Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 22 ( Melepas Rindu )


__ADS_3

    Aditya menjalankan mobil taft miliknya dengan terburu-buru, kepulan debu tanah membumbung tinggi saat Aditya melintas jalanan yang masih berupa tanah merah, Kabut yang masih tebal tak membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Sita yang sudah dirindukannya. Adzan subuh berkumandang, Aditya memutuskan untuk berhenti di sebuah surau untuk menunaikan kewajibannya namun tak lama kemudian dirinya pun melanjutkan kembali perjalanannya. Suara Sita yang terdengar pilu di telpon membuat Aditya semakin gundah, keinginannya untuk bertemu Sita sudah tak tertahankan lagi.


   KEDIAMAN SULTAN MAHMUD


     Di dalam kamarnya Sita nampak sangat gelisah, tubuhnya bergulingan di atas ranjang tidurnya yang luas dan empuk, namun semua kenyamanan itu tak lantas membuat Sita  dapat memejamkan kedua matanya walau sesaat, rencana pertemuannya dengan Aditya besok membuat debaran jantungnya berpacu lebih cepat.


    Suara ayam jantan berkokok memecah keheningan waktu fazar, suara air kran dari dapur membuat Sita segera beranjak dari tempat tidurnya. Usai solat subuh Sita pun pergi ke dapur, dilihatnya mak Qayah sedang menanak nasi untuk sarapan keluarga Sultan Mahmud dibantu seorang pembantu. Melihat kedatangan Sita, mak Qayah pun segera menghampiri.


    " Pakaianmu sudah mak masukan ke dalam keranjang belanjaan, mak pastikan ayahmu tidak akan tau, percaya sama mak..!"


    " Trima kasih mak...!" " Oiya mak pergi ke pasar jam berapo...?"


    " Mak diantar Sahrul jam tujuh pagi...!"


    " Mak nggak lupa kan tas itu harus di titipkan dimana...?"


    " Tentu sajo, di kantin Sederhana dekat kampusmu itu kan...?"


    " Iya mak, bu Piah nama ibu kantinnya, mak percayakan sajo tas Sita disana..!" " Sita pergi kuliah jam sembilan pagi dan Harun pasti yang mengantar Sita, jadi mak pastikan agar Harun tidak melihat kedatangan Mak saat menitipkan tasnya, karena Harun pasti akan melapor pada ayah...!"


    " Mak akan sangat berhati-hati, kau ndak perlu khawatir, sekarang tidurlah lagi sajo, wajahmu terlihat kusut karena kurang tidur...!" bu Qayah mengusap wajah Sita, rasa sayangnya pada Sita melebihi rasa sayangnya pada diri sendiri, Sita kecil selalu berada di dalam pangkuannya, tak pernah seharipun mereka bepisah. Oleh karena itu tidak heran jika kedekatan mereka laiknya seorang ibu dan anak kandungnya. Dan sekarang saat Sita menderita, dirinyapun rela pasang badan demi kebahagiaan Sita apapun resiko yang akan dihadapinya.


    " Mak..!" Sita menghambur ke pelukan perempuan yang amat disayanginya itu.


    " Jangan menangis, nanti ketahuan ibu dan ayahmu...!" Mak Qayah mencoba memperingatkan Sita sambil mengusap air matanya yang jatuh di sudut pipinya " Pergilah ke kamarmu lagi anakku sayang..istirahtlah, semua akan baik-baik sajo, percaya sama Mak...!"


    Sita mengangukkan kepalanya. " Iya mak..!" tukasnya pelan.


    Nyonya Zubaidah sedang melayani seorang pembeli yang akan memborong kain songket di toko miliknya ketika Sita pamit untuk pergi ke kampus.


    " Bu, Sita ..Sita pamit ...!" Sita berkata sambil menahan sebah di dadanya melihat wajah ibu kandungnya.


    " Pergi kuliah kau nak...?" tanya nyonya Zubaidah.


    " Benar bu, jam sembilan Sita ada kuliah sampai sore...!" jawab Sita.

__ADS_1


    " Sudah kau bicarakan ini dengan ayahmu...?" tanya nyonya Zubaidah, dirinya khawatir jika suaminya itu tidak mengizinkan putri mereka kembali ke kampus.


    " Sudah bu, ayah sudah mengizinkan, ini hari terakhir Sita kuliah sebelum acara lamaran...!"


    " Baiklah kalau begitu, hati-hati..jaga diri ..!"


    " Iya bu, Sita pamit...assalamu'alaikum..!" Sita mencium punggung tangan ibu nya dengan khidmat, Ingin rasanya dirinya menceritakan dengan jujur apa yang akan dilakukannya hari ini, namun melihat raut wajah ibunya yang terlihat bahagia dirinya pun mengurungkan niatnya.


    " Wa'alaikumsalam...!" Nyonya Zubaidah membalas ucapan salam putrinya itu.


    Sita melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil mewah milik Sultan Mahmud yang sengaja di berikan untuk mengantarnya pergi kuliah. Mak Qayah yang berdiri bersembunyi di balik tembok tampak menangis saat melihat dirinya yang kini sudah duduk di dalam mobil.  Sita pun menitikan air matanya melihat semua itu, baginya mak Qayah adalah ibunya yang menyayangi dirinya dengan sepenuh hati. Kini mereka harus berpisah dengan waktu yang tak dapat dipastikan dapat bersua kembali.


    " Jalan pak...!" Sita menatap lurus ke depan, semakin lama semakin sakit dirasakannya melihat wajah mak Qayah nya itu.


    " Baik non...!" jawab Harun supir kepercayaan ayahnya.


    Sita memejamkan kedua matanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Masa kecilnya bersama mak Qayah terbayang-bayang dalam ingatannya.


    " Maaf nona, apakah kita langsung ke kampus saja atau ada keperluan lagi dulu...?"


    KOTA PALEMBANG


    Tepat pukul sembilan pagi Aditya Nugraha mulai memsuki kota Palembang. Kini dirinya melewati jembatan Ampera yang menghubungkan daerah sebrang ulu dan daerah sebrang hilir dan membantang melintasi sungai Musi yang terkenal sebagai icon kota ini.  Konon jembatan Ampera ini dibangun pada tahun 1962 dengan panjang kurang lebih 224 meter. Jembatan ini sangat unik karena dapat diangkat dan terbelah menjadi dua bagian namun sejak tahun 1970 jembatan ini diputuskan untuk tidak lagi menjadi jembatan angkat karena khawatir dengan bebanya yang berat. Namun semua itu tidak lantas mengurangi keistimewaan jembatan ini karena pada malam hari akan lebih indah dengan kilauan lampu-lampunya yang kelap-kelip dengan indahnya.


     Pukul 11 siang jam yang disepakati dirinya dan Sita untuk bertemu di ujung jembatan ini nanti. Karena masih pagi, Aditya memutuskan untuk pergi ke kantor nya dulu untuk mengikuti sebuah meeting dengan pimpinan cabang.


    " Slamat pagi pak Aditya, tumben masih pagi kemari...?" sapa seorang karyawan kantor cabang.


    Aditya pun tersenyum " Sengaja biar bisa pulang cepat....!" jawabnya.


    " Memangnya pak Aditya mau pergi kemana kok buru-buru...?"


    " Ada deh, rahasia...!' ujar Aditya sambil tertawa terbahak-bahak. Karyawan itu pun ikut tertawa.


    Aditya duduk di sofa sambil menunggu pimpinannya, selang beberapa menit kemudian yang ditunggunya pun datang dan langsung mengajak Aditya masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


    UNIVERSITAS SRIWIJAYA


    Berkali-kali Sita menengok jam tangannya, waktu terasa sangat lambat hari ini. Ceramah doktor Rusli tentang " Anatomi tubuh manusia " yang biasanya diikutinya dengan sangat baik, kali ini tidak ada satupun yang masuk ke dalam otaknya.


    " Kamu gelisah sekali Sita, ada apa...?" tanya Fera teman kuliahnya sekaligus sahabatnya sejak mereka duduk di bangku sekolah menengat atas.


    " Nggak..nggak apa -apa kok, hanya kebelet saja..!" jawab Sita berbohong.


    " Kalau kebelet kenapa mesti ditahan, kamu ini dokter apa bukan sih...!" tukas Fera kemudian.


    Sita pun tersenyum.


    Kali ini ceramah dokter Rusli terasa bertele-tela dalam menyampaikan materinya, Sita kembali menengok jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang namun tak juga dokter Rusli mengakhiri ceramahnya.


    " Kamu ini Ta, kamu ke belakang saja dulu, permisi sana...!" Fera menatap Sita yang terlihat lebih gelisah.


    " Fer, setelah kuliah dokter Rusli kan kuliahnya dokter Frans, aku sakit perut sekali ini, kalau nggak dapat ditahan lagi mulesnya aku akan pergi ke dokter saja di rumah sakit, kamu tanda tangan kehadiranku kali ini ya ...please...?" Sita berkata pada sahabatnya sambil memohon.


    " Baiklah sahabatku yang cantik, kali ini aku kabulkan permintaan kamu...!" jawab Fera sambil mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.


    Sita pun segera mengambil tas nya lalu melangkah mendekati dokter Rusli dan menyampaikan alasan nya untuk pergi ke belakang. Sita pun merasa lega karena dokter Rusli mengiyakannya,


    Sita melangkah cepat di koridor kampus menuju kantin dimana mak Qayah telah menitipkan tas yang berisi pakaiannya di kantin milik bu Dewi yang sudah akrab dengannya.


    " Ya Tuhanku...!"  Sita merasakan jantungnya berdegup kencang melihat mobilnya terparkir di halaman belakang kampus. Harun supir pribadinya terlihat sedang menghisap rokoknya sambil duduk bersender di samping mobil sambil berbincang-bincang dengan seseorang Sita pun terpaksa mengendap-ngendap diantara mobil-mobil yang terparkir agar tidak terlihat. Sesampainya di kantin bu Dewi, Sita pun segera menemui pemiliknya.


    " Non Sita..?"


    " Iya bu, ibu tadi dititipi tas oleh seorang ibu-ibu untuk saya...?'


    " Oalah ibu lupa, benar tadi ada ibu-ibu turun dari becak dan menitipkan ini...!" Bu Dewi menyerahkan sebuah tas padanya.


    " Trima kasih bu...!" ucap Sita.


    " Sama-sama non cantik...!' jawan bu Dewi sambil tersenyum.

__ADS_1


    Sita pun segera meraih tas tersebut, kembali dilangkahkannya kakinya menuju halaman depan kampus, seorang tukang becak yang sedang duduk di atas becaknya dipanggilnya untuk kemudian mengantarnya ke sebuah tempat yang dijanjikan tempat bertemu dirinya dan Aditya.


__ADS_2