
Dua insan yang diciptakan Tuhan untuk saling mencintai kini dihadapkan pada sebuah ujian besar manakala restu tak mereka dapatkan. Kekuatan dan kesetiaan cinta mereka benar-benar diuji, haruskah menyerah pada takdir atau memperjuangkannya apapun resikonya.
KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR
Di kediamannya, Sultan Mahmud kembali melampiaskan amarahnya pada Sita. Sita hanya bisa diam karena berkali-kali dirinya mencoba melawan berkali-kali pula kemarahan ayahnya semakin meluap-lupa.
" Jangan sekali-kali kau Cik sentuh anakku ini, Cik boleh marah padanya, Cik boleh menjodohkannya, tetapi jika sampai kau tampar, aku tidak akan terima...!" Nyonya Zubaidah tiba-tiba menghalangi tubuh Sita yang hendak ditampar oleh Sultan Mahmud. " Dia aku kandung sembilan bulan lamanyo, aku susui dia, aku timang dan aku rawat, sekali lagi aku bicara, jangan pernah tanganmu itu kau gunakan untuk melukainya...aku tidak sudi..!"
Sultan Mahmud pun terdiam seketika mendengar perkataan istrinya.
" Sekarang masuklah kau ke kamarmu nak...!" Nyonya Zubaidah menatap putrinya dengan iba.
Sita pun mengangukkan kepalanya.
PLAJU
__ADS_1
" Sita itu putri bungsu Sultan Mahmud Mahsyur, seorang putra bangsawan yang kaya raya dan juga seorang pejaba tinggi di Palembang. Kedua kakaknya laki-laki, Sita satu-satunya anak perempuan Sultan Mahmud dan nyonya Zubaidah. Mereka hidup tanpa kekurangan sedikitpun, kekayaaan mereka adalah warisan turun temurun nenek moyangnya. Sultan Mahmud memiliki perangai keras dan angkuh berbeda dengan istrinya yang lemah lembut dan banyak mengalah. Sita mewarisi sifat ibunya yang sederhana dan lemah lembut namun memiliki prinsip dalam hidupnya. Sita yang selalu hidup berkecukupan tidak lantas membuanta menjadi sombong, Sita begitu rendah hati dan banyak menolong sesama. Sayangnya Sultan Mahmud telah menjodohkannya dengan bernama Zaini, seorang pengusaha muda kaya raya sekaligus bangsawan Palembang, Zaini sendiri adalah putra dari sahabat Sultan Mahmud. Sita menolak dijodohkan dan berusaha mengulur waktu lamaran dengan memilih koas di sini di Plaju dan akhirnya bertemu dengan anda Pak Aditya "
Aditya terdiam menyimak penjelasan dokter Syarif tentang Sita kekasihnya.
" Tapi saya yakin seyakin-yakinnya jika cinta kasih diantara kalian berdua sangat besar, buktikan kata-kata saya itu benar pak Aditya, buktikan itu...!"
" Tentu saja dok, saya sudah berjanji pada Sita jika saya akan memperjuangkan cinta kami, apapun rintangannya..!" jawab Aditya.
" Bagus..!" " Tuhan tidak pernah tidur, mintalah pada Nya, suatu saat nanti akan ada jalan keluarnya, Inysa Alloh...!" dokter Syarif berkata sambil menepuk bahu Aditya.
" Saya ini seorang yatim, saya ditinggal meninggal bapak ketika saya duduk di bangku SMA kelas dua, sejak saat itu saya tingal bersama ibu dan kedua adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Ibu membesarkan kami bertiga dengan tangannya sendiri, ibu tidak menikah lagi hingga kini, Jadi maafkan saya kalau saya kemari dok, karena dokter Syarif sudah saya anggap bapak saya sendiri, bapak lah yang selama ini mengenalkan Sita, Oleh karena itu saya pun meminta dokter untuk membantu saya dan Sita dalam untaian doa-doa yang dokter panjatkan...!"
" Trima kasih dok, beban saya sedikit berkurang sekarang...!" tukas Aditya.
" Sykurlah pak Aditya...!"
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi dulu dok, saya akan kembali ke tempat pengilangan...!"
" Silahkan Pak Aditya...!" jawab dokter Syarif.
Kini keduanya saling berangkulan.
Aditya melangkah menuju parkiran, tanpa sengaja beberapa pasien tengah memperbincangan Sita.
" Kita semua merindukan kehadiran dokter Sita ya bu Piah..?"
" Iya benar, dokter Sita itu kalau bicara lemah lembut bikin adem...!'
" Anak saya kalau sakit maunya diperiksa dokter Sita dan tidak mau dengan yang lain...!"
" Samaan, saya juga begitu...!"
__ADS_1
" Sayang sekali dokter Sita nya sudah kembali ke Palambeng...!"
Aditya terdiam, semua orang memuji keistimewaan Sita. Aditya pun menarik nafasnya dalam-dalam, bayangan wajah cantik Sita kembali berkelebat dalam ingatannya.