
Palembang 1990-an
Cuaca sangatlah panas dan semakin panas akhir-akhir ini, para pekerja tambang tampak mengusap keringat yang membasahi tubuh dan wajah mereka. Kepulan asap membumbung ke angkasa dari corong mesin pengilangan minyak yang mengeluarkan suara gemuruh dan nyaring.Lima orang pria berpakaian kemaja tampak mencolok dengan pakaiannya yang berbeda dengan pekerja tambang lain, mereka tampak sedang serius menatap sebuah kertas panjang yang dipegang oleh salah seorang dianatara mereka.
" Maaf pak...Jiman...anu...Jiman...!" seorang pria pekerja tambang menghampiri mereka dnegan tergopoh-gopoh, wajahnya terlihat pucat dan panik.
" Ada apa Sup...?"
" Anu pak Hendra, Jiman...Jiman dipacuk ular...!"
" Siapa...?!" seorang pria berkemaja putih dengan helem kuning di kepalanya segera menghampiri pekerja tambang tersebut.
" Pak Aditya, JIman teman saya dipacuk ular berbisa...sekarang dia pingsan tak sadarkan diri...!"
" Dimana dia sekarang...?"
" Teman-teman membawanya ke barak pak...!"
" Baiklah, Hendra kita bawa Jiman segera ke Puskesmas terdekat...pakai mobil saya saja...cepat...!!!"
" Baik pak...!" jawab Hendra.
PUSKESMAS PLAJU
Setiap hari Senin Puskesmas Plaju dipadati banyakn pasien yang hendak berobat dan juga ibu-ibu yang membawa balitanya untuk imunisasi.
Seorang pria membukakan pintu mobilnya sambil menggotong pria yang tak sadarkan diri bersama dua orang pria lainnya.
" Tolong suster...tolong..pasien ini pingsan dipatuk ular berbisa...!"
" Baik pak...!" suster dan perawat di Puskesmas tersebut segera membawakan blankar untuk pasien yang dibawa mereka dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan. Setelah menunggu sepuluh menit lamanya seorang perawat keluar dari ruangan tersebut.
" Gimana sus..gimana keadaan pasien Jiman...?"
__ADS_1
" Pasien sudah kami tangani semampunya, tapi kami mohon maaf kami tidak bisa melakukan tindakan apapun tanpa sepengetahuan dan ijin dari dokter kami...!"
" Maksud anda sus...?"
" Jika memang pasien harus operasi kami tidak bisa melakukannya karena dokter Syarif, dokter di Puskesmas ini sedang rapat di Kabupaten, jadi...."
" Apa....tidak ditangani..???!!!" " Apa karena dia miskin jadi tidak ditangani iya...?" pria tadi langsung marah smabil mendekati suster itu.
"Bukan pak...!"
" Saya Aditya...saya yang bertanggung jawab dengan kondisi pasien yang bernama Jiman itu, berapapun biayanya akan saya bayar...faham...!"
Suster tersebut tampak ketakutan melihat kemarahan pria bernama Aditya itu.
Tiba-tiba seorang perempuan berambut panjang dengan jas putih yang dikenakannya keluar dari ruangan lain dan langsung menghampiri mereka.
" Ada apa ini...?" tanya nya.
" Ini dok..bapak ini marah karena kami tidak melakukan tindakan medis lain karena dokter Syarif sedang dinas ke ....."
" Oh jadi anda dokter juga, untuk apa anda disini kalau tidak mampu melakukan tindakan lain untuk pasien Jiman..kenapa...?" " Apa karena dia miskin dan hanya seorang pekerja tambang iya...?!" " Lalu untuk apa gunanya alat ini...?!" Aditya menyentuhkan tangannya di stetoskop yang menggantung di leher perempuan berjas putih dihadapannya." Tolong jawab, untuk pamer pada orang-orang saja kalau anda itu dokter iya...?!!!"
" Dokter Sita....?!" suster yang dimarahi Aditya merasa tidak enak hati dan menatap tajam perempuan berambut panjang yang dipanggilnya dengan dokter Sita.
" Tidak apa-apa....tolong antar saya ke ruangan pasien bernama Jiman yang dimaksud bapak ini...!" ujar dokter tersebut.
" Baik dok...!"
Kecemasan dan kemarahan pria bernama Aditya itu sedikit mereda. Hendra dan Yusuf yang ikut mengantar merasa heran melihat atsan mereka yang terlihat marah besar pada orang asing yang berau dikenanya.
" Saya takut terjadi apa-apa dengan Jiman...saya akan dihantui rasa bersalah jika nyawa Jiman tidak bisa diselamatkan, kasihan dengan anak-anaknya..anak-anaknya masih sangat kecil-kecil sedangkan istri Jiman tidak bekerja sama sekali hingga mengandalkan uang gaji Jiman untuk kehidupan mereka, saya tidak dapat membayangkan ....Tolong hamba Tuhan..berikan kesembuhan untuk Jiman...!"
Perempuan cantik berambut panjang bernama dokter Sita itu tertegun sejenak mendengar ucapan pria bernama Aditya yang berdiri membelakangi tubuhnya.
__ADS_1
" Pak Aditya...?" dokter Syarif kepala Puskesmas Plaju merasa heran melihat kedatangan pimpinan perusahaan minyak negara di Puskesmanya.
" Dokter Syarif...apa kabar dok..katanya ada kegiatan di Palembang...?"
" Iya Pak, saya diminta pak Bupati untuk menghadiri rapat dinas dengan beliau, oiya siapa yang sakit...?"
" Tidak dok, saya bawa pekerja tambang kemari karena dipatuk ular berbisa tadi...!"
" Sekarang dimana pasien nya...?" tukas dokter Syarif.
" Sudah ditangani oleh...." Aditya membalikan tubuhnya, dirinya terkejut melihat sosok perempuan yang menolong Jiman sedang berdiri. " Mm..maaf...anda...."
Dokter Syarif tersenyum lalu kemudian menghampiri perempuan itu. " Perkenalkan pak Aditya, ini adalah dokter Sita, dokter Sita ini sedang menyelesaikan ko-as nya disini...baru satu bulan kalau nggak salah, iya kan dok...?" perempuan bernama Sita itu pun mengangukkan kepalanya.
Aditya sontak terkejut mendengar penjelasan dokter Syarif tentang perempuan berambut panjang yang kini baru disadari kecantikannya. Dirinya merasa bersalah dan malu dihadapannya.
" Lho kok ada apa ini, dikenalkan tapi tidak bersalaman...kalian saling kenal...?" Dokter Syarif menatap keduanya dengan heran. Dengan cepat Aditya menjulurkan tangannya. Sita tampak ragu menerima jabat tangan Aditya namun tak lama kemudian diterimanya. Tanpa sadar keduanya saling bertatapan dan saling merasakan sesuatu yang membuat debaran jantung mereka berdegup kencang.
" Saya..saya minta maaf atas kejadian tadi....saya panik karena..." Aditya berkata dengan gugup.
" Tidak apa-apa...saya bisa maklumi ...!" jawab Sita sambil menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Aditya.
" Ehem...sudah kenalannya...?!"
Aditya dan Sita pun seketika melepaskan tangan mereka karena merasa malu dengan dokter Syarif yang tersenyum melihat mereka yang belum saling melepaskan tangan.
" Saya masih ada psien lain dok..saya permisi..!" tukas Sita sambil melangkah pergi dengan wajah merah padam.
__ADS_1