Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 43 ( 18+ ) Warning !!!!


__ADS_3

PENGUMUMAN


EPISODE KALI INI BERISI KONTEN DEWASA, BIJAKLAH DALAM MEMBACANYA.


AUTHOR TIDAK BERMAKSUD UNTUK MEMBERIKAN FANTASI LIAR HANYA INGIN ISI CERITA DALAM NOVEL INI TERLIHAT LEBIH NATURAL.


SEKALI LAGI  BIJAKLAH DALAM MEMBACANYA !!


KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


Setibanya di rumah Sultan Mahmud Mahsyur, kedua mempelai tidak lantas dapat beristirahat dengan segera. Sita dibawa oleh juru rias untuk dimandikan kembali untuk persiapan malam pengantinnya, begitupun dengan Aditya, keduanya wajib membersihkan diri kembali dan mengambil wudhu sebelum diperbolehkan masuk ke dalam kamar pengantin mereka.


Basemah Sultan Mahmud Mahsyur tampak sedang berbincang-bincang di sebuah ruangan besar, mereka membicarakan tentang ada istiadat keluarga mereka sambil menyantap aneka hidangan yang telah disediakan Nyonya Zubaidah sebagai pemangku hajat.


Aditya yang baru saja selesai bermandi tampak segar dengan baju koko putih dengan benang emas yang dikenakannya dengan peci hitam. Melihat menantunya itu, Sultan Mahmud Mahsyur memanggilnya untuk kemudian duduk besama Basemahnya.


" Assalamu'alaikum...!" Aditya mengucapkan salam pada keluarga besar Sita. Mereka semua segera menjawab salamnya.


" Wah nampak segar kau sekarang...!" ujar Sultan Zakaria, adik dari Sultan Mahmud.


Aditya pun tersenyum.


" Zubaidah, apa sudah selesai bermandi putri kita itu...?" tanya Sultan Mahmud pada istrinya.


" Belum cik, juru rias belum pula kemari untuk memberi tahu..!" jawab Nyonya Zubaidah.


" Nah itu berarti kita masih bisa bercakap-cakap dengan mantumu Cik...!" tukas Sultan Zakaria pada kakaknya. Zakaria menatap Aditya yang baru dikenalnya belum lama. Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan dan inilah moment yang dirasa pas olehnya.


" Kau pemuda asli Bandung Aditya..?"


" Iya paman, ibu dan bapak saya asli Bandung dan saya lahir di Bandung..!" jawab Aditya.


" Mantumu ini Sunda tulen rupanya Cik Mahmud...!" ujar Sultan Zakaria sambil menatap Sultan Mahmud Mahsyur yang disambut dengan senyuman.


" Walau orang Sunda, mantuku ini lama tinggal di Palembang ini, sudah dua tahun dia bertugas di Plaju sana, disana pula dia ketemu dengan Sita..!" ujar Sultan Mahmud. " Benarkan apa yang ayah katakan Aditya..?"


" Benar ayah..!" Aditya mengangukkan kepalanya.


Akhirnya mereka semua terlimbat pembicaraan yang asyik tentang perbedaan adat istiadat mereka yang coba dijelaskan oleh Basemah. Aditya mencoba memahami itu semua dan menyimak semua penjelasan mereka. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


" Sudah waktunya kau beristirahat sekarang, pergilah menuju kamar mu dan Sita...!" Nnyonya Zubaidah berkata sambil menepuk bahu menantunya. Sebagai orang tua dirinya memahami jika malam ini adalah malam pengantin mereka.

__ADS_1


" Tidak apa-apa bu, belum ngantuk juga..!" Aditya berkata sambil tersenyum.


" Wah kami lupa kalau malam ini adalah malam pengantinmu Aditya, kami malah mengajakmu berbincang-bincang, silahkan sekarang kau istirahatlah...!" Sultan Zakaria menatap Aditya yang sudah menjadi keponakannya kini dengan menikahi Sita putra dari kakak kandungnya.


Aditya masih saja terdiam sambil menundukkan kepalanya karena merasa malu dihadapan basemah Sultan Mahmud.


" Ayolah sana, temui istrimu...!" tukas Sultan Mahmud sambil menatap menantunya itu.


" Iya ayah, terima kasih, saya permisi..!" tanpa menunggu lagi, Aditya pun segera beringsut sambil mengucapkan salam penghormatan kepada semua kerabat.



Di dalam kamar pengantin Sita sedang duduk di tepian ranjang menunggu kedatangan laki-laki yang telah mempersunting dirinya. Tiba-tiba ucapan sepupu nya kemarin tentang malam pengantin membuat jantungnya berdebar-debar. Kinii saat itu tinggalah menunggu waktu,


" Assalamu'alaikum...!"


Sita menolehkan wajahnya. Seketika jantungnya berdegup kencang melihat Aditya berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menatap dirinya. Aditya terlihat tampan, tubuh tingginya tampak gagah dengan koko dan peci hitam yang dikenakannya dihadapan Sita saat ini yang mentapnya dengan takjub.


" Wa'alaikumsalam..!" Sita menjawab salamnya.


 Wajah Sita terlihat merona merah jambu karena kini Aditya telah berdiri persis di hadapannya. Aditya terkesiap melihat kecantikan Sita saat ini. Rambut panjangnya dibiarkan terurai melebihi bahu. Sisa riasan pengantinnya masih terlihat walau samar. Semua itu semakin membuat Aditya terpesona saat menatapnya.


Sita pun mengangukkan kepalanya.


Aditya menyentuhkan telapak tangannya tepat di ubun-ubun kepala Sita yang telah menjadi istrinya. Dilantunkannya sebuah doa yang disunahkan Nabi.


"Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a'udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih. 


Sita memejamkan kedua matanya, hatinya terasa sangat damai mendapat doa pertama dari Aditya yang kini menjadi suaminya.


" Kita solat dua rakaat dulu yuk..!" Aditya kembali menatap Sita usai membacakan doa.


" Iya mas !" jawab Sita sambil tersenyum.


" Subhanallohwani'malwakil...!" Nyonya Zubaidah dan Sultan Mahmud tampak takjub melihat dua orang yang disatukan Tuhan dalam ikatan suci pernikahan kini sedang melakukan sholat berjamaah di dalam kamar pengantin mereka yang belum tertutup sempurna. Mak Qayah yang pertama kali tau apa yang Sita dan Aditya lakukan, tersenyum bahagia berdiri di belakang.


" KIta berdua belum sholat isya Zubaidah...!" ucap Sultan Mahmud pelan.


" Iya Cik, mari..!" jawab istrinya itu.


" Kalian istirahtlah sajo sekalian..kalau tak ikut pula dengan apa yang anak-anak kau lakukan, macam pengantin baru sahajo...!" tiba-tiba Mak Qayah berkata menggoda keduanya. Sultan Mahmud pun tersenyum sambil menggamit lengan istrinya dengan mesra. Mak Qayah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kemenakannya itu.

__ADS_1


Sita melipat rukuh nya lalu disimpannya ke atas meja kecil. Aditya menyodorkan peci hitamnya dan memintanya untuk disimpan ditempat yang sama.


Aditya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perlahan di tutupnya pintu kamar pengantinnya itu lalu menguncinya rapat. Sita yang melihat apa yang dilakukan Aditya tersenyum di tepian ranjang.


Aditya tersenyum sambil mendekati Sita lalu kemudian duduk di sampingnya. Sita merasakan jantungnya bertalu-talu sehingga membuatnya salah tingkah karena ditatap Aditya tanpa berkedip.


" Kamu cantik sekali Sita...!" ucap Aditya sambil membelai rambut Sita yang tergerai. Diusapnya perlahan sambil menatap wajah kekasih hatinya yang telah resmi menjadi miliknya. Tiba-tiba dirinya terkesiap melihat lekuk tubuh Sita yang terlihat jelas di balik lingeri berbahan satin yang dikenakannya. " Sita.....!" ucapnya lirih, dibelainya wajah Sita lalu diangkatnya sehingga wajah keduanya saling berdekatan.


" Mas minta hakku malam ini, boleh...?"


Seketika wajah Sita pun merah merona mendengar apa yang diucapkan Aditya. Namun dirinya sadar jika Aditya adalah suaminya yang meminta haknya dari dirinya sebagai seorang istri. Dengan debaran jantungnya, Sita pun mengangukkan kepalanya. Aditya pun tersenyum bahagia, kini disentuhnya bibir Sita yang ranum lalu kemudian di pagutnya perlahan sehingga menimbulkan desiran hangat.


Ciuman yang mereka lakukan bukanlah yang pertama kalinya, namun kali ini terasa sangat berbeda saat keduanya telah menjadi pasangan suami istri. Aditya membawa bibir Sita kedalam pagutannya yang hangat dan bergairah. Sita pun membalasnya hingga ciuman mereka semakin lama semakin menuntut keduanya untuk berbuat lebih.


Sita pun pasrah saat Aditya merebahkan tubuhnya di atas ranjang pengantin mereka. sesaat keduanya saling bertatapan dengan penuh arti. Sita mencoba menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan desahan saat bibir Aditya menciumi lehernya. Nafas Aditya mulai tersenggal karena birahi telah menguasainya. Suhu di dalam kamar pun semakin panas oleh gairah dua insan yang saling bercumbu mesra di atas ranjang pengantin. Malam semakin beranjak larut, hujan turun rintik-rintik memabasahi daun-daun yang bergoyang ditiup angin. Bunga-bunga yang tumbuh di halaman satu persatu bermekaran dengan indahnya saat tangkainya di mainkan semesta.


Dibawah lampu yang temaran tubuh Aditya dan Sita terlihat bak siluet, Aditya telah berada di atas tubuh Sita dengan ditutupi selimbut. Sita menggigt bibirnya, desahan kecil terdengar dari bibirnya karena mendapatkan sentuhan Aditya di pucuk bukit indah miliknya. Semua terasa sangat indah dirasakannya mendapatkan kenikmatan pertamanya itu.


Rintihan birahi terucap di bibir Aditya saat melakukannya. Apa yang dimilki Sita membuatnya semakin tak mampu menahan gairahnya. Keringat membasahi tubuhnya.


" Ah...!" Sita mendesah tertahan sambil meremaskan jemari tangannya,  Tetesan keringat Aditya mengenai wajahnya saat suaminya itu menyatukan tubuh mereka namun gagal.


" Maaf...!" Aditya segera meminta maaf karena serangan pertamanya yang tidak berhasil.


 Sita meringis, jantungnya seakan berhenti berdetak saat merasakan sesak saat Aditya kembali menyatukan tubuh mereka. Aditya berharap jika serangannya kali ini tepat sasaran. Remasan jemari Sita di punggungnya semakin mengencang manakala sesuatu telah berhasil di dorongnya lebih dalam. Aditya kemudian merasakan sesuatu.


" Aduh mas.....sakiiiit, aah....!!!" kini Sita tak lagi mampu menahan rintihan yang keluar dari bibirnya.


" Sayang...!!!" bisik Aditya.


" Aaaaaaaaaakh........!!!" Sita menjerit, sang kekasih telah berhasil mengoyak kegadisannya. Mahkota yang selama ini dijaganya kini telah diberikan utuh pada Aditya sesuai dengan janjinya. Aditya tersenyum bahagia, dikecupnya kening Sita lama dan mesra sebelum akhirnya melanjutkan hasratnya kembali.


Sita merasa kesakitan namun Aditya memahami nya sehingga kembali mencium bibirnya agar meredakan kekhawatirannya sehingga mampu menerima penyatuan tubuh mereka kembali hingga mencapai puncak kenikmatan yang hakiki sebagai suami dan istri di malam pengantin mereka yang sangat indah.


" Trima kasih sayang, trima kasih karena telah memberikan sesuatu yang sangat indah melebihi segala keindahan yang pernah mas alami selama ini....!" bisik Aditya di telinga Sita.


Sita pun tersenyum " Sama-sama mas...!" tukasnya.


Aditya mengecup kening Sita  dengan mesra sebelum akhirnya merebah di sampingnya. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Sita telah mempersembahkan sesuatu yang didambanya sebagai seorang pria di malam pengantinnya. Sita segera menarik kembali selimbut yang tidak lagi menutupi tubuh mereka dengan sempurna lalu menyelimuti tubuhnya dan tubuh Aditya yang polos tanpa pakaian.


Sita dan Aditya tampak kelelahan dan merasakan kantuk yang amat sangat. Akhirnya keduanya pun tertidur sambil berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2