonesia sekarang ini sedang mengalami penurunan drastis,mama mau kamu datang ke sana dan mengurusnya. " kata Hong Ha Na dengan datar.
"tapi mama...!? " jawab Han Tae Tsu ragu.
"cuma kamu yang bisa mama andalkan Han Tae Tsu, karena kamu lah satu-satunya anak mama dan pewaris seluruh kekayaan mama.
" oke,Han Tae Tsu akan pergi ke Indonesia. "ucap Han Tae Tsu.
" kapan Han Tae Tsu harus ke sana ma...? "ucap nya lagi.
" dua mingguan lagi, setelah asisten mama mengurus semua nya. "jawab Hong Ha Na dengan datar.
" baiklah Han Tae Tsu tunggu kabar dari mama. "ucap Han Tae Tsu.
Di belahan Indonesia.
" mas Herman....!!!? "teriak Arumi yang mendapati Herman pingsan.
Bulek Tuti pun tak kalah histeris nya saat melihat Herman terkapar dilantai.
" Herman...!!! "teriak bulek Tuti yang langsung memeluk Herman.
" a... apa yang kamu lakukan Arumi...!! kau apakan Herman ku...!! hiks... hiks... hiks.... Herman... Hermaaann... "ucap bulek Tuti sembari menangis berteriak-riak.
" sa... saya tidak tau bulek... "jawab Arumi gugup dengan berlinang air mata.
" kamu harus tangung jawab Rumi...! karena ini semua salahmu.... ini semua salahmu....!! "teriak bulek Tuti ditengah tangisan nya.
" ma... maafkan aku bulek... ta... tapi Rumi benar-benar tidak tau kenapa mas Herman pingsan, hiks... hiks... hiks... "jawab Arumi dengan sesenggukan.
"
__ADS_1