
Dengan telaten dan penuh kesabaran Arumi menyuapi Han Tae Tsu. Walaupun sesekali Han Tae Tsu membuatnya kesal. Karena berulah dan mengerjai Arumi.
"aakk...! " ucap Han Tae Tsu sembari membuka mulut nya yang tak begitu lebar,sehingga membuat Arumi kesulitan untuk menyuapi nya.
"ini orang...keterlaluan sekali. Gimana mau cepat habis makanan ini,kalau dia saja membuka mulut nya sekecil ini. " gerutu Arumi dalam hati.
Han Tae Tsu pun melirik ke arah Arumi. Dirinya melihat Arumi sedikit melamun dan dia pun berkata,,,
"jangan pernah berpikir macam-macam...! aku cuma tidak mau menyia-nyiakan waktu ku yang terbuang sia-sia gara-gara kamu...! " ucap Han Tae Tsu datar. Ya Han Tae Tsu mengira jika saat ini,Arumi membayangkan yang tidak-tidak tentang dirinya.
Arumi yang mendengar ucapan dari Han Tae Tsu kaget,karena apa yang dirinya lamunan kan bukan seperti apa yang Han Tae Tsu kira.
"ihh ini orang kok pede sekali sihh... " guman Arumi dalam hati.
Han Tae Tsu pun mendongakkan kepala nya,karena tidak mendengar jawaban dari Arumi.
"nona Arumi...apakah anda masih disini...?? " ucap Han Tae Tsu sembari menatap tajam ke arah Arumi.
Arumi pun segera menjawabnya.
"iya tuan Han,sa... saya masih disini kok. " jawab Arumi gugup.
Han Tae Tsu pun menggelengkan kepala nya, dan melanjutkan memeriksa dan menandatangani file-file di depan nya itu.
Tak terasa nasi yang ada dipiring Arumi tinggal satu suapan,Arumi pun menyendok nasi tersebut dan hendak ia suapkan kepada Han Tae Tsu.
"tuan Han... ini... " ucap Arumi.
Han Tae Tsu pun hanya melihat nya sesaat dan melanjutkan kegiatan nya menandatangani file tersebut.
"aku sudah kenyang,namun sayang kan tinggal satu suapan lagi. Dan dari pada mubazir,tidak ada salahnya kan kalau kamu yang membantu aku untuk menghabiskan nya. " kata Han Tae Tsu dengan enteng tanpa melihat ke arah Arumi yang berhasil melongo setelah mendengar ucapan darinya.
"ta... tapi tuan Han...!? " jawab Arumi hendak protes.
"keberatan....?!! " ujar Han Tae Tsu sembari menatap Arumi.
Arumi pun menganggukkan kepala nya secara pelan, karena takut jika Han Tae Tsu tersinggung. Benar apa yang Arumi takutkan, Han Tae Tsu benar marah.
__ADS_1
"braaakk.... pyaaaarrrr.... " bunyi suara piring jatuh. Itu adalah olah Han Tae Tsu.
Arumi pun terkejut setengah mati. Bayangan nya kembali di waktu dirinya masih ada di kampungnya dan masih menyandang status istri Herman.
Pandangan mata Arumi pun ber kunang-kunang dan tiba-tiba dirinya pun pingsan. Dengan segera Han Tae Tsu menarik lengan Arumi dan berhasil menangkap tubuh Arumi yang hampir jatuh.
"hai... jangan bercanda,bangun lah...! " ucap Han Tae Tsu. Namun tidak ada sahutan dari Arumi karena dirinya telah pingsan.
Dengan panik Han Tae Tsu membopong Arumi keluar dari ruangan nya.
"Park Lee Min...!! " teriak Han Tae Tsu sembari berlarian membopong Arumi.
"iya tuan. " jawab Park Lee Min,dan mengikuti Han Tae Tsu dari belakang.
"cepat siapkan mobil,kita ke rumah sakit sekarang...! " perintah Han Tae Tsu kepada Park Lee Min yang berada dibelakang nya.
"baik tuan. " jawab Park Lee Min dan berjalan mendahului Han Tae Tsu untuk menyiapkan mobil.
Pemandangan itu tidak luput dari tatapan para karyawan Han Tae Tsu. Mereka hanya melihat nya,tanpa berani mengajukan ucapan atau pun tanya. Setelah Han Tae Tsu sudah tidak terlihat,mereka baru berani berbisik-bisik.
"siapa dia mbak...?" tanya salah satu karyawan lain.
"entahlah siapa dia. Tapi tadi gara-gara dia,aku jadi kena semprot sama si oppa. " jawab wanita tersebut.
"apa mungkin dia... " ucap karyawan lain yang ucapan nya tergantung, karena melihat Park Lee Min yang jalan ke arah nya.
"apa yang kalian ghibahin, hahh...! " bentak Park Lee Min dengan sorot mata tajam.
Para karyawan tersebut pun langsung berlarian ke meja mereka masing-masing. Park Lee Min yang melihat kelakuan mereka hanya menggelengkan kepala nya saja.
"dasar wanita,tidak perduli mereka berada dimana,selalu saja membuat bising. " guman Park Lee Min pelan.
Park Lee Min pun kembali ke luar kantor untuk menemui Han Tae Tsu yang tengah menunggu nya di dalam mobil. Ya, tadi telepon genggam milik Han Tae Tsu tertinggal di dalam ruangan nya.Han Tae Tsu pun menyuruh Park Lee Min untuk mengambilnya.
Beberapa menit kemudian sampai lah mereka di depan sebuah rumah sakit yang berada tidak jauh dari kantor Han Tae Tsu.
__ADS_1
Dengan panik Han Tae Tsu pun membopong kembali Arumi dan masuk ke ruang UGD. Disana ada beberapa orang perawat yang membantunya. Salah satu perawat pun menyuruh Han Tae Tsu untuk keluar dari ruang UGD.
"maaf tuan,silakan anda menunggu di luar ruangan. Biarkan kami yang akan menanganinya. " kata seorang perawat lelaki.
"iya,baiklah." jawab Han Tae Tsu.
"tunggu sebentar...!" ucap Han Tae Tsu lagi.
"iya tuan. " jawab perawat lelaki tersebut.
"pastikan dia baik-baik saja. " kata Han Tae Tsu kemudian.
Sang perawat pun menganggukkan kepala nya, dan menutup pintu UGD tersebut.
braaaakk... pyaaarr... bunyi suara piring terlempar dan pecah.
"kenapa kamu tidak bisa hati-hati, hah...!! " ucap seorang wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih memakai pakaian remaja.
"ma... maafkan aku, bulek..." jawab Arumi dengan takut.
"maaf,maaf... selalu minta maaf dan trus saja berbuat salah. Memangnya aku ini Ibumu...!! " tunjuk wanita tersebut yang dipanggil bulek oleh Arumi.
"sudah aku bilang,jangan membuat aku marah. Tapi ini apa coba...? lagi-lagi membuat masalah saja...! " ucap bulek kepada Arumi.
"sa... saya akan membuatkannya kembali bulek,dan sa... saya pastikan akan lebih enak dari yang sebelumnya. " jawab Arumi terbata.
"cepat kamu bersihkan pecahan piring itu...!! jangan sampai ada yang tertinggal disana walaupun itu hanya sebesar kerikil. " kata bulek.
"i... iya bulek, akan Arumi lakukan. " jawab Arumi.
Arumi pun membersihkan pecahan piring tersebut,dan karena tergesa-gesa sampai dirinya tidak hati-hati. Dan pecahan piring tersebut pun melukai tangannya. Tangan Arumi pun terluka, dan mengeluarkan darah. Herman yang baru datang melihat tangan Arumi terluka dan mengeluarkan darah. Dirinya pun dengan segera menghampiri Arumi.
"apa yang terjadi...?" tanya Herman sembari menarik tangan Arumi yang terluka.
"e... e... a... anu mas,ta... tadi tak sengaja piring ini jatuh tersenggol aku. " jawab Arumi bohong dengan nada bicara bergetar.
"lain kali hati-hati,sini biar aku obati luka mu. " ucap Herman.
__ADS_1