
Setelah Herman selesai membantu Arumi untuk merawat luka ditangan nya yang disebabkan pecahan kaca tersebut. Herman pun bergegas pergi lagi,padahal dirinya baru sampai di rumah. Dirinya mendapatkan laporan jika di salah satu pabrik nya sedang ada kendala. Yang mana mengharuskan nya untuk datang langsung melihat nya sendiri keadaan pabrik tersebut.
Setelah kepergian Herman,dengan cepat bulek Tuti menghampiri Arumi dan.
PLAAAAK... satu tamparan keras mendarat di pipi Arumi yang putih itu.
"auw... " pekik Arumi kesakitan, karena mendapat tamparan dari bulek Tuti dengan keras.
"kamu sudah berani ya...! godain Herman saya... " ucap bulek Tuti dengan geramnya.
"menggoda...? menggoda siapa bulek...? " tanya Arumi bingung.
"menggoda siapa lagi kalau bukan menggoda keponakan ku yang tampan... " ucap nya ketus.
"ma... maksud bulek... mas Herman...? " jawab Arumi gagap.
"tentu saja siapa lagi...!memang nya keponakan ku ada berapa hah...!? " bentak bulek Tuti kepada Arumi.
"a... apa...?" jawab Arumi terbata.
"ta... tapi bulek... mas Herman kan suami Arumi. Lagi pula, Arumi tidak pernah menggoda nya. " ucap Arumi lagi.
PLAAAKK... lagi dan lagi bunyi tamparan terdengar dengan jelas. Ya bulek Tuti kembali menampar Arumi dengan begitu kerasnya.
"ampun bulek ampun. " mohon Arumi.
__ADS_1
"apa katamu,ampun...?? " aku bahkan akan membuatmu hidup tanpa menikmati setiap detik pun kehidupan.Karenamu...! Herman menduakan aku,karenamu Herman tidak patuh lagi dengan setiap perkataanku dan karenamu aku tidak bisa menguasai seluruh harta kekayaan Herman. Tapi tak akan sulit bagiku untuk mendapatkan nya kembali. Karena aku akan membuatmu tidak betah tinggal di rumah ini. Dan secara perlahan kamu pasti tidak akan tahan dan ingin pergi dengan sendirinya dari rumah ini. "kata bulek Tuti terang-terangan.
" sini kamu...!! "teriak bulek Tuti sembari menjambak rambut panjang Arumi dengan kasar.
" auw sakit bulek,ampun... ampun bulek Tuti, hiks... hiks... "rintihan Arumi sembari merintih kesakitan.
flashback of
" ampun bulek... ampun... maafkan Arumi bulek,ampun, hiks... hiks... "guman Arumi pelan.
" Arumi... Arumi...? "ucap Han Tae Tsu dengan sangat berhati-hati karena takut Arumi kaget.
" tidak bulek jangan, jangan...!!! "teriak Arumi dan terbangun dari tidur nya. Keringat dingin keluar dari celah-celah kulit nya.
Arumi pun ternyata semua tadi hanya mimpi.Tanpa Arumi sadari,kalau dirinya tidak sendirian di kamar itu. Dan satu lagi,Arumi juga tidak sadar jika salah satu dari tangan nya telah dipasangi jarum infus.
" apa yang pernah dia alami...? sampai masuk ke dalam mimpi nya. Dan terlihat jika itu adalah sebuah peristiwa yang sangat menakutkan.Dilihat tadi dirinya sangatlah ketakutan. "guman Han Tae Tsu dalam hati.
Arumi pun belum sadar sepenuhnya,karena belum menyadari dimana dirinya. Dan lagi,Arumi juga tidak menyadari keberadaan tuan nya itu.
Kurang lebih lima belas menitan, Arumi baru sadar sepenuhnya. Dirinya melihat kalau salah satu dari tangan nya terpasang jarum infus. Dan lagi,dirinya baru sadar jika sedari tadi ada seseorang di hadapan nya, yang mana sedari tadi menatap nya tanpa berkedip.
Arumi pun salah tingkah dibuat nya.
" sudah bangun...!? "ucap Han Tae Tsu datar dengan sorot mata yang tajam, dengan aura dingin nya.
__ADS_1
" tu... tuan Han...!? "jawab Arumi takut.
" saya akan memanggil dokter,kamu tetaplah ditempatmu. "kata Han Tae Tsu dengan datar, dan berlalu pergi.
Arumi pun langsung menghirup nafas panjang setelah kepergian tuan nya.
" hampir saja aku kehabisan nafas,karena menahan nya. Tuan Han sangatlah menakutkan. "gedik ngeri Arumi.
Beberapa menit kemudian datang seorang dokter dengan seorang perawat di belakang nya. Dokter tersebut pun memeriksa keadaan Arumi.
" semua sudah membaik nona,anda boleh pulang hari ini. "ucap sang dokter,dengan seulas senyuman.
" terimakasih dokter. "jawab Arumi dengan membalas senyuman.
Dan ketika sang dokter dan perawat hendak meninggalkan ruang inap Arumi, Arumi pun menghentikan langkah sang dokter.
" dokter maaf,maaf kalau boleh saya tahu. Bagaimana dengan biaya rumah sakit saya. Eh... maksudnya,berapa biaya yang harus saya bayar dokter...? "tanya Arumi ragu.
Dokter tersebut pun malah tersenyum ramah.
"maaf nona,kalau soal biaya perawatan anda. Silakan anda menanyakan nya langsung ke bagian administrasi. " jawab sang dokter ramah.
"o... terimakasih dokter. " jawab Arumi.
Setelah kepergian sang dokter dan perawat tersebut. Arumi pun bingung, bagaimana caranya untuk membayar biaya perawatan nya. Sedangkan saat ini dirinya belum memiliki uang. Apalagi dirinya belum menerima gaji.
__ADS_1
Arumi duduk sembari merangkul kedua kaki nya yang dilipat.
"aku harus gimana ini... Sedangkan tuan Han tidak kelihatan batang hidungnya lagi pula, hiks... hiks... aku harus bagaimana ini... " ucap Arumi sembari meneteskan air mata nya.