Dokter Sita

Dokter Sita
Episode 34 ( Penuh Kejutan )


__ADS_3

Dokter mengaharuskan Sultan Mahmud untuk melakukan operasi penyumbatan jantung, Bagi Nyonya Zubaidah semua hal yang terbaik untuk kesembuhah suaminya disetujuinya setelah sebelumnya berembuk dengan anggota keluarganya serta putra dan putrinya. Sita yang seorang dokter banyak melakukan komunikasi dengan sesama dokter di rumah sakit tersebut tentang bagaimana peluang kesembuhan ayahnya pasca operasi nanti sehingga Sita pun ikut menyetujui tindakan operasi yang dilakukan tim dokter rumah sakit.


" Abang mu sudah kau telpon Sita...?"


" Sudah bu, abang setuju saja...!" jawab Aditya.


Putra tertua Sultan Mahmud tengah berada di luar negeri untuk urusan studinya sehingga tidak bisa pulang cepat untuk menemani operasi ayahnya.


Satu jm pun berlalu, operasi jantung Sultan Mahmud telah dilakukan, semua orang tampak cemas menunggu proses operasi tersebut. Abang kedua Sita tampak mondar mandir di depan pintu ruang operasi, Nyonya Zubaidak kini duduk di samping Mak Qayah sambil berdoa. Sita dan Aditya duduk di sebuah bangku. Sita yang terlihat cemas membuat Aditya ingin memeluknya namun semua itu ditahannya karena hubungan mereka belum resmi.


" Kita jamaah sholat di musholla itu yuk...?" Aditya mengajak Sita. " Kita mohon doa pada Tuhan untuk keselamatan ayahmu...!"


" Iya mas...!" Sita mengangukkan kepala menyetujuinya. Sita pun menghampiri ibu dan mak Qayahnya dan memberi tahu jika dirinya dan Aditya hendak pergi ke musholla yang berada di sudut lorong tak jauh dari mereka kini.


" Mas Aditya mengajak Sita jamaah sholat bu...!" ujar Sita.


" Iya nak, ibu ijinkan...!" jawab Nyonya Zubaidah.


" Lihat calon mantumu itu Zubaidah, dia pria yang sangat baik, mana mungkin dia melakukan apa yang dituduhkan suami kau dulu itu..!" " Dari kemarin malam sampai sekarang, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Aditya itu selalu menunaikan kewajibannya yang lima waktu tanpa terlewati. Aku dan dia pun sudah berbincang-bincang tentang banyak hal, dari bicaranya aku kira anakmu Sita pantas jatuh cinta padanya...!" Mak Qayah berkata panjang lebar pada sepupunya itu.


" Iya Qayah, aku ini sudah tua, sudah pula aku faham asam garam kehidupan, dan aku bisa menilai seperti apa laki-laki yang dicintai anaku itu,...!" tukas Nyonya Zubaidah.


Sita tidak menunggu Aditya yang melanjutkan sholat subuhnya dengan mengaji, Sita ingin menunggu operasi ayahnya dengan duduk di samping ibunya. Aditya pun menyetujuinya. Melihat kedatangan Sita sendiri tanpa ditemani Aditya mengundang tanya abangnya.


" Kemana pacarmu itu Sita...?"


" Mas Aditya masih di musholla bang..!" jawab Sita.


" Kenapa kai tinggalkan Aditya sendiri nak..? tanya Mak Qayah.

__ADS_1


" Mas Aditya sedang mengaji mak, dia mengijinkan Sita untuk disini bersama kalian..!" ujar Sita.


Sontak semua terdiam mendengar ucapan Sita tentang apa yang dilakukan Aditya.


Dua jam pun berlalu, tiba-tiba seorang perawat dan seorang dokter keluar dari ruang operasi.


" Dok..bagaimana kondisi suami saya...?" Nyonya Zubaidah segera menghampiri keduanya.


" Operasinya berjalan lancar, hanya saja suami anda memerlukan banyak darah, apakah disini ada yang memiliki golongan darah B...?"


Semua saling berpandangan dan terdiam karena tidak satupun diantara mereka yang bergolongan sama dengan Sultan Mahmud.


" Maaf dok, kami disini bergolongan sama dengan ibu saya O, iya kan bang..?" tanya Sita pada kakaknya.


" Iya, golongan saya O sama dengan ibu...!" jawab kakaknya itu.


" Saya akan mencarinya di PMI dok...!" tukas Sita.


" Maaf dokter Sita, ayahmu memerlukannya sekarang...!"


" Saya saja dok, golongan darah saya B...!" tiba-tiba Aditya berkata. Sontak semuanya membalikan tubuh menatap Aditya.


" Mas...?" Sita terkejut mendengar penawaran kekasihnya.


" Ambil saja darah saya,....!" Aditya berkata untuk mempertegas ucapannya.


" Kalau begitu anda ikut kami...!" tukas dokter tersebut.


" Subhanalloh...masya Alloh...!" Nyonya Zubaidah tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukurnya. Aditya dengan iklhas mendonorlan darah untuk suaminya. Seketika Sita pun di peluknya. " Kamu tidak salah memilih anakku, dia laki-laki yang tepat untuk kau jadikan suami...!"

__ADS_1


" Iya bu, trima kasih...!" jawab Sita sambil tersenyum bahagia.


Nyonya Zubaidah dengan setianya duduk di samping suaminya yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh anastesinya. Dengan teleten diusapnya kening suaminya dengan sapu tangan.


" Apakah adik akan seperti itu kalau aku sakit...?" tanya Aditya pada Sita yang berdiri di sampingnya.


" Tentu saja..!" jawab Sita.


" Kalau aku sakit dan terbaring lama diatas tempat tidur sedangkan ada pria lain yang mendekatimu, apakah adik akan tetap setia atau meningglkan aku..?" tanya Aditya lagi.


" Mas ini apa-apa sih, nggak ah.jangan samoai itu terjadi..!" tukas Sita.


" Kan aku bilang ...kalau....!" tukas Aditya.


Sita menarik bahu Aditya lalu dipandanginya dengan tajam. " Sita tidak akan meninggalkan mas apapun kondisinya dan apapun alasannya...!" jawab Sita tegas.


" Trima kasih...!" Aditya merangkulkan tangannya di bahu Sita. Hatinya merasa sangat bahagia dengan janji yang diucapkan kekasihnya itu.


" Hei...belum muhrim...!" tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Aditya.


" I..iya bang..maaf...!" Aditya terkejut, tanpa mereka ketahui kakak nya Sita kini berdiri di belakang mereka sambil tersenyum.


" Abang ih...!" Sita mencubit kencang tangan kakaknya.


" Aku nikahkan saja kalian berdua sekaranr biar bebas dan halal...!"


" Dengan senang hati...!" jawab Aditya.


" Enak aja...!" Sita merenggut. Semua pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2