Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 5 ( Kedatangan Aditya )


__ADS_3

Sita menempati rumah panggung sederhana milik bu Tuti. Bu Tuti sendiri adalah seorang janda dengan satu orang putra bernama Rahmat. Kehidpan Bu Tuti dan Rahmat sangat kekurangan setelah ditinggal pergi suaminya yang meninggal tiga tahun yang lalu akibat penyakit jantung yang di deritanya. Suami bu Tuti adalah seorang petani penggarap sawah yang ikut program transmigrasi ke Palembang sedangkan aslinya mereka berdua berasal dari Kebumen Jaw tengah. Ketika itu Rahmat jatuh sakit kena typus, mereka bertemu dengan dokter Syarif yang memberi tau jika beliau membutuhkan sebuah rumah untuk dikontrak oleh seorang dokter perempuan, tanpa berfikir panjang bu Tuti pun menyetujuinya karena memang sedang terdesak kebutuhan ekonomi hingga menyebabkan Rahmat tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke sekolah menengah pertama karena tak cukup biaya.


Alangkah senang nya bu Tuti dan Rahmat karena ternyata dokter yang menempati rumah mereka adalah orang yang sangat baik dan bersahaja, dokter Sita selain memiliki paras yang cantik juga memiliki sifat rendah hati dan pemurah, sehingga mereka berdua pun memutuskan untuk berbakti padanya dengan menjadi pembantu rumah tangga yang membantu dokter Sita.


Sita pun merasa senang, selain ditemai Rahmat dan ibunya, dirinya pun ditemai oleh suster Reni yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri, Mereka semua tinggal di rumah sederhana itu namun memiliki keakraban seperti halnya keluarga sendiri.


Malam ini hujan turun rintik-rintik membasahi tanah Plaju, Sita sedang membaca buku kuliahnya sambil menemani Reni yang tengah belajar anatomi tubuh manusia padanya. Sita mencoba menerangkan semua materinya dengan harapan Reni bersemangat untuk melanjutkan kuliahnya hingga starata satu. Bu Tuti dibantu Rahmat sedang asyik di dapur membuat cemilan untuk mereka dengan membuat goreng singkong. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu rumah dari luar.


    " Ada tamu rupanya dok...!" ujar Reni.


    " Siapa malam-malam begini...?" Sita melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam.


    " Mungkin tetangga yang sakit dok...biar saya yang lihat..!" tukas Reni yang diiyakan Sita.


    Sita merapihkan buku-buku yang berserakan tadi lalu menyimpannya ke dalam kamarnya.


    " Dok..ada tamu mencari bu dokter...!" Reni tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan senyum lebarnya.


    " Siapa...?" tanya Sita.


    " Lihat saja dulu dok...tamunya bukan hendak bertemu saya tapi spesial untuk bu dokter,...!" ujar Reni.


    Sita dibuat penasaran namun alangkah terkejutnya dirinya melihat sosok pria mengenakan batik tengah berdiri di ambang pintu. Melihat kedatangannya dari balik kamar, pria itu tersenyum dengan manisnya. Seketika Sita pun merasa jantungnya berdebar sangat kencang, senyum pria itu lah yang selama ini menganggu tidurnya.


    " Maaf saya bertamu malam-malam...!"ucap pria itu.


    " **..tidak apa-apa mas..silahkan duduk...!" jawab Sita gugup sambil mempersilahkan tamunya duduk.


    " Trima kasih...!"


    " Mas Aditya mau minum apa...?" Sita mencoba mencairkan kekakuan diantara mereka berdua.


    " Tidak usah...saya kemari bermaksud mengajak dik Sita pergi ke sebuah acara yang diadakan di kecamatan...!"


    " Acara..acara apa mas...?" tanya Sita.


    " Adik tidak menerima undangan dari pak Camat, malam ini pak Camat mengadakan acara syukuran pernikahan putrinya...!" jawab Aditya.


    " Ooh..mungkin undangannya ada di Puskesmas, hari ini saya tidak kesana karena ada tetangga disini yang melahirkan dan kebetulan ada sedikit masalah dengan persalinannya dan terpaksa dirujuk ke rumah sakit daerah...!" ujar Sita.


    " Biar tidak terlalu malam, bisa kita berangkat sekarang...?" tanya Aditya kemudian.


    Sita ragu-ragu menjawab ajakan Aditya namun dirinya merasa tidak enak hati karena Aditya sudah jauh-jauh menjemputnya kemari karena jarak mess tempat tinggalAditya dan dirinya cukup jauh dan memakan waktu satu jam lamanya di perjalanan.


    " Baiklah mas..tapi ijinkan saya ganti pakaian saya dulu...!"

__ADS_1


    " Silahkan...!" Aditya terlonjak senang karena akhirnya bisa kembali berduaan dengan wanita pujaan hatinya itu,


    Suster Reni dan bu Tuti tampak tersenyum melihat Sita dan Aditya di balik lemari penyekat ruangan yang menjadi pemisah antara ruang tamu dan ruang tengah.


    " Sejak kapan bu dokter dan pak Aditya saling kenal bu Reni...?


    " Entahlah bu, tapi saya rasa sejak pekerja tambang dirawat di Puskesma karena patukan ular satu bulan yang lalu kalau tidak salah....tepatnya sih saya sendiri tidak tau...!" jawab suster Reni.


" Mereka berdua serasi sekali, yang satu cantik dan yang satu lagi begitu tampan dan gagah...!" ujar bu Tuti.


    " Yang satu begitu dermawan dan yang satu lagi suka menolong dan penyayang...!" Suster Reni menimpali perkataan bu Tuti.


    " Semoga saja mereka berdua berjodoh....!" ucap bu Tuti yang diaminkan suter Reni.


    Sambil menunggu Sita bersiap-siap, Aditya membaca sebuah majalah kesehatan. Namun tak lama kemudian suara Sita membuatnya membalikan wajahnya.


    Sita berdiri dengan baju kebaya encim bordir berwarna putih dipadukan dengan kain songket merah, rambut panjangnya kini diikatnya dengan rapih dengan sebuah jepit hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Sebuah kalung emas dan giwang senada membuat kecantikan Sita semakin mempesona.


    " Dik Sita...?!" Aditya menatap nya dengan takjub, dirinya tak mampu berkata-kata selain hanya menatap Sita dengan tatapan penuh cinta.


    Melihat Aditya yang hanya diam menatapnya, Sita pun melirik pakaiannya.


    " Ada yang salah ya dengan pakaian Sita malam ini...?" tanya Sita tiba-tiba.


    " Tidak..tidak..tidak ada cacat nya sama sekali, adik sangat cantik...!" ujar Aditya memuji kecantikan Sita malam ini.


    Aditya tersadar, senyumnya seketika mengembang.


    " Yuk..!" Aditya menarik jemari tangan Sita.


KEDIAMAN PAK CAMAT


    Di kediaman pak camat tengah berlangsung sebuah pesta adat yang begitu meriah, sepasang pengantin tampak bersanding dengan bahagia di atas pelaminan sambil menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Aditya membuka pintu mobil nya untuk Sita. Sita pun turun lalu merapihkan pakaiannya sebelum akhirnya melangkah. Keduanya berjalan dengan perasaan bahagia, Aditya mengenggam erat jemari tangan Sita dan Sita sendiri tak menolaknya dan membiarkan jemari tangannya berada dalam genggaman Aditya


    Kedatangan Aditya dan Sita menjadi pusat perhatian semua orang, mereka terlihat sangat serasi berjalan mesra menuju pelaminan. Beberapa orang tampak berbisik membicarakan mereka.


    " Pak Aditya....anda...?" Pak Camat terkejut melihat kedatangan Aditya dengan gadis cantik yang dikenalinya sebagai dokter muda bernama Sita yang berjalan di sampingnya.


    " Iya pak..selamat atas pernikahan putrinya..semoga samawa...!"


    " Aamiin, ngomong-ngomong sejak kapan anda kenal dengan dokter Sita yang cantik ini pak...?" Pak camat melirik ke arah Aditya dan Sita.


    Aditya tersenyum sementara Sita menundukkan kepalanya karena gugup.


    " Doakan kami segera mengikuti jejak putri anda pak camat...!" ujar Aditya sambil menatap Sita.

__ADS_1


    " Tentu saja pak Aditya, iya kan bu...?" Pak camat melirik istrinya yang berdiri di sampingnya.


    " Insha alloh jadi, anda berdua serasi sekali...tampan dan cantik...jangan lupa undang kami...!"


    " Aamiin bu..terima kasih...!" jawab Aditya.


    Setelah menyalami pengantin, Aditya mengajak Sita untuk menyantap hidangan yang telah disediakan


    " Mau makan dengan apa biar saya yang ambilkan, adik tunggu saja disini...!" Aditya bertanya sambil menatap Sita.


    " Ngak apa-apa mas, biar Sita ikut antrian saja...!"


    " Jangan, kakimu pegal nanti, biar saya yang ambilkan..!" tukas Aditya sambil menyentuhkan tangannya di bahu Sita. Sita merasa sangat bahagia malam ini, dirinya begitu diperlakukan dengan istimewa oleh Aditya. Dipandanginya pria gagah yang kini sedang mengantri makanan untuknya. Sita dibuat cemburu melihat gadis-gadis  mencuri pandang menatap Aditya bahkan dinataranya dengan terang-terangan mengajak Aditya bicara sambil bersikap genit. Untunglah Aditya tidak terpancing, kedua matanya tertunduk dan menghindari mereka.


    " Yuk kita makan...!"


    Sita mengangukkan kepalanya sambil tersenyum.


Aditya bernama lengkap Aditya Nugraha menghentikan mesin mobilnya tepat di halaman rumah tinggal Sita. Malam ini cahaya bulan bersinar sangat terang, semilir angin menyeruak dari sela-sela pintu dan jendela mobil yang sedikit terbuka. Sita menundukkan wajahnya, jantungnya berdegup kencang karena kini Aditya meraih jemari tangannya dan membawanya ke dalam genggaman dirinya. Aditya menatap Sita tajam, dibiarkannya suasana malam mereka ditemani kesunyian,


    Sita menolehkan wajahnya karena terkejut, tiba-tiba Aditya mengecup jemari tangannya, jantungnya seakan-akan dibuat berhenti berdetak.


    " Trima kasih dik Sita..!" Aditya berkata tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Sita yang cantik dihadapannya.


    " Untuk apa...?" tanya Sita pelan.


    " Karena sudah bersedia menemani saya...!" jawab Aditya.


    " Sama-sama mas...!" tukas Sita. " Oiya ini sudah larut, Sita masuk dulu ...!"


    " Baiklah...walapun berat sekali berpisah denganmu,...!"


    Sita terdiam. Sesungguhnya hatinya pun berkata demikian, entah mengapa dirinya sendiri merasa nyaman dan tak ingin berpisah dengan pria disampingnya.


    " Sita...!" Aditya kembali memanggil namanya. Sita mendongakan kepalanya, kini keduanya saling bertatapan.


    " Saya sangat mencintaimu    " ucap Aditya sambil menngusap lembut pipinya, Sita dibuat terlena, kedua matanya terpejam menikmati belaian jemari Aditya.


     " Mas Aditya...!" Sita terlonjak karena tiba-tiba bibir Aditya mengecup keningnya dengan mesra.


    Aditya tersenyum melihat Sita yang terlihat salah tingkah mendapat ciuman darinya.


    " Sita pulang ya mas..!" Sita membuka pintu mobilnya dan tanpa berpaling lagi dirinya segera masuk ke dalam rumah yang telah dibukakan suster Reni,


    Aditya tertawa melihatnya.

__ADS_1


    Sita merasa malu dihadapan suster Reni, tanpa berkata-kata lagi Sita masuk kedalam kamarnya dengan hati berbunga-bunga. Malam ini dirinya merasa sanagat bahagia.


__ADS_2