
Jiman dan beberapa pekerja tambang menghadap Aditya di ruang kerjanya di gedung utama untuk melaporkan sesuatu yang terjadi. Aditya yang sedang membuat laporan seketika menghentikan pekerjaannya untuk menerima mereka.
" Duduklah..!" tukas Aditya.
" Trima kasih pak...!"
Aditya duduk di sebuah kursi lalu bertanya tentang maksud kedatangan karyawan tambang itu.
" Begini pak Aditya, saya dan Pudin tadi pagi hampir terkena semburan minyak, untunglah Yono segera menutup kerannya dengan cepat jika tidak entahlah saya sendiri tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi...!" Jiman menceritakan kejadian yang hampir membuat musibah besar jika sampai terjadi semburan minyak. Aditya sangat terkejut mendengar semua itu, Dirinya mencoba mengingat letak tempat peristiwa yang dimaksud karyawannya itu.
" Kalian sudah lapor pada pak Bisma...?"
" Sudah pak, secepat mungkin kami langsung menemui beliau...!" jawab Yono.
" Apa kata pak Bisma...?"
" Mmm..pak Bisma bilang jika usia mesin itu memang sudah cukup tua...!" jawab Jiman.
Aditya menarik nafasnya dalam-dalam. Apa yang dilaporkan mereka membuatnya tak habis fikir dengan tidak adanya respon dari kantor pusat untuk mengganti pipa mesin tersebut yang memang sudah usang dimakan usia.
" Kalian sudah mematikan mesinnya...?" tanya nya kemudian.
" Sudah pak, kami tidak melakukan oprasi lagi di mesin tersebut sebelum ada mandat dari bapak...!"
" Bagus, silahkan kalian kembali bekerja, setengah jam lagi saya menyusul kalian kesana...!" jawab Aditya.
" Baik pak, trima kasih...!" ujar mereka.
Selepas menerima laporan dari karyawannya itu, Aditya segera menemui Bisma yang sedang memeriksa pipa-pipa di tempat pengilangan. Kulitnya tampak hitam legam karena seringkali terbakar sinar matahari.
" Bisma...!" panggilnya.
Bisma menolehkan kepanya mendengar Aditya memanggil dirinya.
" Iya pak...!" jawabnya.
" Sudah ada kabar dari kantor cabang kalau akan datang pipa baru yang kita ajukan untuk mengganti pipa di R 3..?"
" Belum pak, hari Senin kemarin saya dan Joko ke kantor cabang menanyakan kembali masalah permintaan kita atas pipa baru, tapi mereka bilang sudah menyampaikan laopran nya ke kantor pusat namun tidak ada jawaban...!" jawab Bisma. " Memangnya ada masalah ya pak...?"
__ADS_1
" Lho katanya mereka sudah lapor sama kamu...?!" ujar Aditya heran. Kedua matanya menatap tajam ke arah Bisma. Wajah Bisma seketika pucat pasi dan terlihat salah tingkah hingga menimbulkan kecurigaan Aditya.
" Be..benar Pak..tapi tadinya saya akan melapor sama bapak jika keadaan tidak bisa tertanggulangi lagi, karena saya tahu jika pipa baru akan datang...!" jawab Bisma.
Aditya terdiam dan mencoba menyimak apa yang menjadi alasan Bisma.
" Kalau begitu kita review saja sore ini, kalau perlu saya sendiri yang akan pergi ke kantor pusat untuk melaporkan semua ini jika memang kantor cabang tidak juga memberikan jawaban pasti...!" tukas Aditya.
" I.iya pak..!" jawab Bisma lirih.
RUMAH DINAS ADITYA
Sita sudah menyiapkan makan malam untuk disantapnya bersama Aditya, namun Aditya tidak juga kembali pulang sehingga membuatnya gusar. Jarak antara rumah dinas dan kantor Aditya memang tidak jauh hanya berjarak kurang lebih satu kilo saja tetapi untuk melihat keberadaan Aditya disana, Sita merasa sungkan karena khawatir akan menimbulkan pertanyaan teman kantor suaminya itu. Sita melirik jam dinding di rumahnya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sita menarik nafasnya dalam-dalam. kini dirinya sendiri ditemani sepi karena bu Tuti dan Rahmat sudah kembali ke rumah mereka.
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dikeheningan. Sita terhenyak karena hujan turun deras dan tayangan televisi nasional pun padam seketika. Bayangan wajah Aditya kembali berkelebat dalam ingatannya, debaran jantungnya mengencang seketika membayangkan sesuatu terjadi pada suaminya.
" Tidak..tidak...mas Aditya masih ada di kantornya bersama yang lainnya...!" Sita berkata untuk menghilangkan fikiran buruk yang hinggap dikepalanya saat ini.
Rumah dinas milik pemerintah ini lebih laik huni bila dibandingkan dengan rumah-rumah dinas yang lain karena jabatan Aditya yang seorang pimpinan. Sita mendengar tetesan air hujan di dalam rumahnya, dilangkahkannya kakinya menuju ke ruangan lain untuk mencari tau apa yang terjadi. Seketika Sita mengigit bibir bawahnya melihat kebocoran terjadi di ruang makan dan di dapur, segera dicarinya wadah untuk menahan tetesan air hujan itu agar tidak membasahi bagian lantai lainnya. Sita tampak sibuk dan berharap hujan akan reda karena tubuhnya kini sudah basah kuyup karena kebocoran terjadi di beberapa tempat.
Aditya menghentikan motornya di halaman, wajahnya sudah tak karuan, Minyak dan oli hitam menempel dimana-mana, kemeja yang dikenakannya pun terlihat terkena banyak noda. Celana hitamnya yang digulung sampai lutut sudah pula penuh dengan tanah merah. Aditya membersihkan kakinya dengan air hujan lalu kemudian melangkah untuk mengetuk pintu rumah dinasnya itu dan berharap wajah cantik Sita akan menyambutnya dengan hangat. Namun hingga ketukan yang ketiga kalinya, tak ada sahutan sedikitpun dari dalam. Aditya merasa heran, di dorongnya dengan kencang pintu itu hingga terbuka lebar.
" Sayang....?!" Aditya terlonjak saking terkejutnya melihat Sita tampak tertidur di sebuah kursi makan dengan hamparan wadah-wadah yang bertebaran di sampingnya. Wajah cantiknya terlihat kelelahan. Aditya segera menghampirinya lalu dibelainya dengan penuh rasa bersalah karena meninggalkan Sita sendirian di rumah dinas yang jauh dari kesan mewah karena sederhana dan minim fasilitas. Sedangkan dirinya tau jika Sita adalah putra seorang bangsawan kaya raya dan juga seorang pejabat daerah yang berhak mendapat suami yang mampu memberinya hidup laik dan mapan tidak seperti halnya jika hidup bersama dengan pria seperti dirinya yang hanya seorang karyawan perusahaan negara yang berdinas di pedalaman dengan fasilitas seadanya.
Sita menggeliatkan tubuhnya. Melihat wajah pria yang dicintainya kini berada tepat dihadapannya seketika senyumnya pun mengembang. " Mas sudah pulang...?" ucapnya.
Aditya menjawabnya dengan sebuah pelukan. Sita terkejut karena tiba-tiba Aditya memeluknya erat bahkan sayup-sayup terdengar jika Aditya mengeluarkan tangisan.
" Mas, kenapa...?" " Ada apa...?" tanya Sita heran.
" Maafkan mas sayang, maaf sekali...!" tukas Aditya dengan suara serak karena tangisannya.
" Apa yang harus dimaafkan...?" sahut Sita sambil melepaskan pelukan Aditya lalu ditatapnya kedua bola mas suaminya itu karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
" A..aku..aku belum bisa memberimu tempat tinggal yang laik Sita, setadinya mas ingin membeli sebuah rumah kecil untuk kita tinggali selepas menikah, tetapi...uang mas belum cukup karena mas menggunakannya untuk biaya pernikahan kita, sekali lagi tolong maafkan suamimu ini, tapi mas janji..mas akan menabung lagi, mas akan membelikan sebuah rumah untukmu..ya...?" Aditya berkata sambil berkaca-kaca.
Sita merasa terharu mendengar ucapan Aditya. Air matanya pun seketika tergenang di pelupuk matanya. Diraihnya jemari tangan suaminya itu lalu dikecupnya. " Mas, Sita ikhlas menjadi istrimu..Sita ikhlas hidup bersama pria yang Sita cintai apapun dan bagaimanapun keadaannya. Mas Aditya tidak perlu merasa bersalah...!" jawab Sita lirih.
Aditya tersenyum mendengar jawaban Sita yang menyejukkan hatinya.
__ADS_1
" Benarkah semua itu sayang...?" " Kamu ikhlas dengan keadaan yang menyedihkan seperti ini...?" Aditya mengelilingkan tatapannya ke penjuru arah dimana lantai ruangan sudah terlihat basah semuanya.
" Besok kita akan suruh tukang untuk membetulkan kebocorannya, mas nggak perlu khawatir...!" ucap Sita sambil mengusap dagu Aditya.
" Baiklah, ide yang sangat bagus...!" " Tapi sekarang biar mas yang bersihkan, kamu sayang..masuklah ke kamar, lanjutkan istirahatmu karena kamu pasti cape setelah seharian berdinas, di rumah malah sibuk dengan bocor-bocor...!" tukas Aditya.
" Mas sendiri....ya ampun...?!" Sita baru menyadari jika suaminya sangat kotor. " Mas dari mana, kok mas Aditya kotor begini...?" Sita terkejut melihat kondisi suaminya.
" Ada sedikit masalah di pekerjaan, karena terburu-buru mas memutuskan untuk menggunakan motor kantor untuk pergi ke kantor cabang di Palembang, diperkirakan sore pun sudah kembali lagi kesini tapi apa mau dikata motornya mogok di daerah lereng, terpaksa mas berhenti untuk memeriksa kerusakannya, mana nggak ada bengkel jadinya mas paksakan dengan mesin motor yang berkali-kali mogok di jalan. Tapi..tak apalah...kini wajah jelek suamimu ini telah kembali dengan selamat, alhmadulillah....!" tukas Aditya panjang lebar menceritakan apa yang dialaminya.
" Mas Aditya...!" Sita segera menghambur ke pelukan Aditya. Rasa cinta dan sayangnya semakin lama semakin besar untuk suaminya itu. Aditya pun kembali membalas pelukan Sita.
Malam itu keduanya menyantap makan malam yang belum sempat mereka makan dengan hati yang sangat bahagia. Sesekali gelak tawa menghiasi obrolan mereka hingga tanpa sadar hujan sudah mereda dan malam pun semakin larut.
Bila hati bicara
Biar bulan bercanda
Kala derita sirna
Nurani pun bertanya
Masihkah ada...
Rindu di dalam dada
Mungkinkah kau kanda
Ampuni sgala dosa
Untukmu segalanya hidupku ini
Wooo..oo
Untukmu aku rela jalani semua
dera dan siksa
Untukmu sgalanya
__ADS_1