Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 19 ( Kepulangan Aditya )


__ADS_3

Pesawat terbang yang merupakan karya anak bangsa ini, kini membawa pulang Aditya dari Palembang menuju Jakarta. Pesawat terbang ini merupakan sebuah aplikasi dari teori seorang engineering asal Sulawesi namun berkuliah di Jerman. Penumpang merasa nyaman dimana kabin ruangan yang cukup luas dan suara mesin pesawat yang tidak menganggu. Pesawat terbang ini diciptakan dengan teknogi tinggi yang dapat mengurangi timbulnya guncangan pada saat terjadinya turbulensi.


    Aditya duduk di samping jendela, dilihatnya pemandangan di luar jendela sana yang melukiskan indahnya karya sang Pencipta. Wajah cantik Sita kini kembali hadir dalam ingatannya,


    " Bawa Sita perhi jauh mas.."


    Kata-kata yang diucapkan Sita saat mereka berdua sedang menikmati air terjun kini terngiang-ngiang kembali. Wajah cantiknya tampak sangat menghiba. Aditya memejamkan kedua matanya yang kini mulai tergenang oleh air mata. " Aku rindu kamu Sita..." gumam hatinya.


KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


" Apa benar nak Zaini mengizinkan Sita untuk lanjut kuliah...?"


    " Benar sekali, saya ingin Sita wujudkan cita-citanya menjadi dokter,masalah nanti selepas menikah dia akan praktik atau tidaknya, ya.... lihat-lihat nanti sajalah,..!" jawab Zaini sambil menatap Sita yang duduk di sampingnya.


    " Mm..bagus..!" tukas Sultan Mahmud sambil menghisap rokok di cangklongnya.


    " Oiya, masalah tanah yang dekat pasaraya itu Pak, bagaimana kalau kita bangun sebuah cafe disana, pastinya akan ramai...!" " Disana dekat dengan pusat perbelanjaan, mereka kalau lelah seharian beraktivitas, bisalah mampir ke cafe kita tuh...!" Zaini berkata masalah bisnis dengan calon mertuanya sedangkan Sita duduk sambil membaca sebuah majakah di tangannya.


    " Begini, kalau kerja sama perusahaan kita lancar di Lahat sana, saya pastikan cafe itu pun akan kita bangun sesuai keinginanmu...!" tukas Sultan Mahmud.


    " Ooh....Tentu saja itu pak, saya yakin sukses...!" ujar Zaini ponggah." Kita honey moon ke Eropa saja sayang, laba nya besar sekali kalau sampai goal yang di Lahat itu..!"


    " Kalau goal, kalau tidak...?" tukas Sita.


    " Uangku tak akan habis kalau hanya gagal di bisnis itu Sita, percaya sama aku..!" Zaini berkata sambil tersenyum menatap Sita.


    " Benar apa yang dikatakan calon suamimu itu Sita, nak Zaini ini memiliki banyak perusahaan lain, ayah tau perisis...!" Sultan Mahmud ikut menambahkan.


    Sita merasa sudah muak mendengar obrolan ayahnya dan Zaini yang menurutnya tidak berbobot sama sekali.


    " Oiya maaf, Sita baru ingat kalau Sita belum sholat isya, permisi...!" Sita pun beranjak. Zaini hendak melarangnya karena masih ingin berdekatan namun melihat Sita yang sudah terlihat murung akhirnya dirinya pun mengiyakannya.


JAKARTA


    Aditya melihat tiket kereta api yang sudah dibelinya, disana tertera jadwal pemberangkatan ke Bandung.


    " Masih dua jam lagi...!" gumamnya sambil melihat arloji di tangannya.

__ADS_1


    Seketika Aditya menghentikan langkahnya menatap sebuah WARTEL di stasiun kereta api tersebut. Diraihnya dompet di saku celananya lalu dicarinya sebuah kertas yang dulu tanpa sengaja di temukannya di kamar Sita.


Di kertas tersebut terdapat angka 0711-xxxxxx yang ditulis menggunakan pensil. Tanpa berfikir lagi Aditya pun melangkah menuju WARTEL yang dimaksud.


    " Slamat malam pak, anda mau menelpon...?" sapa seorang petugas wartel.


    " Benar,...bisa...?" ujar Aditya.


    " Lokal atau interlokal...?" tanya petugas tadi.


    " Sepertinya interlokal jika melihat angka kode area Palembang untuk 0711...!"


    " Iya pak, itu sebuah nomer telpon, kalau begitu bapak gunakan kamar no 3 dan nomor 4 untuk sambungan interlokalnya...!"


    " Trima kasih mbak..!" jawab Aditya.


    Aditya sediki ragu menekan tombol angka-angka di hadapannya, namun rasa penasaran selalu muncul.


Sita yang baru saja keluar dari kama,r bermaksud menghampiri kamar Mak Qayah ketika tiba-tiba telpon rumahnya berdering kencang. Sita pu menghentikan sejenak langkahnya lalu kemudian mengangkat gagang telponnya.


    " Hallo....?"


    " Hallo...?"


    " Mas..mas Aditya....?" ucap Sita lirih.


    " Dik Sita...benarkan ini dik Sita...?" " Ini aku Aditya...!" Aditya tersenyum lebar mendengar suara kekasihnyaa.


    " Iya mas, ini Sita...!"


    " Ya Tuhan...terima kasih akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi dik, adik apa kabar...?" ujar Aditya dengan sumringah. Wajah tampannya terlihat berseri-seri.


    " Sita baik-baik saja mas...!" Sita menjawab pertanyaan Aditya dengan perasaan gembira.


    Kerinduan yang selama ini memenuhi ruang hati mereka seakan tumpah ruah walau hanya dengan mendengar suara.


    " Mas Aditya dapat dari mana nomor telpon rumah Sita ini...?"

__ADS_1


    Aditya pun akhirya menceritakan kejadian saat itu dimana Sita di bawa pulang paksa oleh kedua orang tuanya.  Diceritakannya pula kesedihan hatinya saat itu. Sita pun menangis mendengar semua ucapan Aditya.


    " Maaf...maafkan Sita mas...!"


    " Hei..berkali-kali adik minta maaf tentang itu, sudahlah sayang..tidak ada yang perlu dimaafkan, yang terpenting sekarang kita bisa saling menumpahkan rindu selama aku disini...!"


    " Memangnya mas dimana..?"


    " Mas lagi menunggu kereta menuju Bandung...!"


    " Bandung...?" : Berapa lama...?"


    " Aku cuti selama sepekan,  hari Minggu depan aku kembali ke Plaju...!"


    "  Ooh,,,Sita kira mas tidak akan kembali lagi ke Palembang..!" ujar Sita/


    " Wah nggak dong, cuma sudah lama saja nggak pulang, sudah rindu ibu dan kedua adikku disana...!"


    " Bahagia sekali mendengar mas pulang menemui ibu sendiri, Sita bisa tau bagaimana rasa sayang mas Aditya pada ibu...!"


    " Ya, aku bisa seperti sekarang ini adalah berkat doa ibu yang setiap malam tidak pernah berhenti solat tahajud memohon keberhasilan anaknya...!"


    Sita tersenyum " Sampaikan salam Sita untuk ibumu ya mas...!"


    " Tentu sayang, aku akan sampaikan, aku akan minta doa ibu agar kita bisa bersatu hingga menuju Jannah-Nya..aamiin...!"


    " Aamiin mas...!" jawab Sita senang.


    " Sayang sekai dik, kereta mas akan segera sampai, dengan berat hati aku akhiri pembicaraan kita ya sayang...?"


    " Iya mas tidak apa-apa, sudah mendengar suara mas Aditya saja, Sita sudah senang...!" " Hati-hati mas, jaga kesehatan...!"


    " Kamu juga dik, jaga dirimu baik-baik...selipkan namaku di setiap doa-doa yang adik panjatkan...!"


    " Tentu saja mas...!"


    " Assalamu'alaikum...!"

__ADS_1


    " Wa'alaikumsalam...!" jawab Sita sesaat sebelum Aditya menutup telponnya.


    Sita berlari menuju kamarnya, di carinya foto Aditya lalu diciumnya berkali-kali sambil tersenyum bahagia. Aditya pun merasa ringan melangkah menuju gerbang kereta api Parahyangan yang akan membawanya pulang.


__ADS_2