
"Aku tak pernah tahu tentang kabar ini,tapi aku tak mau kehilangan Arumi lagi. Maafkan aku nyonya besar,kali ini aku tidak bisa mematuhimu.Aku akan berusaha dengan berbagai cara bagaimana aku bisa mendapatkan Arumi kembali. "Batin Herman dalam hati.
Tidak butuh waktu lama, semua orang kini sudah berkumpul di meja makan.Arumi,Han Tae Tsu,Nyonya Han, Tuan Park dan juga Herman. Mereka menikmati hidangan yang telah disediakan oleh asisten rumah tangga Herman. Di sela-sela makan mereka,
" Arumi...?" Ucap Hong Han Na mengawali obrolan.
Arumi mendongak, "Iya, ma...? " Sahut Arumi sembari menghentikan sendoknya yang hampir dirinya masukan ke dalam mulut.
Hong Han Na tersenyum lembut, "Sayang, apakah rumah kamu jauh dari sini...?? " Tanya Hong Han Na kepada Arumi. Walaupun sebenarnya dirinya tahu tentang Arumi termasuk tentang keluarga Arumi.Karena sebelum Hong Han Na memutuskan pernikahan Arumi dan Han Tae Tsu, dirinya terlebih dahulu menyelidiki tentang seluk beluk Arumi. Kehidupan Arumi sebelumnya Hong Han Na sudah tahu, termasuk pernikahan Arumi dengan Herman.
"Butuh waktu lima belas menit dari sini ma,untuk sampai ke sana. " Terang Arumi kepada Hong Han Na calon mertuanya itu.
"Emm,bagaimana setelah makan kita kesana...? Tidak terlalu jauh bukan untuk sampai ke sana, hanya butuh waktu lima belas menit saja. Benarkan Herman...?? " Jawab Hong Han Na dengan menyebut nama Herman.
Herman yang namanya tiba-tiba di panggil pun menjadi tersedak saat dirinya mengunyah makanan nya.
"uhuk... uhuk... uhuk... "
"Herman ada apa...?Hati-hati kalau makan...! " Ucap Hong Han Na enteng.
"Iya nyonya," Sahut Herman.
"Nyonya, apa yang kamu pikirkan tentang aku. Kenapa kamu sedari tadi menyudutkan aku. " Batin Herman dalam hati.
"Aku tahu Herman, kamu masih mencintai Arumi.Tapi aku tidak akan pernah mengizinkannya, karena Arumi hanya milik Han ku seorang. Lagipula Arumi layak untuk bahagia bersama dengan Han Tae Tsu, bukan denganmu. " Batin Hong Han Na.
Sedangkan Han Tae Tsu dan Park Lee Min mereka tidak terlalu perduli,mereka sedang asyik dengan hidangan yang tersaji.
Hong Han Na melirik ke arah Han Tae Tsu yang tengah asyik menikmati makanan di hadapannya.
__ADS_1
"Han,bagaimana saran mama...? " Tanya Hong Han Na kepada Han Tae Tsu putra semata wayangnya itu.
"Apa, ma...? " Sahut Han Tae Tsu. Karena sedari tadi dirinya hanya fokus pada makanannya saja.
"Jadi,sedari tadi kamu tidak mendengarkan ucapan mama...?? " Ucap Hong Han Na dengan kesal.
"Ayolah ma,aku sedang menikmati makanan ini.Sudah lama aku tidak memakannya. Jadi aku tidak tahu mama bicara apa dan soal apa.Biarkan aku menghabiskan nya dulu, baru nanti kita bicara. " Terang Han Tae Tsu dengan enteng nya.
Hong Han Na memutar bola matanya dengan malas.Inilah Han Tae Tsu, putra semata wayangnya yang doyan makan. Apalagi dengan makanan orang Indonesia,Han Tae Tsu sangat menyukainya.Bukan tanpa alasan Han Tae Tsu menyukai masakan orang Indonesia, karena memang sang ayah asli orang Indonesia. Bahkan beliau membawa asisten rumah tangga dari Indonesia. Jadi tidak heran jika Han Tae Tsu menyukai masakan asli Indonesia, karena sedari kecil dirinya sudah terbiasa memakan masakan Indonesia.
"Baiklah besok kita ke rumah Arumi dulu, sebelum mengurus urusan kerjaan.Mama sudah kenyang,mama mau istirahat dulu. " Kata Hong Han Na dengan malas.
"Arumi,nanti kamu tidur dengan mama. " Ucap Hong Han Na lagi.
"Baik ma,nanti Arumi menyusul. " Jawab Arumi.
"Pak Purnomo,apa semua baik-baik saja...? " Tanya Han Tae Tsu kepada Purnomo atau Herman, karena tanpa mereka sadari sedari tadi pandangan Han Tae Tsu tak pernah luput memperhatikan orang-orang disekitarnya.
"Semua baik-baik saja tuan muda, anda tidak perlu risau. " Jawab Herman.
"Besok pagi sebelum mama bangun, aku mau kita pergi ke pabrik dulu. Beri tahu bawahan kamu untuk mempersiapkan segalanya dari awal. Tepat pukul tujuh pagi, aku mau semua karyawan pabrik berkumpul dan tanpa terkecuali. Ingat, aku tidak mau ada yang terlambat. Beri mereka sangsi, jika ada yang terlambat. " Perintah Han Tae Tsu kepada Herman dengan nada bicara datar.
"Baik tuan. " Jawab Herman kemudian.
Setelah selesai dengan urusan perut, mereka pergi ke kamar masing-masing.
Herman dengan segera menghubungi bawahan nya untuk menyampaikan pesan dari Han Tae Tsu.
Di tempat lain.
__ADS_1
Tepatnya di teras rumah kediaman Arumi.
"Pukul tujuh pagi kita harus sampai di pabrik. Orang besar,semaunya saja mereka memberi perintah. Mereka pikir kita ini apa,bayangkan pukul tujuh pagi...?? Biasanya saja pukul sembilan pagi kita baru berangkat ke pabrik. " Ucap Galih kakak lelaki Arumi yang pertama.
"Sudahlah, kita ini bisa apa...?? Tinggal manut saja gampang kan... " Jawab Ayu istri dari Bagas kakak Arumi yang ke dua.
"Ada apa tow mas, kok malam-malam gini mengeluh...? " Tanya Bagas kepada Galih.
"ini lho Gas,dapat whatsapp dari group pabrik. Katanya besok pagi tepat pukul tujuh pagi, semua karyawan pabrik harus sudah sampai di pabrik. Itupun tanpa terkecuali,dan jika sampai ada yang terlambat. Mereka akan dikenakan sangsi. Bayangkan, pukul tujuh pagi...? Edan tenan (gila benar). Jam segitu aku saja, baru bangun tidur. " Terang Galih sembari menepuk kepala nya sendiri dengan tangan.
"Benar apa yang dikatakan oleh Ayu,kita ini orang kecil. Jadi tinggal manut saja. " Jawab Bagas menimpali.
"Ya sudah,aku mau tidur dulu. Biar besok aku tidak kesiangan bangunnya. " Ucap Galih dengan nada bicara malas.
"Iya mas, aku juga." Jawab Bagas.
"Ayo dek," Ajak Bagas kemudian mengajak istrinya Ayu untuk beristirahat.
Mereka pun meninggalkan teras rumah, dan masuk ke rumah menuju ke kamar mereka masing-masing.
"Pak,perasaan dari tadi pagi. Ibu teringat Arumi terus,semoga saja tidak terjadi apa-apa pada dirinya. " Ucap Ibu Darnia ibu Arumi.
"Sejak kapan kamu perduli dengan Arumi...? " Jawab Warsito ayah Arumi.
"Pak, apa maksud dari ucapan bapak barusan...? " Tanya ibu Darnia dengan nada bicara meninggi.
"Tak perlu berlebihan,bapak malas menanggapi ibu. Bapak mau istirahat dulu,dan lebih baik. Ibu tidak perlu lagi menyebutkan nama Arumi di rumah ini lagi.Karena sejak saat itu,hati bapak hancur. Mengingat Arumi,sama saja mengingat kembali perbuatan ibu kepadanya. Anakku yang malang, maafkan bapakmu ini nak, hiks... hiks... hiks... " Jawab Warsito sembari meneteskan air matanya.
Warsito pun berlalu pergi meninggalkan sang istri yang terdiam mematung mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1