
Saat ini Han Tae Tsu tengah bersiap-siap untuk menghadiri rapat penting pagi ini. Dirinya tidak tahu kalau rapat pagi ini di tunda,oleh Park Lee Min. Atas perintah nyonya besar yakni Hong Han Na ibu Han Tae Tsu. Park Lee Min lupa memberikan kabar ini kepada Han Tae Tsu, itulah sebabnya Han Tae Tsu tidak tahu menahu tentang penundaan rapat yang di undur tiga hari lagi ke depan. Setelah siap Han Tae Tsu pun keluar kamar.
"Arumi...!? " Ucap nya mencari keberadaan Arumi.
Dengan tergopoh-gopoh Arumi menghampiri Han Tae Tsu.
"Iya tuan. " Ucap Arumi lirih.
"Aku mau pergi rapat dulu,sampaikan permohonan maafku kepada keluargamu. Sebab aku tidak bisa ikut sarapan bersama dengan mereka. "Ucap Han Tae Tsu.
" Sebaiknya tuan sarapan dulu, walaupun cuma sedikit. "Tawar Arumi kepada Han Tae Tsu suaminya.
" Aku sudah terlambat Rumi, nanti saja aku sarapan di luar. "Jawab Han Tae Tsu.
" Baiklah kalau itu mau tuan, tapi tunggu sebentar...! "Kata Arumi menyuruh Han Tae Tsu untuk menunggunya sebentar.
" Ada apa...? "Tanya Han Tae Tsu kepo.
" Cuma sebentar tuan, sebentar ya. "Jawab Arumi.
" Oke, baiklah. "Ujar Han Tae Tsu dengan memandangi punggung belakang Arumi yang menghilang di balik pintu.
Lima menit kemudian Arumi pun kembali dengan membawa sebuah tas kain yang berisikan satu kotak makan dan satu botol air. Arumi pun menyerahkannya kepada Han Tae Tsu.
" Ini tuan, jangan lupa untuk dimakan...! "Ucap Arumi sembari tersenyum.
Han Tae Tsu pun menerima tas tersebut dan berkata,
" Apa ini...? "Tanya Han Tae Tsu bingung.
" Sarapan untuk tuan. "Sahut Arumi, dengan tersenyum lembut.
" Ini tidak perlu Rumi, aku tidak terbiasa membawa yang seperti ini. "Jawab Han Tae Tsu, sembari menatap Arumi.
Terlihat wajah Arumi kecewa dengan ucapan yang barusan di ucapkan nya, lalu dengan segera Han Tae Tsu pun mengulangi lagi ucapan nya.
"Baiklah terima kasih. " Ucap Han Tae Tsu kemudian setelah melihat wajah Arumi yang terlihat kecewa.
Arumi pun tersenyum lembut.
"Hati-hati tuan." Ucap Arumi.
__ADS_1
Han Tae Tsu pun menuju ke arah mobil miliknya yang terpakir di depan sana. Belum sempat dirinya membuka pintu mobilnya,Han Tae Tsu melihat mobil Park Lee Min memasuki pekarangan rumah Arumi. Han Tae Tsu pun mengurungkan niat nya. Dan menunggu Park Lee Min keluar dari dalam mobil milik Park Lee Min. Setelah keluar dari dalam mobil, Park Lee Min pun langsung menemui Han Tae Tsu.
"Permisi tuan muda, maaf kalau saya terlambat memberi tahu anda tentang kabar ini. " Ucap Park Lee Min dengan nada hormat.
"Kabar apa, tuan Park...?" Tanya Han Tae Tsu ingin tahu.
"Kalau rapat pagi ini di tunda sampai tiga hari ke depan tuan. " Jawab Park Lee Min kepada Han Tae Tsu.
"Siapa yang menundanya,dan atas perintah siapa...?? " Tanya Han Tae Tsu lagi.
"Saya tuan, dan atas izin nyonya besar. " Jawab Park Lee Min dengan menundukkan kepalanya.
"Apa...! " Seru Han Tae Tsu.
"Lagi,lagi mama,uuuuff... " Ucap Han Tae Tsu sembari membuang nafas nya dengan panjang.
Han Tae Tsu melihat ke arah pintu rumah, ternyata Arumi masih berada disana.
"Gadis itu masih ada disana,tak mungkin aku kembali ke rumah. Baiklah aku akan temui pak Herman saja. "Pikir Han Tae Tsu.
" Park Lee Min,ayo ikut aku...! "Ajak Han Tae Tsu kepada Park Lee Min sembari melirik ke arah Arumi berada.
" Kemana tuan...? "Kata Park Lee Min dengan mengekor di belakang Han Tae Tsu.
" Baik tuan, "Jawab Park Lee Min patuh.
Han Tae Tsu pun masuk ke dalam mobil miliknya, diikuti dengan Park Lee Min. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil.
" Kamu lihat tuan Park...!"Ucap Han Tae Tsu memulai obrolan.
" Lihat apa tuan,,,? "Tanya Park Lee Min.
" Lihatlah di pintu itu...! Sedari tadi dia berada di sana,menunggu keberangkatanku. Dia wanita yang sempurna tuan Park. "Ucap Han Tae Tsu.
" Iya tuan, nona Arumi memang orangnya baik. "Jawab Park Lee Min.
" Bukan hanya baik tuan Park, dia juga cantik. "Ujar Han Tae Tsu lagi.
" Dan gara-gara kamu, aku harus pergi pagi ini...! "Seru Han Tae Tsu kemudian.
" Ma... maafkan saya tuan. "Ucap Park Lee Min meminta maaf kepada Han Tae Tsu.
__ADS_1
" Tak hanya itu saja, aku dengan terpaksa harus berpura-pura ada rapat pagi ini. Itu gara-gara kamu tuan Park...! "Ucap Han Tae Tsu merajuk.
Park Lee Min tersenyum dibuatnya dan berkata.
" Rapat ditunda, dan kenapa tuan muda tetap ingin pergi...?"Ungkap Park Lee Min dengan senyum-senyum sendiri.
"Kalau saja bisa tuan Park, pasalnya a.. aku sudah terlanjur malu. " Jawab Han Tae Tsu.
"Sudah cepat jalankan saja mobilnya...! " Perintah Han Tae Tsu.
"Baik tuan, " Jawab Park Lee Min.
Park Lee Min pun menyalakan mesin mobil yang ia tumpangi, lalu melajukan nya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan Han Tae Tsu pun bicara.
"Semalam aku merasa malu sekali kepada Arumi. " Ucap Han Tae Tsu.
"Kenapa tuan...? " Tanya Park Lee Min menanggapi ucapan yang Han Tae Tsu ungkapkan.
"Semalam aku kira Arumi meminta hak nya, tapi ternyata dia hanya ingin memijatku saja. Dia menertawakan aku, akan tingkahku yang bodoh. " Ucap Han Tae Tsu kepada Park Lee Min.
"Tuan muda terlalu kepedean, mana mungkin nona Arumi meminta hak nya. Yang ada malah sebaliknya. Hehe... " Batin Park Lee Min dalam hati.
"Tuan Park kenapa kamu sedari tadi aku perhatikan senyum-senyum sendiri, apakah ada yang lucu tuan Park...? " Ucap Han Tae Tsu dengan nada suara bicara tinggi.
"Tidak ada apa-apa tuan muda. " Jawab Park Lee Min dengan menahan senyuman.
Han Tae Tsu hanya melirik Park Lee Min dari kaca spion depan lalu kemudian membiarkan nya.
"Antar aku ke tempat pak Herman berada...! " Perintah Han Tae Tsu kepada Park Lee Min.
"Baik tuan muda. " Jawab Park Lee Min kemudian.
Sedangkan di rumah Arumi.
"Arumi, mau pergi kemana suami tadi...? " Tanya Galih kepada adik nya.
"Dia ada rapat penting pagi ini mas, makanya dia terburu-buru. Ohh ya, tadi dia berpesan meminta maaf kepada kalian semua sebab tidak sempat ikut sarapan bersama. " Jawab Arumi.
"Apa tadi kamu sudah membawakan bekal untuk nya...? " Tanya ibu kepada Arumi.
"Sudah buk,Arumi sudah bawakan bekal untuk nya. " Jawab Arumi.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, setidaknya sudah kamu bawakan dia bekal. Entah itu dimakan atau tidak, yang penting kamu sudah membawakan nya. " Ucap bu Darnia.
"Iya, ibu. " Jawab Arumi.