Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 27 ( Plaju )


__ADS_3

    Aditya membaca koran di tangannya. Hatinya merasa sakit karena kekasihnya akan segera dilamar oleh seorang pengusaha muda bernama Zaini yang juga merupakan putra dari seorang bangsawan Palembang sekaligus seorang pengusaha kaya raya. Hari ini dirinya merasa kesehatannya kembali normal dan bermaksud akan kembali ke Plaju untuk melanjutkan hidupnya dengan berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya dan mencoba mengikhlaskan Sita untuk pria lain.


    Aditya pun segera bersiap dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit yang telah merawatnya selama hampir sepekan lamanya.


  " Kamu sudah siap Dit...?" Hendra menjemput Aditya yang hari ini akan kembali.


    Aditya pun menganggukkan kepalanya.


    KEDIAMAN SULTAN MAHMUD MAHSYUR


    Seorang gadis cantik bernama Sita tengah duduk di depan cermin. Wajahnya terlihat kuyu tak bergairah walau semua orang mencoba untuk menghiburnya sambil menghiasai inai di tangan dan kakinya. Ritual Betangas kini sedang dijalaninya, dimana seorang calon mempelai wanita diharuskan untuk mempercantik diri dengan berbagai macam perawatan yang dilakukan oleh seorang juru rias adat Palembang. Waktu pernikahannya dengan Zaini akan dilaksanakan dua hari lagi, Sita semakin gundah dan merasakan kesedihan yang mendalam karena yang akan menjadi suaminya bukan pria yang dicintainya.


    " Bagaimana nasibmu kini mas, sehatkah dirimu...?" ucapnya lirih sambil menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin.

__ADS_1


    " Ada apo ini, kenapa calon mempelai yang cantik ini selalu saja meneteskan air matanya...?" bu Midah si juru rias pengantin tampak heran melihat kesedihan yang di wajah Sita. Tidak seperti laiknya calon pengantin lain yang selalu bergembira menanti acara akan pertikahannya. Bu Qayah membisikan sesuatu di telinga bu Midah agar si juru rias itu berhenti bertanya tentang apa yang terjadi pada Sita. Bu Midah pun manggut-manggut dan memakluminya kini.


    " Mak....?" Sita menolehkan wajahnya ke arah mak Qayah yang sedang berdiri menatapnya.


    " Iyo sayang...ini mak...!" " Ada apo...?" Mak Qayah menghampirinya lalu memeluk bahu Sita.


    " Aku ingin pergi ke halaman depan, sebentar saja...mak bisa antar kan...?" Sita berkata sambil menatap mak Qayahnya.


    " Tentu sajo, ayo mak antarkan kau...!" jawab mak Qayah.


    " Sita hanya ingin mencari udara segar saja bu, bunga anggrek yang Sita tanam sepertinya sudah bermekaran, bolehkan bu...?" ujar Sita.


    " Baiklah, tapi jangan lamo ya nak, inai mu belum selesai itu...!"

__ADS_1


    " Iya bu..!" Sita mengangukkan kepalanya.


    Kediaman Sultan Mahmud memiliki halaman yang luas, Sita yang menyukai bunga anggrek selalu merawat nya dengan baik sehingga angrek-anggreknya itu bermekaran dengan indahnya. Di acara Betangas, seluruh tubuh Sita mendapatkan perawatan khusus calon pengantin,kini Sita membiarkan rambut hitamnya yang bergelombang tergerai melewat bahunya saat mencium satu demi satu anggrek-anggrek kesayangannya itu. Mak Qayah tersenyum melihat apa yang dilakukan Sita.


    Sebuah suara mesin kendaraan membuat Sita menghentikan kegiatannya. Suara itu sudah begitu akrab di telinganya. Sita berjalan cepat menuju pagar untuk mencari sumber suara.


    Aditya terkesiap melihat wajah kekasihnya di balik pagar rumah kediaman Sultan Mahmud Mahsyur yang sudah di kunjungi banyak orang. Sita terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai. Aditya segera membuka pintu mobil untuk menemui kekasihnya itu namun lengannya telah ditarik seseorang.


    " Kamu bilang sudah mengikhlaskannya, jangan kamu temui lagi Dit, itu akan semakin membuat hatimu semakin sakit saja...!" ujar Hendra mencegah apa yang akan dilakukan sahabatnya. Aditya pun terdiam, bayangan dirinya mendapat pukulan saat Sita mempertahankan hubungan mereka membuatnya tersadar jika dirinya menemui Sita kembali.


    " Mas Aditya...!" Sita mencoba memanggil kekasihnya. Sita yakin jika orang yang berada di dalam sebuah taft hitam adalah kekasih hatinya. Namun mobil itu kini melaju dan tak menhiraukan panggilannya. Mak Qayah segera menghampiri Sita yang kini menangis.


    " Sudah sayang...itu bukan Aditya bukan..percaya sama mak...!" Mak Qayah membelai wajah Sita dengan lembut dan mencoba menenangkan suasana hatinya karena semua orang akan memperhatikan mereka kalau sampai Sita menangis kencang. Mak Qayah pun mengajaknya kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


 


__ADS_2