
Setelah acara makan siang, Hong Han Na mengajak Han Tae Tsu untuk berkumpul di ruang keluarga. Dan saat diruang keluarga,,,
"Han, mama mau bicara sama kamu. " ucap Hong Han Na kepada putra semata wayangnya itu.
Han Tae Tsu yang tengah sibuk dengan ponselnya pun mendongak dan menatap sang bunda.
"apa yang mau mama bicarakan...? " tanya Han Tae Tsu.
Hong Han Na pun tersenyum,dirinya kini pindah tempat duduk agar lebih dekat dengan sang putra.
"mama mau,kamu menikahi Arumi...! " ucap Hong Han Na yang berhasil membuat Han Tae Tsu terkejut.
"apa mah...? Han tak begitu mendengar nya. Bisakah mama mengulangi nya lagi...?! " jawab Han Tae Tsu yang sebenarnya terkejut, mendengar permohonan dari sang mama.
"mama mau, kamu menikahi Arumi. " ucap Hong Han Na mengulangi lagi ucapan nya.
Han Tae Tsu pun pura-pura terkejut, walaupun dirinya masih terkejut dengan ucapan sang bunda yang sebelumnya.
"Arumi, siapa dia mah...? " tanya Han Tae Tsu memastikan siapa Arumi yang di maksud oleh mama nya.
"Arumi ya Arumi Han. Arumi juru masak kita,yang orang Jawa itu. " jawab sang mama dengan tersenyum.
"mama menyukainya,dan mama mau kamu memperistri dia. " lanjutnya lagi.
"mah,kenapa harus dia. Lagipula dia hanya seorang pembantu disini. Apa kata orang lain mah, seorang pengusaha sukses yang memiliki seorang istri bekas pembantu... " ucap Han Tae Tsu dengan suara datar nya.
"Han....?!! mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk membedakan-bedakan status orang. Mereka sama dengan kita,hanya saja nasib mereka yang tak seberuntung nasib kita. " ujar Hong Han Na kesal.
"mama tidak menerima penolakan,karena akibatnya kamu tahu sendiri bukan konsekuensi nya. Jika kamu membantah ucapan mama. " lanjut Hong Han Na.
"tapi mah,Han belum siap untuk menikah. " ucap Han Tae Tsu mencari alasan.
Hong Han Na menatap tajam ke arah putra semata wayangnya itu.
"siap tidak siap, kamu harus tetap menikah dengan Arumi.Pokoknya mama tidak mau tahu,bulan depan kamu harus sudah menjadi suami dari Arumi. " jawab Hong Han Na dengan datar dan meninggalkan Han Tae Tsu sendiri.
Setelah kepergian Hong Han Na. Han Tae Tsu pun pergi untuk mencari Park Lee Min, dirinya ingin meminta penjelasan terhadap Park Lee Min, tentang masalah ini.
__ADS_1
Hong Han Na mencari keberadaan Arumi, dirinya berniat untuk menyampaikan maksud nya tadi sewaktu berbicara dengan Han Tae Tsu.
Namun saat Hong Han Na hendak menuju ke kamar Arumi, dirinya mendengar keributan dari dalam kamar. Dan saat Hong Han Na, mengintip dari balik pintu.
"ampun mbak, maafkan saya. Saya berani bersumpah kalau saya tidak pernah merebut kekasih mbak Wahyu... hiks.. hiks... hiks... " ucap Arumi sembari menangis karena menahan rasa sakit akibat rambut nya yang di jambak oleh Wahyu.
"alah kamu itu selalu alasan. Buktinya,kamu ingin merayunya dengan memakai dress ini bukan. " timpal wanita yang satu profesi dengan Wahyu dan kebetulan memihak Wahyu.
"kamu harus tahu Arumi,kalau tuan muda Han itu adalah taksiran nya mbak Wahyu. Jangan kamu coba macam-macam. " timpal wanita yang satu nya.
Wahyu pun tersenyum licik.
"Hai gengs, aku punya ide...! " celetuk Wahyu.
Wahyu dan teman-teman nya berkumpul, membiarkan Arumi sebentar.
Wahyu pun membisikkan sesuatu hal kepada kedua teman nya itu. Mereka pun tersenyum bahagia.
"Oke bosss...! " seru kedua teman Wahyu.
Arumi yang melihat ketiga wanita itu berjalan mendekatinya segera angkat bicara.
"tenang saja ja***g aku akan membuat mu lebih mirip seperti benar-benar J*l**g...!Pegang kedua tangan nya...!! " perintah Wahyu kepada kedua teman nya itu.
"hahaha... baik boss... " sahut mereka berdua bersamaan sembari tertawa.
Dan saat Wahyu hendak menyentuh Arumi.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN...!!! " suara bariton dari luar kamar, yang tidak lain adalah suara Han Tae Tsu.
Ke tiga wanita itu pun terkejut, bukan bertiga akan tetapi berlima. Ya, Hong Han Na, Arumi,Wahyu dan kedua teman Wahyu.Mereka tidak pernah menyangka,Han Tae Tsu akan berkeliaran di kamar para pembantu.
"sekarang juga kalian bertiga saya pecat. Dan jangan pernah kalian menunjukkan wajah kalian lagi dihadapan saya. " ucap Han Tae Tsu dengan nada datar dan dingin.
Melihat amarah yang menguasai wajah Han Tae Tsu Wahyu beserta kedua teman nya tidak berani berucap sepatah kata apapun. Mereka bertiga pun pergi dari kamar Arumi. Setelah melihat ketiga wanita tadi pergi, Han Tae Tsu pun segera mendekati Arumi untuk membantu nya berdiri.
Han Tae Tsu membuka jas yang dirinya kenakan, lalu memakaikannya kepada Arumi.
__ADS_1
"ini pakailah. " ucap Han Tae Tsu tanpa permisi memakaikan jas milik nya ke tubuh Arumi.
Arumi pun hanya terdiam tak bergeming, dirinya hanya menundukkan kepala nya.
Han Tae Tsu melihat kalau mata Arumi basah karena menangis. Han Tae Tsu pun menuntun Arumi agar Arumi duduk di atas tempat tidur nya.
"beristirahat lah...! " perintah Han Tae Tsu kepada Arumi, dan begitu saja meninggalkan Arumi sendiri di dalam kamar.
Di tempat lain.
Seorang wanita paruh baya berteriak-riak di dalam kamar yang terkunci dari luar.
"buka pintu nya, buka Herman...!! " teriaknya.
"saya tidak pernah memaksa wanita sialan itu untuk pergi meninggalkanmu, dia sendiri yang ingin pergi dari kamu Herman... hahaha.... Herman, Herman... kurang apa bulekmu ini... kurang apa hah...!!!Hahaha.... " ucap nya lagi.
Sedangkan di depan kamar itu ada dua orang pria yang sedang menunggui nya.
"berisik sekali wanita gila itu,aku benar-benar terganggu oleh nya. " celetuk salah satu pria itu.
"mau gimana lagi,memang ini tugas kita. Sebenarnya aku juga sama terganggunya sama seperti kamu, tapi yow uwes lah biarin aja. "jawab pria yang lain.
Datang lah seorang lelaki yang tidak begitu tua maupun tidak begitu muda, usianya kisaran empat puluhan tahun. Pria itu adalah Herman, mantan suami Arumi Narendra Putri atau yang sering disapa dengan panggilan Arumi.
" tuan... "ucap salah satu pria itu yang mengetahui terlebih dahulu kedatangan Herman.
" bagaimana apakah dia belum mengaku juga...!? "tanya Herman dengan nada bicara datar dan terkesan dingin.
" belum tuan,dia masih seperti yang sebelumnya. "jawab pria yang lain.
" awasi dia terus, jangan sampai dia melarikan diri lagi...! "perintah Herman dengan datar.
" baik tuan. "jawab keduanya yang hampir bersamaan.
Herman pun tersenyum kecut, " sampai kapan kamu mau seperti ini bulek. Aku benar-benar tidak menyangka,kalau selama ini aku menghidupi wanita ular seperti kamu. "ucap Herman lirih. Dan meninggalkan tempat tersebut.
Sembari berjalan, Herman pun membatin.
__ADS_1
" kamu dimana Arumi,aku merindukan kamu. Walaupun kita kini sudah tidak bersama lagi, walaupun kita sudah tidak menjadi suami istri lagi. Akan tetapi aku berharap, untuk bisa menemui mu lagi. Aku mencintaimu Arumi. "