DI CINTAI OPPA

DI CINTAI OPPA
EPISODE 44


__ADS_3

Arumi sedang berada di dalam kamarnya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


"Tok.. tok... tok... " (Bunyi ketukan pintu).


Arumi yang mendengarnya pun segera membukakan pintu.


"Cekreek... " (Bunyi suara pintu dibuka).


"Ayah...!? " Ucap Arumi dengan terharu, sembari memeluk sang ayah.


"Anak ayah, " Sahut sang ayah, sembari membalas pelukan dari Arumi.


"Maafkan ayah nak, ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Ayah sudah gagal menjadi seorang ayah. " Ucap pak Warsito dengan meneteskan air mata.


"Tidak ayah,ayah tidak gagal. Karena bagi Arumi, ayah adalah ayah terbaik di belahan dunia ini. Arumi bahagia karena menjadi putri ayah. " Ucap Arumi dengan raut wajah sendu.


"Apa ayah tahu,kalau selama ini Arumi sangat merindukan ayah...? " Ucap Arumi lagi.


"Arumi anakku. " Sahut sang ayah.


"Ayah...! Hiks... hiks... hiks... " Ucap Arumi di sela-sela tangisnya.


Arumi pun kemudian mengajak sang ayah untuk masuk ke dalam kamarnya dan Arumi bercerita tentang banyak hal tentang dirinya, selama pergi dari rumah.


Setelah selesai bercerita dengan sang ayah,Arumi kemudian menanyai tentang hal yang sama kepada sang ayah.Saat dirinya pergi dari rumah,apa saja yang telah terjadi.Sang ayah pun menjawabnya.


"Banyak hal yang berubah Arumi. Setelah kepergianmu,semua tidak kembali menjadi semula.Maafkan ayah nak. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti keinginan ibumu.Jika saja ayah tahu tentang penderitaanmu selama ini nak,tak akan ayah biarkan ibumu memaksamu untuk menikahi nak Herman. Karena bukannya kebahagiaan yang diberikannya, malah kesengsaraanlah yang kamu dapatkan nak. Sekali lagi maafkan ayah, hiks... hiks... hiks... "Terang pak Warsito dengan sesenggukan.


Arumi mencerna ucapan sang ayah,


" Apa yang terjadi ayah...? "Tanya Arumi bingung dengan cerita ayahnya.


" Seminggu setelah kepergianmu. Herman sudah sembuh dari sakitnya. Ternyata penyakit yang Herman derita, bukanlah penyakit medis nak. "Ucap pak Warsito berhenti karena di sela oleh Arumi.


" Lalu kalau bukan penyakit medis, lalu apa ayah...? " Tanya Arumi dengan antusias.


Sang ayah menghela nafas panjang, lalu kembali bercerita.


"Dia di guna-guna. " Jawab pak Warsito dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


"Apa ayah, di guna-guna...?? " Sahut Arumi tidak mengerti.


"Iya nak,Herman di santet. " Jawab pak Warsito.


"Di santet...? Oleh siapa ayah,dan,dan kenapa orang itu tega melakukan hal sekeji itu kepada mas Herman...?" Kata Arumi dengan meneteskan air mata nya.


"Bulek Tuti nak,bulek Herman sendiri. " Ujar pak Warsito.


"Apa...? " Ucap Arumi tidak percaya.


"Kenapa bulek Tuti sekejam itu ayah, bukankah bulek Tuti menyayangi mas Herman...? " Kata Arumi.


"Santet itu di tujukan untukmu Arumi...! " Sahut bu Darnia yang baru masuk ke dalam kamar Arumi.


"A... a... apa...? " Jawab Arumi terkejut.


"Astagfirullah, " Seru Arumi kemudian.


"Sudahlah ayah, jangan mengungkit-ungkit kembali kejadian itu. Semua itu sudah berlalu, tak perlu dibahas lagi. Lagipula sekarang Arumi sudah bahagia,dia sudah tidak perlu lagi menderita, lalu untuk apa mengingat masa lalu. Benarkan Arumi, apa yang dikatakan oleh ibu...?? " Ucap bu Darnia.


Arumi hanya menganggukkan kepalanya.


"Iya ayah. Ayah pasti lelah, karena seharian bekerja. Besok saja kita lanjutkan ceritanya. " Ucap Arumi.


"Ayah dengarkan, apa yang Arumi ucapkan. Ayo...! " Ucap bu Darnia mengajak sang suami pergi dari kamar Arumi.


Tanpa berbicara, pak Warsito pun berlalu pergi dari kamar Arumi.


"Arumi istirahatlah,besok pagi-pagi sekali ikut ibu ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. " Ucap bu Darnia.


Arumi pun tersenyum dan berkata,


"Iya ibu,baiklah." Ucap Arumi.


Belum sempat bu Darnia meninggalkan kamar Arumi, langkahnya terhenti secara tiba-tiba karena Arumi memanggilnya. Bu Darnia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.


"Ada apa, Arumi...? " Tanya bu Darnia dengan menyelidik.


"Ibu selamat malam. " Ucap Arumi dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


"Ya, selamat malam juga. " Jawab bu Darnia dengan membalas senyuman Arumi.


Bu Darnia pun pergi berlalu meninggalkan kamar Arumi.


"Ibu,Arumi tahu ibu sayang Arumi. Namun hal itu tidak diperlihatkan oleh ibu, entah apa alasan ibu untuk menyembunyikan nya.Hanya ibulah yang tahu. Bagaimana pun juga, Arumi tetap anak ibu. Dan Arumi masih Arumi yang sama, anak ibu yang sangat mencintai ibu, hiks... hiks... hiks... " Ucap Arumi dalam hati,sembari meneteskan air mata nya.


Malam pun hadir menyapa sang rembulan dan di sambut oleh sang fajar. Pagi ini Arumi sudah bangun dari tidurnya.Arumi segera bergegas mandi dan tidak lupa menjalankan kewajibannya lima waktu. Setelah selesai menjalankan ibadah sholat subuh, Arumi pun pergi ke dapur. Ternyata di dapur sudah ada kak Ayu, kakak ipar Arumi.


"Kak Ayu," Sapa Arumi kepada kakak iparnya.


Ayu pun membalikkan badannya, dan menjawab sapaan dari Arumi.


"Kamu sudah bangun, Arumi...? "Jawab Ayu dengan tersenyum.


" Iya kak,ada yang bisa Arumi bantu...? "Ucap Arumi menawarkan diri.


" Tidak ada Arumi. "Jawab Ayu.


Bu Darnia pun datang, " Kamu sudah siap Arumi...? "Tanya bu Darnia kepada Arumi.


" Sudah ibu, "Balas Arumi.


" Ya, tunggu ibu sebentar. Ibu mau sholat subuh dulu. "Ucap bu Darnia kepada Arumi.


" Iya,ibu."Jawab Arumi.


"Ayu, nanti masak nasinya tolong di tambahi ya. " Perintah bu Darnia kepada Ayu.


"Iya bu, " Jawab Ayu.


Setelah itu bu Darnia pun mengambil air wudhu,dan kemudian menjalankan sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh, bu Darnia pun menemui Arumi untuk bersiap pergi ke pasar.


Arumi membawa sepeda motor matic milik nya yang sudah lama tidak dirinya pakai.Sepeda motor matic hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Hadiah dari sang ayah, pak Warsito.


Arumi pun mengendarai sepeda motor matic nya menuju pasar.. Setelah sampai di pasar, banyak belanjaan yang di beli oleh bu Darnia.Ada sayuran,tahu tempe dan juga ikan. Dan masih banyak lagi yang dibeli oleh bu Darnia. Dua kantong plastik berukuran besar sudah berada di tangan bu Darnia. Arumi juga ikut serta membawa dua lagi kantong plastik besar berukuran yang sama dengan barang bawaan bu Darnia. Mereka sampai kewalahan membawanya. Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali pulang ke rumahnya.


"Belanjaan banyak begini mau kamu apakan bu...? " Tegur pak Warsito kepada bu Darnia.


"Sudahlah, mana ayah tahu kebutuhan dapur. " Sahut bu Darnia dan berlalu membawa barang bawaan nya.

__ADS_1


Diikuti dengan Arumi di belakang nya. Pak Warsito juga turut membantu memasukkan barang-barang belanjaan bu Darnia ke dapur untuk di olah.


__ADS_2