
Dengan derai air mata, Arumi pergi meninggalkan kampung halaman nya. Dengan berat hati, dirinya mau tidak mau harus meninggalkan tanah tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya itu. Tidak ada pilihan lain selain harus meninggalkan kampung halaman nya. Semua ini dirinya lakukan demi keselamatan dan kehidupan keluarga besarnya. Sesuai perjanjian nya, dirinya harus meninggalkan kampung halaman nya dan bercerai dari Herman.
Arumi memutuskan untuk mengadu nasib di kota Jakarta. Dengan bekal ijazah SMA, dan hanya dengan uang yang tidak seberapa, dirinya pun sampai di kota Jakarta. Arumi turun dari bis antar kota. Dirinya tidak tahu harus kemana dirinya terlebih dahulu pergi. Di Jakarta ini dirinya tidak memiliki siapa-siapa, dan baru kali ini dirinya menginjakkan kakinya di ibukota Jakarta.
Arumi merogoh saku celana nya, dan mengambil telepon genggam milik nya yang jadul. Telepon genggam milik Arumi hanya bisa untuk sekedar SMS dan telepon saja. Maka dari itu, dirinya tidak begitu tau menahu akan kemajuan digital. Termasuk Facebook, instagram, whatsapp, twitter dan lain sebagainya Arumi tidak tahu menahu tentang itu.
Arumi mencoba untuk menghubungi keluarga nya di kampung,sekadar memberi kabar kalau dirinya sudah sampai di ibukota Jakarta.
... tut... tuutt... tuuuu ttt... bunyi dari balasan nomor yang dihubungi Arumi...
"hallo... " ucap seseorang dari balik telepon.
"hallo, assalamualaikum ibu. " ucap Arumi setelah mendengar suara dari ibunya.
"hallo nduk,piye sudah sampai Jakarta apa belum...? " tanya sang ibu dari balik telepon.
"alhamdulillah sudah bu," jawab Arumi.
"hati-hati disana ya nduk,maafkan ibu. " ucap bu Darnia dengan nada sendunya.
"sudahlah ibu. Ibu jangan seperti ini terus, semua ini bukan salah ibu. Karena semua ini sudah ditakdirkan dari Allah, insyaallah Arumi ikhlas bu. " jawab Arumi menghibur ibu nya.
"Arumi minta sama ibu dan bapak, tolong doakan Arumi. Semoga di ibukota Jakarta ini Arumi cepat dapat kerjaan." ucap Arumi lagi.
"iya nak,ibu dan bapak akan selalu mendoakan kamu yang terbaik dari sini. Sekali lagi ibu minta maaf, Arumi. " ucap bu Darnia meminta maaf kepada Arumi.
"iya ibu, Arumi maafkan. Arumi tutup dulu ya bu panggilan nya,Arumi mau mencari kos-kosan dulu untuk Arumi tinggali. " kata Arumi menyudahi panggilan nya. Padahal sebenarnya dirinya tidak tahu pasti mau tinggal dimana,sebab uang yang dirinya bawa tidak seberapa. Dan yang jelas tidak cukup untuk dirinya sewa kos-kosan. Apalagi di ibukota seperti Jakarta ini.
Arumi berjalan membawa satu tas besar dan satunya lagi tas kecil.Dengan gontai Arumi menelusuri jalan di ibukota Jakarta. Waktu terus berlalu,jam pun menunjukkan sudah pukul 17.55 WIB. Waktu nya masuk sholat maghrib,Arumi pun mencari mushola atau sebuah masjid untuk dirinya menjalankan ibadah sholat maghrib.
Akhirnya Arumi menemukan sebuah mushola. Arumi pun singgah di mushola tersebut,dirinya menaruh tas-tas milik nya di sudut ruangan di luar mushola. Tidak lupa dirinya mengambil mukena dan perlengkapan sholat lainnya. Dirinya pun ikut serta dengan jama'ah lain untuk menjalankan ibadah sholat maghrib.
Setelah selesai menjalankan ibadah sholat maghrib. Arumi pun mengemasi kembali perlengkapan sholat nya. Dan pada saat dirinya hendak menaruh mukena di tas milik nya. Betapa terkejutnya Arumi, karena mendapati tas milik sudah berantakan. Lebih terkejut lagi, saat dirinya tidak mendapati tas milik nya berada di tempat nya. Tas kecil milik Arumi yang berisi telepon genggam jadul,dompet beserta isinya lenyap. Arumi pun hanya bisa menangis meratapi takdir nya.
Di ibukota Jakarta yang baru pertama kali dirinya datangi, sudah menyambutnya dengan kisah pilu. Tidak punya sanak saudara, tempat tinggal dan uang sepeser pun. Itulah yang harus di alami oleh Arumi.
"Ya Allah,tolonglah hamba-Mu ini, hiks... hiks... hiks... " keluh kesah Arumi sembari menangis.
Seorang wanita paruh baya menghampiri Arumi, karena melihat Arumi yang tengah menangis.
"ada apa nak...? kenapa menangis...?? " tanya wanita paruh baya tersebut kepada Arumi.
"hiks... hiks.... hiks... tas beserta dompet dan telepon genggam milik saya hilang bu, hiks...hiks... hiks... " jawab Arumi ditengah tangisan nya.
__ADS_1
"hilang....? kamu taruh dimana nak...? " tanya wanita paruh baya tersebut.
"disini bu, " jawab Arumi sembari menunjuk ke tempat dimana dirinya menaruh tas milik nya.
"lhoo... kok ditaruh disitu...! seharusnya kamu tidak taruh disitu nak. " ucap wanita paruh baya tersebut.
"disini memang sering terjadi kemalingan, apalagi kalau kita naruh barang berharga tidak hati-hati. " ucap wanita paruh baya tersebut lagi.
Arumi hanya mendengarkan ucapan wanita paruh baya tersebut.
"mbak nya ini kelihatan nya bukan orang sini ya...? " tanya wanita paruh baya tersebut.
"iya bu, saya bukan orang sini. " jawab Arumi.
"ya mau kemana...? " tanya wanita paruh baya tersebut dengan menyelidik.
"saya tidak tahu bu,saya mau kemana. Saya tidak memiliki sanak saudara disini. Saya juga tidak memiliki apa-apa,uang dan telepon genggam milik saya pun juga sudah hilang. " ucap Arumi dengan berlinang air mata.
"oalah nak-nak. Begini saja,ibu kan tinggal sendirian.Jadi kamu bisa tinggal dengan ibu untuk sementara waktu. Itupun kalau kamu mau nak. " ucap wanita paruh baya tersebut menawarkan tempat tinggal untuk Arumi.
"tapi bu,saya tidak enak jika harus merepotkan ibu. " jawab Arumi.
"kalau kamu merasa takut merepotkan saya, bagaimana kalau sebagai gantinya kamu bisa membantu saya untuk berjualan diwarung. Bagaimana nak...? " tawar wanita paruh baya tersebut.
"iya,ayo ikut ibu. " ajak wanita paruh baya tersebut.
"oh, ya. Siapa nama kamu nak...? " tanya wanita paruh baya tersebut kepada Arumi.
"Arumi bu, maaf Arumi lupa memperkenalkan diri kepada ibu. " jawab Arumi.
"tidak apa-apa nak. Oh ya, kamu bisa memanggil ibu dengan sebutan mak Rebi. " ucap wanita paruh baya tersebut.
"iya, bu. Eh maksud saya mak Rebi. " jawab Arumi canggung.
Selang beberapa saat kemudian Arumi dan mak Rebi sudah sampai di depan rumah mak Rebi.
"inilah rumah saya nak Rumi,disini lah saya tinggal sendiri. " ucap mak Rebi kepada Arumi.
Arumi pun mengikuti mak Rebi untuk masuk ke dalam rumah nya.
"nah, kamu bisa tidur di kamar ini.Sudah sana, taruh barang-barang mu di kamar. Setelah itu mandilah,ibu mau menyiapkan untuk makan malam kita. " ucap mak Rebi.
"kamu bawa handuk gak nak, " kata mak Rebi lagi.
__ADS_1
"bawa mak, " ucap Arumi.
"ya sudah,sana cepat mandi. Kamar mandinya ada di belakang dekat dapur. " ujar mak Rebi.
"iya mak. " jawab Arumi.
Arumi pun berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Sembari celinguk'an Arumi mencari keberadaan kamar mandi.
"dimana kamar mandi nya...? rumah sebesar ini, mak Rebi hanya tinggal sendiri...? " guman Arumi dalam hati.
Di tempat lain
Herman tiba-tiba saja,sudah bisa menggerakkan tangannya. Kedua suster yang merawat nya pun segera memberitahukan kabar ini kepada bulek Tuti.
"permisi nyonya,tuan Herman sudah bisa merespon dan menggerakkan tangannya. " terang suster yang bernama Marni itu.
Bulek Tuti yang mendengar kabar tersebut pun segera merespon dengan gembira nya.
"benarkah...? Herman, Herman, Herman ku. " ucap bulek Tuti sembari tersenyum bahagia.
Dan saat sampai di kamar Herman.
"Herman.... sayangku. " ucap Bulek Tuti dengan berjalan tergesa-gesa menghampiri Herman.
Herman yang melihat kedatangan bulek Tuti pun, merasa malas untuk melihat nya.
"sayang,akhirnya kamu sembuh. " ucap bulek Tuti dengan bahagia.
Herman pun berusaha duduk, dengan dibantu oleh kedua suster. Setelah duduk, Herman pun berkata.
"dimana Arumi pergi bulek...? " tanya Herman dengan menyelidik.
"Arumi....? sayang kamu baru saja sembuh, kenapa kamu mencari wanita licik itu. " kata bulek Tuti dengan kesal.
"dia bukan wanita licik bulek,dia istriku, Arumi ku. " ucap Herman.
"kamu tahu apa yang dirinya lakukan terhadap dirimu Herman...!? dia berusaha untuk menyingkirkan kamu dan berniat untuk mengambil alih hartamu.Itulah sebabnya bulek Tuti menyebutnya dengan nama wanita licik. " terang bulek Tuti dengan emosi.
"aku tahu semua kebenarannya bulek, jangan coba untuk menutupi keburukanmu dan mengkambing hitamkan Arumi. Aku akan berpura-pura untuk mempercayai ucapanmu bulek, dan aku akan terus berusaha untuk mencari keberadaan Arumi. " ucap Herman dalam hati.
"kenapa Arumi tega bulek...? kenapa dirinya melakukan semua ini kepada Herman. " bohong Herman agar aktingnya terlihat sempurna.
"dimana sekarang dirinya bulek, dia harus menerima balasannya. " ucap Herman dengan emosi agar terlihat marah, padahal bohong.
__ADS_1
"dia sudah kabur, dan menggugat cerai kamu. Untungnya bulek Tuti segera menanda tangani nya. Kalau tidak bisa-bisa dia merayu kamu lagi kalau tahu kamu sudah sembuh. Lihat kamu cacat saja dia langsung gugat cerai kamu Herman. Bulek Tuti sudah dari awal tidak menyukai nya, kamu nya saja yang mudah di rayu. " ujar bulek Tuti panjang kali lebar.